Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua ~
Lapangan apel itu adalah neraka yang tidak berujung. Terik matahari jam delapan pagi sudah membakar kulit, membuat seragam hijau loreng yang dikenakan Bagas terasa seperti baju besi yang menyesakkan. Di sekelilingnya, puluhan tentara berdiri dengan posisi sempurna. Bagas? Dia berdiri dengan kaki yang gemetar, berusaha meniru posisi siap yang sangat tidak alami bagi tubuhnya yang terbiasa duduk di kursi kantor. Otot-otot tubuh Bagas terasa kaku. Setiap kali pelatih berteriak, Bagas merasa seperti sedang menonton film aksi yang ia sendiri adalah pemeran utamanya, namun dia tidak tahu naskahnya. Dia merasa seperti orang asing di planet lain.
"Bagas! Dada dibusungkan! Tatapan mata lurus ke depan! Kamu ini tentara atau orang yang baru bangun tidur?!" teriak Pelatih dengan suara yang bisa meruntuhkan tembok barak.
Bagas tersentak, refleks membusungkan dadanya sekuat tenaga sampai dia merasa sesak. "Siap Pelatih!" jawabnya lantang, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
"Bagas, kamu kenapa dari tadi pagi seperti orang linglung?" bisik rekan di sebelahnya, seorang pria bernama Denish, tanpa menggerakkan bibir sedikit pun. "Biasanya kamu yang paling semangat kalau disuruh latihan. Sekarang? Kancing baju saja miring. Kamu sakit atau habis kerasukan setan penunggu barak?"
Bagas melirik ke arah Denish dengan tatapan lelah. "Aku cuma kurang tidur Den. Semalam bermimpi buruk. Rasanya tubuhku bukan milikku sendiri. Seperti ada yang salah dengan ingatanku." bisiknya balik, berusaha mencari alasan yang masuk akal.
"Mimpi buruk sampai lupa cara mengancingkan baju?" Denish tertawa kecil. "Awas saja kalau nanti latihan fisik kamu tumbang. Pelatih tidak akan peduli kamu mimpi apa. Dia cuma peduli pada keringatmu."
Satu jam di lapangan itu terasa seperti satu abad penuh penderitaan. Keringat mengalir deras dari pelipisnya, melewati tulang rahang yang tegas, hingga akhirnya meresap ke dalam kerah seragamnya yang kasar dan berbau apek. Setiap tetesnya terasa seperti siksaan. Saat sesi latihan fisik selesai, Bagas benar-benar merasa kakinya sudah berubah menjadi jelly. Begitu aba-aba bubar diberikan, dia tidak membuang waktu. Dia langsung mencari sudut yang teduh di bawah pohon beringin besar di pinggir lapangan, menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah yang ditumbuhi rumput kering. Rasa lelah yang luar biasa menghantamnya seketika. Matanya terasa sangat berat, seolah ditarik oleh beban yang tak terlihat. Dalam hitungan detik, dunia di sekitarnya memudar menjadi gelap.
Saat dia membuka mata, dia tidak lagi berada di lapangan yang panas. Semuanya berubah total. Langit di atasnya berwarna keemasan yang menenangkan, seolah dia sedang berdiri di tengah-tengah istana di atas awan. Bunga-bunga yang memancarkan cahaya lembut tumbuh di sekelilingnya, mengeluarkan aroma manis yang sangat mewah, kontras sekali dengan bau barak yang tadi dia tinggalkan. Dan di depannya, berdiri seorang pria dengan wajah yang terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Kulitnya bercahaya, pakaiannya putih bersih seperti sutra terbaik, dan senyumnya... senyum itu terlihat sangat percaya diri, membuat Arumi ingin meninju wajahnya saat itu juga.
"Siapa kau?" tanya Arumi, suaranya menggema di tempat asing itu.
Pria itu menyilangkan tangan di depan dada dengan gerakan yang sangat anggun. "Aku? Aku adalah Dewa yang tampan rupawan dan baik hati. Dan kau, Arumi, seharusnya berterima kasih padaku karena telah memberimu kesempatan hidup kedua."
Arumi membelalak. "Berterima kasih? Kau yang membuatku mati tertabrak truk! Aku sedang antre sate, tiba-tiba truk oleng, dan—"
Dewa itu memotong dengan lambaian tangan yang malas. "Oh, itu bukan salahku. Itu pekerjaan yang harusnya selesai dengan mencabut nyawa orang lain. Kau saja yang sok pahlawan dan menghalangi pekerjaanku. Harusnya kalau kau diam saja, kau tidak akan mati. Tapi, karena aku ini Dewa yang baik hati dan sangat tampan, aku memberimu kehidupan kedua."
"Kau gila! Kau Dewa, harusnya kau bisa menghentikan truk itu tanpa harus membunuh orang! Kenapa harus aku yang jadi korbannya?!" teriak Arumi dengan nada tinggi yang memecah keheningan tempat itu.
Dewa itu menghela napas panjang seolah-olah dia sedang berbicara dengan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. "Tutup mulutmu. Karena saat ini hanya tubuh pria bernama Bagas ini yang tersedia, maka nikmatilah. Sebagai kompensasi, aku memberimu Sistem Koki. Dia akan menuntunmu menjadi koki hebat. Jangan kecewakan aku, karena menjadi koki hebat adalah jalan takdirmu sekarang."
"Aku benci memasak! Aku benci dapur! Kau pikir dengan sistem itu aku akan jadi koki? Aku ini karyawan kantoran Dewa sialan! Aku mau hidup normal, bukan jadi tukang masak di barak tentara!" Arumi mencak-mencak, mencoba melangkah maju untuk mendekati pria itu, namun kakinya terasa seperti terikat.
"Menjadi koki hebat adalah jalan takdirmu." jawab Dewa itu dengan nada datar sebelum dia mulai memudar dalam cahaya silau yang menyakitkan.
Tiiit! Tiiit! Tiiit!
Arumi terbangun dengan napas memburu dan keringat dingin. Suara alarm di lapangan barak sudah berbunyi nyaring. Dia bangkit dengan perasaan dongkol yang luar biasa.
"Dewa narsis itu benar-benar gila! Dia yang salah, dia yang marah, dia pula yang memaksaku jadi koki. Dasar dewa sialan, wajah saja ganteng tapi hatinya busuk!" umpatnya sambil berjalan kembali ke arah lapangan dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan ke tanah.
Ting!
[Peringatan: Tuan Rumah terdeteksi dalam kondisi mental tidak stabil. Disarankan untuk segera berhenti memaki Sang Dewa.]
Arumi berhenti berjalan di tengah lorong barak. Dia menatap udara kosong dengan mata yang hampir keluar dari soketnya. "Apa? Kau membela dia? Sistem sialan, kau ini di pihak siapa?!"
[Sistem wajib meluruskan pemahaman Tuan Rumah. Sang Dewa yang tampan rupawan dan sangat baik hati tidak pernah melakukan kesalahan. Setiap tindakan beliau adalah anugerah bagi semesta. Tuan Rumah harus lebih banyak bersyukur karena telah diberi kesempatan hidup di tubuh ini.]
Arumi merasa kepalanya ingin pecah. "Kau bercanda, kan? Dia itu egois, narsis, dan tidak bertanggung jawab! Dia hampir membunuhku dua kali, dan sekarang dia mengurungku di tubuh tentara yang tiap hari disuruh lari keliling lapangan! Apa kau tidak punya sedikit pun empati padaku?!"
[Komentar Tuan Rumah tidak valid. Sekali lagi, Sang Dewa adalah sosok yang paling sempurna. Sangat disayangkan Tuan Rumah memiliki persepsi yang sangat keliru. Mari fokus pada tugas: Segera berkumpul, atau hukuman fisik menanti.]
"Hukuman lagi? Hukuman lagi?" Arumi tertawa getir, suaranya pecah karena frustrasi. "Sistem, kau ini alat atau asisten pribadinya? Kenapa kau tidak punya logika sendiri?"
[Sistem adalah perpanjangan tangan dari kebaikan Sang Dewa. Logika Sistem adalah kepatuhan. Harap Tuan Rumah segera menuju barisan sebelum Pelatih menghampiri Anda. Sisa waktu: tiga puluh detik.]
"Argh! Menyebalkan!" Arumi meremas rambutnya sendiri sampai berantakan. Dia benar-benar terjebak dalam situasi yang sangat tidak masuk akal. Bukan hanya harus berpura-pura menjadi Bagas, si tentara tangguh, tapi dia juga harus berurusan dengan sistem yang tidak punya logika ini. Dia melirik sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihatnya sedang berdebat dengan suara di dalam kepalanya sendiri. Dengan perasaan dongkol yang memenuhi dadanya, Arumi terus melangkah menuju lapangan dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Hidupnya yang dulu sebagai karyawan kantoran yang malas sekarang telah resmi berakhir, dan sebagai gantinya, dia terjebak di tubuh seorang Bagas yang harus bangun pagi setiap hari untuk menghadapi hari-hari penuh keringat dan sistem yang memuja dewa gila. Aku harus menemukan cara untuk meretas sistem ini, pikirnya, aku tidak akan membiarkan dewa narsis itu menang.
Oke mulai sekarang kita sebut arumi sebagai bagas oke..
Maaci sudah mau mampir ke karyaku yang ini semoga kalian semua suka yaa..❤️❤️
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘