NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Langkah di Kegelapan dan Kobaran Api Dungeon

Fajar baru saja menyingsing ketika gerbang kayu Kota Gada ditinggalkan oleh kelompok kecil dari Guild Wild Boar. Tujuan mereka adalah sebuah celah batu di kaki perbukitan terpencil yang baru saja runtuh beberapa hari lalu, menyingkap sebuah pintu masuk kuno menuju dungeon yang belum terjamah.

Suasana di dalam dungeon terasa dingin dan lembap. Dinding-dinding lorongnya terbuat dari batuan purba yang ditumbuhi lumut berpendar redup, memberikan pencahayaan yang minim. Langkah kaki bot mereka bergema, menciptakan irama tegang yang konstan.

Di barisan depan, Guntur berjalan dengan kapak besarnya yang sesekali memercikkan aliran energi sihir pelindung.

Sementara Jaka, yang masih menatap Askara dengan pandangan sinis, berjalan di tengah sambil memegang obor sihir. Askara sendiri sengaja mengambil posisi paling belakang. Dia memilih untuk tetap diam dan menjaga jarak, sengaja menyembunyikan hawa keberadaannya. Di mata rekan-rekan barunya, dia hanyalah seorang Nirmala pembawa barang yang tidak berguna jika pertarungan sihir pecah.

"Dengar semuanya," bisik Guntur, menghentikan langkahnya sejenak di sebuah persimpangan lorong. "Sebelum berangkat tadi, aku sempat membeli informasi rahasia dari informan serikat. Dungeon ini bukan tempat berburu biasa. Di pusat inti dungeon tersembunyi sebuah item sihir langka kuno."

Mata Jaka langsung berbinar serakah. "Item sihir langka? Kita akan kaya jika berhasil membawanya pulang, Ketua!"

"Jangan senang dulu, Jaka," potong Guntur dengan nada serius. "Item itu dijaga oleh monster sihir tingkat tinggi. Informan tidak tahu pasti jenis monster atau sihir apa yang digunakannya. Yang jelas, laporannya mengatakan belum ada satu pun tim pengintai yang kembali hidup-hidup setelah mendekati ruang inti."

Askara mendengarkan dalam diam. Monster tingkat tinggi dengan sihir misterius. Jantungnya berdegup pelan. Bagi penyihir biasa, ketidaktahuan adalah maut. Namun bagi Askara, ruang inti itu terdengar seperti prasmanan sihir yang sangat besar jika dia bisa bertahan hidup untuk menyerapnya. Tapi untuk sekarang, dia harus tetap menahan diri dan menghemat staminanya.

Setengah jam pertama berlalu dengan sunyi. Anehnya, mereka belum bertemu dengan satu pun monster penghuni dungeon. Lorong-lorong batu itu kosong melompong, seolah sengaja membiarkan mereka masuk lebih dalam ke dalam jebakan. Ketenangan yang tidak wajar ini justru membuat bulu kuduk Askara merinding.

Ketakutan mereka terbukti saat mereka mencapai sebuah ruangan luas di pertengahan dungeon.

ROOOAARRR!

Sebuah raungan menggelegar dari kegelapan di ujung ruangan. Udara dingin dungeon seketika berubah menjadi sangat panas dan menyesakkan. Dari balik pilar batu besar, sesosok makhluk bertubuh kekar seperti gorila namun berkulit lava merah menyala melangkah keluar. Itu adalah Inferno Kong—monster penjaga pertengahan yang terkenal dengan manipulasi sihir api murninya.

"Sial! Jaka, ambil posisi bertahan!" teriak Guntur.

Sebelum Jaka sempat mengangkat perisainya, monster itu menghentakkan kedua tangannya ke tanah. Gelombang api berkobar hebat melesat di atas lantai batu, mengarah langsung ke arah mereka.

BOOM!

Jaka terpental akibat gelombang hawa panasnya, membuat obor sihirnya terlempar. Melihat anggotanya terdesak, Guntur tidak punya pilihan lain. Dia maju ke depan, merapalkan mantra sihir tanah tingkat menengahnya.

"Dinding Kerak Bumi!"

Sebuah barikade batu tebal bangkit dari lantai, menahan gempuran api susulan dari sang Inferno Kong. Benturan antara api dan batu itu menciptakan ledakan yang memekakkan telinga.

Guntur menggeram, otot-otot lengannya menegang hebat. Pertarungan ini memaksa Guntur menguras sebagian besar energi sihirnya hanya dalam beberapa menit awal demi menjaga agar timnya tidak terpanggang hidup-hidup.

Di sudut ruangan, Askara merapat ke dinding batu. Matanya tidak lepas dari kobaran api yang dimuntahkan monster itu. Tangannya bergetar pelan, bukan karena takut, melainkan karena insting di dalam dadanya mendesak untuk bergerak. Udara di sekitarnya dipenuhi oleh sisa-sisa sihir api yang sangat padat.

Belum saatnya, bisik Askara pada dirinya sendiri. Dia meremas jemarinya kuat-kuat. Guntur masih bisa menahannya, dan keadaan belum benar-benar mendesak. Askara memilih untuk terus memperhatikan, mengukur kekuatan monster, dan yang paling penting: menunggu momen di mana ayunan kapak Guntur tidak lagi mampu membendung amukan api tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!