NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1: Lowongan Kerja: Mencari Ibu Tiri

Pagi itu, Kota Megapolitan diguyur hujan gerimis yang membuat aspal jalanan berkilau kelabu.

Di sudut sebuah halte bus yang sepi, seorang wanita muda berdiri memeluk tas ransel kainnya yang mulai usang.

Namanya Viona. Wajahnya yang tirus tampak pucat, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya yang menyiratkan kelelahan jiwa yang amat dalam.

Jas hujan plastik murah yang ia kenakan tidak sepenuhnya mampu menghalau angin dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Bagi Viona, dinginnya cuaca pagi ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan dinginnya kenyataan hidup yang harus ia telan bulat-bulat selama tiga tahun terakhir.

Tiga hari lalu, ia resmi menyandang status janda.

Sebuah status yang diiringi dengan pengusiran kejam dari rumah mewah mantan suaminya, Lin.

Jangankan harta gono-gini, pakaiannya pun hanya dihargai beberapa helai yang dimasukkan ke dalam kantong plastik sampah.

 Lin, pria narsistik yang dulu bersumpah akan membahagiakannya, ternyata berselingkuh di belakangnya selama setahun penuh.

 Lebih parah lagi, ketika Viona memergoki pria itu memeluk wanita lain di sebuah kelab malam, Lin justru memaki dan menuduh Viona sebagai istri yang tidak berguna, tidak tahu diuntung, dan penyakitan.

Ya, penyakitan. Selama mendekam di rumah keluarga Lin, Viona tidak pernah diperlakukan sebagai seorang istri.

Ia adalah pembantu tanpa gaji.

Ia dipaksa melayani ibu mertua dan kakak iparnya yang judes dari subuh hingga tengah malam.

Ketika tubuh dan mentalnya ambruk hingga didiagnosis menderita depresi berat (major depressive disorder), alih-alih mendapat pelukan hangat, ia justru diberi label "wanita gila" dan diceraikan tanpa sepeser pun uang.

Viona meraba saku mantelnya, mengeluarkan selembar kertas resep dokter dari rumah sakit jiwa kota.

Obat penenangnya tinggal dua butir untuk malam ini.

 Tanpa pekerjaan dan tanpa uang, bulan depan ia mungkin benar-benar akan kehilangan kewarasannya.

"Aku tidak boleh menyerah,"

 bisik Viona pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar, namun matanya memancarkan sisa-sisa keteguhan yang belum sepenuhnya padam.

 "Jika mereka ingin melihatku mati, maka aku harus memilih untuk hidup."

Ia membuka ponselnya yang layarnya sudah retak di bagian sudut.

 Jari-jarinya yang gemetar membuka sebuah situs lowongan kerja lokal.

 Matanya menyusuri puluhan iklan lowongan—mulai dari pencuci piring hingga buruh pabrik—namun tidak ada yang menawarkan upah harian yang cukup untuk menyewa kamar kos dan membeli obat impornya yang mahal.

Sampai akhirnya, sebuah iklan dengan format ganjil dan mencolok menarik perhatiannya.

> LOWONGAN KERJA KHUSUS & SEGERA

> Posisi: Ibu Tiri Kontrak (Pengasuh Utama)

> Kriteria: Wanita usia 23–30 tahun, penyabar, memiliki ketahanan mental yang kuat, tidak mudah tersinggung, terampil dalam urusan domestik, dan wajib tulus menyayangi anak-anak. Diutamakan yang tidak memiliki ikatan pernikahan atau baru saja bercerai demi menghindari konflik hukum.

> Tugas Utama: Menjinakkan dan mengurus anak perempuan usia 5 tahun yang mengalami trauma psikologis, memastikan sang anak mau makan, dan bersedia menandatangani kontrak pernikahan legal demi status anak.

> Fasilitas & Gaji: Tempat tinggal di kawasan elit, seluruh biaya hidup ditanggung, dan gaji pokok 200.000 Yuan per bulan (Bersih).

> Catatan: Segala bentuk usaha untuk mendekati, merayu, atau menggoda Tuan Rumah (Ayah sang anak) akan berujung pada pemecatan instan dan tuntutan hukum.

>

Viona tertegun.

Dua ratus ribu Yuan sebulan? Angka itu terlalu fantastis, bahkan cenderung tidak masuk akal untuk pekerjaan seorang pengasuh atau ibu tiri bayaran.

 Bagi orang lain, iklan ini mungkin terlihat seperti penipuan atau jebakan perdagangan manusia.

Namun, bagi Viona yang berada di tepi jurang, angka itu adalah tali penyelamat.

Itu adalah uang pengobatan, uang untuk membangun kembali harga dirinya yang telah diinjak-injak.

Tanpa berpikir panjang, Viona menekan nomor kontak yang tertera di bawah iklan tersebut.

Hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu diangkat.

Suara seorang pria paruh baya yang terdengar sangat formal dan tegas menyapa ketukan gendang telinganya.

"Halo, dengan kediaman keluarga Oliver. Apakah Anda menelepon terkait lowongan kerja yang kami pasang?"

"I-iya, benar Pak," jawab Viona, berusaha menekan getaran di suaranya.

"Saya... saya ingin melamar untuk posisi tersebut. Saya memenuhi kriteria yang Anda tulis. Saya baru saja bercerai, memiliki banyak pengalaman mengurus rumah tangga, dan saya sangat sabar menghadapi anak-anak."

Hening sejenak di seberang telepon.

Pria yang mengaku sebagai kepala pelayan itu tampaknya sedang memeriksa sesuatu.

"Baiklah. Siapa nama Anda?"

"Viona. Nama saya Viona."

"Nona Viona, silakan datang ke alamat yang akan saya kirimkan melalui pesan singkat sekarang juga. Seleksi akan diadakan langsung hari ini. Jika Anda terlambat satu menit saja dari waktu yang ditentukan, Anda dianggap gugur."

"Klik."

Sambungan terputus.

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Viona, berisi sebuah alamat di kawasan perumahan perbukitan eksklusif yang terkenal sebagai kawasan para miliarder dan konglomerat papan atas.

Viona menarik napas dalam-dalam, melipat jas hujan plastiknya, dan segera berlari menuju stasiun kereta bawah tanah terdekat.

Ia tidak tahu badai apa lagi yang akan ia hadapi di rumah itu, tetapi ia tahu, ia tidak boleh berbalik arah.

Satu jam kemudian, Viona berdiri di depan sebuah gerbang besi hitam menjulang tinggi yang dijaga oleh dua satpam berbadan tegap dengan setelan jas hitam.

Di balik gerbang itu, sebuah mansion bergaya Eropa klasik berdiri dengan megahnya, dikelilingi oleh taman luas yang tertata rapi namun terasa sunyi, seolah-olah tempat itu tidak memiliki jiwa.

Setelah melewati pemeriksaan identitas yang ketat, Viona diantar berjalan menyusuri koridor panjang berbahan marmer mengilap di dalam mansion.

Di ruang tamu utama yang luas, suasana terasa sangat mencekam.

Beberapa wanita muda dengan pakaian modis dan riasan tebal tampak duduk mengantre di sofa kulit.

 Viona melirik penampilannya sendiri—kemeja putih polos yang sedikit pudar, celana kain hitam, dan sepatu flat yang agak basah karena rembesan air hujan.

Ia tampak seperti seekor itik buruk rupa di antara sekumpulan angsa.

"Nona Viona?"

 Seorang pria paruh baya dengan rambut beruban rapi dan setelan tuksedo pelayan mendekatinya. Dia adalah Pak kepala pelayan yang tadi berbicara di telepon.

"Iya, saya Pak,"

Viona membungkuk sedikit, memberikan penghormatan.

Pak Pelayan menatap Viona dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Tatapannya tidak merendahkan, melainkan penuh selidik.

 Berbeda dengan wanita-wanita lain yang datang dengan parfum menyengat dan senyum genit yang dipaksakan, Viona memiliki sepasang mata yang jernih namun menyimpan kesedihan yang mendalam, sebuah ketenangan yang lahir dari badai hidup.

"Mari ikut saya. Saya akan menjelaskan beberapa aturan mendasar sebelum Anda bertemu dengan Tuan Besar,"

ujar Pak Pelayan sambil memberi isyarat agar Viona mengikutinya menuju sebuah ruangan kecil di dekat dapur utama.

Setelah pintu tertutup, Pak Pelayan berbalik dan menatap Viona dengan serius.

"Saya akan blak-blakan dengan Anda, Nona Viona. Nama saya adalah kepala pelayan keluarga ini. Majikan saya, Tuan Oliver, adalah pria yang sangat sibuk dan... dingin. Beliau tidak sedang mencari cinta, tidak sedang mencari teman kencan, dan sama sekali tidak tertarik pada wanita. Lowongan ini murni dibuat demi putri tunggalnya, Yoyo."

Viona mengangguk paham.

 "Saya mengerti, Pak."

"Bagus. Karena saya harus meletakkan kata-kata buruk ini di depan,"

lanjut Pak Pelayan dengan nada memperingatkan.

"Kami mengontrak seorang ibu tiri untuk memberi kenyamanan psikologis dan status sosial bagi Nona Kecil Yoyo, bukan untuk memberi Tuan Besar seorang kekasih. Siapa pun wanita yang berani bertingkah tidak sopan, atau mencoba menyelinap ke lantai tiga—yang merupakan area pribadi Tuan Oliver—akan langsung dihempaskan keluar tanpa ampun. Pernah ada pelamar sebelum Anda yang mencoba naik ke tempat tidur Tuan Oliver di tengah malam. Tuan sendiri yang melempar wanita itu keluar dari jendela lantai dua hingga lengannya patah. Apakah Anda paham risiko ini?"

Mendengar cerita ekstrem itu, Viona tidak merasa takut. Sebaliknya, ia justru merasa lega.

Sifat Oliver yang membenci wanita justru menjadi jaminan keamanan baginya.

Setelah dikhianati oleh Lin, hal terakhir yang diinginkan Viona di dunia ini adalah terlibat dalam hubungan asmara yang rumit dengan pria lain.

Ia hanya ingin bekerja, mengurus anak, dan mendapatkan uang untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

"Anda tidak perlu khawatir, Pak,"

ujar Viona dengan nada tegas dan mata yang lurus.

"Tujuan saya datang ke sini hanya dua: mendapatkan tempat tinggal yang aman untuk bekerja, dan memfokuskan seluruh energi saya untuk merawat Nona Kecil. Saya berjanji tidak akan pernah memiliki pemikiran atau niat yang tidak seharusnya terhadap Tuan Oliver."

Pak Pelayan mengamati ekspresi Viona selama beberapa detik.

Ketulusan dan ketegasan dalam suara wanita itu tidak tampak seperti kepura-puraan.

"Baiklah. Mari kita lihat apakah Anda bisa melewati ujian pertama. Nona Kecil Yoyo sudah mengurung diri di kamarnya sejak kemarin dan menolak menyentuh makanan sama sekali. Bahkan para psikolog anak terbaik pun menyerah menghadapinya."

Pak Pelayan membawa Viona menuju lantai dua, berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran awan dan bintang-bintang kecil.

Dari dalam kamar, terdengar suara pecahan piring berdering keras, diikuti oleh suara tangisan melengking seorang anak kecil.

"Pergi! Kalian semua orang jahat! Aku tidak mau makan! Aku tidak mau!"

Viona mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.

Di dalam kamar yang luas dan penuh dengan mainan mahal itu, seorang gadis kecil dengan rambut di kuncir dua sedang duduk meringkuk di sudut tempat tidur.

Wajahnya yang bulat tampak pucat dan matanya sembap karena terlalu banyak menangis.

Di lantai dekat tempat tidur, nasi dan sup ayam berserakan akibat mangkuk yang sengaja ditepisnya.

Beberapa pelayan wanita berdiri di dekat pintu dengan wajah frustrasi dan ketakutan, tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Tepat pada saat itu, suasana di koridor lantai dua tiba-tiba mendingin secara drastis.

Langkah kaki yang berat, lambat, namun berwibawa terdengar mendekat dari arah tangga tengah.

Viona menoleh dan seketika merasakan atmosfer di sekitarnya menjadi begitu pekat hingga sulit untuk bernapas.

Seorang pria bertubuh tegap dan jangkung, dengan setelan jas abu-abu gelap yang dijahit sempurna tanpa cela, berjalan mendekat.

Pria itu memiliki rahang yang tegas, hidung mancung seperti pahatan marmer, dan sepasang mata elang yang sangat tajam sekaligus sedingin es.

Tidak ada kehangatan sedikit pun di wajahnya.

Dia adalah Oliver, sang tirani bisnis, CEO tertinggi yang menguasai roda perekonomian kota ini.

"Tuan Besar,"

para pelayan langsung menundukkan kepala mereka dalam-dalam dengan tubuh gemetar.

Oliver menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar putrinya.

Ia melirik kekacauan di dalam kamar, lalu mengalihkan pandangan matanya yang dingin langsung ke arah Viona yang berdiri di sebelah Pak Pelayan.

Tatapan mata Oliver seolah mampu menembus isi kepala Viona, membuat wanita itu refleks mengepalkan tangannya di sisi tubuh.

"Siapa dia?"

suara Oliver terdengar rendah, berat, dan tanpa emosi.

"Tuan, ini Nona Viona. Dia adalah salah satu pelamar yang baru saja tiba untuk posisi ibu tiri kontrak,"

 jawab Pak Pelayan dengan penuh hormat.

Oliver tidak membalas ucapan Pak Pelayan. Ia hanya menatap Viona dengan tatapan menilai yang dingin, sebelum akhirnya berbicara dengan nada meremehkan yang halus.

"Kau ingin melamar menjadi ibu tiri di sini? Apa kau tahu apa yang harus kau lakukan?"

Viona mengatur napasnya, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang berpacu cepat akibat intimidasi alami dari pria di depannya.

"Saya tahu, Tuan Oliver. Tugas saya adalah mengurus putri Anda."

Oliver mendengus dingin.

"Putriku tidak membutuhkan ucapan kosong. Jika kau memang memiliki kemampuan dan bukan sekadar mengincar posisi di rumah ini, masuklah ke dalam. Buat dia menghabiskan makanannya dalam waktu tiga puluh menit. Jika kau gagal, angkat kakimu dari propertiku detik ini juga."

Tantangan itu telah dilemparkan.

Viona tahu ini adalah satu-satunya kesempatannya.

Jika ia melangkah mundur sekarang, ia akan kembali ke halte bus yang dingin tanpa masa depan.

Viona menatap Oliver, memberikan anggukan kecil yang sopan namun penuh rasa percaya diri yang tenang.

"Baik, Tuan Oliver. Tolong beri saya waktu tiga puluh menit. Dan tolong siapkan sepiring nasi hangat yang baru dari dapur."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari sang CEO dingin, Viona memutar kenop pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar Nona Kecil Yoyo, bersiap menghadapi ujian pertama yang akan mengubah seluruh garis takdir hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!