Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
balasan Budi yang penuh keraguan
Namun aku tak beranjak. Kakinya terpaku di aspal dingin, tak sanggup melangkah pergi. "Kau baru saja menyelamatkan nyawaku. Izinkan aku membalas sedikit kebaikan itu."
Ia menoleh tajam seketika, matanya menyala penuh kemarahan yang tak kusebabkan. "Jangan merasa berharga begitu. Aku tak menolongmu karena iba. Pergi sebelum aku berubah pikiran!"
Meski diusir dengan kasar, aku tetap diam di tempat. Sekeliling benar-benar sunyi — tak ada orang, tak ada kendaraan, tak ada benda yang bisa kubantu. Hanya kami berdua di bawah cahaya remang lampu jalan yang redup. Dengan tekad bulat, aku merobek bagian bawah bajuku secukupnya — kain bersih yang masih tersisa — lalu melipatnya jadi perban. Saat mendekat untuk mengikat lukanya, ia mendorongku cukup keras hingga aku terhuyung mundur, tumitku menggeser batu kerikil di jalan.
"Kubilang PERGI!" bentaknya makin tinggi, suaranya pecah menahan rasa sakit yang menyayat.
Aku menatapnya ragu namun teguh, tak mundur selangkah pun. "Ibu pernah berpesan: jika orang berbuat baik padamu, harus membalas sebaik mungkin. Aku hanya menjalankan ajarannya."
Ia menyeringai sinis — senyum yang tak sampai ke matanya, tatapannya sulit dimengerti, penuh keraguan dan kepahitan yang mendalam.
"Kalau sungguh mau balas budi… temani dan layani aku di sini malam ini?"
Aku mundur spontan, tumit bergeser di aspal kasar hingga nyaris terpeleset. Wajahku pucat pasi, napas tercekat di tenggorokan, mataku panas hampir menangis lagi — takut, heran, kecewa bercampur sesak hebat yang menekan dada. Namun ia segera memalingkan wajah, suaranya kaku dan berat menahan rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan: "Baiklah… lakukan apa yang kau mau." Ia mengangguk samar, tangannya masih mencengkeram erat luka di lengannya, tak berani menatapku lagi seolah malu dengan kata-katanya sendiri.
Aku mengembuskan napas lega perlahan, lalu mendekat kembali dengan langkah hati-hati. Sekali-sekali aku mencuri pandang ke arahnya, tapi setiap gerak kecilnya membuatku mundur kaget — canggung, takut, dan rasa malu yang memuncak. Perlahan ia membuka kancing bajunya satu per satu, memperlihatkan tubuh berotot yang kokoh namun kini ternoda darah yang menyebar gelap di kulitnya. Aku cepat memalingkan wajah, pipiku membara, rasa malu dan canggung memenuhi dada hingga sesak.
"Jangan berlagak segan begitu. Lakukan saja," ucapnya dingin dan datar, seolah tak peduli seberapa canggung aku merasa.
Aku memberanikan diri maju pelan, suaraku lembut nyaris berbisik: "Maaf kalau menyakitimu… izinkan aku melihat lukanya sebentar."
Mataku tertuju penuh pada luka lengannya yang masih merembes darah segar. Tanganku gemetar hebat saat hendak menyentuh kulitnya, keringat dingin membasahi telapak tanganku. Sangat hati-hati, kubentangkan kain sobekan itu, lalu mengikatnya perlahan — cukup kencang untuk menahan pendarahan, namun tak menekan berlebih. Sepanjang waktu itu, pandanganku hanya tertuju pada luka itu saja, tak berani melihat ke mana pun lain. Jarak kami begitu dekat, setiap kali ia meringis menahan sakit, aku bisa merasakan hembusan napas beratnya yang memburu di udara. Tanpa sadar, ia diam-diam menatapku tajam namun tenang — meneliti setiap gerak tanganku, setiap raut wajahku, seolah berusaha membaca siapa diriku sebenarnya.
Selesai mengikat perban, dadaku terasa jauh lebih lega — seolah beban berat terangkat dari pundakku. Saat mengangkat kepala dan menoleh tiba-tiba, ekspresiku kaku dan bingung: mata kami bertemu tepat. Jarak wajah kanannya cepat melingkar di pinggangku, menarikku kembali hingga tubuhku jatuh ke dalam pelukannya yang kokoh dan tak tergoyahkan. Kedua tanganku tanpa sadar menekan dadanya untuk memberi jarak sedikit, seluruh tubuhku masih gemetar hebat — ketakutan, kebingungan, dan jantung yang berpacu liar seolah mau melompat keluar dari rongga dada.
Suaranya berat, dalam, penuh curiga yang nyata dan tak bisa disembunyikan.
"Bukankah ini yang kau mau?"
Aku berusaha melepaskan diri, namun lengannya sekuat baja — tak bergeser sedikit pun meski aku berjuang sekuat tenaga.
"Sengaja kau ke sini memancingku?" bisiknya tepat di dekat telingaku, napasnya hangat dan berat menyentuh kulit leherku. "Berpura-pura polos, diam-diam siapkan cara agar aku tertarik. Kenapa sekarang menolak?"
Wajahnya makin mendekat, hidungnya hampir menyentuh pipiku. Ketakutan melumpuhkan seluruh tubuhku, pikiranku kosong melompong. Tanpa sadar, tanganku menekan tepat di lukanya yang baru saja kubalut. Ia tersentak hebat, genggamannya lepas seketika — rasa sakit yang tajam mengalahkan segalanya.
Aku mundur terhuyung cepat, jantungku mau meledak di dada. Sekilas melihatnya meringis menahan sakit yang tajam, namun ketakutan lebih besar dari rasa iba. Tak boleh lama di sini. Tanpa menoleh ke belakang, aku berlari sekuat tenaga — meninggalkannya sendirian di lorong gelap itu, bayangannya makin mengecil di belakangku.
Berlari terus tanpa henti, napasku kacau dan terengah, hingga bangunan rumah sakit tampak samar di kejauhan. Langkahku dipercepat, pikiranku hanya satu: Aslan. Sudah terlalu lama aku meninggalkannya sendirian di sana, pasti ia cemas dan bingung.
Masuk ke rumah sakit, langkahku terdengar nyaring di lantai keramik dingin yang mengkilap — seolah menegurku karena pergi terlalu lama. Di depan pintu kamar, aku berhenti sejenak, menyeka wajah yang berantakan, menyisir rambut dengan jari, merapikan baju yang kusut — menyembunyikan segala ketakutan dan kekacauan di mataku — baru kemudian memutar gagang pintu perlahan.
Pasien lain sudah tidur lelap, napas mereka teratur di bawah selimut putih. Aslan juga tidur tenang di ranjangnya, wajahnya masih pucat namun napasnya terlihat lebih stabil. Aku berdiri diam menatapnya lama, mataku perlahan berkaca-kaca lagi. Pikiran kusut kembali menyerang: biaya operasi belum terpenuhi sama sekali, enam ratus juta masih angka yang mustahil, tak tahu dari mana mencari uang sebanyak itu, dan aku hampir saja…
Aku duduk di kursi kayu di tepi ranjang, menyandarkan punggung ke dinding yang dingin, lalu memejamkan mata sejenak — berusaha mengistirahatkan tubuh yang terasa hancur lelah, berusaha menenangkan hati yang masih berdebar kencang karena kejadian di lorong gelap tadi.
Keesokan paginya, aku terbangun karena riuh rendah obrolan dan langkah kaki di lorong luar. Sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai, bercampur dengan suara klakson dan kicau burung dari jalan raya. Ternyata aku tertidur duduk semalaman, kepala bersandar di tepi kasur Aslan. Kubuka mataku yang terasa berat, pandanganku masih kabur dan kabut. Saat meluruskan tubuh perlahan dan menatap ranjang di depanku — Aslan sudah bangun. Ia berbaring tenang, menatapku tanpa berkedip sedikit pun, matanya jernih dan penuh tanya yang tak terucap.
"Sejak kapan bangun? Masih sakit?" tanyaku bingung, segera menyentuh keningnya untuk memeriksa suhu tubuhnya.
Ia menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibir pucatnya. "Sudah tidak sakit lagi."
Tiba-tiba perutku berbunyi keras memecah keheningan pagi, disusul bunyi serupa dari perut Aslan. Wajahku memerah padam karena malu yang tak tertahankan. Cepat berdiri sambil memaksakan senyum sebisaku. "Kalau begitu… Kakak beli makanan sebentar ya. Tunggu di sini, jangan ke mana-mana."
"Iya, Kak."