NovelToon NovelToon
Makeup His Heart

Makeup His Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.

​Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Di Persimpangan Jalan

​Begitu taksi premium yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gang rumah, Yeza segera turun. Pak sopir taksi dengan sangat sopan membantu menurunkan koper kosmetik hitamnya dari bagasi. Yeza mengucapkan terima kasih, lalu menjinjing kopernya menyusuri gang sempit menuju rumahnya.

​Pintu kayu rumahnya sudah terbuka lebar. Di ambang pintu, sosok wanita paruh baya dengan daster rumahan yang bersahaja sudah berdiri menantinya. Senyuman hangat yang sangat familier langsung terbit di wajah ibunya begitu melihat Yeza berjalan mendekat.

​"Gimana, Nduk? Lancar semuanya?" tanya ibunya lembut, langsung mengambil alih koper kosmetik Yeza agar anak tunggalnya itu bisa melepas sepatu dengan nyaman.

​Yeza tidak langsung menjawab. Ia justru langsung menubruk tubuh ibunya, memeluk wanita yang telah membesarkannya seorang diri itu dengan sangat erat. Air mata haru yang sejak tadi ditahannya di dalam taksi akhirnya menetes juga di pundak ibunya.

​"Lancar, Bu. Lancar banget," bisik Yeza dengan suara serak menahan tangis bahagia. "Yeza sudah tanda tangan kontrak. Yeza resmi jadi penata rias pribadi Maxemilian."

​Ibunya tertegun sejenak, lalu mendekap Yeza tak kalah erat. Usapan lembut di punggung Yeza menyalurkan rasa bangga yang luar biasa. Sebagai seorang guru TK yang hidup dalam kesederhanaan, sang ibu mungkin tidak terlalu paham seberapa besar nama Maxemilian di luar sana. Namun, melihat binar bahagia dan air mata keaktifan di wajah anak gadisnya sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya lega.

​"Alhamdulillah, Gusti... Ibu selalu tahu kamu anak yang hebat, Yeza. Kerja kerasmu di kamar selama ini akhirnya membuahkan hasil," ucap ibunya tulus, menyeka air mata di pipi Yeza dengan ibu jarinya yang kasar namun terasa sangat hangat.

​Sambil menuntun Yeza masuk ke dalam rumah, sang ibu sudah menyiapkan teh hangat di meja makan. Yeza pun mulai menceritakan semua kejadian hari ini—mulai dari kemewahan studio, bagaimana Max sangat menghargai hasil riasannya, hingga undangan makan malam tim nanti malam. Ia sengaja menyimpan rapat-rapat bagian tentang pertemuan tak terduganya dengan Jefri, tidak ingin merusak momen bahagia ini dengan bayang-bayang masa lalu yang kelam.

​"Nanti malam Yeza dijemput lagi sama manajernya, Bu. Mau makan malam bersama tim," ujar Yeza setelah menyesap teh hangatnya.

​"Ya sudah, sekarang kamu mandi terus istirahat dulu sebentar. Biar nanti malam mukanya segar dan tidak kelihatan mengantuk," nasihat ibunya dengan senyum keibuan yang menenangkan.

​Yeza mengangguk patuh. Langkah pertamanya telah disetujui oleh takdir, dan yang terpenting, ia memulai lembaran baru ini dengan restu serta senyuman paling hangat dari ibunya.

​Setelah menyelesaikan obrolan hangat dengan ibunya, Yeza melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya. Kamar berukuran 3 \times 3 meter yang selama lima tahun terakhir menjadi saksi bisu perjuangannya, kini terasa begitu menenangkan. Aroma sisa bedak tabur dan pembersih kuas yang biasa memenuhi ruangan seolah menyambut kepulangannya dengan ramah.

​Yeza meletakkan tas selempangnya, lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Guyuran air dingin yang segar perlahan meluruhkan semua rasa lelah, ketegangan, hingga sisa-sisa sesak akibat pertemuan tak terduganya dengan Jefri tadi siang. Ia ingin membasuh semua masa lalu itu dan menyambut malam ini dengan energi yang sepenuhnya baru.

​Selesai mandi, Yeza mengenakan pakaian santai terlebih dahulu. Sebelum memilih baju terbaik yang akan ia kenakan untuk makan malam nanti, tubuhnya terasa begitu berat. Efek kurang tidur semalam akhirnya benar-benar menagih haknya.

​Bruk.

​Yeza merebahkan diri di atas kasur busanya yang empuk. Ia menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan terlipat di atas perut.

​Sungguh tidak bisa dipercaya. Beberapa jam yang lalu, ia masih menjadi Yeza si gadis rumahan yang kerap dicemooh tetangga karena dianggap "hanya bermain-main dengan coretan muka". Namun siang ini, ia berbaring di tempat yang sama dengan status baru sebagai penata rias pribadi seorang aktor papan atas.

​Sambil memeluk guling kesayangannya, Yeza meraih ponsel di sampingnya. Layarnya menyala, menampilkan ruang obrolannya dengan akun @Z_X99 yang kini kontaknya sudah ia simpan dengan nama Max.

​Yeza tersenyum tipis. Perlahan, matanya mulai terasa sangat berat. Diiringi embusan angin sepoi-sepoi dari kipas angin di sudut kamar, Yeza akhirnya terlelap dengan nyenyak—kali ini tanpa mimpi buruk, hanya ada rasa aman dan harapan baru yang membumbung tinggi.

​Tring!

​Suara nyaring notifikasi Instagram memecah keheningan kamar Yeza yang remang-remang di kala senja. Yeza mengerjapkan matanya yang masih terasa berat akibat tertidur pulas. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia meraba kasur dan meraih ponselnya.

​Sebuah pesan langsung (DM) dari akun @Z_X99 muncul di layar kunci.

​@Z_X99: Sudah sampai rumah dengan aman?

​Yeza tersenyum tipis, rasa kantuknya seketika menguap digantikan oleh kehangatan yang menjalar di dadanya. Ia segera mengetik balasan.

​@yeza.makeup: Sudah, Max. Terima kasih banyak taksinya. Aku bahkan sempat tidur siang sebentar tadi.

​Hanya butuh beberapa detik sampai status berganti menjadi 'typing...'. Rupanya Max sedang memegang ponselnya.

​@Z_X99: Baguslah. Oh ya, Yeza. Tadi di mobil Bram bilang kalau perjalanan dari rumahmu ke studio memakan waktu lebih dari satu jam. Itu kalau jalanan lancar. Kalau macet Jakarta sedang gila, kamu bisa habis waktu dua jam lebih di jalan.

​@Z_X99: Bulan depan jadwal syuting film kita akan sangat padat. Sering kali ada panggilan mendadak atau syuting subuh. Aku khawatir fisikmu akan drop kalau harus bolak-balik sejauh itu setiap hari.

​@Z_X99: Aku punya satu unit apartemen kosong di daerah Jakarta Selatan. Lokasinya sangat dekat dengan studio dan lokasi syuting utama nanti. Kamu bisa tinggal di sana selama masa kontrak kerja bersamaku. Anggap saja itu fasilitas penunjang kerja. Bagaimana?

​Yeza tertegun membaca rentetan pesan panjang itu. Ia terduduk tegak di atas kasurnya, menatap layar ponsel dengan campur aduk antara takjub dan bimbang.

​Tawaran itu sangat luar biasa mewah. Pindah ke apartemen yang dekat dengan tempat kerja tidak hanya akan menghemat tenaganya, tetapi juga membantunya bekerja dengan jauh lebih maksimal. Max benar-benar memikirkan kesejahteraannya sebagai staf baru.

​Namun, perlahan kegembiraan itu surut digantikan oleh rasa berat di dadanya. Yeza menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup. Di balik pintu itu, ada ibunya yang sedang menyiapkan makan malam sendirian.

​Sejak ayahnya tiada, Yeza dan ibunya tidak pernah terpisahkan. Rumah sederhana ini adalah tempat mereka saling menguatkan. Jika ia pindah ke apartemen, itu berarti ibunya akan tinggal sendirian di rumah ini. Membayangkan ibunya yang sudah paruh baya harus makan malam sendiri dan menjaga rumah tanpa ada dirinya di sampingnya membuat hati Yeza terasa nyeri.

​Yeza menarik napas dalam-dalam, lalu jemarinya mulai mengetik balasan dengan ragu.

​@yeza.makeup: Tawaranmu sangat baik, Max. Terima kasih banyak atas kebaikanmu. Tapi... bolehkah aku meminta waktu untuk mempertimbangkannya? Aku anak tunggal, dan ibuku akan sendirian di rumah jika aku pindah. Aku harus mendiskusikan hal ini dulu dengan beliau.

​Max tidak langsung membalas. Keheningan beberapa menit itu membuat Yeza cemas, khawatir ia dianggap tidak profesional atau terlalu banyak menuntut. Namun, getaran ponsel berikutnya langsung meredakan kekhawatiran itu.

​@Z_X99: Aku mengerti. Keluarga adalah yang utama. Diskusikan saja dulu dengan ibumu secara perlahan. Nanti malam kita bicarakan lagi saat makan malam.

​@Z_X99: Mandilah, bersiap-siap. Bram sebentar lagi jalan menjemputmu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!