BANTU SUPPORT CERITA INI DENGAN LIKE, VOTE, DAN COMMENT.
VISUAL TOKOH MUNGKIN AKAN MENGALAMI PERUBAHAN
Dipertemukan dengan sesama bad guy membuat Bianca dan Alvaro terlihat seperti kucing dan anjing yang saling mengganggu dan tak bisa akur. Dan entah kenapa seorang bad boy itu menjabat sebagai ketua OSIS, anak pemilik yayasan, dan juga menangkup sebagai ketua genk Swataru.
Jika takdir meminta mereka bersama
Jika bumi menginginkan mereka menjadi satu
Dan jika semesta mengharapkan mereka menjadi satu insan
Hati besi pun akan tetap meleleh seiringnya waktu dan seiring logika mau memikirkan hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieksel259, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur
"Dasar pendek" Cibir Alvaro seraya berjongkok untuk menuruti ucapan Bianca.
"Berisik lo tiang listrik"
Alvaro menuruti saja apa yang Bianca itu inginkan, mengambil angel dari bawah. Membuat Bianca terlihat semakin tinggi. Alvaro sempat berdecih kesal karena gambar itu semakin mengumbar paha Bianca yang seakan tak memakai celana karena bawahan itu tenggelam oleh hoodie hitam miliknya.
Alvaro bangkit berdiri saat profesinya sebagai fotografer dadakan telah selesai, ia melangkahkan kakinya mendekat menuju Bianca yang kelihatannya tak sabar untuk melihat hasil foto tersebut, "Nih" Berinya benda pipih itu pada Bianca.
"Thank you" Mengucap dengan ria sembari melihat-lihat hasil foto yang diambil Alvaro.
Merasa tak ada lagi hal yang harus di lakukan, Alvaro melirik arlojinya yang sudah menunjukkan jam sepuluh malam, "Ayo pulang" Ucapnya dingin.
"Bentar ih"
"Bentar mulu lo, angin malam gak bagus ini"
"Khawatir lo sama gue?"
"Berharap banget gue suka sama manusia kayak lo?"
"Kirain, gue sih amit-amit" Ucap Bianca lalu memilih untuk berbaring di roof top tanpa memikirkan betapa dinginnya lantai bagian atas bangunan itu. Ditambah dengan dinginnya hembusan angin malam.
Alvaro menatap tajam pada Bianca yang menatap langit bertabur bintang itu, "Hoodie gue kotor" Ketusnya. Mengingatkan Bianca jika hoodie yang ia kenakan adalah miliknya.
Bianca menatap pada Alvaro yang ada berdiri di atasnya dan menatap padanya, "Ntar gue bayclin" Menjawab dengan santai. Ya walaupun jika ia tahu bagaimana cairan itu bekerja pada hoodie hitam milik Nyko.
"Gak waras" Ketus Nyko lalu melangkahkan kakinya menuju pinggiran roof top dan memilih bersandar pada pagar yang dibuat untuk pengaman itu.
. . .
Setengah jam sudah mereka ada di atas roof top itu. Alvaro yang menyingkir dari tempatnya sedari tadi. Dan kini ia rasa hari semakin larut, ya tak masalah ia pulang selarut apa. Tapi beda cerita jika ia membawa seorang perempuan yang akan menjadi tunangannya itu. Sejujurnya Alvaro amit-amit mengakui hal itu.
Alvaro melangkah menuju tempat Bianca. Perempuan itu masuk berbaring dengan tangan yang menutupi wajah. Alvaro berdiri di samping tubuh Bianca yang masih anteng dengan posisinya.
"Heh cabe, bangun lo" Ucapnya dengan tegas, namun bukan respon yang baik ia terima. Bianca malah berdehem lalu kembali pada alam mimpinya.
Alvaro mengernyitkan dahinya sebentar, ia berjongkok lalu menyingkirkan tangan Bianca yang menutupi tangan. "Malah tidur, ck" Ucapnya saat melihat mata perempuan itu tertutup dan hembusan nafasnya teratur.
Alvaro menyelipkan tangannya di punggung dan lipatan kaki Bianca. Lalu menggendongnya menuruni roof top yang harus melewati banyaknya anak tangga. Badan Bianca cukup berat ditambah dengan banyaknya anak tangga yang harus Alvaro turuni.
Setelah memasukan Bianca ke dalam mobil dan memakaikannya seat belt, Alvaro beralih masuk menuju tempatnya mengemudi. Mulai melajukan kendaraan itu meninggalkan rumah yang sebelumnya sudah ia kunci.
Ting tong.
Pintu rumah sang gadis yang ada dalam gendongan Alvaro terbuka, memperlihatkan sosok Arkana yang kini menatap terkejut pada pemuda yang menggendong adiknya yang terlelap dalam tidur. "Lo apain adek gue?" Siap mengintrogasi Alvaro jika ia berani melakukan hal kotor pada adik perempuannya itu.
"Ketiduran pas gue ajak ke rumah" Menjawab dengan datar. Jika Alvaro selalu berpikiran buruk akan Bianca, maka ada Arkana yang juga berpikiran buruk terhadap dirinya.
"Rumah lo?"
"Hm, lebih tepatnya rumah yang bakal gue sama Bianca bakal tempati" Menjawab dengan jujur.
"Sini Bianca nya"
"Biar gue aja yang bawa dia ke kamar" Ucap Alvaro lalu masuk ke dalam rumah itu, lagi dan lagi
"Jangan lo apa-apain dia" Ucap Arkana dengan tatapan mata yang terus menyoroti Alvaro yang mulai menaiki anak tangga.
"Tenang aja"
Alvaro membuka pintu kamar Bianca, masuk dan membaringkan tubuh Bianca yang terbalut sweater miliknya. Ia menatap gadis itu lekat dengan sorot matanya yang akan selalu tajam, "Hoodie gue"
"Ah biarinlah, ntar juga balik sendiri ke gue" Tak mungkin juga ia melepas hoodie itu dari tubuh Bianca di saat ia tertidur lelap. Bisa-bisa ia digampar oleh Arkana.
Ia memilih keluar dari dalam kamar Bianca dan menutupnya. Kembali turun ke bawah dan berpamitan dengan Arkana yang kelihatannya sibuk dengan laptop yang ada di atas meja.
. . .
Alvaro melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai dua. Orang tuanya sudah tertidur lebih dulu daripadanya, sebenarnya sepulang dari rumah Bianca. Ia memilih mampir ke basecamp Swataru lebih dulu. Ya tempat itu masih ramai oleh para anak-anak.lain. Biasa, para makhluk malam.
Alvaro merebahkan badannya di atas kasur menatap langit-langit kamarnya dengan datar. Pikirannya melayang pada nasib hidupnya di hari-hari selanjutnya, serumah dengan Bianca adalah sebuah kesalahan yang ia tandai. Apalagi sikap gadis itu yang tak pernah mau diatur dan menurut pada dirinya. Manusia itu terlalu sering main solo dan tak pernah mengalah sekali pun. Jangankan mengalah ia sendiri tak sudi di jadikan umpan oleh hal yang tak ada kaitannya dengan dirinya. Apalagi gadis itu selalu bertindak semena-mena tanpa pandang bulu.
Alvaro menghembuskan nafasnya pelan lalu memejamkan matanya sejenak. Ia tak mengantuk hanya saja pikirannya harus istirahat sejenak. Hanya sebentar karena ada hal yang harus ia lakukan terlebih dulu sebelum pergi ke pulau kapuk.
Lima menit kemudian ia membuka matanya lalu bangkit berdiri. Menuju meja belajarnya dan memainkan laptopnya. Semakin dekat hari pertunangannya, maka ia harus semakin giat melampaui gadis yang memiliki tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi. Juga hari-hari olimpiade itu menjadi strateginya untuk membuktikan jika ia lebih baik dari Bianca.
Kekanakan sekali bukan?