Kesempatan hidup kedua yang kudapatkan, akan aku manfaatkan dengan baik.
Aku berpikir siuman dari pingsan, tapi pada kenyataannya aku kembali ke waktu satu tahun sebelumnya.
Akan aku balas mereka yang telah menyakiti ku selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Sean
"Sean, kamu nggak ke ruang rapat?" tanya Celline.
"Emang ada rapat?" Sean beneran tak tahu.
"Betul. Rapat mendadak," kata Celline.
"Tahu darimana?" tanya Sean.
"Grub chat," beritahu Celline.
Sebagai karyawan baru, Sean belum masuk ke grub karyawan.
Selama beberapa hari di perusahaan, hanya Celline yang akrab dengan Sean.
"Sean, ayo," meski sudah tahu Sean adalah cucu yang punya perusahaan, tak membuat Celline merasa segan. Dan itu lah yang membuat Sean nyaman berteman dengan Celline.
"Oke," Sean menyusul di belakang Celline.
Di ruang rapat, semua karyawan yang satu bagian dengan Sean sudah duduk di sana. Demikian juga Kevin. Kevin duduk paling ujung, paling dekat dengan pemimpin rapat nanti nya.
Tuan Abimanyu disusul Yola telah mengambil tempat.
"Baiklah, kita mulai rapat ini," kata tuan Abimanyu.
"Setelah kegagalan proposal yang kemarin. Hari ini akan kita bahas rencana strategis berikutnya," lanjut tuan Abimanyu.
"Kevin, sebagai manager apa kamu sudah ada rencana itu?" tanya tuan Abimanyu serius.
Kevin yang ditodong mendadak tentu saja gelagapan.
"Kevin, berapa staf mu? Apa di antara mereka tak ada yang punya ide satu pun?" Yola dengan pandangan menyapu seluruh ruangan. Tentu Yola ingin melindungi ketidakmampuan sang anak.
"Kamu mampu memberdayakan mereka bukan?" lanjut Yola dan dibenarkan oleh tuan Abimanyu.
"Baik tuan dan nyonya," balas Kevin dengan senyum puas.
Sementara yang lain mencibir manager sombong itu. Bersembunyi di balik kata staf atas ketidakbecusan nya.
"Kenapa kalian diam? Apa kalian tidak ada ide sama sekali? Percuma perusahaan kasih gaji kalian," seru Kevin melempar tanggung jawab.
"Kemampuan anak buah tergantung leader nya. Leader bodoh, jangan harap anak buah berkembang," tegas Sean.
Kevin berdiri seraya menatap tajam ke arah Sean.
"Huh... Apa kamu punya ide? Jangan sombong kalau otak kamu sendiri kosong," balas Kevin.
"Kalau pun punya ide, apa harus diutarakan di sini? Aku takut ada yang menyabotase ideku," sindir Sean.
"Heh... Kamu menuduhku? Sudah sewajarnya atasan yang akan ambil alih. Seorang staf biasa seperti kamu belum pantas mewakili perusahaan ambil proyek," kata Kevin ketus.
"Hhmm baiklah, memang atasan lah penentu segalanya," kata Sean.
"Bilang aja nggak ada ide," balas Kevin kembali duduk ke kursinya.
"Kamu ini, suka sekali buat gara-gara sama dia," bisik Celline.
"Yang lain? Ada ide? " tanya tuan Abimanyu menengahi.
Satu detik... Dua detik.... Sampai satu menit menunggu tak ada yang bicara.
"Aku kasih kesempatan sampai besok pagi, satu orang satu ide. Nanti akan kita pilih yang paling strategis dan memberi peluang bagus buat perusahaan," tuan Abimanyu hendak berdiri meninggalkan ruangan, tapi keburu tuan Rahardjo masuk ke ruang rapat.
"Sean Rahardjo mana?" tuan Rahardjo mencari keberadaan cucu tunggal nya.
"Pah, ini bukan di rumah. Profesional dong. Bukannya tuan Rahardjo selalu menekankan itu padaku," bisik tuan Abimanyu yang tak ingin jatuh wibawa.
"Kenapa? Aku memang mencari Sean," tuan Rahardjo telah menemukan keberadaan Sean.
"Hebat kamu Sean," puji tuan Rahardjo. Semua orang bengong dengan ucapan tuan Rahardjo.
'Apa yang membuat pria tua itu sedemikian bangga pada cucunya?' batin Yola. Kevin pun sepemikiran dengan sang mama, demikian juga tuan Abimanyu.
"Ada apa opa?" tanggap Sean.
"Selamat, kamu mendapatkan tender mega proyek dengan Dirgantara Grub. Kamu penyelamat perusahaan ini Sean," tawa lepas dari bibir tuan Rahardjo. Tuan Abimanyu dan Yola tak bisa menutupi rasa keterkejutan nya. Tuan Dirga adalah orang yang banyak pertimbangan sebelum memutuskan sesuatu, apalagi cuman berhadapan dengan seorang Sean Rahardjo.
'Apa keistimewaan dia? Huh,' umpat Kevin dalam hati.
"Opa tahu?" sahut Sean.
"Tentu. Barusan asisten tuan Dirga menghubungi opa," beritahu tuan Rahardjo.
"Sean, kamu menyembunyikan hal besar ini dari papa? Papa ini pemimpin perusahaan loh," kata tuan Abimanyu menyela.
"Nggak kok. Belum ada kesempatan aja buat lapor, keburu tuan Rahardjo ini ke sini," dalih Sean.
"Oke, rapat kita lanjutkan. Karena Sean sukses besar mendapatkan proyek itu, maka akan kita bahas tim-tim yang terlibat di dalam nya," tandas tuan Abimanyu.
"Oh ya Abi, asisten tuan Dirga berpesan padaku. Proyek ini tak akan diberikan kepada kita, jika ketua tim bukan Sean," pesan tuan Rahardjo. Ucapan pria tua itu membuat Kevin semakin emosi.
"Pah, perusahaan kita ada aturan. Ketua Tim proyek hanya bisa dipegang oleh orang yang mempunyai jabatan minimal sekelas manager," tuan Abimanyu mengingatkan papa nya.
"Dan di sini Kevin lah manager itu," lanjut tuan Abimanyu.
Kevin tersenyum mendengar ucapan tuan Abimanyu.
'Percuma punya ide brilian, toh proyeknya tetap aku yang pegang,' hati Kevin diliputi rasa sombong.
"Abimanyu, apa kamu nggak dengar kata papa tadi? Proyek harus dipegang oleh Sean dan tak akan papa berikan ke yang lain. Tuan Dirga lebih percaya pada Sean melebihi kepercayaan nya padamu, apalagi manager seperti dia," tatapan sinis tuan Rahardjo ke arah Kevin.
"Naikkan jabatan Sean menjadi manager sekarang!" perkataan tuan Rahardjo adalah perintah yang tak boleh dibantah.
Sean menatap tegas ke arah Kevin, 'Masih banyak hutang sakit hati yang musti kamu lunasi pecundang,' batin Sean.
'Sialan, kenapa bisa seperti ini? Sean selalu selangkah lebih maju, dan perhitungannya selalu tepat,' ucap Kevin dalam hati.
"Oh ya, karena Sean jadi manager, maka turunkan dia jadi staf biasa," suruh tuan Rahardjo.
"Mana mungkin tuan?" sela Yola.
"Apa nya yang tak mungkin? Barusan aku cek di bagian HRD kalau dia masuk ke perusahaan ini karena koneksi. Dan kamu lah yang kasih rekomendasi itu," bahas tuan Rahardjo.
"Ingat, aku tak ingin perusahaan merugi hanya karena ulah orang yang tak kompeten. Masih bagus aku tak memecatnya," lanjut tuan Rahardjo, membuat semua yang ada di situ terdiam.
Rapat diakhiri. Banyak rekan kerja yang memberi selamat buat Sean tak terkecuali Celline.
.
Kevin mengikuti Abimanyu dan Yola keluar ruangan. Mereka bertiga masuk ke ruang direksi.
"Ngapain kalian ikutan ke sini? Mau menunjukkan kalau kita ada hubungan," kata tuan Abimanyu.
"Pah, aku mau proyek itu," ucap Kevin dengan nada kesal.
"Kalau tuan Rahardjo bergerak, papa nggak bisa berbuat banyak Kevin," seru tuan Abimanyu.
"Sayang, kalau memang Kevin tak jadi ketua tim. Libatkan Kevin ikut kerja dengan Sean. Aku ingin Kevin bisa belajar dari Sean," rayu Yola.
"Mah," tentu saja Kevin menolak. Mana mau dia jadi anak buah Sean.
"Kevin, denger apa kata mama. Kali ini Sean memang lebih baik dari kamu," Yola memberi isyarat agar Kevin segera pergi dari ruangan Abimanyu. Kevin mengikuti apa kata mama nya.
'Mama memang licik, pasti mama akan merayu pria bodoh itu agar keinginannya terkabul,' Kevin tertawa kecil dalam hati.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
atau pling gk nendang bpk nya biar miskin kl miskin yola pasti gk mau kn. 🤣.
pdhl Dr segi umur Sean sdh dewasa.