NovelToon NovelToon
Istri Bayangan Tuan Adhitama

Istri Bayangan Tuan Adhitama

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.

Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.

Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.

Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.

"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Suasana di ruang tengah kediaman Adhitama kembali diselimuti keheningan. Perkataan Pak Wira barusan masih menggantung di udara, seolah menjadi keputusan yang tak lagi bisa dibantah oleh siapa pun.

"Selama satu bulan ke depan, Ammar akan tidur di kamar Aisyah."

Tak ada yang menjawab. Salsa hanya menundukkan wajahnya. Senyum tipis masih berusaha ia pertahankan walaupun perlahan terasa semakin berat. Bibirnya memang tersenyum, tetapi kedua matanya sudah kehilangan cahaya yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan. Pak Wira memandang selama menantunya beberapa saat. Entah mengapa, malam itu ia justru melihat ketabahan luar biasa pada diri perempuan yang selama ini dianggap sebagai penyebab berhentinya garis keturunan keluarga Adhitama.

"Terima kasih, Salsa." Salsa mengangkat wajahnya perlahan. "Papa tahu keputusan ini tidak mudah buat kamu."

Salsa tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa, Pa." Jawaban itu terdengar begitu pelan. "Kalau memang ini yang terbaik untuk semuanya," kalimatnya tidak selesai. Ia hanya kembali menundukkan wajah dan membuat Pak Wira mengangguk pelan.

Kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada salah seorang pelayan yang sedari tadi berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

"Bi Inah."

Perempuan paruh baya itu segera maju.

"Iya, Tuan."

"Tolong antar Nyonya Aisyah ke kamar di lantai dua."

"Baik, Tuan."

Pak Wira kembali menoleh kepada Aisyah.

"Nak."

"Iya, Pa."

"Ikut Bi Inah, ya."

Aisyah menganggukkan kepala dengan sopan.

"Iya, pa."

Tak banyak yang bisa Aisyah ucapkan. Ia hanya menatap sebentar ke arah Salsa. Tatapan itu begitu singkat, namun penuh makna seolah ingin berkata,

"Maafkan aku."

Salsa membalas dengan senyum kecil. Senyum yang begitu pengertian, senyum seorang kakak yang berusaha menguatkan adiknya, padahal dirinya sendiri sedang nyaris hancur. Bi Inah kemudian berjalan lebih dulu.

"Mari, Nyonya."

Aisyah mengikuti dari belakang. Langkahnya pelan dan membuat gaun putih pengantinnya menyapu lantai marmer yang mengilap. Tak lama kemudian tubuhnya menghilang di balik tangga menuju lantai dua. Pak Wira memandang kepergian Aisyah untuk beberapa saat, setelah itu ia mengembuskan napas panjang.

"Ratih."

"Iya, Mas."

"Ayo kita istirahat."

Ratih mengangguk pelan. Sebelum berjalan, ia sempat menatap Ammar cukup lama. Tatapan seorang ibu yang sebenarnya ingin memeluk putranya. Namun ia tahu, saat ini tidak ada kalimat apa pun yang mampu mengurangi luka di hati Ammar yang membuat Ratih akhirnya hanya mengusap perlahan lengan putranya.

"Istirahatlah, Nak."

Ammar hanya mengangguk kecil.

"Iya, Ma."

Pak Wira dan Ratih kemudian berjalan menuju kamar utama mereka. Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar yang ditutup dan membuat rumah besar itu terasa jauh lebih sunyi.

Di ruang tengah hanya tinggal dua orang. Ammar dan Salsa. Salsa berdiri mematung sedangkan Ammar memandang kosong ke arah tangga tempat Aisyah tadi menghilang. Beberapa detik berlalu. Perlahan Ammar membalikkan tubuhnya, tatapannya langsung menemukan perempuan yang sejak lima tahun lalu selalu menjadi rumah bagi hatinya.

Salsa.

Tanpa berkata apa pun Ammar melangkah hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan istrinya. Salsa mengangkat wajahnya. Belum sempat ia berkata apa-apa,

Bruk.

Ammar langsung menarik tubuh Salsa ke dalam pelukannya. Pelukan itu begitu erat seolah ia takut kehilangan perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya. Salsa terkejut.

"Mas..."

Namun Ammar justru mempererat pelukannya. Dagunya bertumpu di atas kepala Salsa. Matanya perlahan terpejam. Untuk beberapa saat, tak satu kata pun keluar dari bibir Ammar. Yang terdengar hanyalah napas mereka yang sama-sama berat. Akhirnya Ammar berkata,

"Salsa."

"Iya, Mas."

"Aku mencintaimu."

Kalimat sederhana itu membuat dada Salsa langsung menghangat. Air matanya kembali menggenang. Ammar melanjutkan perkataannya dengan suaranya yang begitu pelan.

"Dengarkan aku baik-baik." Salsa mengangguk di dalam pelukan itu. "Aku memang tidak bisa mengubah keadaan malam ini." Napasnya terdengar berat. "Aku juga tidak bisa menolak semua yang sudah terjadi." Tangannya mengusap perlahan punggung Salsa. "Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah berubah."

Salsa perlahan mengangkat wajahnya.

"Apa itu, Mas?"

Ammar menatap kedua mata istrinya begitu dalam.

"Hati aku."

Air mata Salsa langsung jatuh sementara Ammar tersenyum tipis.

"Hati aku tetap milik kamu." Kalimat itu membuat bibir Salsa bergetar. "Aku hanya akan setia kepadamu."

Salsa langsung menggeleng pelan.

"Mas..."

Ammar mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

"Dengarkan dulu."

"Mas tidak ingin kamu hidup dengan rasa takut. Tidak ingin kamu merasa tersaingi. Tidak ingin kamu berpikir kalau ada perempuan lain yang bisa menggantikan posisi kamu." Ia menggenggam kedua tangan Salsa. "Dalam hidupku, kamu tetap istriku. Kamu tetap perempuan yang mas pilih. Kamu tetap rumah yang selalu ingin mas pulang."

Tangis Salsa akhirnya pecah. Ia kembali memeluk tubuh Ammar begitu erat seolah takut laki-laki itu benar-benar akan pergi meninggalkannya.

"Aku takut, Mas..." Suara Salsa tersendat. "Aku benar-benar takut."

Ammar mengusap kepalanya lembut.

"Aku tahu. Aku takut suatu hari nanti,"Salsa menarik napas. "Mas lebih menyayanginya daripada aku."

Kalimat itu membuat Ammar langsung menggeleng.

"Tidak akan." Nada suara Ammar terdengar begitu mantap. "Boleh jadi aku harus menjalani semua ini. Boleh jadi keadaan memaksa kita menerima kenyataan ini. Tapi cintaku tidak berubah." Ammar mengecup pelan puncak kepala Salsa. "Kamu tidak akan pernah tergantikan di hati mas."

Salsa memejamkan matanya. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan hari itu. Namun untuk pertama kalinya sejak pagi, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Ia merasa dirinya masih dicintai, dipilih dan menjadi perempuan yang paling berharga di hati suaminya.

"Terima kasih, Mas." Bisik Salsa dengan lirih. "Aku benar-benar beruntung dipertemukan dengan laki-laki sepertimu."

Ammar hanya tersenyum pahit. Andai saja takdir mereka tidak berbelok sejauh ini. Mungkin malam itu mereka sedang tertawa bersama di kamar mereka sendiri bukan berdiri dalam pelukan yang dipenuhi rasa kehilangan. Sementara itu di lantai dua, Bi Inah berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading yang membuatnya menoleh kepada Aisyah.

"Nyonya." Aisyah ikut menghentikan langkahnya. "Ini kamar pengantin yang sudah Tuan Wira siapkan untuk nyonya dan tuan Ammar."

Perempuan itu membuka pintu perlahan. Ceklek, daun pintu bergerak pelan dan membuat ruangan luas langsung menyambut pandangan Aisyah sementara Bi Inah tersenyum sopan.

"Silakan masuk."

Aisyah mengangguk.

"Terima kasih, Bi."

"Sama-sama."

Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Bi Inah mundur beberapa langkah.

"Kalau ada yang dibutuhkan, panggil saya saja."

"Iya."

Pintu kembali tertutup perlahan dan membuat Aisyah benar-benar sendirian. Perlahan ia melangkahkan kaki memasuki kamar itu. Langkahnya begitu pelan sementara tatapannya berkeliling. Kamar itu jauh lebih besar daripada kamar yang selama ini ia tempati di rumah orang tuanya. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya hangat.

Tempat tidur berukuran besar berdiri di tengah ruangan dengan seprai putih yang masih baru. Di atasnya tersusun kelopak-kelopak mawar membentuk hiasan sederhana. Di sudut ruangan terdapat sofa panjang berwarna krem dengan jendela-jendela tinggi ditutupi tirai abu muda.

Semuanya tampak begitu indah, mewah dan sempurna. Namun entah mengapa, di mata Aisyah, Kamar itu justru terasa sangat sepi. Ia berdiri cukup lama di dekat pintu dan tak sanggup melangkah lebih jauh. Tangannya perlahan menggenggam ujung lengan gaun pengantinnya sendiri sementara dadanya terasa sesak.

1
Marini Suhendar
Melihat Aisyah bikin nangis😭😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sama kak/Sob/
total 1 replies
Marini Suhendar
Itu konsekwensinya..coba bukan adik kmu yg jd madunya .sakitnya g terlalu kan
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: padahal Ammar udah terima salsa apa adanya, tapi salsanya yang repot sendiri /Slight/
total 1 replies
Lembang Azam
klw kamu takut Aisyah mencuri perhatian mertua dan suamimu, harusnya dr awal kamu tuh sadar salsa jgn memaksa suamimu untk menikah lagi, disini kamu yg egois, menyakiti hati suami dan adikmu sndiri,, amar ja GPP kamu enggak punya anak, knpa kamu justru yg repot sih,,sebellll tau enggak sih thor😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sabar kak sabar, jangan emosi 🙏🤭
total 1 replies
Nda
novelmu luar biasa thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak🙏😍
total 1 replies
Marini Suhendar
d mata amar & salsa pasti salah. d kira cari perhatian
Ical Habib
boleh ta dlm hukum Islam 2 saudara sekaligus...yg boleh t KL DA meninggal satu trs pindah k adiknya.othor in ad2 aj
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hmmmm 🙄, sudahlah yah jejak di sini.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Pret ah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ngaran Weh Wira tapi kalakuan TeusaWira 😤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hemmm iya gitulah ya 🤷
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh tua juga kelakuan kayak gitu bukannya nikmati masa tua aja Ama bini malah ngurusin rumah tangga anak Lo 🙄🫤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
nggak tahu ah
Lembang Azam
ini neh yg plg bikin sebelll dan bingung,,,klw smw pemeran utamanya baik😭 knpa enggak pak wira ja sih yg punya anak thor🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: udah tua kak pak Wira nya🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Marini Suhendar
kamu dengar kan amar doa yg d panjatkan Aisyah...Sabar aisyah 🥰
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dasar kampret semua 😩 sudahlah pusing, jejak aja dulu yeh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Lo memang bodoh, kelak kmu salsa dgn suamimu akan lebih parah menyakiti Aisyah. kalian pasti jadi villain berakhlak binatang berbentuk manusia.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh gw pusing.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya Aisyah tidak akan menyakitimu sal, tapi kamu sendiri yg akan menyakitinya kelak bahkan setelah mendapatkan anak kau akan merebutnya. bahkan bisa saja amar pun akan sama sepertimu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya siapa lagi si mar, kok di tanya 🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ini bininya sumpah demi apa oon nggak tahu di untung suaminya di pihak Lo.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!