"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Awal Baru di Solmara
"Aku masih tidak percaya pria yang saat ini sedang memotong kain dengan asal-asalan itu adalah Pangeran Mahkota yang kemarin meratakan Aula Takhta."
Suara tawa halus Marry memecah keheningan studio jahit lantai dua rumah batu yang hangat. Di sudut ruangan, Paul terkekeh rendah seraya menyesap kopi hitamnya, sementara sepasang mata tuanya menatap jenaka ke arah meja potong kain rahasia milik Anna.
Di sana, Aethan Cassian Solaris sang mantan Panglima Tertinggi Kekaisaran yang kini telah memundurkan diri secara resmi dari panggung politik, berdiri dengan kemeja putih kasual yang lengan bajunya digulung hingga siku. Pria bertubuh besar itu sedang memegang sepasang gunting kain dengan dahi berkerut tajam, seolah-olah sedang menghadapi barisan ksatria elit di medan perang.
"Kain sutra ini terlalu licin, Nyonya Marry," gumam Aethan dengan suara baritonnya yang berat namun terdengar sedikit frustrasi. "Mengatur garis potongannya jauh lebih rumit daripada menyusun formasi militer di perbatasan."
"Itu karena Anda memotongnya menentang serat kain, Tuan Aethan," sahut Anna yang melangkah mendekat dari arah tangga, membawa gulungan benang merah anggur yang baru.
Anna tersenyum manis, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah pria yang kini menjadi tunangannya tersebut. Mimi yang mengekor di belakang Anna melompat santai ke atas meja kayu, mengibas-ikibaskan ekor putihnya seraya menjatuhkan gulungan benang milik Aethan hingga menggelinding ke lantai—sebuah gestur kebiasaan sang kucing yang masih suka mengganggu Panglima Agung tersebut dengan jail.
"Mimi, jangan memancing emosiku di pagi hari," desis Aethan berpura-pura dingin, meski jemarinya dengan lembut malah mengelus belakang telinga kucing kecil itu.
Dua minggu telah berlalu sejak kepulangan mereka dari Ibukota Pusat Kekaisaran. Kota Solmara menyambut rombongan Anna dan Aethan bagai pahlawan. Dengan runtuhnya tirani Permaisuri dan dibentuknya pemerintahan dewan baru di bawah pengawasan Leon dari jauh, Solmara kini sepenuhnya bebas dari ancaman faksi mana pun. Ruby Rose Boutique tidak hanya berdiri kembali di tempat asalnya, namun kini memegang plakat lisensi tertinggi sebagai Butik Agung Pelindung Perbatasan.
Anna meletakkan bahan kain baru di samping Aethan, lalu mengambil alih gunting dari tangan pria itu. Jemari lentiknya bergerak lincah dan luput dari kesalahan, memotong kain perak cantik dengan presisi yang sempurna.
Aethan tidak melangkah menjauh. Pria itu justru melingkarkan kedua lengannya di sekeliling pinggang Anna dari belakang, menyandarkan dagunya yang kokoh di ceruk leher sang gadis tanpa peduli pada Paul dan Marry yang tertawa kecil seraya melangkah turun ke lantai satu untuk memberi mereka ruang.
"Kau sengaja memamerkan keahlianmu di depanku, heh?" bisik Aethan parau, menyapukan embusan napas hangatnya yang memicu desir halus di tengkuk Anna.
Anna merona merah, namun ia menghentikan gerakan guntingnya dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang Aethan. Kehangatan tubuh pria ini adalah tempat perlindungan favoritnya. "Aku hanya menunjukkan bagaimana cara melakukannya dengan benar, Tuan Pensiunan Panglima."
"Jangan sebut itu lagi! Aku sudah melepaskan gelar itu, Anna-ku," sahut Aethan sedikit merajuk tapi lembut. Jemari kasarnya yang penuh kapalan meraba perlahan cincin perak bertatahkan kristal merah anggur yang tersemat indah di jari manis Anna, sebuah pengingat abadi akan janji lamaran mereka di balkon Ibukota. "Sekarang aku hanyalah pengawal pribadimu, asisten pemotong kainmu, dan pria yang akan mendampingimu seumur hidup."
"Gajimu sebagai asisten sangat mahal, Aethan," goda Anna dengan kekehan halus, memutar tubuhnya dalam dekapan Aethan untuk menatap sepasang mata perak yang kini memancarkan ketenangan tanpa lagi dibayangi kegelapan.
"Bayaranku cukup dengan ciuman setiap pagi dan izin untuk mendekapmu setiap malam," balas Aethan dengan senyuman tipis yang teramat tampan, sebelum menundukkan kepalanya untuk mendaratkan kecupan hangat di dahi Anna.
Ketegangan politik, ancaman perang, dan bayang-bayang masa lalu yang kelam dari silsilah Thread Magic serta pembantaian Florentia kini telah sepenuhnya usai. Di dalam ruangan studio jahit yang disinari hangatnya mentari pagi Solmara, yang tersisa hanyalah kedamaian yang telah lama mereka perjuangkan.
Sore harinya, saat sinar keemasan sunset menyapu jendela-jendela kaca Ruby Rose Boutique, Anna duduk di kursi kerjanya di dekat balkon lantai dua. Di pangkuannya terhampar sebuah zirah kain kasual berwarna hitam yang dirancang khusus untuk Aethan—zirah fleksibel yang disulami benang Mana merah anggur pemurni milik silsilah Florentia di setiap lipatan seratnya.
Aethan melangkah mendekat, berdiri di samping balkon seraya menatap pemandangan kota Solmara yang riuh dan damai di bawah sana. Cahaya sore memantul di sudut matanya, memancarkan aura ketampanan yang tak lagi terikat oleh beban takhta.
"Zirah kain ini selesai," ucap Anna, menepuk-nepuk permukaan kain lembut itu seraya mendongak menatap Aethan. "Ini adalah pelindung barumu. Meskipun kau tidak lagi berada di medan perang, aku ingin benangku selalu menjagamu ke mana pun kau melangkah."
Aethan berlutut di samping kursi Anna, mengambil jemari halus gadis itu lalu mengecup punggung tangannya dengan penuh penghormatan.
"Kau tidak perlu lagi khawatir, Anna," bisik Aethan parau, matanya menatap lurus ke dalam netra milik wanitanya. "Takdir telah menyeret kita melewati lautan darah dan konspirasi, tapi benang milikmu telah mengikat jiwaku sepenuhnya. Ke mana pun masa depan membawa kita ... ikatan ini tidak akan pernah putus."
lanjut yaaaaa