NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Dua hari berlalu sejak Mahesa datang ke rumah orang tua Aurel. Selama dua hari itu pula, Aurel terus berpikir. Ia tidak lagi menangis. Bukan karena lukanya telah sembuh. Melainkan karena air matanya terasa sudah habis.

Malam harinya, setelah Raka tertidur, Aurel duduk sendirian di teras rumah orang tuanya.

Ponselnya berada di atas meja. Tatapannya tertuju pada satu nama yang selama beberapa hari terakhir sengaja ia jauhi. Yaitu Mahesa.

Aurel menarik napas panjang. Perlahan, ia membuka daftar nomor yang diblokir.

Jarinya berhenti beberapa detik. Lalu..Ia menekan tombol Buka Blokir.

Tidak lama kemudian, Aurel mengetik sebuah pesan.

"Besok sore jam lima. Kita bertemu di Kafe Senandika. Ada yang ingin kubicarakan."

Pesan itu terkirim. Tak sampai satu menit, balasan dari Mahesa datang.

"Baik. Aku akan datang."

Hanya itu. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada penolakan.

Mahesa tahu, kesempatan ini mungkin satu-satunya yang masih diberikan Aurel.

Keesokan harinya. Pukul lima kurang sepuluh menit.

Mahesa sudah lebih dulu tiba di sebuah kafe yang dipilih Aurel. Ia duduk di meja dekat jendela.

Tangannya terus menggenggam gelas berisi air putih yang sejak tadi tidak diminumnya.

Beberapa menit kemudian.. Aurel datang. Perempuan itu mengenakan kemeja putih dipadukan celana panjang hitam.

Penampilannya sederhana. Namun wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari lalu.

"Sudah lama?" Tanya Aurel sambil menarik kursi.

"Baru sebentar." jawab Mahesa.

Aurel mengangguk pelan. Ia memang sengaja memilih bertemu di tempat umum. Bukan di rumah. Bukan di mobil. Bukan di tempat yang sepi. Aurel membutuhkan ruang yang aman. Tempat yang membuat keduanya sama-sama menjaga sikap.

Pelayan datang menawarkan menu. Namun keduanya hanya memesan minuman. Tak ada yang benar-benar ingin makan.

Setelah pelayan pergi, suasana kembali hening.

Mahesa menatap Aurel. "Rel..."

"Aku..."

Aurel mengangkat telapak tangannya pelan. "Tolong."

"Hari ini biar aku yang bicara dulu."

Mahesa langsung mengangguk. "Baik."

Aurel menarik napas panjang. "Beberapa hari ini aku sudah banyak berpikir."

"Aku juga sudah bicara sama orang tuaku."

"Sama Najwa."

Mahesa hanya diam mendengarkan.

"Aku berusaha mencari alasan untuk tetap mempertahankan rumah tangga ini."

"Aku benar-benar mencarinya."

"Karena selama ini aku selalu berpikir, pernikahan harus diperjuangkan." Suara Aurel tetap tenang. Namun setiap katanya terdengar begitu berat.

"Tapi semakin aku berpikir..."

"...semakin aku sadar."

"Bukan perselingkuhanmu yang paling menghancurkan aku."

Mahesa perlahan mengangkat kepala.

"Melainkan kebohonganmu."

"Tujuh tahun."

"Tujuh tahun aku hidup berdampingan dengan seseorang yang setiap hari membohongiku."

Mahesa menundukkan kepala. "Aku minta maaf, Rel." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Mahesa.

"Aku benar-benar menyesal."

Aurel tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip kepedihan.

"Aku percaya kamu menyesal."

Mahesa sedikit terkejut.

"Tapi..."

"Penyesalan tidak bisa mengembalikan tujuh tahun yang hilang."

Aurel mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat dari dalam tasnya. Ia meletakkannya di atas meja.

Mahesa menatap map itu tanpa berani menyentuhnya.

"Apa itu?" tanya Mahesa.

Aurel menjawab dengan suara yang nyaris tak bergetar. "Draft gugatan cerai."

Mahesa membeku. Dunia seakan berhenti berputar.

"Aku..."

"Tidak." Suara Mahesa mulai bergetar.

"Rel..."

"Tolong jangan."

Aurel menatap laki-laki yang selama ini menjadi suaminya. Tatapan itu tidak lagi dipenuhi amarah. Hanya ada kelelahan.

"Aku sudah memutuskan."

Mahesa menggeleng berkali-kali. "Aku bisa berubah."

"Aku akan putus sama Kayla."

"Aku akan memperbaiki semuanya."

"Aku akan melakukan apa pun."

Aurel tersenyum pahit.

"Masalahnya..."

"Aku tidak ingin hidup dengan terus bertanya-tanya."

"'Hari ini kamu jujur atau tidak?'"

"'Kamu benar-benar bekerja atau sedang menemui perempuan lain?'"

"'Kalau pulang terlambat, apa alasannya benar?'"

"Aku tidak mau menjalani hidup seperti itu."

Mahesa menundukkan wajahnya. Dadanya terasa sesak.

"Aku sudah kehilangan rasa percaya." Suara Aurel mulai melemah.

"Dan ketika kepercayaan itu hilang..."

"aku tidak tahu bagaimana cara membangunnya kembali."

Mahesa meneteskan air mata. "Kasih aku satu kesempatan lagi."

Aurel menggeleng pelan. "Aku sudah memberimu kesempatan selama tujuh tahun."

"Sayangnya...aku bahkan tidak tahu kalau selama itu kamu justru sedang mengkhianatiku."

Keheningan menyelimuti meja mereka. Di tengah ramainya suara pengunjung kafe, dua orang yang pernah saling mencintai itu kini duduk berhadapan. Bukan lagi membicarakan mimpi. Bukan lagi merencanakan masa depan. Melainkan mengakhiri perjalanan yang pernah mereka mulai dengan penuh harapan. Dan bagi Aurel, keputusan itu bukan lagi lahir dari amarah. Melainkan dari hati yang telah terlalu lama terluka.

Mahesa masih memandangi map berwarna cokelat yang berada di atas meja. Tangannya gemetar. Ia sama sekali tidak berniat menyentuhnya.

"Rel..." Suaranya terdengar lirih.

"Aku nggak akan tanda tangan."

Aurel mengangkat pandangannya. "Itu hakmu."

"Tapi keputusanku tetap sama."

Mahesa menggeleng berkali-kali.

"Nggak."

"Aku nggak mau cerai."

"Aku tahu aku salah."

"Aku tahu dosaku besar."

"Tapi tolong..."

"Jangan akhiri rumah tangga kita."

Beberapa pengunjung di sekitar mereka mulai melirik. Namun Aurel tetap duduk tenang. Ia memang sengaja memilih tempat ramai. Bukan untuk mempermalukan Mahesa. Melainkan agar pembicaraan mereka tetap terkendali.

Mahesa mengusap wajahnya yang mulai basah oleh air mata. "Aku akan berubah."

"Aku janji."

"Aku akan putus sama Kayla."

"Aku akan pulang setiap hari."

"Aku akan jadi suami dan ayah yang baik."

"Apa pun yang kamu minta akan aku lakukan."

"Tolong, Rel."

Aurel memejamkan mata beberapa detik. Lalu kembali membukanya.

"Kalau semua itu kamu lakukan tujuh tahun yang lalu..."

"...mungkin kita tidak duduk di sini hari ini."

Mahesa menunduk. "Aku benar-benar menyesal."

"Aku tahu." kata Aurel.

"Tapi aku tidak bisa hidup hanya dengan penyesalanmu."

Mahesa meraih ujung meja, berusaha menahan gemetar di tubuhnya.

"Kasih aku kesempatan."

"Satu kali saja." kata Mahesa.

Aurel menggeleng pelan. "Bukankah selama ini justru aku yang terus memberimu kesempatan?"

"Kamu pulang terlambat, aku percaya."

"Kamu bilang banyak pekerjaan, aku percaya."

"Kamu bilang ada urusan bisnis, aku juga percaya."

"Selama tujuh tahun..."

"...aku memberimu kesempatan tanpa aku sadari."

Air mata Mahesa jatuh semakin deras. "Maaf..."

"Aku minta maaf."

"Seribu kali pun aku akan minta maaf." ucap Mahesa.

Aurel menatap Mahesa cukup lama. Tatapannya dipenuhi kesedihan.

"Aku tidak membencimu, Mahesa."

"Kalau aku membenci, mungkin semuanya justru lebih mudah."

"Aku hanya..." Aurel menelan ludah.

"...tidak bisa lagi mempercayaimu."

Keheningan kembali menyelimuti meja mereka.

Mahesa mengusap air matanya dengan punggung tangan.

"Lalu..."

"Apa benar-benar sudah tidak ada jalan lagi?" tanya Mahesa.

Aurel menarik napas panjang. Kemudian ia mengucapkan kalimat yang sejak tadi terus ia pendam.

"Mahesa."

"Kalau memang benar Kayla sedang mengandung..."

Mahesa langsung mengangkat wajah. "Apa?"

"Anak di kandungan Kayla butuh ayah." kata Aurel.

Mahesa membelalak. "Rel, dengarkan aku..."

Namun Aurel melanjutkan sebelum Mahesa sempat menyela.

"Aku tidak akan menjadi perempuan yang mempertahankan suami yang sebentar lagi mungkin harus membagi tanggung jawabnya."

"Kalau memang ada seorang anak yang akan lahir..."

"...jangan biarkan dia tumbuh tanpa pengakuan dari ayahnya."

Mahesa menggeleng cepat. "Kayla tidak hamil."

Kalimat itu membuat Aurel terdiam sesaat.

Mahesa segera melanjutkan. "Waktu itu dia bohong."

"Test pack yang dia bawa itu cuma cara supaya aku segera mengambil keputusan."

"Aku baru tahu setelah semua ini terjadi."

Aurel menatap Mahesa tanpa berkedip. Entah mengapa, kabar itu sama sekali tidak membuat hati Aurel lega. Justru ia tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

"...berarti selama ini kamu mempertaruhkan rumah tangga kita demi hubungan yang bahkan dibangun di atas kebohongan."

Mahesa membeku. Ia baru menyadari bahwa penjelasannya bukan memperbaiki keadaan.

Justru semakin menunjukkan betapa rapuh dan kelirunya semua keputusan yang telah ia ambil.

Aurel berdiri dari kursinya. Ia mengambil kembali map berwarna cokelat itu.

"Mahesa."

"Aku datang ke sini bukan untuk meminta izin bercerai."

"Aku datang untuk memberi tahu keputusan yang sudah kupikirkan dengan matang."

"Aku tetap akan mengajukan gugatan cerai."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Aurel berbalik meninggalkan meja.

Mahesa hanya mampu memandang punggung perempuan yang pernah menjadi tempat pulangnya.

Kali ini.. Ia tidak mengejar. Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata maaf.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!