Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Pilihan yang Mengubah Segalanya
Pagi itu, Nara datang ke kantor dengan perasaan tidak nyaman.
Semalaman ia hampir tidak bisa tidur.
Gosip yang beredar.
Foto-foto yang tersebar.
Tatapan orang-orang.
Semuanya terus berputar di kepalanya.
Meski berusaha terlihat kuat, ia tetap manusia biasa.
Dan manusia biasa pasti lelah ketika terus-menerus dihakimi atas sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan.
---
Begitu pintu lift terbuka, suasana yang sudah ia duga langsung menyambutnya.
Beberapa orang berhenti berbicara.
Sebagian lainnya pura-pura sibuk.
Namun tatapan mereka jelas mengatakan segalanya.
Nara menghela napas pelan.
Lalu berjalan menuju mejanya.
Ia tidak berniat lari.
Tidak hari ini.
Tidak pernah.
---
"Nara."
Siska langsung menghampirinya.
Wajah wanita itu terlihat kesal.
"Sekarang apa lagi?"
tanya Nara.
"Forum internal ditutup sementara."
jawab Siska.
Nara mengangguk.
"Itu bagus."
"Masalahnya bukan itu."
Siska menunjukkan ponselnya.
"Kabar ini sudah menyebar keluar kantor."
Seketika jantung Nara terasa jatuh.
"Apa?"
---
Beberapa akun anonim mulai membahas dirinya di media sosial profesional.
Memang belum viral.
Tetapi cukup untuk membuat keadaan semakin buruk.
Foto-foto lama kembali muncul.
Narasi yang beredar juga semakin liar.
Seolah-olah semua orang tahu kehidupan pribadinya.
Padahal tidak seorang pun benar-benar tahu.
---
"Kurang ajar."
gumam Nara.
Siska mengangguk.
"Kali ini sudah kelewatan."
Bahkan Raka yang biasanya santai terlihat marah.
"Orang yang melakukan ini benar-benar punya niat buruk."
ucapnya.
---
Belum sempat mereka membahas lebih jauh, seorang staf HRD datang menghampiri.
"Mbak Nara."
"Iya?"
"Direktur SDM ingin bertemu."
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa orang langsung menoleh.
Nara bisa merasakan tatapan mereka.
Seolah sedang menunggu vonis.
---
"Oke."
jawab Nara tenang.
Namun dalam hatinya, ia tahu.
Pertemuan ini tidak akan sederhana.
---
Lantai direksi terasa lebih dingin dari biasanya.
Nara duduk di ruang tunggu sambil menggenggam map di tangannya.
Berusaha terlihat tenang.
Berusaha terlihat kuat.
Meski sebenarnya jantungnya berdetak sangat cepat.
---
"Silakan masuk."
Suara sekretaris memanggil.
Nara berdiri.
Lalu melangkah ke dalam.
---
Di dalam ruangan sudah ada tiga orang.
Direktur SDM.
Seorang direktur operasional.
Dan satu anggota dewan pengawas.
Wajah mereka terlihat serius.
Membuat suasana semakin menekan.
---
"Nara."
ucap Direktur SDM.
"Duduklah."
Nara menurut.
Lalu menunggu.
---
"Kamu pasti tahu alasan dipanggil ke sini."
kata pria itu.
"Saya punya dugaan."
jawab Nara.
Direktur tersebut mengangguk.
"Kami ingin menyelesaikan masalah ini secepat mungkin."
Nara tidak menjawab.
---
"Kami tidak meragukan kualitas kerjamu."
lanjutnya.
"Rekam jejakmu sangat baik."
"Itu sebabnya situasi ini cukup disayangkan."
Kalimat itu membuat Nara mengangkat kepala.
Disayangkan?
Kenapa terdengar seperti hukuman yang dibungkus kata-kata sopan?
---
"Kami mempertimbangkan beberapa opsi."
kata direktur lain.
"Termasuk memindahkanmu ke divisi berbeda untuk sementara."
Nara langsung membeku.
"Apa?"
---
"Ini demi meredakan situasi."
jelas pria tersebut.
"Dan menjaga citra perusahaan."
Nara mengepalkan tangannya di bawah meja.
Jadi begini akhirnya?
Ia yang menjadi korban.
Ia yang difitnah.
Tetapi justru dirinya yang harus pindah?
---
"Dengan segala hormat."
ucap Nara perlahan.
"Saya tidak melakukan kesalahan."
Ruangan mendadak sunyi.
---
"Saya bekerja sesuai aturan."
lanjutnya.
"Saya tidak pernah menyalahgunakan jabatan."
"Saya tidak pernah melanggar kebijakan perusahaan."
Tatapannya tegas.
"Jadi kenapa saya yang harus menanggung akibatnya?"
---
Ketiga petinggi perusahaan saling berpandangan.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Karena mereka tahu.
Nara benar.
---
Namun sebelum pembicaraan berlanjut—
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Semua orang menoleh.
Dan suasana langsung berubah.
Damar masuk.
---
"Maaf mengganggu."
ucapnya.
Tetapi nada suaranya tidak terdengar meminta maaf sama sekali.
---
"Damar."
Direktur Operasional mengernyit.
"Kami sedang rapat."
"Saya tahu."
jawab Damar.
"Lalu kenapa masuk?"
---
Pria itu berjalan masuk.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Lalu berhenti pada Nara.
Hanya sesaat.
Namun cukup untuk membuat jantung wanita itu berdebar.
---
"Saya ingin mengetahui dasar keputusan ini."
ucap Damar.
Direktur SDM menghela napas.
"Kami hanya mempertimbangkan langkah terbaik."
"Langkah terbaik untuk siapa?"
balas Damar.
Suasana langsung menegang.
---
"Saya tidak ingin memperdebatkan ini."
kata salah satu direktur.
"Kalau begitu jangan membuat keputusan yang salah."
jawab Damar tanpa ragu.
---
Nara menatap pria itu.
Tidak percaya.
Selama ini Damar selalu profesional.
Selalu tenang.
Namun sekarang...
Ia sedang berdebat dengan para petinggi perusahaan demi dirinya.
---
"Masalah ini muncul karena gosip."
lanjut Damar.
"Bukan karena pelanggaran kerja."
"Tapi dampaknya nyata."
sahut seorang direktur.
---
"Kalau begitu cari pelakunya."
balas Damar.
"Bukan menghukum orang yang tidak bersalah."
Ruangan kembali hening.
---
Direktur SDM menatapnya tajam.
"Damar."
"Kamu terlalu emosional."
Kalimat itu membuat semua orang menahan napas.
Karena hampir tidak pernah ada yang mengatakan hal seperti itu kepada Damar.
---
Namun yang lebih mengejutkan adalah jawaban pria tersebut.
"Mungkin."
ucap Damar.
"Tapi saya tidak akan diam saat seseorang diperlakukan tidak adil."
---
Nara merasakan tenggorokannya mengering.
Untuk pertama kalinya...
Ia melihat sisi Damar yang belum pernah ditunjukkan kepada siapa pun.
---
Direktur Operasional akhirnya bersandar di kursinya.
"Lalu menurutmu bagaimana?"
tanya pria itu.
---
Damar terdiam sesaat.
Lalu berkata dengan suara tenang.
Namun cukup kuat untuk membuat seluruh ruangan membeku.
"Kalau ada yang ingin disalahkan..."
Tatapannya menyapu satu per satu orang di ruangan.
"...salahkan saya."
---
Nara membelalak.
Direktur SDM langsung mengernyit.
"Apa maksudmu?"
---
"Saya atasannya."
jawab Damar.
"Semua keputusan kerja yang melibatkan Nara melewati saya."
"Kalau ada pihak yang menganggap hubungan profesional kami menimbulkan masalah..."
Pria itu menarik napas.
"Berikan tanggung jawabnya kepada saya."
---
Ruangan benar-benar sunyi.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
---
Karena semua orang tahu.
Damar baru saja mempertaruhkan reputasinya sendiri.
---
"Nara tidak melakukan kesalahan."
lanjutnya.
"Dan saya tidak akan membiarkan kariernya dirusak oleh fitnah."
---
Jantung Nara berdetak semakin cepat.
Bukan karena takut.
Melainkan karena sesuatu yang lain.
Sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
---
Untuk pertama kalinya...
Ia merasa ada seseorang yang berdiri di sisinya tanpa syarat.
---
Beberapa menit kemudian, rapat akhirnya berakhir.
Belum ada keputusan final.
Namun satu hal menjadi jelas.
Pemindahan Nara ditunda.
Penyelidikan internal akan dilakukan.
Dan untuk sementara, tidak ada tindakan terhadap dirinya.
---
Saat keluar dari ruang rapat, Nara berjalan di koridor yang sepi.
Pikirannya masih kacau.
Sampai suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Damar.
---
"Kamu baik-baik saja?"
tanya pria itu.
Nara menatapnya.
Lama.
Sangat lama.
---
"Kenapa melakukan itu?"
akhirnya ia bertanya.
---
Damar terdiam.
Seolah mencari jawaban yang tepat.
Namun pada akhirnya...
Ia memilih jujur.
---
"Karena aku tidak suka melihatmu disakiti."
ucapnya pelan.
---
Jantung Nara berhenti sesaat.
---
Untuk pertama kalinya...
Damar tidak memanggil dirinya dengan nada formal.
Tidak berbicara sebagai atasan.
Tidak berbicara sebagai pewaris perusahaan.
Melainkan sebagai seorang pria.
---
Tatapan mereka bertemu.
Dan selama beberapa detik, dunia seolah menghilang.
Hanya ada mereka berdua.
Dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan.
---
Namun di sudut koridor yang lain...
Seseorang menyaksikan semuanya.
Bianca.
---
Wajah wanita itu perlahan memucat.
Karena kini ia akhirnya memahami satu kenyataan yang tidak bisa lagi disangkal.
Damar benar-benar jatuh cinta pada Nara.
Dan jika ia tidak melakukan sesuatu sekarang...
Ia akan kehilangan pria itu selamanya.
---
Sementara itu, Nara belum menyadari bahwa badai terbesar belum datang.
Karena perang yang selama ini terjadi hanya pembukaan.
Dan langkah Bianca berikutnya akan mengungkap rahasia yang dapat mengubah hidup semua orang.
Bersambung ke Bab 21