Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Keysa duduk sendirian di bangku kayu bawah pohon rindang. Kakinya bergoyang-goyang kecil. Teman-teman sekelasnya sedang bermain kejar-kejaran dan tertawa riang di lapangan, tapi Keysa memilih tidak bergabung.
Ia sudah bosan. Setiap kali ia mendekat, selalu ada yang mengejeknya, “Keysa nggak punya mama ya?” Kata-kata itu seperti duri kecil yang menusuk hatinya. Jadi lebih baik duduk sendiri daripada mendengar ejekan yang sama berulang-ulang.
Tapi tidak semua teman seperti itu.
“Hei Key, kamu bawa bekal nda? Aku bawa bekal nih, kamu mau nda?” tanya Zara, teman baik Keysa satu-satunya yang mau berteman tanpa peduli gosip.
Zara berdiri di depannya sambil memegang kotak bekal warna pink lucu. Gadis itu selalu ramah dan tidak pernah ikut-ikutan mengejek Keysa soal keluarganya.
Keysa menoleh, matanya langsung tertuju ke kotak bekal itu. “Memangnya Zala bawa bekal apa? Kalau enak Key minta, kalau nda enak nda ucah. Cakit pelut nanti Key,” katanya dengan polos tapi to the point.
Zara memutar bola matanya malas. “Enaklah! Ini macakan mamaku,” jawabnya sambil membuka tutup kotak bekalnya yang mengeluarkan aroma menggoda.
Keysa langsung mengangguk setuju. Ia mencomot satu sosis goreng dari kotak bekal Zara dengan jari kecilnya, lalu menggigitnya dengan lahap.
“Lacanya cepelti cocis,” ucap Keysa sambil mengunyah, mulutnya masih penuh.
Zara melotot. “Kan memang cocis goleng! Bukan ayam celundeng atau apa. Cetles kali aku belteman dengan kamu,” gerutunya kesal sambil menutup kotak bekalnya dengan dramatis.
Keysa hanya tertawa kecil sambil mengunyah sosis itu dengan ekspresi puas. “Tapi enak kok. Mamanya Zala jago macak. Key mau lagi boleh?”
Zara menghela napas panjang, tapi akhirnya ia tersenyum juga. Ia sudah terbiasa dengan cara bicara Keysa yang unik dan kebiasaannya yang blak-blakan.
“Ambil aja. Tapi jangan comot-comot cemua ya. Zala nda kebagian, nanti”
Keduanya kemudian duduk berdampingan di bangku taman. Keysa terus mengunyah bekal Zara dengan lahap, sementara Zara sesekali menggelengkan kepala melihat tingkah temannya.
“Key, kok hali ini cemangat banget ke cekolah? Biasanya cuka males,” tanya Zara penasaran.
Keysa mengunyah dulu sebelum menjawab, “Coalnya nanti cole Key mau ke kantol Papa lagi. Key lagi nyali mama balu buat Key. Kemalin cudah ketemu calon yang bagus. Namanya Aunty Alya. Cantik, pintal, dan cenyumnya manis.”
Zara hampir tersedak air minumnya. “Hah? Kamu celius? Kamu jadi makcomblang Papa cendili?”
“Iya,” jawab Keysa bangga. “Papa kan bujang lapuk. Oma bilang gitu. Makanya Key halus bantu. Nanti Key kacih curat lahacia ke Aunty Alya.”
Zara hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa. “Kamu ini aneh. Tapi secu cih. Kalau belhacil, nanti kabalin aku ya"
Keysa mengangguk antusias. “Pasti! Nanti Key suruh Papa beliin Za)a banyak cocis goleng.”
Keduanya tertawa bersama di bawah pohon. Untuk sesaat, Keysa lupa dengan ejekan teman-teman yang lain. Bersama Zara, ia merasa punya teman sejati, meski temannya itu sering kesal dengan tingkahnya yang nyeleneh.
Sementara itu, di kejauhan, beberapa anak lain masih sesekali melirik dan berbisik. Tapi Keysa tidak peduli lagi. Pikirannya sudah melayang ke sore nanti, ke kantor Papa, dan ke misi besarnya menemukan mama baru.
Zara mengelap mulutnya dengan tisu lalu berkata, “Aunty ku juga macih jomblo cih, nda pintalnya dia cali cuami. Kata papa nama penyakitnya oon"
Zara tertawa lepas di ikuti Keysa. Hari ini, meski mulai dengan duduk sendirian, berakhir dengan perut kenyang dan hati yang lebih ringan berkat satu teman baik dan satu misi rahasia yang terus berjalan.
"kamu nda calikan dia pacal?" tanya Keysa.
"Nda lah, malas kali Zala jadi mak comblang cepelti Key. Lepot kali hidup Zala nanti" jawabya Zara.
Keysa menghela nafas berat, seperti memiliki beban berat di pundaknya. "Iya cih. Tapi Key mau punya mama. Bial nda di ejek-ejek teman telus" ucap Keysa sendu.
Zara menaruh kota bekalnya di kursi, dia mendekati Keysa dan memeluknya. "Cudah, cudah jangan cedih. Nanti Zala beldoa cupaya mici Key belhacil. Bial nda di ejek teman lagi nanti. Tapi tenang aja, kalau di ejek nanti Zala belain. Zala tonjok meleka cemua bial babak belul" celoteh Zaram
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alya duduk di kursi kerjanya dengan fokus tinggi, matanya menatap layar laptop yang penuh dengan barisan angka-angka keuangan yang seolah tak berujung. Alisnya sedikit berkerut, jarinya sesekali mengetik cepat sambil menganalisis data bulanan. Suasana ruangan tenang, hanya terdengar suara AC dan ketikan keyboard.
Ceklek.....
Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka pelan tanpa diketuk. Alya tidak langsung menoleh, masih sibuk dengan angkanya.
“Ada apa?” tanyanya datar, pikirannya masih setengah berada di kolom pengeluaran.
Suara kecil yang familiar langsung terdengar.
“Ini Key aunty. Mau ngoblol cebental cama aunty boleh nda?” tanya Keysa sambil memegangi handle pintu dengan dua tangan kecilnya, kepalanya menyembul dari balik pintu.
Alya langsung menghentikan pekerjaannya. Ia memutar kursi menghadap pintu dan matanya melebar sedikit saat melihat gadis kecil berseragam TK yang berdiri di ambang pintu. Senyum lembut langsung mengembang di wajah Alya.
“Ada apa sayang?” tanyanya dengan suara hangat, jauh berbeda dari nada profesionalnya tadi.
Keysa tersenyum lebar, matanya berbinar senang karena disambut baik. Ia melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Alya dengan langkah kecil yang penuh semangat, kemudian menutup pintu di belakangnya perlahan.
Alya mematikan layar laptopnya sebagian, lalu memutar kursi agar lebih menghadap Keysa.
“Kamu sendirian? Papa tahu kamu ke sini?” tanya Alya lembut sambil tersenyum.
Keysa mengangguk cepat sambil mendekat ke meja Alya. “Papa tahu. Key bilang mau main cebental ke luangan aunty. Om Tony juga cudah di kacih tau” jawabnya polos.
Keysa kemudian berdiri tepat di samping kursi Alya, kepalanya mendongak menatap wanita itu dengan ekspresi penuh harap. Tangan kecilnya memegang pinggir meja Alya.
“Aunty Alya cantik cekali hali ini,” puji Keysa tiba-tiba dengan polosnya.
Alya tertawa kecil, pipinya sedikit memerah. “Wah, thank you sayang. Kamu juga lucu sekali pakai seragam sekolah. Duduk sini yuk,” ajak Alya sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Keysa langsung naik ke kursi dengan lincah. Kakinya yang pendek bergoyang-goyang senang. Ia menatap Alya lekat-lekat, seolah sedang menilai barang di etalase.
“Aunty… Key boleh tanya cecuatu?” tanya Keysa dengan suara manis.
“ Boleh dong. Tanya apa?” balas Alya sambil tersenyum, sudah siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan unik dari gadis kecil ini.
Keysa menggigit bibir sebentar, lalu bertanya dengan wajah serius, “Aunty sudah punya pacal belum?”