Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagalnya Jebakan Pertunangan⁷
Negara Yeguang memuja Dewa Naga, namun selama ratusan tahun terakhir, tidak pernah ada seorang pun yang benar-bebar menyaksikan wujud asli Dewa Naga.
Kini, bukan hanya para pejabat dan keluarga bangsawan yang berkumpul di Aula Chengtian, bahkan rakyat jelata di seluruh ibu kota kekaisaran pun serentak menghentikan pekerjaan mereka. Mereka berlutut dengan penuh khidmat, berseru bahwa Dewa Naga telah menampakkan diri dan Langit memberkahi Yeguang.
Mereka hanyalah rakyat biasa. Sepanjang hidup, harapan terbesar mereka tidak lain adalah dunia yang tenteram, agar mereka dapat bertani dengan tenang, berdagang dengan jujur, dan menjalani hidup dengan damai hingga akhir hayat.
Beberapa tahun terakhir, peperangan berkecamuk di berbagai daerah. Rakyat hidup dalam kegelisahan hari demi hari, khawatir Yeguang akan runtuh, khawatir mereka harus hidup mengembara tanpa tempat bernaung.
Setiap pergantian dinasti, bukankah selalu disertai dengan darah dan pengorbanan rakyat kecil?
Namun kini, mata mereka yang berkilat menatap bayangan samar dari balik awan.
Para dewa belum meninggalkan Yeguang. Mereka masih memiliki harapan!
Yelu Yunxiao melirik sekilas ke arah fenomena aneh di langit, lalu menoleh memandang Xue Yao.
Xue Yao hanya membalasnya dengan senyum tenang.
"Paman-Kaisar, Langit memberkahi Yeguang. Bukankah ini benar-benar pertanda keberuntungan?"
Seolah-olah semua keajaiban ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Namun Yelu Yunxiao tahu dengan pasti, semua ini pasti berhubungan dengannya.
Dari mana sebenarnya asal-usul apa yang disebut sebagai 'keberuntungan' itu? Apakah nyata atau palsu?
Beberapa saat kemudian, Yelu Yunxiao menurunkan pandangannya dan berkata dengan suara rendah, "Benar, Langit memberkahi Yeguang."
Karena tujuan mereka sama, ada hal-hal tertentu yang tidak perlu ditelusuri terlalu dalam.
Xue Yao menatap bayangan naga yang perlahan memudar di antara awan berwarna kemerahan, memandang para pejabat di bawah yang penuh rasa takzim, dan mendengarkan sorak sorai rakyat di luar istana yang menggema memekakkan telinga.
Di dalam hatinya, tidak ada sedikitpun rasa bangga.
Bayangan naga itu hanyalah penerapan sederhana dari jimat pemancar bayangan.
Pemandangan naga kayu buatan mekanis yang dibuat terbang direkam terlebih dahulu dengan jimat tersebut, lalu diproyeksikan menembus awan dan cahaya di langit. Di mata manusia awam, itu pun berubah menjadi naga sejati yang terbang, pertanda keberuntungan dari Langit.
Namun bagi rakyat yang hidup di tengah zaman kekacauan, itu adalah secercah harapan.
Selama masih ada harapan, mereka masih mampu bertahan dan terus hidup.
Fenomena keberuntungan yang muncul dalam upacara penobatan Permaisuri itu membuat Xue Yao, Permaisuri baru yang muncul secara tiba-tiba, memperoleh dukungan dan kecintaan rakyat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Gelar 'perempuan pembawa keberuntungan' pun sepenuhnya melekat pada diri Xue Yao.
Berita ini membuat Cheng Zhilan, yang baru saja tiba di ibu kota kekaisaran dengan rombongan penjemput pengantin, langsung berubah wajah.
Sebenarnya, ia tidak ingin datang menjemput pengantin sama sekali.
Dalam pandangannya, Xue Rou bahkan tidak sebanding dengan Xue Yao.
Walaupun ibu kandung Xue Yao telah wafat lebih dahulu, ia tetaplah putri sulung sah keluarga Xue. Sedangkan ibu Xue Rou, meskipun kini mendapat kasih sayang, pada dasarnya berasal dari latar belakang rendah. Suami pertamanya bahkan hanyalah seorang pedagang kecil. Jika bukan karena mengandalkan kecantikan untuk masuk melayani di kediaman Adipati Wen Chang'an, mana pantas ia dipanggil Nyonya?
Namun sikap Marques Wu Yuan sangat tegas.
"Segala ulahmu pada jamuan hari itu—mulai dari pembatalan pertunangan hingga segala trik yang kau lakukan diam-diam terhadap Permaisuri baru keluarga Xue—semuanya bisa kuabaikan dan tidak kupermasalahkan. Pada saat itu, masa depan Kediaman Adipati Wen Chang'an masih terlihat menjanjikan. Jika bukan demi hari ketika kita kelak memasuki ibu kota kekaisaran dan membutuhkan Xue Di sebagai orang pertama yang menyerah untuk menunjukkan legitimasi, aku tidak akan memilihkan pengantin seperti ini untukmu. Namun sekarang kau harus paham, Yelu Yunxiao telah memilih putri sulung keluarga Xue sebagai Permaisuri, bahkan memberinya gelar pembawa keberuntungan. Segala yang pernah kau lakukan padanya sebelumnya, akan menjadi alasan bagi Yelu Yunxiao untuk menindak kediaman Marques Wu Yuan."
Marques Wu Yuan telah lama berkecimpung di medan perang. Penampilannya tampak kasar dan berotot, tetapi pikirannya jauh lebih halus dibandingkan Cheng Zhilan.
"Karena itu, saat ini kau harus menunjukkan betapa seriusnya kau memandang pernikahan ini. Hari itu aku sengaja mencari alasan untuk menekan Xue Di, semata-mata agar persoalan memalukan antara kedua keluarga dapat berlalu dan berhenti di hari itu juga. Setelahnya, pernikahan antara keluarga Cheng dan keluarga Xue ini harus diperlakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh kehormatan, tidak boleh sedikitpun disepelekan. Lagipula asal-usul seorang perempuan dinilai dari keluarga ayahnya. Soal apakah ia putri sah atau bukan, tidak peu terlalu dipermasalahkan."
Namun Cheng Zhilan tetap merasa enggan.
"Yelu Yunxiao itu apa hebatnya? Begitu para pemuda Kabupaten Ping memasuki ibu kota kekaisaran, mereka semua akan menjadi tawanan keluarga Cheng."
"Diam!"
Wajah Marques Wu Yuan langsung mengeras.
Anak tunggal kediaman Marques itu tumbuh besar dalam pujian sejak kecil, sehingga secara alami membentuk sifat tidak takut pada langit dan bumi.
Di medan perang, keberaniannya adalah kelebihan. Namun dalam urusan politik, sifat itu justru menjadi kelemahan.
"Yelu Yunxiao sama sekali tidak sesederhana yang kau bayangkan. Selama ia masih hidup, para penguasa daerah manapun akan sangat sulit menginjakkan kaki ke ibu kota kekaisaran. Untungnya, usia hidupnya tidak akan panjang."
Marques Wu Yuan berhenti sampai disitu, lalu melirik Cheng Zhilan dan berkata dengan nada menenangkan, "Toh ini hanya persoalan beberapa tahun. Kau cukup menjemputnya dengan baik dan membawanya pulang untuk dinikahi. Setelah menikah, jika kau tidak menyukainya, Ayah juga tidak akan memaksamu. Keluarga Cheng masih mampu memelihara satu orang."
Makna ucapannya sangat jelas.
Cukup nikahi dengan meriah, buat sandiwara bahwa keluarga Cheng menghargai pernikahan ini di hadapan orang luar.
Adapun setelah dibawa pulang dan bagaimana ia diperlakukan, itu adalah urusan di dalam rumah. Tidak akan ada yang mencampuri.
Karena itulah, Cheng Zhilan memimpin sendiri rombongan untuk menjemput pengantin ke ibu kota kekaisaran.
Namun sepanjang perjalanan, mendengar orang-orang terus membicarakan pertanda keberuntungan saat penobatan Permaisuri baru, hatinya semakin dipenuhi rasa jengkel.
Pertanda keberuntungan apa? Pasti hanya sandiwara yang dibuat Yelu Yunxiao untuk menipu orang.
Jika benar ada keberuntungan, mengapa tidak muncul sejak dulu?
Meski demikian, Cheng Zhilan juga memahami satu hal dengan jelas. Jika pertanda keberuntungan itu jatuh ke tangan keluarga Cheng, maka itu akan menjadi bantuan yang sangat besar bagi ambisi besar keluarga mereka di masa depan.
Keluarga Yelu mampu menguasai Yeguang selama ini karena mereka memegang legitimasi, karena mereka adalah garis keturunan Kaisar Sejati.
Itulah sebabnya, meskipun berbagai daerah kini mulai gelisah, tidak seorang pun berani secara terang-terangan menjadi pemberontak.
Semua orang menginginkan nama legitimasi.
Seandainya dahulu Xue Yao menikah ke dalam keluarga Cheng, bukankah legitimasi itu akan jatuh ke tangan keluarga Cheng?
Memikirkan hal ini, raut wajah Cheng Zhilan saat menjemput pengantin pun semakin suram.
Namun untungnya, Ayah Xue sama sekali tidak mempermasalahkan sikap tersebut. Ia bahkan tersenyum ramah sambil mengantar Xue Rou naik ke kereta, lalu secara diam-diam menyelipkan sebuah daftar mas kawin ke tangan Cheng Zhilan.
"Tuan Muda Cheng, Rourou masih muda. Mohon setelah menikah nanti Anda banyak bersabar. Demi pernikahan ini, kediaman Adipati Wen Chang'an kami kembali menambahkan satu keberuntungan tambahan. Mohon kiranya dipersembahkan kepada Marques Wu Yuan."
Jelas bahwa gelar Adipati Wen Chang'an lebih tinggi dari pada Marques Wu Yuan, tetapi sikap merendah Ayah Xue justru membuat kegelisahan di hati Cheng Zhilan sedikit mereda.
Setidaknya, Adipati Wen Chang'an cukup berwawasan dan tahu kemana harus benar-benar mempertaruhkan pilihannya.
Daftar mas kawin itu telah dilihat Cheng Zhilan secara diam-diam.
Selain perhiasan, batu giok, dan lukisan kaligrafi karya para maestro yang terkenal di bagian awal, pada bagian paling akhir daftar tersebut terdapat sebuah peta tambang besi rahasia.
Tambang besi itu terletak sekitar delapan puluh li di luar Kabupaten Ping.
Yang terpenting, tambang besi tersebut tidak tercatat dalam daftar tambang besi milik pemerintah Yeguang.
Artinya, itu adalah tambang pribadi yang sengaja disembunyikan.
Perlu diketahui, seluruh tambang besi di Yeguang berada di bawah kepemilikan istana dan dijaga ketat oleh pasukan berat. Meskipun istana kini melemah, Yelu Yunxiao tetap mempertahankan aturan ini agar sumber daya besi tidak jatuh ke tangan oara penguasa daerah.
Namun sekarang, Adipati Wen Chang'an—paman kandung kaisar—secara sukarela menghadiahkan sebuah tambang pribadi yang tidak diketahu siapapun kepada kediaman Marques Wu Yuan.
Cheng Zhilan tersenyum tipis.
Adipati Wen Chang'an memang tahu membaca situasi. Mas kawin ini benar-benar diberikan dengan sangat tepat.
Dan tepat ketika Cheng Zhilan telah menjemput pengantin serta memimpin rombongan besar menuju Kabupaten Ping, baru saja keluar dari ibu kota kekaisaran, ia justru bertemu dengan seorang kenalan lama yang sama sekali tidak ia duga.