Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, hiduplah Arka, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Di mata rekan kerjanya, termasuk Dinda—wanita tulus yang diam-diam dicintainya—Arka hanyalah pegawai biasa yang hidup pas-pasan, tenang, dan tidak memiliki apa-apa. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik penampilan sederhana itu, Arka adalah pewaris tunggal dan pemilik sah Grup Wijaya, konglomerasi bisnis terbesar di negeri ini.
Atas pesan terakhir mendiang ayahnya, Arka sengaja menyembunyikan identitasnya selama dua tahun untuk merasakan getirnya kehidupan rakyat kecil dan memahami dunia dari bawah, sebelum memegang kendali penuh. Di siang hari ia mengurus berkas-berkas kantor, namun di malam hari, dari kamar apartemen sempitnya, ia mengendalikan kerajaan bisnisnya dan mengawasi gerak-gerik orang-orang yang berniat jahat merugikan perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenangan yang menguatkan
Menjelang peresmian universitas impiannya, Arka menyempatkan diri untuk kembali ke apartemen kecil tempat dia tinggal selama dua tahun masa penyamarannya. Apartemen itu tidak dia jual atau ubah, dia biarkan tetap sama persis seperti dulu, lengkap dengan perabotan sederhana, meja kerja kecil, dan jendela yang menghadap ke jalan raya yang ramai.
Dia masuk ke dalam ruangan itu sendirian, menutup pintu, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan. Di sini, dia pernah duduk berjam-jam meneliti dokumen perusahaan, memikirkan strategi menghadapi Pak Haris, dan merenungi pesan-pesan ayahnya. Di sini, dia pernah merasa bingung, lelah, dan hampir putus asa. Namun di sini pula, dia menemukan arah, menemukan kekuatan, dan menemukan keberanian untuk melangkah maju.
Arka berjalan mendekati jendela, melihat ke bawah ke arah halte bus dan warung makan tempat dia biasa membeli makanan. Di sana, dia melihat pemuda-pemuda biasa berjalan lewat, wajah mereka penuh semangat dan harapan, sama seperti dirinya dulu.
"Kau lihat itu, Ayah? Di sini, di antara orang-orang biasa inilah letak kekuatan yang sesungguhnya. Di sinilah aku belajar menjadi manusia. Dan dari sinilah aku mulai membangun segalanya," ucap Arka pelan, seolah-olah ayahnya ada di situ bersamanya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Pintu terbuka, dan muncul wajah Dinda yang tersenyum lembut sambil membawa secangkir kopi hangat. Dia tahu betul kenangan apa yang sedang dirasakan suaminya di tempat ini.
"Aku tahu kamu pasti ingin kopi hitam buatan sendiri, sama seperti dulu," kata Dinda sambil meletakkan cangkir di meja kecil itu.
Arka tersenyum dan menarik tangan istrinya agar duduk di sebelahnya. Dia menatap Dinda lekat-lekat. "Kau tahu, Din... kalau saja dulu aku tidak memutuskan untuk menyamar, kalau saja aku langsung mengambil alih perusahaan dengan segala kemewahan dan kekuasaan sejak awal, aku mungkin tidak akan pernah bertemu denganmu. Atau kalau bertemu, mungkin kamu akan melihatku hanya sebagai orang kaya yang sombong, dan kita tidak akan pernah sedekat ini."
Dinda tertawa kecil. "Mungkin iya. Tapi nasib sudah mengatur semuanya dengan indah. Kamu menjadi pegawai biasa, aku bertemu kamu, kita melewati susah senang bersama, dan akhirnya sampai di sini. Semua ujian, semua rahasia, semua kesulitan... semuanya membawa kita ke titik ini."
Arka mengangguk setuju. "Benar. Dulu aku berpikir menyamar itu berat dan sulit. Tapi sekarang aku sadar, masa-masa itulah masa paling berharga dalam hidupku. Itu adalah sekolah terhebat yang pernah aku jalani. Dan itulah alasan kenapa universitas yang akan kita bangun ini diberi nama Universitas Wijaya Karya—mengambil nama dari semangat kerja keras, kesederhanaan, dan ketulusan yang aku pelajari saat menjadi pegawai biasa."
Momen sederhana di apartemen kecil itu menjadi pengingat bagi Arka akan siapa dirinya dan untuk siapa dia bekerja. Di tengah kemegahan gedung pencakar langit dan kekuasaan besar, dia tidak pernah lupa dari mana dia berasal.
Keesokan harinya, Arka dan Dinda mengundang semua mantan rekan kerja mereka, mulai dari Pak Budi, rekan-rekan staf, hingga petugas kebersihan dan satpam kantor lama, untuk berkeliling melihat persiapan kampus baru. Arka memperlakukan mereka dengan hormat dan kasih sayang yang sama persis seperti dulu, bahkan lebih lagi.
"Kalian adalah guru-guruku yang sebenarnya. Kalianlah yang mengajarkan aku nilai-nilai kehidupan yang tidak bisa didapatkan di sekolah bisnis mana pun. Tanpa kalian, aku tidak akan menjadi apa-apa," kata Arka di hadapan mereka semua, membuat banyak mata berlinang air mata bangga.
Hari-hari menjelang peresmian diisi dengan kegiatan mempersiapkan segalanya hingga sempurna. Arka terlibat dalam setiap detail, memastikan bahwa fasilitasnya nyaman, kurikulumnya berkualitas, dan yang paling penting, semangat keadilan dan kemanusiaan tertanam kuat di sana.
Dia ingin setiap mahasiswa yang masuk ke sana nanti mengerti: kekayaan dan jabatan bukanlah ukuran keberhasilan. Keberhasilan sejati adalah seberapa besar manfaat yang bisa kamu berikan kepada orang lain. Pesan yang sama persis seperti yang dulu diajarkan ayahnya kepadanya, dan yang dia buktikan sendiri lewat perjalanan hidupnya yang luar biasa.