Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Tak Terduga
"Aku tulus setia padamu dari awal hingga kita menikah, jadi tidak ada wanita lain di hatiku," ucap Mo Jiu dengan nada yang sangat meyakinkan.
Mendengar itu, aku tertegun. Ternyata Mo Jiu pintar mengeluarkan kata-kata manis. Ku kira dia pria yang dingin, ternyata dia bisa selembut ini. Tang Anning, maafkan aku jika aku mulai benar-benar jatuh cinta kepada suamimu, batinku sebagai jiwa yang kini telah menyatu sepenuhnya dengan tubuh ini.
Sebagai informasi, di Dinasti Tang, terdapat peraturan khusus yang unik. Para wanita yang memiliki pangkat setara dengan Kaisar dianggap sebagai pemimpin wanita yang bertanggung jawab, dan mereka justru diharuskan untuk menikahi lebih dari satu suami. Statusku sebagai Putri Tang Zhen sangatlah dihormati, baik di kalangan rakyat jelata maupun para bangsawan. Ayahku, Jenderal Utama Tang Weiyan, menikah dengan keturunan kerajaan yaitu Li Yunniang, yang merupakan adik angkat dari Permaisuri saat ini. Ibuku sendiri menyandang gelar Putri Long Zhen karena keberaniannya memenangkan perang di masa mudanya.
Di tengah lamunanku mengenai silsilah keluarga, Mo Jiu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ning'er, aku punya sesuatu untukmu," ucapnya pelan.
Mo Jiu kemudian mengeluarkan sebuah kotak panjang kecil dari balik jubahnya dan menyerahkannya kepadaku. Aku menerimanya dengan perasaan bercampur aduk.
"Apa ini? Hadiah?" tanyaku ragu, karena tidak biasanya Mo Jiu bersikap seromantis ini kepadaku. Penasaran, aku pun mulai membuka kotak tersebut untuk melihat isinya.
"Bukalah, semoga kau suka. Aku memilihnya khusus untukmu," ucap Mo Jiu sambil tersenyum tulus.
Ketika aku membuka kotak tersebut, terpampang sebuah tusuk konde yang sangat cantik dengan hiasan bunga plum yang terbuat dari mutiara. Aku terkesiap. Sebentar, dari mana dia tahu aku suka bunga plum? Apakah dia mengetahui semua kesukaanku? batinku takjub.
"Terima kasih, Suamiku. Aku juga punya sesuatu yang ingin kuberikan padamu," ucapku. Aku kemudian mengambil kotak lain dari balik lengan bajuku, yang di dalamnya berisi sebuah liontin giok berbentuk bambu untuk Mo Jiu.
"Bukalah, aku tidak tahu apakah kau menyukai hadiah dariku," kataku dengan perasaan malu-malu.
Mo Jiu membuka kotak pemberianku, dan seketika ekspresi wajahnya berubah, dihiasi senyuman hangat. "Liontin giok ini cantik sekali, Ning'er. Apa kau memilih hadiah ini sendiri?" tanyanya, tampak tak percaya dengan pilihan hadiahku.
"Tentu saja. Kebetulan di perjalanan menuju Gunung Salju, aku melihat seorang pedagang menjual giok-giok yang indah. Aku tertarik, jadi aku memutuskan untuk memberikanmu liontin giok bambu ini. Artinya sangat mendalam, yaitu melambangkan keteguhan hati, integritas, dan umur panjang. Apakah kau menyukainya, Suamiku?"
Aku benar-benar berharap kau suka hadiah itu, A-Jiu, batinku penuh harap, menanti reaksinya dengan jantung yang berdebar.
"Tentu saja aku suka. Terima kasih, Ning'er. Kau telah mencarikan penawar racunku dan kau memberiku kejutan yang sangat indah ini," jawab Mo Jiu dengan senyum yang merekah.
Suasana hati Mo Jiu begitu bahagia. Baru kali ini aku melihat matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja menerima hadiah dari ibunya. Benar, aku yang membuat karakternya, jelas saja aku seperti ibu kandung yang melahirkan karakter hebat sepertinya, batinku dengan rasa bangga dan bahagia.
"A-Jiu, istirahatlah. Aku akan menjagamu," ucapku, mencoba menenangkan suasana.
Namun, Mo Jiu menggeleng pelan. "Jangan pergi. Tidurlah denganku," pintanya.
"Ahh... tidur bersama? Rasanya lain sekali," ucapku canggung, diikuti dengan detak jantungku yang berdegup kencang tak beraturan.
Ya Tuhan, drama apa lagi ini? Aku harus menghindar darinya, jika tidak... ah, jantungku rasanya tidak mau berhenti, batinku panik.
Mo Jiu menyipitkan mata, menatapku curiga. "Kenapa kau menghindar? Kita ini suami istri, Ning'er. Apa kau takut aku berbuat sesuatu padamu?"
"Tidak, tidak! Aku tidak berpikiran seperti itu," sanggahku cepat. Aku segera bergegas memasang kembali cadarku, namun sebelum kain itu menutupi wajahku, Mo Jiu dengan sigap menarik tanganku hingga aku terjatuh tepat ke dalam pelukannya.
"Kenapa kau begitu takut padaku, Ning'er? Aku tidak akan menggigitmu," bisik Mo Jiu tepat di telingaku. Hembusan napas hangatnya yang menerpa tengkuk membuatku terdiam kaku, pikiranku mendadak kosong karena terkejut oleh kedekatan yang tiba-tiba ini.
"Ning'er, seharusnya malam ini menjadi malam pernikahan kita yang sesungguhnya," bisiknya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih serak dan penuh kerinduan.
"Hehehe... A-Jiu, kau membuatku takut," ucapku berusaha mencairkan suasana dengan tawa canggung.
"Kau takut? Lucu sekali. Biasanya kau akan mengomel panjang lebar jika aku bertindak gegabah," balas Mo Jiu sambil menatap wajahku dengan tatapan yang intens dan tak terelakkan.
Aku mencoba mendorong tubuhnya menjauh, namun tangan kekarnya justru mengunci posisiku, memegang kedua tanganku dengan lembut namun tegas.
"Malam ini, kau milikku," ucapnya dengan nada mutlak.
Tanpa menunggu balasan dariku, Mo Jiu menarik tengkukku dan mendaratkan ciuman hangat di bibirku. Napas kami perlahan bersatu di tengah keheningan malam. Segala rasa gugup dan takutku perlahan sirna, digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh saat aku mulai membalas perlakuannya. Malam itu, aku benar-benar terbuai dalam pelukan hangat dan lembut seorang Mo Jiu.
Keesokan harinya, cahaya matahari yang mengintip dari balik tirai membangunkanku. Aku mengerjapkan mata, mendapati pemandangan yang cukup memalukan; pakaianku dan pakaian Mo Jiu tersebar berantakan di lantai kamar. Hanya tersisa sehelai kain tipis yang membungkus tubuhku, sementara Mo Jiu masih tertidur lelap dengan napas teratur tepat di sampingku.
"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi semalam?" batinku dengan wajah yang memanas, mencoba mengingat potongan memori yang samar. "Kenapa... kenapa aku bisa seketika lupa detail kejadian tadi malam?"
Aku terdiam sejenak, memandangi wajah tenang Mo Jiu yang sedang terlelap, mencoba mencerna perubahan besar yang baru saja terjadi dalam hubungan kami.
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸