Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Sepihak
Ruangan itu semakin berubah gaduh. Bisik-bisik para keluarga semakin keras memenuhi kamar hotel.
"Astaga... ternyata begini kelakuan keluarga itu."
"Calon pengantin malah tidur dengan adik calon istrinya."
"Benar-benar memalukan."
Naomi tertunduk pilu di hari ini harga dirinya kembali dipertaruhkan, meskipun ia sudah berkata sejujurnya akan tetapi tak satu orang pun percaya dengan ucapannya. Sebagai seorang anak ia harus berlindung pada siapa sementara orang tua yang seharusnya menjadi rumah tidak pernah memberinya kesempatan untuk bicara.
"Tidak ... aku tidak seperti yang kalian tuduhkan!" bantah Naomi.
Mendengar bantahan sang anak. Wajah Eric semakin memerah. Ia melangkah maju, lalu tanpa memberi kesempatan Naomi menjelaskan...
Plaak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Naomi. Tubuh gadis itu limbung hingga hampir terjatuh, tak ada satu pun yang menolong ataupun melerai kejadian itu. Naomi mencoba berdiri sendiri. Ia kembali menatap wajah ayahnya dengan tatapan berani.
"Tanpar! Sekali lagi Pi tampar!" teriak Naomi. "Kalau boleh bunuh aku sekalian biar tidak terus mengusik kehidupan kalian!" cetus Naomi.
Tubuh gadis itu bergetar napasnya memburu entah energi dari mana yang didapat hingga berani melawan orang tuanya.
"Pi ....," suara Naomi kembali memanggil, air matanya berlinang tapi kali ini ia tidak mau menunjukkan kelemahannya pada siapapun.
"Jangan panggil aku Papi!" bentak Eric. "Mulai detik ini kamu bukan anakku!"
"Baik, bukankah sejak dulu Papi yang tidak pernah anggap aku anak, Naomi masih ingat bagaimana perlakuan kalian, dan sekarang kata-kata itu sudah tidak gentar lagi," sahut Naomi.
Amara Eric semakin memuncak pria itu kembali mengangkat tangan namun Naomi berhasil mencekalnya. "Sudah cukup, anda menyakiti tubuhku. Meskipun anda seorang ayah, tapi anda tidak berhak menyentuh pipiku untuk yang kesekian kalinya," tegas Naomi di dalam kesengsaraan ini tak ada satu pun orang yang mencoba memisahkannya.
Merry langsung menangis histeris. "Kau selalu saja menyalahkan kita sebagai orang tua, padahal sedari kecil kamu yang bakal dan tidak nurut. Dan sekarang...," ucap Merry terputus. "Kenapa kamu tega menghancurkan keluarga kita, Naomi?"
Naomi menggeleng kuat. "Aku tidak melakukannya! Aku juga korban!"
"Korban?" Eric tertawa sinis. "Semua orang melihatmu berada di atas ranjang Nathan. Masih berani mengaku korban?"
Naomi mengepalkan kedua tangannya. "Demi Tuhan, aku tidak pernah berniat merebut siapa pun... dan sebelum menyalahkan ku lebih baik tanyakan saja sama putri kesayangan kalian, kenapa aku bisa dijebak seperti ini!"
"Tutup mulutmu!" bentak Eric.
Suasana kembali ricuh. Di sisi lain, Nathan berdiri dengan wajah dingin. Tatapannya bergantian menatap Naomi, lalu kedua orang tuanya, pria itu sedikit mengernyit bingung dengan hubungan ayah dan anak itu yang menang sangat berbanding jauh dengan perlakuan keduanya terhadap Alicia.
"Sudah cukup aku tidak mau mendengar alasan apapun dari kalian. Dan anda Tuan Eric, selamat anda sudah berhasil menipu keluarga kami dengan akting keluarga anda yang begitu apik," ungkap Nathan dengan sinis.
Sementara Eric semakin menatap Naomi dengan penuh kebencian. "Kau dengar itu Naomi, gara-gara ulahmu semua keluarga akhirnya kena dampaknya!" cetus Eric yang kembali menyalahkan anaknya.
Naomi mengembuskan napas pelan. Air mata memang masih menggenang di pelupuk matanya, tetapi kali ini ia tidak lagi takut untuk disalahkan. Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya, menatap sang ayah dengan sorot mata penuh luka sekaligus kekecewaan.
"Aku memang ada di kamar ini... tapi bukan berarti aku datang atas kemauanku sendiri."
"Alasan!" cibir Eric.
"Bukan alasan, Pi." Naomi menatap ayahnya lurus penuh keberanian. "Ini fakta. Sayangnya, sejak dulu Papi lebih memilih mempercayai prasangka daripada mendengarkan anak sendiri."
Sementara itu Ayah Nathan Alan Wijaya yang tidak ingin keributan ini semakin memanas akhirnya pria paruh baya itu angkat bicara,
"Yang paling penting sekarang bukan mencari siapa yang salah."
Semua orang menoleh kepadanya, suasana perlahan hening saat langkah kaki itu terdengar memasuki kamar hotel. Ia berdiri diantara Naomi dan juga Nathan, tatapannya terus menyelidik pada sosok gadis yang sedari tadi hanya ditindas.
"Tapi Tuan Alan, kejadian ini sangat memalukan," ujar Eric.
"Sudah aku bilang jangan menyalahkan satu sama lain, yang pergi biarkan pergi, kita cari solusinya saja," sahut Alan cepat.
"Apa solusinya Tuan?" tanya Eric dengan perasaan kesal.
"Salah satu cara agar nama baik kita tidak hancur," ucapnya tegas. "Kita harus melanjutkan pernikahan ini.
Deg!
Nathan mengepalkan tangannya cukup kuat. "Tapi Alicia sudah kabur."
Alan mengangguk tenang seolah faham dengan situasi ini. "Kalau berita ini sampai keluar, semua media akan menertawakan keluarga kita," lanjut sang ayah.
Seorang kerabat menyela pelan. "Kalau pernikahan dibatalkan sekarang... harga saham perusahaan bisa ikut terdampak."
Ucapan itu membuat suasana kembali hening. Nathan memejamkan mata sejenak.
Kemudian. Ia membuka matanya perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke arah Naomi.
"Dari semua kekacauan ini..." ucap Nathan terputus. Semua orang menahan napas.
"Hanya ada satu cara agar pernikahan tetap berlangsung."
Naomi membelalak. Jantungnya berdetak semakin cepat, ia menyeret langkahnya ke belakang saat Nathan melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapannya.
Lalu, dengan suara datar yang justru terdengar mengerikan, ia berkata,
"Mulai hari ini... kamulah yang akan menggantikan kakakmu menjadi istriku."
"APA?!" seru semua orang hampir bersamaan.
Naomi menggeleng panik. "Tidak! Aku tidak mau!"
Nathan menatapnya tajam. "Aku tidak sedang meminta persetujuanmu."
Bersambung ....