NovelToon NovelToon
Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Harem
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.

DING!

"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 - Tak Terduga

Pagi berikutnya, Faris terbangun beberapa menit sebelum bel berbunyi. Kebiasaan bekerja sejak dini membuat tubuhnya terbiasa bangun lebih cepat daripada para tahanan lain. Namun pagi itu ada sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya sejak ditahan, dadanya tidak lagi dipenuhi rasa putus asa. Memang dia masih berada di balik jeruji besi dan masih menyandang status tersangka dalam kasus yang sama sekali tidak dilakukannya. Akan tetapi, kini dia memiliki tujuan yang jelas. Sistem Profesi Terhebat telah menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki kesempatan untuk mengubah hidup. Jalan itu memang panjang, tetapi setidaknya masih ada. Pikiran itu membuat langkah Faris terasa jauh lebih ringan ketika para sipir menggiring seluruh tahanan menuju area pembinaan kerja.

Workshop kayu yang kemarin hanya dianggapnya sebagai tempat mengisi waktu kini terlihat berbeda di matanya. Tumpukan papan pinus, balok mahoni, gergaji, pahat, dan meja kerja sederhana justru membuat semangatnya berkobar. Ia bahkan menjadi orang pertama yang memasuki ruangan setelah pintu dibuka. Pak Adi yang sedang menyusun daftar pekerjaan hari itu sampai mengangkat alis melihat antusiasme pemuda tersebut.

"Rajin sekali pagi ini," ujar Pak Adi sambil tersenyum tipis.

Faris menggaruk belakang kepalanya. "Saya tidak sabar ingin mencoba beberapa desain baru, Pak."

Pak Adi tertawa kecil. "Kemarin baru selesai satu lemari, sekarang sudah punya ide lagi?"

"Sebenarnya ada beberapa, Pak."

"Kalau begitu kerjakan saja. Selama tidak mengganggu pekerjaan utama, saya tidak keberatan."

"Iya, Pak."

Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, Faris segera memilih beberapa papan kayu bekas yang ukurannya masih cukup baik. Berbeda dengan tahanan lain yang cenderung mengambil papan baru, Faris justru lebih tertarik memanfaatkan potongan-potongan sisa yang selama ini dianggap limbah. Baginya, setiap potong kayu tetap memiliki nilai selama masih bisa digunakan.

Melihat tindakannya, salah seorang tahanan yang lebih tua tertawa kecil. "Hei, Anak Muda. Kayu bekas begitu paling cuma buat kayu bakar."

Faris hanya tersenyum. "Belum tentu, Pak."

Di dalam kepalanya, suara sistem kembali terdengar.

[Ding!]

[Mendeteksi dimulainya proyek baru.]

[Proyek: Kursi Lipat Multifungsi.]

[Perkiraan hadiah: 8 sampai 15 poin.]

Faris mengangguk pelan.

"Baik."

[Sistem mendeteksi motivasi pengguna meningkat.]

"Kamu bisa berhenti mengomentari semua tindakanku?"

[Tidak bisa.]

"Kenapa?"

[Karena itu pekerjaan sistem.]

Faris mendesah pelan. "Baiklah. Aku menyerah."

[Pengguna memang mudah menyerah saat berdebat.]

"Itu karena aku malas meladenimu."

[Alasan diterima.]

Percakapan singkat itu membuat Faris tanpa sadar tersenyum sendiri. Seorang tahanan yang berada di meja sebelah memperhatikannya dengan bingung.

"Kenapa senyum-senyum sendiri?"

"Eh... tidak apa-apa."

"Jangan-jangan stres."

"Iya, mungkin sedikit."

Tahanan itu mengangguk penuh pengertian lalu kembali bekerja, sementara Faris buru-buru menahan tawanya.

Ia mulai membuat rangka kursi dengan hati-hati. Kali ini dia tidak sepenuhnya mengikuti petunjuk sistem. Sebagian besar ide justru berasal dari pikirannya sendiri. Sistem hanya membantu menunjukkan bagian mana yang kurang efisien atau berpotensi patah. Setiap kali Faris hendak memotong kayu dengan ukuran yang kurang tepat, garis-garis transparan berwarna biru muncul di atas papan, menunjukkan ukuran yang lebih ideal.

[Panjang berlebih tiga sentimeter.]

Faris langsung menggeser posisi gergajinya.

[Sudut potong kurang presisi.]

Ia kembali memperbaikinya. "Kalau terus begini, aku jadi bergantung padamu."

[Kesalahan. Pengguna tetap berpikir sendiri. Sistem hanya memberikan koreksi.]

Jawaban itu membuat Faris terdiam sejenak. Ia menyadari sistem memang tidak pernah mengambil alih pekerjaannya. Semua keputusan tetap berada di tangannya. Sistem hanyalah pemberi saran yang sangat cerdas.

Beberapa jam kemudian kursi lipat itu selesai dibuat. Bentuknya sederhana, tetapi ketika bagian dudukannya diangkat, terdapat ruang penyimpanan kecil di bawahnya. Selain itu, kedua kaki belakang dapat dilipat sehingga kursi menjadi jauh lebih ringkas ketika disimpan.

Pak Adi yang sedang memeriksa pekerjaan tahanan lain langsung menghampiri.

"Boleh saya lihat?"

"Tentu, Pak."

Pak Adi mencoba duduk di atas kursi tersebut. Setelah memastikan kekuatannya, dia membuka ruang penyimpanan yang berada di bawah dudukan. Wajah pria paruh baya itu langsung berubah kagum.

"Ini idemu sendiri?"

"Iya, Pak."

Pak Adi mengangguk beberapa kali. "Kalau kursi seperti ini dipakai di rumah-rumah yang sempit, lumayan menghemat tempat."

Beberapa tahanan lain ikut mengelilingi meja kerja Faris.

"Wah, bisa dilipat."

"Di bawahnya masih ada tempat simpan."

"Anak baru ini memang aneh."

"Bukan aneh. Pintar."

Faris hanya tersenyum malu. Seumur hidup, hampir tidak pernah ada orang yang memuji hasil pikirannya seperti ini. Tak lama kemudian suara sistem kembali terdengar.

[Ding!]

[Proyek selesai.]

[Pengalaman +8.]

[Poin +10.]

Faris mengangguk puas. Sepuluh poin memang belum banyak, tetapi jauh lebih baik daripada lima poin kemarin.

Tanpa beristirahat terlalu lama, dia kembali mengambil potongan kayu lain. Kali ini dirinya membuat rak sepatu yang dapat disusun bertingkat maupun dilepas sesuai kebutuhan. Setelah itu ia membuat meja kecil dengan kaki yang bisa dilipat masuk ke dalam badan meja sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Satu demi satu hasil karyanya memenuhi sudut workshop. Semakin lama, perhatian orang-orang semakin tertuju kepadanya.

Pak Adi sampai beberapa kali menggeleng kagum. "Dari mana anak ini mendapatkan ide sebanyak itu?"

Sementara itu, Faris sendiri mulai tenggelam dalam pekerjaannya. Ia benar-benar menikmati setiap proses. Mengukur, memotong, menghaluskan, lalu menyusun kembali setiap potongan kayu menjadi sesuatu yang berguna. Perasaan seperti inilah yang selama ini selalu dia impikan ketika diam-diam mengikuti kuliah teknik di kampus.

Menjelang siang, ketika sedang menyelesaikan sebuah meja lipat, Faris mengamati struktur penyangga bagian bawahnya. Semula dia mengikuti rancangan biasa. Namun setelah dipikir-pikir, penggunaan dua batang penyangga terasa terlalu boros. Ia mengambil beberapa potongan kayu kecil yang sudah dibuang oleh tahanan lain, lalu menyusunnya membentuk pola segitiga.

"Hmm... kalau beban dialihkan ke sini..."

Tanpa sadar dia terus mengubah posisi setiap sambungan hingga akhirnya menemukan susunan yang menurutnya jauh lebih efisien. Begitu paku terakhir dipasang, meja itu terasa jauh lebih kokoh dibanding rancangan sebelumnya.

Detik berikutnya suara sistem menggema jauh lebih keras.

DING!

Faris sampai tersentak. "Ada apa lagi?"

Layar biru berkedip cepat.

[Selamat.]

[Pengguna berhasil menciptakan inovasi teknik.]

"Inovasi?"

[Analisis selesai.]

[Desain penyangga baru menghemat material sebesar delapan belas persen.]

[Kekuatan struktur meningkat sebelas persen.]

Faris membeku. "Aku... cuma mengubah sedikit."

[Perubahan kecil menghasilkan peningkatan besar.]

Tulisan berikutnya muncul hampir seketika.

[Hadiah Bonus Inovasi.]

[Poin +100.]

[Pengalaman +50.]

Mata Faris membelalak lebar.

"Seratus poin?"

Ia sampai menghitung ulang angka yang muncul di layar.

"Mustahil."

Kemarin dia bekerja keras seharian hanya memperoleh lima poin. Hari ini, hanya karena mengubah bentuk penyangga meja, ia langsung memperoleh seratus poin sekaligus.

"Apa sistemmu rusak?"

[Sistem berfungsi normal.]

"Kalau begitu kenapa hadiahnya sebanyak ini?"

[Karena pengguna tidak sekadar membuat furnitur.]

[Pengguna menciptakan solusi teknik baru.]

[Sistem memberi penghargaan lebih tinggi terhadap inovasi dibanding pengulangan pekerjaan.]

Penjelasan itu membuat napas Faris tertahan. Perlahan-lahan dia mulai memahami sesuatu. Kalau dia hanya membuat lemari yang sama setiap hari, poin memang akan terus bertambah, tetapi sangat lambat. Sebaliknya, setiap kali dia berhasil menemukan cara yang lebih efisien, lebih hemat, atau lebih kuat, hadiah poin akan melonjak berkali-kali lipat.

Tanpa sengaja, Faris baru saja menemukan "celah" dalam cara kerja sistem. Ia tersenyum lebar.

"Bukankah ini seperti... hadiah karena berpikir?"

[Benar.]

"Itu berarti semakin kreatif aku, semakin cepat aku berkembang."

[Kesimpulan pengguna benar.]

Faris mengepalkan tangannya pelan. Kini dia benar-benar mengerti apa yang harus dilakukan mulai sekarang. Bukan sekadar membuat banyak barang, melainkan terus menciptakan desain yang lebih baik daripada sebelumnya. Baginya, tantangan itu justru terasa menyenangkan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Pak Adi telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya di lembaga pemasyarakatan. Sebelum pulang, dia teringat janjinya kepada Faris. Ia pun mengambil secarik kertas berisi alamat rumah pemuda itu, lalu mengendarai sepeda motornya menuju sebuah kawasan permukiman sederhana di pinggiran kota. Setelah beberapa kali bertanya kepada warga sekitar, akhirnya ia menemukan rumah kecil yang dimaksud. Namun suasananya sangat sepi. Berkali-kali ia mengetuk pintu, tidak ada seorang pun yang menjawab.

Saat Pak Adi hendak pergi, seorang wanita yang membawa kantong belanja menghampirinya.

"Maaf, Pak. Cari siapa?"

"Saya mencari rumah Faris."

Wanita itu langsung mengenali nama tersebut.

"Saya Nuri. Tetangganya."

Pak Adi mengangguk sopan. "Saya teman Faris."

Raut wajah Nuri langsung berubah muram. "Kalau mencari Bu Siti, beliau tidak ada di rumah."

"Ke mana?"

"Sedang dirawat di rumah sakit."

Mendengar jawaban itu, hati Pak Adi langsung terasa berat. Firasat Faris ternyata benar. Ibunya memang sedang sakit. Setelah mendengar cerita bahwa Siti ditemukan pingsan beberapa hari lalu, Pak Adi akhirnya menarik napas panjang.

"Sebenarnya... ada sesuatu yang perlu Ibu ketahui."

Nuri menatapnya bingung.

"Saya bertemu Faris."

"Masa? Di mana?"

Pak Adi terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan, "Di lembaga pemasyarakatan."

Seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, mata Nuri langsung membelalak.

"Penjara?"

Pak Adi mengangguk. "Iya."

"Tidak mungkin..."

"Faris anak baik."

"Saya juga merasa begitu."

"Lalu kenapa dia ada di sana?"

Pak Adi menundukkan kepala sejenak.

"Dia ditahan karena dugaan kepemilikan narkoba."

Kantong belanja di tangan Nuri langsung jatuh berserakan. Wajahnya memucat, sementara bibirnya bergetar menahan syok.

"Narkoba? Tidak... itu pasti salah. Saya mengenal Faris sejak kecil. Anak itu bahkan tidak pernah merokok. Mana mungkin dia memakai narkoba?"

Pak Adi tidak langsung menjawab. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai memiliki keyakinan yang sama. Ada sesuatu yang tidak beres dalam kasus Faris.

1
Ita Xiaomi
Faris kerja yg giat dan bahagiakan ibumu jg.
Ambu Rinddiany Thea
awas noh gengsi jadi cintrong
Rommy Wasini Khumaidi
bagus ceritanya,makasih sudah membuat cerita yang bagus
Desau: makasih kak😍🤭
total 1 replies
Rommy Wasini Khumaidi
gengsi digedein si Vanesa
Ambu Rinddiany Thea
gantuuung lagi kaya jemuran kan kan😔
Ambu Rinddiany Thea
tenang ris rata2 emamg semua cewe gt ga mau kalah bentar lagi juga mesem mesem sendiri 🤭😁
Rommy Wasini Khumaidi
yah belum dapat point ya Ris,sabar bentar lagi vanesa bakal mengakui kekalahanya
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣 mulai resah
Ita Xiaomi
👍👍👍. Di daerah ortuku pernah mengalami jembatannya ambruk dan banyak nyawa yg melayang. Anak-anak yg kehilangan nyawa 😢
Ita Xiaomi
Mau lihat reaksi arsitek utama saat ktm ama Faris.
Rommy Wasini Khumaidi
sudah pasti Faris akan menemukan solusi
Ambu Rinddiany Thea
lah malah nyalahin orang dasar otak dengkul , cerita anak kuliahan tp sableng .. wkwkwkwkw
Rommy Wasini Khumaidi
yeyy Faris jadi kaya👏👏
Apriwan 99
up yg banyak ,ok sampai jumpa bulan depan
Ita Xiaomi
Baru belajar sistemnya😁
Ita Xiaomi
Alhamdulillah bs kumpul lg ama ibunya.Klo dah sukses nanti berbagi rejeki jg dgn Bu Nuri, Pak Adi dan Pak Bandi.
Ita Xiaomi
Nanti bantu pak Adi di galerinya dan bantu Pak Bandi jg di proyeknya😁.
Rommy Wasini Khumaidi
selamat ya Ris,atas kebebasanmu dan pencapaian poin sistemnya
Ambu Rinddiany Thea
Alhamdulillah akhirnya setelah sekian purnama bebas juga kamu faris , borong semua faris gunakan semua hadia dari sistem buat masa depan kamu .. 🥰
Rommy Wasini Khumaidi
Semoga cepat keluar ya Ris
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!