Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Brankas Tua
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, memantulkan gemerlap lampu-lampu megapolitan di atas aspal jalanan yang basah. Mobil Rolls-Royce Phantom hitam milik Devan Elvano melaju tenang membelah kemacetan kota, dikawal ketat oleh dua mobil SUV hitam tim keamanan di depan dan belakang.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Devan memegang erat jemari Mentari. Mentari tampak mengenakan mantel kain wol tebal berwarna krem dengan liontin perak yang kini sudah ia lepaskan dari lehernya dan berada dalam genggaman tangannya. Kunci kecil berukir rumit yang tersembunyi di balik liontin itu berkilau diterpa lampu kabin yang remang.
Tujuan mereka bukan penthouse atau kantor Elvano Group, melainkan sebuah bangunan berarsitektur kolonial di kawasan Menteng. Bank Batavia Utama—satu-satunya bank swasta tertua di Indonesia yang masih mempertahankan sistem Safety Deposit Box konvensional tanpa akses digital, tempat almarhum ayah Mentari menyimpan rahasia terbesar keluarganya sembilan tahun lalu.
Mobil berhenti tepat di depan tangga utama gedung bank yang sudah tutup untuk umum. Namun, Direktur Utama bank tersebut bersama dua pengawal pribadi bersetelan hitam sudah berdiri menunggu di balik pintu kaca, membukakan jalan khusus untuk sang miliarder dan istrinya.
"Selamat malam, Pak Devan, Bu Mentari. Area brankas bawah tanah sudah kami kosongkan dan sterilkan sesuai permintaan Anda," ujar Direktur Utama bank itu dengan membungkuk hormat.
"Terima kasih, Pak Hendra. Biarkan kami berdua saja yang turun ke bawah," sahut Devan tegas namun sopan.
Dengan dipimpin oleh Devan, mereka melangkah menyusuri tangga melingkar menuju lantai bawah tanah. Udara di lorong bawah tanah itu terasa dingin dan lembap, berbau besi tua dan kertas-kertas kuno. Pintu baja berukuran raksasa dengan roda pemutar mekanis terbuka perlahan, memperlihatkan ratusan kotak deposit berbahan baja tebal yang tertanam di dinding.
Mentari melangkah mendekati deretan kotak di sudut paling dalam, mencari nomor #0847—tanggal lahir almarhum ayahnya.
Tangannya sedikit gemetar saat ia memasukkan kunci kecil dari liontinnya ke dalam lubang kunci kotak baja tersebut. Klik. Suara engsel tua berbunyi, dan pintu kotak deposit itu terbuka.
Di dalam kotak yang berdebu itu, terdapat sebuah kotak kayu jati berukir khas Jawa yang sudah tampak usang. Devan mengambil kotak kayu itu dengan hati-hati, lalu membawanya ke meja kayu jati yang terletak di tengah ruangan.
"Buka saja, Mentari," bisik Devan lembut dari balik bahu istrinya, menyalurkan rasa tenang.
Mentari mengangkat tutup kotak kayu tersebut. Di dalamnya, terpapar selembar peta kain linen tua bersertifikat segel lilin merah, sebuah kaset pita audio mini berukuran 9mm, serta sebuah buku catatan bercover kulit hitam milik almarhum ayahnya.
Devan membuka lipatan peta kain linen tersebut. Matanya yang jeli langsung mengenali segel resmi yang tertera di sudut bawah peta: Segel Hak Udayana 1952. Peta itu merupakan sertifikat induk tanah adat seluas tiga ratus hektar di kawasan strategis yang saat ini menjadi pusat kawasan bisnis terpadu Elvano Group.
Namun, yang membuat alis Devan menyipit tajam adalah tanda tangan saksi di samping tanda tangan kakek Mentari: Arthur Vaneck.
"Ini bukan surat utang atau piutang," gumam Devan, suaranya memberat. "Ini adalah Surat Perjanjian Kemitraan Hak Guna Usaha. Arthur Vaneck sembilan belas tahun lalu menyerahkan seluruh kepemilikan tanah ini secara sah kepada keluarga Ayuningtyas sebagai pelunasan ganti rugi atas investasi proyek modal yang gagal di Eropa."
Mentari membelalakkan matanya. "Artinya... keluarga Vaneck tidak pernah memiliki hak atas tanah itu lagi sejak tahun 1952?"
"Tepat," pangkas Devan dengan binar mata berbahaya. "Arthur Vaneck menyembunyikan kenyataan ini dari putranya, Julian Vaneck. Julian tumbuh dengan meyakini bahwa ayahmu merebut tanah itu secara haram, padahal ayahnya sendiri yang menukarnya untuk menyelamatkan nama keluarganya dari kebangkrutan di Jenewa!"
Devan kemudian beralih mengambil kaset pita mini tersebut. Ia mengeluarkan sebuah alat pemutar kaset portable yang sudah disiapkan oleh tim keamanannya dari saku jasnya. Ia memasukkan kaset tua itu, lalu menekan tombol PLAY.
Suara gesekan pita tua berderak sejenak sebelum suara bass yang sangat akrab di telinga Mentari memenuhi ruangan sunyi itu.
"Mentari, anakku sayang... jika kamu mendengarkan rekaman ini, artinya Ayah sudah tidak lagi ada di sisimu..."
Air mata Mentari seketika menetes mendengarkan suara almarhum ayahnya, Pak Gunawan Ayuningtyas. Devan merangkul bahu Mentari erat-erat, membiarkan istrinya bersandar di dadanya.
"...Ayah menyembunyikan rekaman dan peta ini agar kamu selamat. Arthur Vaneck dan rekannya dari Swedia terus menekan Ayah untuk memusnahkan dokumen ini. Mereka mengancam akan menghancurkan bisnis kita jika Ayah tidak menyerahkan tanah ini kembali. Bramantyo dan Baskoro hanyalah alat yang dimanfaatkan Arthur untuk menjebak Ayah. Jangan pernah serahkan kotak ini kepada siapa pun, Mentari... kecuali kepada pria yang benar-benar bisa melindungimu. Maafkan Ayah, Nak..."
Suara rekaman itu berhenti, menyisakan keheningan yang mencekam di ruangan bawah tanah.
Mentari menyapu air matanya, kini rasa cemas di hatinya berubah menjadi kemarahan yang meluap. Sembilan tahun ia hidup menderita, kehilangan masa mudanya, dan ibunya harus terbaring sakit, semua hanya karena ketakusan dan kebohongan besar keluarga Vaneck.
"Mereka membunuh Ayah secara perlahan dengan fitnah itu..." desis Mentari, jemarinya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Devan mengambil kaset dan dokumen tua itu, mengembalikannya ke dalam kotak kayu, lalu menguncinya rapat. Ia menatap Mentari dengan pandangan posesif yang protektif dan penuh tekad membara.
"Mereka membuatmu menderita selama sembilan tahun, Mentari," ujar Devan dengan suara bariton yang terngiang penuh ancaman. "Dan malam ini, aku berjanji padamu... Julian Vaneck akan membayar setiap tetes air mata yang pernah kamu keluarkan."
Sementara itu, di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Julian Vaneck berdiri di dekat dinding kaca penthouse pribadinya. Di tangannya, ia memegang sebatang cerutu yang asapnya membumbung tipis ke udara.
Pintu ruangan terbuka, dan Marcus melangkah masuk dengan wajah tegang.
"Tuan Julian, ada pergerakan tidak biasa dari tim Devan Elvano," utus Marcus cepat. "Satu jam yang lalu, Devan dan istrinya mengunjungi Bank Batavia Utama di Menteng. Tim peretas kita mendeteksi ada pengeluaran dokumen fisik dari brankas deposit tua atas nama Gunawan Ayuningtyas."
Julian menghentikan hisapan cerutunya. Alisnya terangkat sebelah, menyunggingkan senyuman dingin yang meremehkan.
"Kotak kayu jati itu..." gumam Julian dengan suara halusnya. "Jadi wanita itu akhirnya mengeluarkan dokumen kesayangan ayahnya."
"Apakah Anda ingin saya memerintahkan orang-orang kita untuk merebut kotak itu malam ini, Tuan?" tanya Marcus, mengisyaratkan aksi kekerasan.
Julian terkekeh rendah, mematikan cerutunya di atas aspal kristal. "Jangan terburu-buru, Marcus. Membegal mobil Devan Elvano di tengah jalan Jakarta hanya akan membuat kita berurusan dengan polisi lokal yang sudah dibeli oleh Elvano Group. Devan pasti akan membawa dokumen itu ke acara Gala Dinner Pengusaha Internasional lusa malam di Hotel Raffles."
Julian berbalik, menatap pantulan dirinya di kaca. "Di sanalah aku akan menantangnya secara terbuka di depan seluruh investor dunia. Aku akan membongkar klaim kebohongan keluarga Ayuningtyas dan merebut kembali kekaisaran yang seharusnya menjadi milik Vaneck Corporation."
"Bagaimana dengan Mentari, Tuan?"
Mata abu-abu Julian berkilat penuh obsesi. "Wanita itu adalah kunci segalanya. Begitu Devan hancur secara finansial dan reputasinya hancur di depan publik, Mentari tidak akan punya pilihan selain berlutut padaku jika ingin menyelamatkan nyawa ibunya."
Kembali ke mobil Rolls-Royce yang sedang melaju menuju penthouse, Devan baru saja memutus panggilan telepon dengan Rian, Kepala Tim Keamanannya.
"Julian Vaneck sudah mengonfirmasi kehadirannya di Gala Dinner lusa malam," kata Devan pada Mentari yang duduk di sampingnya. "Dia berencana mempermalukan kita dan mempertanyakan keabsahan hak tanah Elvano Group di depan media dan investor internasional."
Mentari memegang kotak kayu jati di pangkuannya. Rasa takut yang dulu selalu menyelimutinya kini telah lenyap sepenuhnya. Berada di samping Devan dan mengetahui kebenaran di balik penderitaan ayahnya memberikan kekuatan baru yang luar biasa pada jiwanya.
"Lalu, apa rencana kita, Devan?" tanya Mentari mantap.
Devan merangkul pinggang Mentari, membawanya mendekat dan mengecup kening istrinya dengan hangat.
"Kita akan menyambut permainannya, Nyonya Elvano," bisik Devan dengan senyuman misterius yang amat dominan. "Biarkan dia merasa berada di atas angin sampai lusa malam. Dan di hadapan seluruh dunia, kita akan membuka kebohongan keluarga Vaneck hingga dia tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi di dunia bisnis ini."
Kereta perang telah disiapkan, dan panggung pertempuran terbesar antara dua kekaisaran bisnis kini siap digelar di tengah gemerlapnya kota Jakarta.