Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
.
Hari-hari berganti menjadi minggu. Rumah keluarga Mahendra yang semula masih terasa asing bagi Rania, perlahan mulai menjadi tempat yang paling nyaman baginya. Sikap perhatian Alvino, suara tawa Bu Soraya, dan juga penyambutan hangat dari tuan Aksara membuat hatinya merasa tenang.
Keharmonisan mereka pun terbentuk dengan sendirinya. Sarapan bersama, berkumpul di ruang keluarga setiap malam, meski hanya menonton berita bersama sambil membahas perkembangan bisnis, atau menikmati teh hangat sambil berbincang tentang acara-acara keluarga. Semua membuat Rania benar-benar merasa memiliki keluarga lengkap.
Sedikit demi sedikit, senyum Rania mulai kembali. Luka di hatinya juga perlahan sembuh, meski terkadang ingatan tentang keluarga angkatnya, dan juga keluarga mantan mertua masih muncul membuat dadanya terasa sesak. Akan tetapi kehangatan keluarga Mahendra perlahan menutup retakan-retakan yang selama bertahun-tahun ia simpan sendirian.
Di kantor pun, Alvino tetap memperlakukan Rania dengan profesional. Di depan para karyawan, ia tetap memanggil Rania dengan sebutan "Bu Rania", seolah tidak ada hubungan istimewa di antara mereka. Bahkan ketika sedang dalam rapat penting, ia selalu mendengarkan pendapat Rania dengan penuh hormat, sama seperti ia memperlakukan karyawan lain.
Namun ketika jam makan siang, pria itu selalu menunggu di ruang kerjanya. Makan siang bersama selalu menjadi rutinitas mereka. Di jam pulang pun, Alvino selalu menunggu Rania di lobi untuk pulang bersama, dengan senyum yang selalu membuat hati Rania bergetar.
Dan entah sejak kapan, Rania mulai menantikan momen sederhana itu. Perjalanan pulang yang dulu terasa biasa saja kini berubah menjadi waktu favoritnya. Kadang mereka berhenti hanya sekedar membeli es krim atau makanan favorit Rania.
Kadang Alvino mengajak mampir di taman kota. Duduk berdua dengan tangan saling menggenggam, melihat anak-anak yang sedang berlari, bermain, dan saling berteriak. Kadang juga hanya duduk di dalam mobil sambil mendengarkan lagu tanpa banyak bicara, hanya menikmati kehangatan saat berdua.
Pernah suatu ketika, mereka sedang menikmati waktu berdua, hujan turun tiba-tiba. Alvino langsung membuka jasnya untuk menutupi kepala Rania. Berlari bersama di bawah rintik air yang terus turun. Bahkan ketika Rania lembur hingga larut malam karena menyelesaikan proyek penting, Alvino akan ikut menunggu di ruang kerja nya, sambil menyelesaikan pekerjaannya sendiri dengan laptopnya.
"Kamu tidak perlu menunggu saya, Bang. Kamu bisa pulang duluan saja," kata Rania suatu malam, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih.
Alvino hanya tersenyum, lalu menutup laptopnya perlahan.
"Suami menunggu istrinya pulang bukan pekerjaan yang berat. Selain itu, aku juga belum selesai kerja kok," jawab Alvino tenang, sorot matanya menunjukkan perhatian yang tulus.
Alvino bukan tipe pria yang pandai merangkai kata-kata manis. Ia tidak pernah mengucapkan kata cinta dengan keras-keras. Namun, setiap perhatian kecil yang ia lakukan justru membuat Rania merasa hangat hingga ke relung hati. Sikap Alvino yang tak pernah mendesak atau memaksa membuatnya merasa aman dan dihargai.
*
Waktu terus berjalan. Tanpa disadari, dinding tinggi yang selama ini mengurung hati Rania mulai runtuh sedikit demi sedikit. Dulu ia menerima lamaran orang tua Alvino karena merasa hidupnya telah hancur dan ia melihat pernikahan itu sebagai pelarian dari masa lalu yang menyakitkan. Ia juga pernah berpikir bahwa Alvino menikahinya karena mereka sama-sama memiliki kekurangan. Dan juga karena keluarga Mahendra yang merasa kasihan padanya.
Namun, setiap hari yang mereka lalui bersama membuktikan hal yang berbeda. Tidak ada belas kasihan dalam tatapan Alvino ketika ia melihatnya. Yang ada hanyalah penghormatan yang tulus. Tidak ada tuntutan, tidak ada paksaan. Bahkan janji yang pernah diucapkan Alvino pada malam pertama mereka masih dipegang teguh.
Suatu malam, saat mereka sedang duduk di balkon kamar menikmati secangkir teh hangat, Rania memandang langit yang penuh bintang bertaburan. Udara malam yang sejuk menyentuh wajahnya, membuatnya merasa lebih tenang untuk berbicara.
"Bang..."
Alvino menoleh dari pandangannya yang tadinya melihat arah kolam renang rumah mereka. “Hm?”
"Terima kasih."
"Untuk?" tanya Alvino dengan suara lembut, sambil menyeruput tehnya yang sudah mulai dingin.
"Untuk semuanya. Untuk kamu, untuk Mama, untuk Papa. Semua yang telah kalian berikan padaku."
Alvino meletakkan cangkirnya. Tersenyum kecil, lalu mengambil tangan Rania dengan lembut dan menepuknya ringan.
"Kamu sudah ribuan kali mengucapkan terima kasih, lho."
"Karena aku memang berhutang banyak pada kalian semua. Kalian telah memberikan aku sesuatu yang selama ini aku cari-cari."
Pria itu menggeleng pelan, matanya penuh dengan cinta yang tulus. "Tidak. Jangan bilang begitu. Aku yang beruntung bisa mengenalmu."
Rania memandang wajah suaminya dengan bingung, alisnya sedikit terangkat. "Apa maksudnya?"
"Mungkin aku lupa bilang, aku menyukaimu sejak sebelum kamu menikah dengan Arga. Dan sekarang aku merasa beruntung karena perempuan yang kucintai sekarang duduk di sampingku. Perempuan yang kuat, sabar, dan memiliki hati yang baik. Aku tidak meminta yang lebih dari itu."
Kalimat itu membuat Rania terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan rasa hangat mulai menyebar dari dada hingga ke ujung jari nya. Ada kehangatan yang memenuhi dadanya, seperti sedang berada di bawah sinar matahari pagi yang hangat. Tanpa sadar, senyum tipis terlukis di bibirnya, membuat wajahnya tampak lebih ceria dari biasanya.
*
Malam itu, sebelum tidur, Rania memandangi wajah Alvino yang sudah lebih dulu terlelap. Ia duduk di tepi ranjang, memperhatikan garis wajah pria itu. Dan saat itulah Rania akhirnya menyadari sesuatu. Entah sejak kapan... Ia tidak lagi melihat Alvino sebagai pelindung atau seseorang yang hanya memberikan belas kasihan padanya. Bibit-bibit cinta itu tumbuh, untuk seorang pria yang telah berhasil meretas tembok yang selama ini melindungi hatinya.
Rania tersenyum kecil, lalu dengan hati-hati mencium dahi Alvino yang sedang tertidur nyenyak. "Aku terlambat menyadarinya..." bisiknya pelan, suara teredam oleh suara AC yang berdesir lembut
*
*
*
Hari itu, hujan turun cukup deras sejak sore,.membuat suasana malam terasa begitu dingin. Setelah makan malam bersama, Alvino dan Rania kembali ke kamar mereka. Suara rintik hujan terdengar lembut dari balik jendela, menggantikan suara binatang malam yang mungkin juga sedang bersembunyi di peraduan.
Rania berbaring dengan mata menatap ke arah langit-langit kamar.
"Bang..."
"IHemm?" jawab Alvino yang juga sedang berbaring dengan posisi sama di sampingnya.
"Kalau waktu bisa diputar..." Rania terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan. "...aku ingin bertemu denganmu lebih cepat."
Alvino menoleh perlahan, lalu berbaring menyamping menggunakan telapak tangan untuk menyangga kepalanya. "Kamu menyesal menikah denganku?" tanyanya tiba-tiba merasa khawatir.
Rania menggeleng dengan lembut, lalu merubah posisi jadi berhadapan dengan suaminya. "Tidak sama sekali. Justru aku berpikir, seandainya aku bertemu denganmu lebih awal, mungkin aku tak harus merasakan luka yang pahit."
Alvino mendekat dan mengulurkan tangannya menyelipkan rambut Rania di belakang telinga wanita itu. "Mungkin Tuhan memang sengaja menyiapkan waktu yang paling tepat untuk kita."
Mata Rania mulai berkaca-kaca karena terlalu bahagia. Tanpa berpikir panjang ia mendekat menghapus jarak, memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.
"Bang…"
"Hm?"
"Aku sudah tidak takut lagi."
Kalimat itu membuat Alvino membeku. Ia tidak segera menjawab, seolah memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.
Rania mengangkat wajahnya, tatapan mereka bertemu. Tidak ada lagi keraguan ataupun kecanggungan yang dulu selalu membatasi keduanya. Hanya ada dua hati yang akhirnya saling memahami, saling menerima, dan saling mencintai dengan tulus.
Alvino mengusap lembut pipi istrinya dengan ibu jarinya, kulitnya yang hangat membuat Rania merasa lebih tenang.
"Apa kamu yakin? Aku bisa menunggu lebih lama lagi jika kamu mau."
Rania mengangguk pelan, senyum bahagia penuh cinta terpampang jelas di wajahnya. "Aku yakin. Sebenarnya sudah lama aku siap, hanya saja aku tidak berani mengakuinya."
Alvino tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya memeluk Rania dengan penuh kasih sayang. Rania membalas pelukan suaminya dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada sang suami tanpa rasa canggung sedikit pun. Ia bahkan bisa merasakan denyut jantung Alvino yang begitu cepat.
Di luar, hujan masih turun membasahi malam, memberikan irama yang lembut dan menenangkan. Sementara di dalam kamar, dua insan yang dipertemukan oleh takdir akhirnya benar-benar membuka hati satu sama lain. Dan entah siapa yang memulai, malam itu menjadi awal baru bagi perjalanan rumah tangga mereka.
Alvino, hati-hati dengan tuan surya!
hati² alvino ma om mu itu jaga baik² istrimu