"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan
Sembilan Tahun Kemudian
"Papa! Lihat, Ina bawa balon banyak sekali!"
Teriakan melengking dari seorang bocah perempuan berusia sepuluh tahun memecah ketenangan sore di salah satu sudut taman rindang di Singapura.
Sabrina, dengan rambut hitamnya yang dikuncir kuda ganda dan gaun terusan denim yang ceria, berlari kencang membelah rerumputan hijau. Di tangan kanannya, sebundel balon gas berwarna-warni melayang-layang, mengikuti langkah kakinya yang lincah.
Rayyan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan senyum yang merekah sangat tampan.
"Hei, pelan-pelan larinya, Sayang! Nanti jatuh," seru Rayyan, langsung menangkap tubuh Sabrina yang menubruknya dengan tawa renyah.
"Hap! Dapat!" Rayyan mengangkat tubuh bocah itu tinggi-tinggi ke udara, membuat Sabrina memekik kegirangan sebelum menurunkannya kembali ke tanah.
Zia, yang duduk di bangku taman, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
"Sabrina, jangan lari-lari begitu. Kamu sudah berkeringat, nanti masuk angin,"
Sabrina tidak mendengarkan omelan Mamanya. Dia justru sibuk membagikan balon-balon itu.
"Nih, satu untuk Mama, satu untuk Papa, dan satu punya Ina!" ucap Sabrina dengan bangga, menyerahkan tali balon berwarna merah muda kepada Zia dan balon biru kepada Rayyan.
"Untuk apa balon sebanyak ini, hmm?" tanya Rayyan sambil berlutut, menyamakan tingginya dengan Sabrina lalu mencubit gemas hidung mancung putrinya.
"Ina tadi diajari Suster Maria! Kita harus menulis keinginan kita di kertas kecil ini," Sabrina mengeluarkan tiga lembar kertas kecil dan dua buah pulpen dari kantong gaunnya.
"Terus, kertasnya diikat di tali balon, lalu kita terbangin sama-sama ke langit! Biar Tuhan langsung baca!"
Rayyan tertawa kecil, melirik Zia yang juga sedang tersenyum.
"Oh ya? Kreatif sekali anak Papa. Oke, apa yang harus Papa tulis?"
"Rahasia! Tidak boleh ada yang saling intip!" seru Sabrina sambil membagikan pulpen.
"Ayo tulis sekarang!"
Zia mengambil pulpennya, mulai berpikir sejenak lalu menuliskan baris demi baris di atas kertas kecilnya. Namun, baru saja dia menulis beberapa kata, dia merasakan sepasang mata sedang memperhatikannya. Zia mendongak tajam.
"Ray! Jangan mengintip!" protes Zia, langsung menutupi kertasnya dengan telapak tangan, wajahnya merona tipis.
"Siapa yang mengintip? Aku cuma memastikan tulisan desainer internasional ini tidak jelek seperti cakar ayam,"
"Enak saja! Tulisan sketsaku itu sangat rapi ya!" sahut Zia ketus namun dengan nada bercanda.
"Papa! Mama! Fokus tulis punya sendiri-sendiri, ih!" lerai Sabrina, merentangkan kedua tangan kecilnya di antara wajah Zia dan Rayyan.
"Papa juga, jangan lirik-lirik Mama terus!"
"Iya, iya, anak Papa yang paling galak," goda Rayyan, lalu berbalik memunggungi Zia untuk menuliskan keinginannya sendiri.
Zia diam-diam mencoba balas mengintip dari balik bahu tegap Rayyan, mendongakkan kepalanya sedikit. Namun dengan cepat, Rayyan membalikkan tubuhnya, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Mau mengintip ya?" bisik Rayyan dengan tatapan mata yang penuh kilat jenaka.
"N-nggak siapa juga yang mau mengintip," kilah Zia cepat, buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas.
"Kamu penasaran ya aku nulis apa?" tanya Rayyan.
"Siapa juga yang penasaran. Sorry ya,"
"Udah ngaku aja. Penasaran juga nggak apa kok. Aku malah senang kalau kamu penasaran,"
"Nggak penasaran kok. Kertas aku aja udah siap," sahut Zia.
"Mama, Papa, jangan bercanda terus dong. Nanti tulisannya nggak selesai - selesai loh," tanya Sabrina.
"Mama sudah siap kok. Papa tuh yang belum siap,"
"Ih, Enak aja nuduh Papa belum selesai. Papa juga udah selesai," sahut Rayyan.
"Sudah selesai semua belum?" tagih Sabrina, berkacak pinggang di depan mereka berdua.
"Ayo ikat di balonnya!"
Setelah ketiga kertas itu terikat rapi di ujung tali balon masing-masing, mereka berdiri berjajar di tengah lapangan rumput yang luas. Langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan menjadi latar belakang yang sangat indah.
"Satu... dua... tiga... terbang!" seru Sabrina dengan lantang.
Mereka melepaskan tali balon itu secara bersamaan. Tiga buah balon berwarna-warni meluncur mulus ke angkasa, membawa serta gulungan kertas kecil yang berisi untaian doa dan harapan rahasia mereka menuju langit yang tinggi. Mereka bertiga berdiri diam, menatap pergerakan balon-balon itu hingga mengecil dan menghilang di balik awan.
"Setelah ini kita makan pizza dan es krim, ya? Ina lapar sekali!" celetuk Sabrina memecah keheningan, sambil menggandeng erat tangan kanan Rayyan dan mengayunkannya dengan manja.
"Sabrina, tadi kan sebelum ke taman kamu sudah makan roti? Kok sekarang minta pizza lagi?" tegur Zia, menatap putrinya dengan dahi berkerut.
Sabrina langsung mengerucutkan bibirnya, menatap Rayyan dengan mata bulatnya yang jernih, mengeluarkan senjata andalannya.
"Papa... lihat Mama, marahin Ina terus,"
Rayyan langsung luluh, dia mengacak-acak rambut Sabrina dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa, Mama cuma khawatir perut Sabrina sakit. Tapi karena hari ini hari spesial, Papa setuju kita makan pizza raksasa dan es krim tiga sekop. Bagaimana?"
"Horeee! Papa memang yang terbaik di seluruh dunia!" sorak Sabrina kegirangan. Dia langsung memeluk kaki tegap Rayyan dengan sangat erat, mengabaikan Zia yang hanya bisa mengembuskan napas pasrah.
Zia menatap interaksi keduanya dengan batin yang dipenuhi kehangatan sekaligus sedikit rasa cemburu yang menggelitik.
"Kamu itu ya, Sabrina... lebih dekat dan lebih penurut sama Papa daripada sama Mama sendiri,"
"Tentu saja," sahut Rayyan dengan nada bangga yang dibuat-buat, merangkul pundak Sabrina.
"Ikatan batin antara Papa dan anak perempuannya itu tidak ada tandingannya, kan Sayang?"
"Iya, Papa!" jawab Sabrina kompak, memberikan tos kecil pada telapak tangan besar Rayyan.
Mereka pun berjalan menuju sebuah restoran pizza yang terletak di area mal dekat taman.
Setelah memesan makanan, suasana meja makan dipenuhi oleh celotehan riang Sabrina yang menceritakan tentang teman-teman sekolahnya. Rayyan mendengarkan dengan tingkat kesabaran yang luar biasa, sesekali menyeka sisa saus tomat di sudut bibir Sabrina menggunakan tisu. Kasih sayang yang Rayyan berikan benar-benar murni, tanpa ada sekat pembatas bahwa bocah di depannya ini tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Namun, suasana riang itu mendadak meredup saat Rayyan meletakkan gelas minumannya dan menatap Sabrina dengan raut wajah yang beralih menjadi serius namun lembut.
"Sabrina, besok kan Sabrina dan Mama sudah harus berangkat pulang ke Indonesia. Rumah baru dan butik Mama di Jakarta sudah selesai dibangun,"
Sabrina yang sedang mengunyah pizza langsung menghentikan gerakannya, wajahnya mendadak muram.
"Nanti kalau sudah sampai di Indonesia, Sabrina tidak boleh nakal ya? Harus dengerin semua kata-kata Mama Zia," lanjut Rayyan dengan nada menasihati yang sangat halus.
"Jangan suka membantah, dan jangan malas belajar di sekolah barumu nanti,"
Sabrina meletakkan sisa pizzanya ke atas piring, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa Papa bicara begitu? Papa ikut pulang bersama kami besok, kan?"
"Papa tidak bisa ikut pulang besok, Sayang. Masih ada beberapa pekerjaan besar dan rapat pemegang saham di kantor yang harus Papa selesaikan minggu ini. Papa janji, Papa akan langsung menyusul kalian ke Jakarta minggu depan,"
Mendengar hal itu, Sabrina langsung melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan wajahnya dengan cemberut.
"Nggak mau! ina nggak mau pergi ke Indonesia kalau tidak ada Papa!"
"Sabrina, jangan egois begitu. Papa kan harus bekerja mencari uang untuk kita," timpal Zia mencoba memberikan pengertian pada putrinya.
"Ina tidak peduli uang! Ina maunya Papa ikut besok. Kalau Papa tidak ada, nanti siapa yang mau gendong Ina kalau Ina capek? Siapa yang mau temani Ina main sebelum tidur? Ina tidak mau pergi tanpa Papa!"
Melihat putrinya yang mulai menangis dan mogok makan, Rayyan langsung menggeser kursinya hingga merapat ke sebelah Sabrina.
Dia membawa tubuh bocah sembilan tahun itu ke dalam dekapan dadanya yang hangat, mengusap punggungnya dengan penuh kelembutan untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah menyambut perubahan besar dalam hidup mereka.
Zia yang menyaksikan hal itu hanya bisa terdiam, menyadari betapa besarnya figur seorang Rayyan Mahindra di dalam hati putrinya, sebuah figur ayah sejati yang sebentar lagi akan diuji oleh takdir saat mereka menginjakkan kaki kembali di tanah Jakarta.
"Bina, lihat Papa," Rayyan menangkup kedua pipi gembul Sabrina dengan kedua tangan besarnya, memaksa bocah itu menatap langsung ke dalam matanya yang teduh.
"Papa janji, Papa tidak akan ingkar. Cuma tujuh hari saja Sabrina di Jakarta tanpa Papa. Setelah itu, Papa langsung datang dan kita main bersama lagi,"
Sabrina masih sesenggukan, bibirnya maju beberapa sentimeter.
"Tapi tujuh hari itu lama, Papa! Nanti di sana Ina tidak punya teman. Sekolah baru Ina pasti menakutkan kalau tidak ada Papa yang antar,"
"Siapa bilang Sabrina sendirian?" Rayyan tersenyum hangat, mengusap sisa air mata di pipi anak perempuannya itu.
"Di Jakarta sudah ada Tante Amara yang menunggu. Tante sudah kangen sekali dan sudah menyiapkan banyak kejutan di rumah baru Sabrina. Tante Amara juga yang berjanji akan mengantar dan menjemput Sabrina di sekolah baru nanti. Sabrina mau kan ditemani Tante Amara?"
"Tante Amara ikut antar?" tanya Sabrina, suaranya mulai merendah meski wajahnya masih ditekuk sebal.
"Iya, Sayang. Tante Amara bahkan sudah membelikan tas sekolah baru yang ada gambar karakter kartun kesukaan Sabrina," timpal Zia ikut membujuk, mencoba mencairkan suasana.
Namun, Sabrina tetap memalingkan wajah, menyembunyikan kepalanya di dada Rayyan.
"Tetap saja beda. Tante Amara kan tidak bisa menggendong Ina setinggi Papa,"
Rayyan terkekeh pelan. Dia tahu persis bagaimana cara menaklukkan hati putri kecilnya ini jika sedang dalam mode merajuk tingkat tinggi. Rayyan merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah jam tangan pintar anak-anak berwarna merah muda yang masih baru dan belum pernah ditunjukkan sebelumnya.
"Sabrina lihat ini," Rayyan menggoyang-goyangkan jam tangan itu di depan mata Sabrina.
"Papa sudah menyeting jam ini khusus untuk kita berdua. Di Jakarta nanti, setiap jam tujuh malam waktu Indonesia, jam ini akan bergetar. Itu tandanya Papa sedang menelepon Bina lewat video call untuk menemani Sabrina tidur. Bagaimana?"
Mata jernih Sabrina langsung melirik jam tangan pintar itu dengan penuh minat.
"Benar? Setiap malam Papa pasti telepon?"
"Tentu saja. Kalau Papa telat satu menit saja, Sabrina boleh menghukum Papa dengan meminta es krim tiga tingkat saat Papa sampai di Jakarta nanti. Deal?" Rayyan mengacungkan jari kelingkingnya dengan senyum menantang yang jenaka.
Sabrina menatap kelingking Rayyan selama beberapa detik, menimbang-nimbang tawaran yang sangat menguntungkan itu. Akhirnya, pertahanan bocah sembilan tahun itu runtuh juga. Sepasang sudut bibirnya perlahan ketarik membentuk senyuman tipis. Dia menautkan kelingking mungilnya pada kelingking Rayyan dengan erat.
"Deal! Awas ya kalau Papa bohong, Ina akan minta es krim yang paling mahal di Jakarta!" ancam Sabrina, meski kini matanya sudah kembali berbinar cerah.
"Iya, anak Papa yang pintar," Rayyan mengacak rambut Sabrina dengan gemas, lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
"Sekarang, habiskan pizzanya, lalu kita pulang dan berkemas,"
Zia yang menyaksikan pemandangan itu dari seberang meja hanya bisa mengembus napas lega sekaligus kagum. Rayyan selalu punya seribu satu cara untuk menjinakkan keras kepalanya Sabrina, membuat Zia semakin yakin bahwa tidak salah jika putrinya begitu mencintai pria itu melebihi apa pun.