Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kembali Berkultivasi
Riu Han berjalan santai menuju kantor dan markas Klan Riu di tengah kota. Namun, baru beberapa langkah ia melangkah, dua orang dewasa berpakaian seragam hitam dengan lambang naga terukir di dada segera menghadang jalannya. Wajah mereka terlihat garang dan penuh amarah.
“Hei, bocah! Apakah kau yang tadi melukai Tuan Muda Mu Jun?” bentak salah satu dari mereka dengan suara menggelegar.
Riu Han hanya mendongak, menatap mereka dengan pandangan datar tanpa rasa takut sedikit pun. “Heem… lantas kenapa? Ada masalah?”
“Kurang ajar! Apakah kau ingin mencari maut?!” teriak pengawal itu semakin marah. “Keluarga besar Klan Mu bukanlah sembarang keluarga yang bisa kau ganggu seenaknya!”
Tanpa menunggu jawaban lagi, kedua pengawal itu langsung menyerang Riu Han secara bersamaan tanpa aba-aba terlebih dahulu.
“Eits… hey, berani-beraninya kalian menyerang duluan!” seru Riu Han sambil melompat mundur menghindar.
Ia lalu tersenyum tipis, nada bicaranya terdengar santai namun menusuk. “Hahaha… kalian sungguh lucu sekali. Hanya karena kalian berasal dari Klan Mu, lantas aku harus diam saja saat ditindas dan dihina? Huh, itu mustahil.”
“Makan ini!” bentak salah satu pengawal sambil mengayunkan tangan besarnya ke arah wajah Riu Han.
PLAK!
Namun, Riu Han justru menggerakkan pergelangan tangannya dengan cepat, memukul tepat ke bagian pelipis pengawal itu hingga tubuhnya terhuyung mundur dan matanya terasa berkunang-kunang.
Pengawal satunya segera ikut bertindak, mengayunkan tongkat kayu yang dibawanya dengan tenaga penuh. “Hiat! Up! Duar!”
Riu Han melompat ke samping dengan lincah, menghindari serangan itu hingga tongkat itu hanya menghantam tanah dan memercikkan debu.
“Huh, tidak tahu malu! Dua orang dewasa mengeroyok seorang anak kecil. Apakah ini yang disebut kebanggaan Klan Mu?” ejek Riu Han dengan nada dingin.
Meskipun harus bekerja sedikit lebih keras, ia tetap bisa mengelak dari setiap serangan yang datang. Kedua pengawal itu sebenarnya memiliki kekuatan setingkat Prajurit Tingkat Sembilan—satu tingkat penuh di atas Riu Han yang baru mencapai Tingkat Sembilan Pemula. Namun, berkat tubuhnya yang telah ditempa di Sumber Air Inti Bumi serta kepadatan energinya yang jauh melebihi standar biasa, ia mampu meladeni mereka dengan tenang. Satu-satunya kesulitan hanyalah langkah kakinya yang lebih pendek dibandingkan orang dewasa, namun kelincahan dan ukuran tubuhnya yang kecil justru menjadi kelebihan yang menutupi kekurangan itu.
PUK! PUK! DUK!
Dengan gerakan yang terlatih dan tenaga yang terpusat, Riu Han melancarkan serangan balik yang cepat dan tepat. Dalam waktu singkat, kedua pengawal itu terhuyung dan akhirnya terjatuh ke tanah dengan posisi yang memalukan. Warga yang melihat kejadian itu hanya bisa melongo dan takjub melihat seorang anak kecil mampu mengalahkan dua orang pengawal berpengalaman.
“Huh, hanya segini kemampuan yang dimiliki Klan Mu? Pulanglah sana. Jika belum puas, cari saja namaku—Riu Han dari Klan Riu!” seru Riu Han dengan lantang agar semua orang mendengarnya.
Mendengar nama klan itu, wajah kedua pengawal itu langsung memucat. Mereka saling pandang dengan pandangan panik.
“Kl… Klan Riu? Gawat, kita harus segera melapor kembali!” bisik salah satu dari mereka.
Mereka segera bangkit dan pergi tergesa-gesa, tidak berani melanjutkan pertarungan lagi.
Sesampainya di kediaman Klan Mu, mereka segera menceritakan seluruh kejadian itu kepada Mu Jing. Mendengar laporan itu, wajah Mu Jing berubah semakin gelap.
“Kau bilang dia berasal dari Klan Riu?” tanyanya dengan nada rendah namun mengandung amarah yang terpendam.
BRAK!
Ia memukul meja di depannya hingga retak. “Pantas saja dia berani melawan Mu Jun dan berbicara setegas itu. Ternyata dia keturunan Klan Riu…”
Mu Jing berdiri dan melangkah mondar-mandir, matanya menyala penuh keinginan membalas. “Hem… anak dari Klan Riu. Tunggu saja, aku Mu Jing tidak akan menerima ini begitu saja. Kalian, cepat selidiki siapa saja utusan atau anggota Klan Riu yang sedang berada di Kota Jiang saat ini!”
“Baik, Tuan Mu!” jawab mereka serentak.
Di sisi lain, suasana jauh lebih tenang di kediaman Klan Riu. Lin Yin tersenyum lebar, matanya berbinar-binar penuh kegembiraan.
“Kakak Riu sungguh baik sekali!” serunya.
Kalung yang baru saja dibelikan Riu Han memang terlihat sangat indah. Terbuat dari perak murni yang halus, dihiasi dengan permata berwarna hijau bening yang memancarkan cahaya lembut, sangat cocok untuk dipakai oleh seorang gadis.
Mereka baru saja kembali ke vila setelah seharian berkeliling kota. Setelah menyerahkan hadiah itu dan melihat Lin Yin sangat senang, Riu Han pun berpamitan.
“Aku masuk ke kamar untuk beristirahat sebentar. Besok aku akan kembali berkultivasi dengan lebih giat lagi,” ucapnya.
“Baiklah, jangan terlalu memaksakan diri,” jawab Lin Yin dengan senyum.
Ayahnya Riu Zheng pun sudah memberikan izin penuh. Sejak mengetahui seberapa cepat kemajuan putranya, ia sadar bahwa jalan yang dilalui Riu Han bukanlah jalan biasa, sehingga ia memberikan kebebasan penuh untuk mengatur waktunya sendiri.
Begitu masuk ke kamarnya dan memastikan tidak ada orang lain, Riu Han segera memusatkan perhatiannya pada Cincin Ruang Abadi di jarinya. Seketika, ia masuk ke dalam dimensi itu dan langsung menemui Long Siu yang sedang duduk santai di atas bukit kecil.
“Long Siu, aku ingin bertanya,” panggil Riu Han. “Apakah di sini ada teknik gerakan yang bagus? Aku merasa gerakanku masih terasa kaku dan lambat. Jika nanti bertemu lawan yang ahli dalam kecepatan dan pergerakan, pasti akan menyulitkan diriku.”
Long Siu mengangguk paham. “Baiklah, coba aku cari dulu. Di dalam ruangan ini tersimpan banyak sekali teknik, mulai dari teknik bertarung, penggunaan senjata, batu roh, hingga cara meramu berbagai jenis pil. Ingat, tempat ini adalah tempat yang sama di mana Kitab Dasar Abadi disimpan, jadi pasti ada teknik gerakan tingkat tinggi yang cocok untukmu.”
Mereka berdua pun mulai menyusuri tumpukan gulungan dan lempengan giok yang tersusun rapi di dalam perpustakaan kecil di dimensi itu. Tidak lama kemudian, Riu Han menemukan sebuah lempengan giok berwarna keperakan yang memancarkan cahaya samar.
“Teknik Gerakan Bayangan…” baca Riu Han perlahan. “Nama yang terdengar bagus dan cocok.”
Namun, begitu ia membaca keterangan di bagian bawahnya, matanya terbelalak tak percaya.
“Hah?! Teknik ini bahkan dikategorikan sebagai tingkat Abadi? Gila… ini benar-benar harta karun yang tak terduga!” serunya dengan suara terkejut namun penuh kegembiraan.
Long Siu pun mendekat dan melihat keterangan itu, lalu tertawa lepas. “Hahaha… benar sekali! Kau memang bocah yang sangat beruntung. Barang langka tingkat tinggi ini justru jatuh ke tanganmu dengan mudah.”
Keduanya tertawa bersama. Sungguh, kehadiran Long Siu dan Kake Qin adalah berkah besar bagi Riu Han yang baru memulai perjalanannya. Namun di sisi lain, pertemuan ini juga menjadi berkah bagi Long Siu sendiri. Karena telah terikat dengan pemilik baru cincin ini, ia memiliki kesempatan untuk memulihkan kekuatannya dan suatu hari nanti mungkin bisa terlahir kembali dengan tubuh baru.
“Baiklah, Riu Han. Sekarang dekatkan dahimu ke lempengan giok itu dan serap seluruh informasi yang tersimpan di dalamnya. Mulailah memahami inti teknik ini sebelum kau mulai melatih gerakannya,” perintah Long Siu dengan nada antusias.
Riu Han mengangguk mantap, matanya bersinar penuh semangat. Ia segera mendekatkan dahinya ke permukaan giok itu, bersiap untuk menerima pengetahuan baru yang akan mengubah cara bertarungnya selamanya.
Lanjut Up Thor 💪💪