Dikhianati. Ditinggalkan. Ditindas.
Itu yang Miracle dapat setelah 5 tahun berjuang untuk Morgan mantan suaminya.
Tapi Miracle bukan wanita yang bisa diinjak lalu dibuang. Tiga tahun kemudian, namanya jadi momok di dunia bisnis. Dia kembali bukan untuk balikan. Dia kembali untuk membeli perusahaan itu. Dan untuk membuat Morgan berlutut di hadapannya.
Siapkah kamu menyaksikan seorang "Mantan Istri" merebut kembali tahtanya?
Kita ikuti sepak terjang mantan istri CEO...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.12. Lembur.
Flashback.
Lima tahun Miracle mengabdikan hidupnya dengan Morgan tanpa mengeluh. Mungkin saking sibuknya Miracle sehingga belum mendapat momongan.
Perusahaan yang mereka bangun dari nol, sudah menjadi besar dan Morgan menjadi CEO. Kehidupan mereka berubah dari rumah kost menjadi rumah mewah, lengkap dengan mobil. Sangat bersyukur.
Rumah tangga yang dulu sempurna menjadi retak. Kesibukan Morgan dan Miracle untuk merubah hidup membuat komunikasi mereka kurang, pengkhianatan terjadi, walaupun Miracle setia.
Morgan membawa masuk Arini ke rumahnya dan ke perusahaannya. Miracle mulai curiga dan tertindas serta dibuang ke Jakarta. Chat dan foto Morgan dan Arini yang mesum membuat Miracle terluka.
Waktu ditanya kenapa Morgan selingkuh, alasannya, "Kamu gak selevel aku lagi" miris sekali.
Perceraian tak bisa dihindari, karena Morgan memilih Arini. Dia pergi tidak membawa harta gono gini, cuma bawa koper hitam yang butut dan resep masakan.
Kembali ke Titik Nol. Miracle kuliner secara online dan di depan kampus. Diejek Arini dan mantan mertua di sosmed.
Untung ada Komariah yang membantunya, akhirnya mereka sukses mendirikan M.W Group. Membuka beberapa cabang.
Miracle menjadi pengusaha besar, CEO M.W Group dan Investor misterius, menggandeng Wijaya Group milik papanya. Orangnya cantik, elegan dan percaya diri, itu kelebihannya.
Kehancuran Morgan karena uang perusahan sering diambil untyk membiayai Arini. Wanita itu minta dibayarin tas 200 juta, mobil, liburan ke luar negeri.
Bangkrut, Morgan's Kitchen hancur, Investor semua cabut. Perusahaan hampir disita. Untung Morgan bertemu Miracle, walaupun merasa terhina tapi akhirnya Miracle mau membantu.
Akuisisi Morgan's Kitchen dan sahamnya kini 50% milik Miracle, Morgan tetap sebagai CEO. Walaupun ia sangat menyakiti Miracle tapi kenapa Miracle tetap membantunya, apa karena Wanita itu masih mencintainya atau dia mau balas dendam?
Morgan membereskan foto kenangan masa lalu saat mereka masih bersama. Mungkin ia akan mendekati Miracle lagi, dan minta maaf atas semua perbuatannya.
Malam hari di lantai 32.
Morgan"s Kitchen. pukul. 20.17 Malam. Cuaca malam ini sangat dingin, karena terus turun hujan. Miracle membenahi letak Syalnya, matanya sudah mulai memerah karena menahan kantuk.
Lampu kantor sudah 90% mati. Cuma di lantai 32 terlihat masih menyala terang, dua ruangan itu milik CEO Morgan dan ruangan Miracle. Mereka berdua sedang lembur.
Miracle meraih ponselnya dan menghubungi Komariah. Tumben hari ini Komariah tidak melaporkan hasil penjualan di M.W Group, ada apa sebenarnya.
[Hallo boss...]
[Kenapa hari ini kamu tidak melaporkan hasil penjualan?]
[Maaf boss.. manager penjualan tidak kerja karena istrinya melahirkan. Tapi aku sudah meminta admin penjualan membantu mengerjakan laporan. Aku sekarang masih lembur, setelah selesai ....]
[Tidak usah datang kesini, letakkan saja di ruanganku, besok aku mampir ke kantor]
[Baik boss...ingat makan, jangan terlalu di forsir tenaganya]
[Makasih..aku lanjut kerja, byee.. ]
Miracle meletakan ponselnya, ia bersyukur menemukan Komariah, tapi disisi lain ia ingin memecatnya. Mungkin akan menyakiti hati Komariah, tapi ini harus ia lakukan demi kelangsungan hidup perusahaannya M.W Group.
Morgan duduk dengan gelisah. Map tebal 300 halaman. Baru selesai 187 halaman masih banyak belum dikerjakan, dulu yang membuat laporan begini Miracle. Ternyata capek banget, pantas Miracle sampai di rumah sudah lemas dan tidur nyenyak, baru ia merasakan penderitaan Miracle.
Mungkin Miracle sengaja memberikan kerjaan ini supaya sadar, kalau dulu Miracle sangat sibuk dan lelah.
Tangannya sudah pegel, matanya perih dan memerah. Dari jam delapan pagi dia belum bergerak dari kursi. Lama-lama ia bisa encok dan wasir.
Pintu kebuka. Miracle masuk membawa dua paper bag. Wanginya langsung nyebar. Pasti nasi goreng. pikir Morgan
Dia menaruh di meja. Begitu saja, acuh. Apa hatinya terbuat dari batu. Miracle langsung duduk seraya membuka laptop.
"Kenapa, ada apa...sudah selesai?" tanya Miracle datar.
"Belum, nasih 113 halaman. Mataku sampai merah, pinggang kaku." suara Morgan serak.
Miracle manggut. Buka paper bag satunya, yang lagi satu di letakan di tengah meja. Di antara mereka.
Hening, 5 menit berlalu, nggak ada yang ngomong. Cuma suara keyboard dan bunyi perut Morgan. Miracle dorong paper bag itu ke arah Morgan.
"Makan." ucap Miracle.
"Aku nggak lapar." sahut Morgan kesal. Ia tidak terima sikap Miracle yang dingin, sok berkuasa, padahal saham mereka sama.
"Bagus, berarti besok bisa pingsan pas audit. Pilihan ada ditangan mu, Tuan, jangan sok jagoan kalau belum mengerti bisnis."
Miracle makan perlahan. Kalem. Tanpa ekspresi.
"Kamu semakin arogan...."
"Kalau kamu merasa terganggu dengan sikap ku, keluar dari sini, aku tidak butuh manusia picik seperti kamu." potong Miracle kesal, ia membuang nasinya ke tempat sampah.
Morgan diam ia akhirnya menyerah. Dia buka nasi goreng yang cuma isi telur dan kerupuk.
Kesukaannya dulu. Dia makan pelan. Hatinya sakit. ia berpikir kalau Miracle sengaja milih menu itu, untuk mengingat masa-masa sulit dulu.
"Kenapa nasi goreng?" tanyanya tidak tahan.
"Iseng, dulu enak, tapi rasa itu sudah berubah tak sedap lagi, mungkin karena ganti koki."
Duk.
Morgan berhenti ngunyah. Dia merasa tersindir. Tapi karena lapar dia habisi nasinya.
"Rasa ini tidak berubah, aku suka." ucap Morgan menuntaskan suapannya. Miracle diam, tidak perlu mengomentari.
Pukul. 12.53. Morgan menutup map terakhir dan menanda tangani.
"Sudah selesai, kamu boleh cek."
Miracle mengambil laporan itu dan mengecek satu persatu. Tentu saja Morgan bekerja sangat teliti supaya Miracle tidak meremehkannya. Lalu cap -AUDITED-
"Bagus. Kerja bagus, supaya kedepannya lebih bagus,Tuan CEO." puji Miracle senyum tipis.
Miracle berdiri, untuk pertama kalinya dia memuji, tapi rasanya seperti ditusuk seribu jarum.
"Boleh pulang?" tanya Morgan berdiri, ia sudah lelah sekali.
"Boleh." sahut Miracle pendek.
Mereka berjalan bareng ke lift. Sepi, hanya
suara hak sepatu Miracle yang bergema. Di dalam lift cuma berdua.
Morgan bersandar. Capek. Ia pura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal tidak ada yang nelepon atau chatting.
"Mi..." panggilnya lirih. Ia menoleh dan menatap Miracle dari samping.
"Nyonya M.W." Miracle langsung memotong.
Morgan tertawa kecil. Pahit.
"Kamu sengaja ya nyiksa aku pelan-pelan."
Miracle tidak menjawab. Pintu lift kebuka. Lobi kosong. Miracle berjalan keluar. Berhenti di pintu kaca. Kemudian dia menengok. Mata mereka bertemu di pantulan kaca.
"Aku juga tersiksa, Morgan. Tiap hari lihat dan bertemu kamu, tapi pura-pura tidak kenal." Suaranya pelan banget. Lalu dia jalan. masuk mobil. Pergi.
Morgan masih di lobi. Sendiri. Dengan wajah pasrah. Dan untuk pertama kalinya, dia tak tahu siapa yang lebih hancur malam ini.
*****
ini yang namanya ingat wajah ea ingat rasanya....
tapi rasa itu tak selalu nyaman....