NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4_penghuni kos sebelah

"Mbak... kamar sebelah jangan pernah diketuk setelah jam dua belas malam." pesan Bu Sari waktu itu.

Aku mengernyit bingung.

"Kenapa memangnya?" tanyaku sambil tersenyum tipis, mengira ibu penjaga kos sedang bercanda.

Wajah Bu Sari justru berubah pucat. Senyumnya lenyap seketika. Bola matanya melirik ke arah lorong paling ujung.

"Kamu cukup ingat saja. Apa pun yang kamu dengar dari kamar itu... jangan dibalas." lanjutnya dengan wajah datar seolah tak ingin memperpanjang ucapannya.

Aku mengikuti arah tatapannya.

Di ujung lorong berdiri sebuah pintu bernomor 09. Catnya mengelupas. Gagang pintunya berkarat. Anehnya, di depan pintu itu terdapat sepasang sandal wanita yang terlihat baru, seolah masih dipakai setiap hari.

Padahal menurut penghuni lain, kamar itu sudah bertahun-tahun kosong.

Namaku Alya.

Aku baru pindah ke Kota Semarang karena diterima bekerja di sebuah rumah sakit swasta. Karena gajiku pas-pasan, aku memilih kos tua yang murah.

Bangunannya dua lantai. Lorongnya sempit. Lampunya redup.

Setiap malam terdengar suara kayu berderit seperti ada seseorang berjalan perlahan.

Malam pertama berjalan normal. Namun tepat pukul 00.17, aku terbangun.

Tok...

Tok...

Tok...

Suara ketukan pelan terdengar dari dinding kamarku.

Aku menoleh. Suara itu berasal dari kamar sebelah.

Tok...

Tok...

Tok...

Lalu terdengar suara perempuan.

"Mbak... bisa pinjam sisir?" ucap seorang wanita pelan.

Aku membeku.

Suaranya lembut. Sangat dekat. Seolah perempuan itu sedang berdiri tepat di balik dinding.

Aku teringat ucapan Bu Sari.

"Jangan dibalas."

Aku menutup telinga dengan bantal. Namun suara itu berubah.

"Mbak...Aku tahu kamu belum tidur..." katanya lagi.

Buluku langsung berdiri. Beberapa menit kemudian suara itu hilang.

Keesokan paginya aku bertanya kepada penghuni lain.

Mereka langsung saling pandang. Tidak ada yang mau menjawab. Hanya seorang mahasiswi bernama Rina yang berbisik pelan.

"Kalau malam dengar suara perempuan... pura-pura tidur." kata Rina

"Kenapa?" tanyaku penasaran.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Temanku dulu menjawab suara itu." jawabnya singkat

"Lalu?" tanyaku lagi.

Rina menelan ludah.

"Besok paginya dia ditemukan meninggal." lanjutnya.

Tubuhku mendadak dingin.

Malam kedua. Aku sengaja memasang musik agar tidak mendengar suara apa pun.

Namun tepat pukul 00.17...

Listrik seluruh kos mati. Gelap gulita.

Lalu...

Tok...

Tok...

Tok...

Ketukan itu kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Diikuti suara napas seseorang tepat di balik pintuku.

"Alya..." panggil wanita itu

Aku langsung terbelalak. Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun nama lengkapku.

Suara itu kembali terdengar.

"Alya... buka pintunya..." ucap lirih suara itu kembali.

Air mataku mulai mengalir. Tanganku gemetar hebat.

Kemudian... Gagang pintuku bergerak sendiri.

Ceklek...

Ceklek...

Ceklek...

Seolah seseorang sedang berusaha masuk. Aku memeluk lutut sambil menahan napas. Suara gagang pintu terus bergerak.

Ceklek...

Ceklek...

Semakin lama semakin keras.

Tiba-tiba...

Semuanya berhenti. Sunyi.

Aku mengira semuanya sudah selesai. Sampai terdengar suara langkah kaki di plafon.

Duk...

Duk...

Duk...

Padahal kamarku berada di lantai dua. Tidak ada lantai lagi di atasnya.

Langkah itu berhenti tepat di atas tempat tidurku.

Kemudian...

Debu-debu jatuh dari langit-langit. Aku memberanikan diri menengadah. Di sela-sela papan plafon tampak sepasang mata.

Mata itu putih seluruhnya. Tidak berkedip. Sedang menatapku.

Aku menjerit.

Saat lampu menyala kembali, mata itu menghilang.

Pagi harinya Bu Sari akhirnya menceritakan semuanya.

Dulu penghuni kamar 09 bernama Maya. QIa tinggal sendirian.

Suatu malam, ia meminta tolong karena merasa ada orang yang mengikutinya. Tapi tak seorang pun percaya.

Seminggu kemudian Maya ditemukan tewas tergantung di kamarnya.

Sejak saat itu... Suaranya masih sering terdengar.

Ia selalu meminta orang membuka pintu.

Mereka yang menjawab... Tidak pernah bertahan lama.

Aku memutuskan pindah. Namun setiap kos yang kudatangi selalu penuh. Seolah ada sesuatu yang menahanku tetap tinggal.

Malam berikutnya, suara itu kembali datang.

Kali ini bukan dari dinding. Melainkan...

Dari bawah ranjangku.

"Alya...Tolong aku..." suara itu kembali terdengar.

Suara tangisan perempuan memenuhi kamar.

Perlahan aku melihat ke bawah. Napas langsung tercekat.

Seorang wanita berambut panjang merangkak pelan. Lehernya miring. Matanya melotot. Lidahnya menjulur panjang. Sambil tersenyum...

Ia berbisik,

"Sekarang... kamu tinggal di kamar sebelah." bisik wanita itu pelan.

Aku menjerit sekuat tenaga dan berlari keluar kamar.

Lorong kos terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Lampu berkedip-kedip.

Dinding dipenuhi bercak hitam seperti bekas tangan yang diseret.

Aku mengetuk kamar Rina. Tapi tidak ada jawaban.

Aku mengetuk kamar lain. Kosong. Seluruh penghuni menghilang. Hanya terdengar suara perempuan tertawa dari ujung lorong.

Aku menoleh.

Pintu nomor 09 terbuka perlahan. Di dalamnya tampak kamar yang gelap. Namun ada seseorang duduk membelakangiku.

Rambutnya panjang. Gaunnya putih kusam.

Dengan suara lirih ia berkata,

"Akhirnya... ada yang menemaniku." ucapnya lirih.

Aku mundur perlahan. Tiba-tiba Bu Sari muncul sambil menarik tanganku.

"Jangan lihat wajahnya!" cegah Bu Sari

Kami berlari keluar kos. Sesampainya di halaman, Bu Sari menangis.

"Maaf... aku gagal menyelamatkanmu." ucapnya lirih penuh penyesalan.

Aku bingung.

"Apa maksud Ibu?" tanyaku penasaran.

Dengan tangan gemetar, Bu Sari menyerahkan sebuah koran lama. Di halaman depan terpampang sebuah berita.

"Perawat muda bernama Alya ditemukan meninggal akibat kecelakaan sebelum sempat menempati kos barunya."

Aku membeku.

Nama. Foto. Semuanya adalah diriku.

Aku menatap kedua tanganku. Perlahan tubuhku mulai memudar.

Ingatanku kembali.

Aku memang mengalami kecelakaan saat menuju kos ini.

Sejak awal...

Aku bukan penghuni baru. Aku juga bukan manusia. Tangisan perempuan dari kamar 09 terdengar semakin dekat. Ia tersenyum kepadaku.

"Selamat datang...Pintu sebelah sudah lama menunggumu." ucapnya dengan senyum mengerikan.

Perlahan kakiku melangkah sendiri menuju kamar itu.

Pintu menutup perlahan.

Sejak malam itu, penghuni kos sering mendengar dua suara perempuan saling bercakap dari balik kamar nomor 09.

Dan tepat pukul 00.17, selalu terdengar ketukan pelan dari dinding.

"Mbak... bisa pinjam sisir?"

Konon, siapa pun yang menjawab, akan menjadi penghuni kos sebelah berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!