Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 19
POLOS TAPI BERNYALI
Melihat kepergian Silas. Myra masih ragu, namun ia menoleh ke Penelope yang memberinya isyarat untuk menyusulnya jika ingin tahu sesuatu.
“Silas!”
Untuk pertama kalinya dia mendengar wanita itu memanggil namanya. Tentu saja Silas menoleh dan langkah Myra semakin mendekat hingga tepat di samping suaminya.
“Ada apa?”
“Aku mau ikut.”
Cukup lama mereka saling memandang. Silas berpaling dingin, “Ini bukan urusanmu, kau akan bosan.”
“Tidak akan bosan.” tegas wanita itu menarik perhatian Silas yang kembali menatapnya. “Di sini... Aku bosan. Aku ingin keluar menghirup udara segar.”
Pria melangkah maju sedikit menunduk agar bisa menatap lebih jelas ke mata istrinya yang berkilat. “Kau akan mendapatkan udara segar itu. Tapi nyawamu juga akan terancam, dan setiap mata tajam akan terus mengawasi mu. Kau bersedia?”
Myra menelan ludah, namun matanya masih menatap berani dan yakin.
“Ya.”
Kepala Silas mengangguk pelan, lalu ia berjalan lebih dulu. “Ayo.” ajaknya.
Bibir Myra tersenyum kecil mengikuti langkah suaminya yang menghampiri salah satu mobil berjajar rapi dengan merk berbeda dan warna hitam yang sama.
“Jaga Mansion dan suruh Hana mengawasi ketat perusahaan.” pinta Silas ke Kael sebelum ia benar-benar masuk ke mobil.
Myra menatap diam ke Kael yang akhirnya memberi hormat kepadanya seperti biasa. Setelah itu Myra masuk ke mobil yang sama dan hanya mengenakan dress selutut, rambut panjangnya terkuncir ekor kuda sedikit bergelombang.
Silas menoleh, menatapnya sesekali.
Tanpa diminta. Pria itu menekan tombol dan membuat jendela mobil terbuka lebar agar Myra tak pusing apalagi muntah.
.
.
.
Langit nampak sedikit mendung, namun tak ada rintikan hujan, hanya ada hawa dingin yang menusuk.
Brakk!
“Di mana tuan Elion?” tanya seorang pelayan yang ikut menyusul Elina karena perintah.
Gadis mata silver itu tersenyum kecil. “Dia menyuruhku pulang lebih dulu karena dia ada les piano.”
Pelayan itu saling memandang dengan sopir Silas penuh kecurigaan dan tanda tanya. Sementara Elina menatap mereka dengan wajah polosnya.
“Tunggu sebentar. Aku akan memastikannya.” kata pelayan muda itu ke sopir yang merupakan anak buah Silas itu.
Pria itu mengangguk, menjaga Elina. Sementara pelayan tadi turun dari mobil, berjalan masuk ke gedung sekolahan, mencari serta memastikan kalau Elion benar-benar masih ada di sekolahan.
“Ada apa? Kalian tidak percaya denganku?” kata Elina.
Pria dengan tato sanga tadi tersenyum menoleh ke belakang. “Kami percaya, Nona. Tapi kami juga ingin memastikannya sendiri agar tuan Silas dan yang lainnya tidak khawatir.”
“Baiklah!”
Gadis itu kembali sibuk berkutat dengan tabletnya, menonton beberapa adegan cara-cara melwan musuh, dan sesuatu yang seharusnya bukan pelajaran seorang anak kecil, apalagi perempuan.
Disetiap ruangan dan lorong, pelayan wanita itu mencari-cari keberadaan Elion. Hingga dia berhenti di ruang les piano, dimana beberapa anak seusia Elion belajar di sana, bersama-sama.
Ia berkerut alis tak sempat melihat sepenuhnya karena seorang guru lain mendekatinya.
“Mencari siapa, Nyonya?”
Pelayan itu tersenyum menatap guru wanita yang lebih tua darinya.
“Elion Wolfe. Dia sedang les piano?”
“Jika namanya sudah terdaftar, maka dia pasti ikut serta. Anda jangan khawatir, keamanan anak-anak terjamin di sini!” kata guru itu.
Tak bisa berkata-kata lagi. Pelayan tadi hanya mengangguk kecil lalu menoleh sekilas ke kelas itu dan melangkah pergi, kembali ke mobil.
“Sudah?”
“Ya. Kita kembali, dan suruh yang lain menyusul dan menunggu tuan Elion sampai selesai kelasnya.” kata si pelayan.
Pria itu mengerti dan segera menekan panggilan suara saat itu juga. Sementara si pelayan tersenyum menoleh ke Elina yang masih asik sendiri.
...***...
Di belakang pabrik madu, namun dibalik semua itu ada penyelundupan ilegal.
Tepat di dekat danau, Silas berbincang serius dengan seorang wanita yang lebih tua darinya namun masih singel meski bukan lagi seorang perawan.
“Aku selamat dari ledakan sialan itu. Karena si bajingan Valen, paha kiri ku terbakar.” Kata wanita bernama Madona.
Silas tak bergeming, ia membuang rokoknya dan masih menatap dingin. “Lakukan saja sesuai kesepakatan kita, aku akan buka jalur itu untukmu. Berikan setengahnya, karena itu adil.” kata Silas yang akhirnya berbalik.
“Berhati-hatilah dengan Valen. Dia semakin licik, dan dia mengincar daerah yang kau kuasai, Mr. Wolfe.” kata wanita itu menyeringai kecil.
Silas tak berbalik maupun menoleh. Dia berjalan mendekat ke mobilnya. Dimana Myra sejak tadi memperhatikan keduanya penuh kecurigaan.
“Tidak mungkin dia suka dengan wanita tua.” gumamnya tak percaya.
Sampai pria itu masuk dan menatap balik. “Ada apa?”
“Tidak ada.”
Pria itu kembali menyetir mobilnya. Myra yang sejak tadi duduk sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya. Ia menarik nafas dalam-dalam. “Sudah selesai?”
“Belum.” Jawab Silas. “Kita harus bertemu seseorang lainnya lagi.”
“Siapa? Bianco?”
Bibir Silas menyeringai kecil tak menjawabnya. Sedangkan Myra tak memaksa ingin tahu. Dia hanya bersandar dan mengeratkan mantel milik Silas yang sejak tadi dia pakai karena kedinginan.
Mobil hitam itu melaju cukup kencang.
Sejak Silas menemui dua orang yang berbeda, pria itu menyuruhnya menunggu di dalam mobil karena dia tidak mau sesuatu terjadi kepada istrinya.
Tapi kali ini. Pria itu tak menyuruh Myra menunggu di dalam mobil, melainkan ikut dengannya masuk ke sebuah kapal yang menepi di pinggir.
Kapal yang cukup besar namun tidak sebesar kapal pesiar. Tapi cukup elegan dan mewah.
“Kenapa kita kemari?”
“Tetap di sampingku. Jauhi kontak mata dengan siapapun.” kata Silas yang kali ini semakin membuat Myra berdegup.
“Aku bisa menunggu di mobil.”
“Bersama mereka?”
Myra menoleh dan melihat para pria bertubuh besar berjaga di beberapa mobil yang terparkir. Hingga ia akhirnya diam dan menggenggam tangan Silas begitu erat.
Mereka masuk ke kapal itu. Menemui beberapa orang yang sudah berkumpul di sana. Beberapa membawa pasangan seperti Silas, tapi hanya sekedar simpanan semata.
“Silas Al Wolfe.” sapa seorang pria paruh baya tersenyum lebar menjabat tangannya.
Salah seorang wanita elegan menyeringai memperhatikan Myra seperti menatap remeh.
“Kami sedang menunggu Anda.”
“Jadi rumor itu benar. Seorang istri!” kata salah seorang pria tersenyum tipis.
Dengan santai Silas menanggapi mereka. “Ya. My wife.”
Tak lama mereka semua duduk. Namun Myra merasa risih dengan tatapan wanita pirang yang terus meliriknya sinis hingga berkata. ”Une femme innocente. Mais elle a quand même un peu de cran. (Wanita polos. Tapi dia lumayan punya nyali juga).”
Silas menatap tajam dan remeh. “Et elle est bien plus dangereuse que toi. (Dan dia jauh lebih berbahaya darimu).”
Wanita itu terdiam, melirik kembali ke Myra yang juga menatapnya tajam dan dingin.
“Kau ada masalah denganku?” kata Myra tanpa rasa takut.
Wanita Prancis itu tak membalasnya, ia meraih gelas dan meneguk wine nya. Sementara pertemuan di mulai dan Silas sekilas menatap ke Myra yang nampak masih kesal namun mencoba lebih tenang.