NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepuluh—Kantong Wangi Untuk Tuan Shen

Shen Mufeng mengamati plakat kayu itu. Sambil mengunyah pelan, sudut bibirnya sedikit terangkat. Setelah satu kunyahan berhasil ditelan, ia bersuara, "Apa maksud Nona Besar Gu?"

Gu Mingyue menyembunyikan senyumnya—menampilkan raut khas gadis pemalu yang dibuat-buat. "Kurasa Tuan Shen jauh lebih tahu."

Shen Mufeng memandanginya lurus, tatapannya sedalam sumur tua. "Nona Besar Gu terlalu percaya diri."

"Tuan Shen jauh lebih pandai menyembunyikan sesuatu." Gu Mingyue membalas ketenangan pria itu, lalu meraih cangkirnya untuk menyesap teh yang baru saja dituang. "Apa maksud undangan makan ini?"

"Mendengarkanmu berkata terima kasih."

"Tuan Shen bisa saja."

"Aku ingin penjelasan tentang informasi kemarin," tuntut Shen Mufeng, langsung mengarahkan percakapan ke inti masalah tanpa berniat berbasa-basi lagi.

Gu Mingyue mengangkat satu sudut bibirnya, hampir tertawa sinis mendengar ketidaksabaran sang jenderal. "Tuan Shen memang terburu-buru. Setidaknya, permintaanku bisa Anda kabulkan lebih dulu."

Gu Mingyue meletakkan sumpitnya dengan gerakan anggun. Sepasang matanya menatap lurus ke dalam netra kelam Shen Mufeng. "Informasi yang kuberikan kemarin mengenai korupsi dana militer di perbatasan ibu kota... Gubernur Ibu Kota jelas bertanggung jawab penuh, terutama karena dia adalah kerabat Tuan Zhao selaku menteri keuangan. Bukankah itu informasi yang sangat berharga untuk menjatuhkan mereka, Jenderal Agung?"

Shen Mufeng tidak membantah. Ia menyandarkan punggungnya pada bantalan sutra, melipat tangan di depan dada. "Apakah informasi itu akurat?"

"Tuan bisa mengeceknya di balai sidang kecil di perbatasan ibu kota, seberapa banyak keluarga pensiunan militer yang menuntut hak mereka," jawab Mingyue tenang.

"Namun, apa hubungannya dengan mengabulkan permintaanmu?" tanya Shen Mufeng sambil mengambil satu tumisan daging.

"Keluarga Zhao sedang panik karena skandal Zhao Yuchen dan Gu Lian semalam. Untuk menutupi aib dan mempertahankan posisi, Tuan Besar Zhao pasti akan mendesak ayahku agar menyerahkan sisa jalur perdagangan milik mendiang ibuku sebagai mas kawin," ucap Mingyue tenang, namun ada kilat dingin di matanya. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh satu keping perak pun milik ibuku."

Shen Mufeng menaikkan sebelah alisnya. "Lalu, kau ingin aku merampas jalur perdagangan itu?"

"Tidak. Aku ingin Anda melindunginya," balas Mingyue cepat. "Jika Jenderal Agung menghadap Kaisar dan meminta Dekret Pernikahan untuk menikahiku menggunakan bukti korupsi Gubernur Ibu Kota sebagai penukarnya... Kaisar pasti akan mengabulkannya. Begitu dekret turun, seluruh kekayaan mendiang ibuku akan dikunci sebagai mas kawin resmi Kediaman Jenderal Agung Shen. Keluarga Zhao maupun Selir Lin tidak akan berani menyentuhnya, kecuali mereka ingin leher mereka dipenggal karena menentang titah Kaisar."

Shen Mufeng terdiam sesaat. Sebuah tawa rendah bergetar di tenggorokannya. "Nona Besar Gu, kau mengorbankan pernikahan seumur hidupmu hanya demi melindungi harta?"

"Saya tidak mengorbankan apa pun, Jenderal," Mingyue menyunggingkan senyum licik yang teramat menawan. "Di kehidupan ini, saya hanya butuh kekuatan untuk menghancurkan musuh-musuh saya. Dan Anda... membutuhkan sekutu cerdas yang tahu seluruh kelemahan musuh politik Anda di istana. Bukankah ini pertukaran yang adil?"

Shen Mufeng menatap gadis di hadapannya dengan pandangan baru. Alih-alih merasa dimanfaatkan, pria itu justru merasa tertantang. "Baik. Besok pagi, saat sidang istana dimulai, aku sendiri yang akan membawa bukti itu dan meminta Dekret Pernikahan langsung dari tangan Kaisar."

Gu Mingyue tersenyum samar, "Terima kasih, Tuan."

Dari balik lengan baju hanfunya, ia mengeluarkan sebuah kantong wangi dari kain sutra yang ia sulam sendiri secara rahasia, lalu meletakkannya dengan anggun di atas meja. "Ini sebagai hadiah dari saya."

Shen Mufeng menatap benda itu, lalu beralih pada wajah Mingyue untuk waktu yang cukup lama. "Terima kasih."

Beberapa menit setelahnya, suasana ruangan VIP itu kembali hening, hanya menyisakan suara dentingan samar antara sumpit keduanya yang beradu dengan mangkuk. Hingga akhirnya, pintu geser diketuk pelan. Fan Li'er masuk dengan langkah bergegas, lalu berbisik cemas di dekat telinga gadis itu, "Nona, Jenderal Besar Gu sedang mencari Anda di kediaman."

Gu Mingyue meletakkan sumpitnya, lalu menatap lurus ke arah Shen Mufeng. "Tuan Shen. Sepertinya pertemuan kita hanya dapat berakhir di sini."

Gadis itu segera berdiri dari duduk lesehannya dan merapikan pakaiannya. "Saya harap dapat segera mendengar kabar baik."

Tanpa menunggu balasan, Gu Mingyue melangkah keluar dan berlalu dari hadapan Shen Mufeng. Meninggalkan cangkir teh krisannya yang masih menyisakan uap hangat yang mengepul tipis.

Tak lama setelah kepergian Mingyue, pengawal setia Shen Mufeng yang bernama He Si melangkah masuk ke dalam ruangan, dengan pedang yang masih bertengger erat di pinggang kanannya. Ia melirik kantong wangi di atas meja sebelum menatap tuannya. "Bagaimana, Tuan?"

Shen Mufeng meraih kantong wangi tersebut, mendekatkannya ke hidung demi menghirup aroma menenangkan yang menguar dari sana. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Dia menarik."

"Kita akan pergi ke balai sidang di sudut perbatasan kota sekarang," lanjutnya.

...----------------...

Seolah belum puas mengubrak-abrik emosi di kediaman utama tadi, Selir Lin kini sengaja melampiaskannya dengan mengobrak-abrik paviliun pribadi Gu Mingyue. Begitu menginjakkan kaki di halaman paviliunnya, Mingyue langsung disuguhi pemandangan tidak menyenangkan itu. Ia menatap lurus bagaimana sosok perempuan yang menjadi istri tidak sah ayahnya tersebut sedang berteriak histeris, menyuruh setiap pelayan untuk menggeledah setiap sudut ruangan.

Gu Mingyue menghela napas panjang. Tanpa memedulikan tatapan horor dari para pelayan maupun sorot mata penuh kebencian dari Selir Lin, ia melenggang masuk dengan begitu tenang. Dengan gerakan anggun, ia sengaja mengambil tempat duduk di kursi ruang tengahnya sendiri.

"Li'er, ambilkan aku air," pintanya pada Fan Li'er yang langsung bergerak sigap.

Melihat ketenangan Mingyue, Selir Lin bergegas mendekat. Wajahnya mengeras penuh amarah, beriringan dengan ketukan sepatunya di atas lantai kayu yang terdengar begitu kentara.

"Di mana?!" tanyanya keras tanpa basa-basi.

Gu Mingyue hanya menatapnya tanpa riak. Ia menyunggingkan senyuman semanis mungkin untuk memprovokasi lawan bicaranya. "Apanya, Selir Lin?"

"Mas kawin ibumu yang berjumlah ratusan ribu tael emas!"

Gu Mingyue menerima cangkir air yang telah disiapkan oleh Fan Li'er. Tatapannya tertuju lurus pada Selir Lin selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menyesap air tersebut, menaruh kembali cangkirnya, lalu terkekeh pelan.

"Untuk apa kau mencari harta mas kawin ibuku, Selir Lin?" tanyanya sarkas. Ia masih duduk dengan posisi bersandar yang teramat santai di kursinya.

Merasa dirinya tampak kalah berkelas dan kurang sopan di hadapan sang putri sulung, wanita itu buru-buru mengatur napasnya yang memburu. Selir Lin kemudian memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang kaku. "Adikmu akan menikah dengan keluarga bangsawan tinggi. Tentu saja dia butuh mas kawin yang layak."

Gu Mingyue tidak langsung menjawab. Ia hanya melemparkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, terutama ke arah para pelayan yang mendadak menghentikan kegiatan mengobrak-abrik paviliun pribadinya karena terintimidasi oleh ketenangan sang nona besar.

"Barang-barang itu tidak akan pernah Anda temukan di sini, Selir Lin," ucap Gu Mingyue datar.

Selir Lin menatapnya tajam untuk waktu yang lama, dahinya berkerut dalam penuh kecurigaan. "Apa maksudmu?"

"Aku sudah memindahkan seluruh akta dan kunci gudang harta itu semenjak kemarin," tandasnya dengan senyuman kemenangan yang masih merekah sempurna di bibirnya.

Pernyataan tenang itu seketika menciptakan rona merah padam di wajah Selir Lin akibat lonjakan amarah yang tak tertahankan.

"Keterlaluan!" hardik Selir Lin berang

...----------------...

.

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!