Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepercayaan dan Seni Kuno
Sambil merapatkan tubuhnya pada bongkahan batu tebing lembah yang dingin, Luo
Chen bersiap untuk perlahan mundur meninggalkan area pertempuran. Namun, sebelum
ia sempat menggeser kaki kanannya, kepala besar Kirin Tanduk Emas mendadak
berputar lurus ke arah tempat persembunyiannya dengan mata merah keemasan yang
berkilau tajam.
"Bocah fana di balik tebing batu, keluar!" satu suara dengungan berat yang
memancarkan tekanan jiwa yang sangat besar mendadak bergema langsung di dalam
kepala Luo Chen melalui transmisi jiwa. "Jangan berpikir kau bisa menyembunyikan
hawa keberadaanmu dari sisa-sisa deteksi kesadaranku!"
Dengan gerakan tenang tanpa ada kepanikan sedikit pun, Luo Chen melangkah keluar
dari balik batu raksasa seraya mengangkat kedua tangannya yang terbuka lebar
untuk menunjukkan bahwa ia tidak memegang senjata apa pun. "Saya tidak memiliki
niat menyerang Anda, Tuan Kirin. Saya hanya kebetulan melintas di area hutan ini
untuk berburu dan menyaksikan pertempuran Anda dengan para praktisi sekte tadi."
"Saya bisa mendeteksi bahwa jiwamu bersih dari keserakahan fana yang menjijikkan
seperti mereka," sahut suara dengungan di kepalanya kembali, disusul dengan
tubuh Kirin raksasa tersebut yang mendadak goyah sebelum akhirnya roboh berlutut
di atas pasir lembah dengan napas yang bergemuruh berat.
"Kultivator serakah dari sekte itu... es dari pedang bajingan bernama Zhao Wu
telah membekukan sebagian besar jalur meridian ulu hati dan organ dalamku,"
lanjut suara Kirin tersebut yang terdengar semakin melemah dan terputus-putus.
"Aku tidak memiliki banyak sisa waktu hidup di dunia ini."
"Apakah tidak ada cara untuk mencairkan es dingin tersebut dari dalam tubuh
Anda?" tanya Luo Chen seraya melangkah mendekat beberapa langkah, mengamati uap
biru dingin yang terus mengalir keluar dari luka menganga di dada Kirin
tersebut. "Jika ada herba yang bisa membantu, saya bisa mencarikannya di lereng
gunung ini."
Sambil memejamkan mata merah keemasannya sesaat, Kirin raksasa tersebut
mengembuskan napas panas yang berbau besi. "Es dari pedang es Zhao Wu itu bukan
es biasa. Itu adalah es dingin dari Sekte Pedang Frostfall yang hanya bisa
dilelehkan oleh api spiritual tingkat tinggi. Racun es itu telah menjalar ke
dalam inti jiwaku. Tidak ada obat fana yang bisa menolongku."
"Dunia kultivasi memang dipenuhi oleh orang-orang yang menghalalkan segala cara
demi mendapatkan apa yang mereka inginkan," ujar Luo Chen dengan nada suara yang
mendingin, menatap noda darah emas yang membasahi pasir lembah.
"Ayah saya juga dikhianati oleh taktik rahasia klan yang keji hingga kehilangan
seluruh kultivasinya dalam satu malam," lanjut Luo Chen mengepalkan
tinjunya dengan erat. "Saya sangat memahami bagaimana rasanya dirugikan oleh
keserakahan manusia."
Mendengar penuturan pemuda di hadapannya, Kirin Tanduk Emas membuka kembali
matanya, menatap tajam ke dalam manik mata Luo Chen yang memancarkan kejujuran
murni tanpa ada tanda-tanda kebohongan. "Nasib kita serupa, dikhianati oleh
keserakahan manusia. Itu sebabnya aku memercayaimu, manusia kecil. Ikuti aku
masuk ke dalam goa rahasia di balik air terjun tebing ini."
Langkah kaki pincang Kirin raksasa tersebut bergerak perlahan memimpin jalan,
masuk menembus rimbunnya tanaman rambat liar di ujung lembah menuju ke arah air
terjun yang tersembunyi.
Di balik tirai air terjun yang mengalir deras, Luo Chen melangkah masuk ke dalam
sebuah goa batu alami yang sangat luas dan kering. Pandangan matanya langsung
tertuju pada sesosok makhluk kecil berbulu emas seukuran anak anjing yang sedang
mendengkur halus di atas tumpukan rumput spiritual kering di sudut goa.
"Ternyata Anda baru saja melahirkan beberapa hari yang lalu..." bisik Luo Chen
mendekati anak Kirin tersebut dengan langkah kaki yang sangat pelan,
mengamati tanduk kecilnya yang baru tumbuh beberapa milimeter di keningnya.
"Pantas saja kondisi fisik Anda tidak berada di puncaknya saat menghadapi
kepungan para tetua sekte di lembah tadi."
Sambil merebahkan tubuh besarnya di samping anaknya yang tertidur, Kirin raksasa
tersebut menatap Luo Chen dengan pandangan mata yang redup namun penuh
kebanggaan. "Ras kami tidak akan pernah membiarkan diri kami ditangkap atau
diperbudak oleh para kultivator serakah demi diambil tandu atau sisik emas kami.
Aku lebih memilih mati dan melarutkan jasadku kembali menjadi energi spiritual
bumi."
"Manusia kecil, aku akan memercayakan anakku kepadamu," lanjut suara Kirin tersebut
mendorong anak kecilnya mendekati kaki Luo Chen.
"dimasa depan tolong Jauhkan dia dari keserakahan manusia di dunia luar, dan rawatlah dia sebagai
bagian dari keluargamu."
"Bagaimana jika suatu hari nanti dia tersesat atau direbut secara paksa oleh
praktisi lain yang jauh lebih kuat dari saya?" tanya Luo Chen menatap
bayi Kirin yang kini mulai terbangun dan mengendus ujung sepatunya dengan rasa
ingin tahu. "Saya belum menguasai metode pengikatan jiwa apapun yang aman untuk
melindunginya dari dunia luar ataupun pemburu sekte."
Sambil mendengus lemah dengan sisa kekuatannya, Kirin raksasa tersebut
memejamkan matanya perlahan. "Carilah metode yang cocok di dalam ingatanmu. Aku
tahu jiwamu itu menyimpan sesuatu yang luar biasa besar."
Setelah beberapa saat terdiam di samping tubuh Kirin yang terus melemah, Luo
Chen segera mengambil posisi duduk bersila di atas lantai goa yang dingin untuk
masuk ke dalam lautan kesadarannya.
"Aku harus mencari metode pengikatan jiwa kuno yang tidak menyakiti atau
memperbudak kesadaran alami bayi Kirin ini," batinnya mulai membalik
lembaran-lembaran emas di dalam kepalanya. "Sebagian besar metode segel klan
selalu menggunakan paksaan spiritual yang merusak potensi pertumbuhan alami
binatang buas. Aku harus menghindari metode yang merugikan itu."
Di dalam lautan kesadarannya, ia membaca sebaris aksara kuno yang berkilau
lembut di lembaran tengah kitab.
"Seni Ikatan Harmoni Jiwa... sebuah kontrak setara yang menyatukan jiwa manusia
dan binatang spiritual berdasarkan ikatan persaudaraan tanpa adanya unsur
perbudakan," batin Luo Chen mempelajari dengan saksama metode kuno yang
terpampang di hadapannya. "Metode ini memungkinkan kedua belah pihak saling
berbagi energi spiritual secara harmoni, mempercepat kultivasi fisik tanpa
merusak potensi alami binatang tersebut. Ini adalah pilihan terbaik."
Tiga hari bergulir tanpa terasa di dalam goa air terjun yang sunyi selama Luo
Chen memfokuskan seluruh kesadarannya untuk melatih dan menyelaraskan aliran
energi "Seni Ikatan Harmoni Jiwa" di sepanjang jalur meridian tubuh fisiknya.
"Ugh... pembersihan energi ini benar-benar sangat menguras kekuatan fisiku,
tetapi energi hangat dari kitab emas ini terus memperbaiki dan memperluas jalur
nadiku yang tersumbat," batinnya meraba keningnya yang terus mengalirkan
keringat dingin tipis. "Sakit sekali, tetapi persendianku sekarang menjadi jauh
lebih fleksibel dan kepadatan tulangku meningkat pesat dari sebelumnya."
Suara derak persendian yang sangat nyaring dan beruntun terdengar dari seluruh
tubuh Luo Chen saat ia berhasil menyelesaikan siklus pemurnian energi
terakhirnya, menandakan keberhasilannya menerobos ke Ranah Pemurnian Tubuh tahap
keempat.
Di saat yang sama, tubuh Kirin raksasa di sampingnya perlahan-lahan semakin
melemah di ambang kematian, menyisakan pendaran bintik-bintik cahaya emas tipis
yang mulai terlepas dari sisik-sisiknya. Bayi Kirin kecil yang tampak
kebingungan kini duduk tenang tepat di depan kaki Luo Chen yang bersiap untuk
segera terbangun dari meditasinya yang panjang.