Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adu Domba
Tawa Wira dirasakan Reksa begitu menghinanya. Maksud untuk mengejek pemuda itu ternyata berbalik kepadanya sendiri.
"Jika kau ingin memancing emosiku, lupakanlah! Kau tidak akan pernah bisa melakukannya. Dan ada yang perlu kau ketahui, jangan mengajari bebek berenang." ucap Wira dengan tawa sinis yang keluar dari bibirnya. Pemuda yang terbiasa memancing emosi lawan dengan lontaran kata-katanya itu tentu tidak akan mudah terpengaruh.
"Bedebah! Bagaimana bisa dia setenang itu?" gumam Reksa bertanya-tanya dalam hati. Secara tidak langsung dia mengakui jika pemuda itu masih beberapa tingkat di atas dirinya dalam hal mengendalikan emosi.
Tiba-tiba kedua tangan Reksa mengeluarkan api yang berkobar. Lelaki itu tidak berpikir untuk bertarung lebih lama lagi sehingga mengeluarkan tahap tertinggi dari jurus Cakar Singa Api.
"Aku akan membunuhmu, bocah! Aku tidak peduli walau resikonya dikeluarkan dari turnamen ini. Kesalahanmu yang telah menghina perguruan Singa Merah adalah sebuah kesalahan besar dan harus diberi hukuman mati!"
Wira masih bersikap tenang. Dia tidak yakin ucapan lelaki itu akan dilakukannya. Namun tidak ada salahnya dia bersikap waspada. Wira menarik satu kakinya ke belakang sedikit dan tubuhnya agak condong ke depan.
Pemuda itu langsung melesat ke depan setelah Reksa sudah bergerak maju untuk menyerangnya.
"Mati kau!" teriak Reksa dengan begitu kerasnya. Para penonton yang berada di sekitar panggung 4 bahkan sampai mendengarnya dengan jelas. Mereka dibuat bertanya-tanya, bukankah membunuh lawan akan dianggap kalah dan dikeluarkan dari turnamen?
Berbeda dengan yang dirasakan pendukung Reksa, mereka yakin dengan keluarnya jurus Cakar Singa Api, pemuda itu akan mendapat hukuman yang setimpal, kematian.
Blaaaar!
Ledakan terdengar keras hingga membuat panggung tersebut bergoyang cukup hebat. Asap mengepul tebal menyelimuti panggung dan juga kedua pendekar tersebut. Hampir semua penonton mengalihkan pandangannya terarah ke panggung 4, karena penasaran dengan apa yang baru saja terjadi.
Rasa penasaran itu pun terjawab di saat asap yang keluar dari bertemunya energi kedua pendekar itu perlahan menghilang tersapu angin.
Wira terhuyung ke belakang memegangi bagian dadanya yang sedikit terkoyak, meski tidak dalam. Darah segar perlahan meleleh keluar dari luka tersebut. Pemuda itu merasa beruntung karena masih sempat menggunakan tenaga dalamnya untuk memperkuat pertahanannya. Andai dia terlambat sedikit saja menarik serangannya dan membuat pertahanan, bisa dipastikan dia akan tewas.
"Tidak mungkin... Seharusnya dia sudah mati!" Mata Reksa membelalak lebar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pemuda itu masih bisa berdiri dengan luka yang bisa dibilang tidak parah.
"Ternyata kau mau membunuhku!" desis Wira pelan, selepas menotok jalan darah di sekitar lukanya.
"Sudah aku bilang! Kau akan kuberi hukuman yang setimpal atas kesalahan besarmu!" Reksa menutupi keterkejutannya dengan membalas ucapan Wira.
"Kau kira semudah itu bisa membunuhku?" Wira berdecak sedikit kesal. Niat yang ditunjukkan Reksa sudah menyalahi aturan yang sudah ditetapkan.
"Meski kau mempunyai niat buruk hendak membunuhku, aku tidak berpikir untuk memiliki niat yang sama denganmu. Aku tetap akan menghormati aturan turnamen yang sudah ditetapkan. Jadi bersiaplah terluka parah!" tambahnya.
Wira menarik separuh energi tenaga dalamnya dan memusatkannya di kedua tangannya. Sesaat berikutnya aura yang besar langsung menyeruak keluar dari tubuh pemuda tersebut.
Reksa yang sudah bersiap untuk menyerangnya bisa merasakan kekuatan Wira yang meningkat pesat dibandingkan sebelumnya. Ada rasa was-was di dalam pikirannya setelah merasakan besarnya tekanan yang dikeluarkan lawannya itu. Tapi hasrat untuk memberi hukuman yang setimpal dan juga dia tidak ingin membuat malu nama perguruannya, membuat Reksa mengindahkan rasa was-was di pikirannya.
Keduanya kembali melesat bersamaan. Pertarungan yang sempat berhenti itu kembali terjadi dengan begitu sengit. Lesatan cakar yang dilesatkan Wira dengan penuh perhitungan matang, membuat Reksa berada dalam tekanan. Dia terus bergerak mundur sambil memberikan tangkisan. Sesekali dia menghindar, tapi Wira seakan tidak membiarkannya lolos begitu saja.
Pemuda itu kemudian melompat dan berputar di udara satu kali sebelum melepaskan serangannya.
"Cakar Naga Membelah Bumi!" teriaknya.
Menyadari serangan lawannya tidak main-main, Reksa memperkuat pertahanannya. Namun sedetik kemudian pikirannya berubah, dia lebih memilih menghindar daripada mengadu kekuatannya dengan energi besar yang mengarah kepadanya.
Reksa melompat menyamping dan bergulingan di lantai, tepat sebelum serangan Wira mengenainya.
Namun yang terjadi kemudian membuat Reksa bergidik ngeri. Serangan Wira yang tidak mengenai sasaran, langsung menghajar lantai panggung yang terbuat dari papan kayu tebal itu.
Blaaar!
Semua pandangan mata yang melihat pertarungan itu dibuat ternganga. Retakan lebar tercipta memanjang di lantai panggung yang langsung terbelah menjadi dua itu. Dan sesaat berikutnya, panggung itupun roboh hingga menimbulkan suara bergemuruh.
Wira melompat dengan ringan dan mendarat di sebuah lantai papan yang masih utuh. Begitu halnya dengan Reksa, sebelum panggung itu roboh, dia masih sempat mencari pijakan agar kakinya tidak menapak tanah.
Suara robohnya lantai panggung 4 itu, tak ayal membuat semua penonton yang sedang melihat pertarungan lainnya mengalihkan pandangannya. Mereka seketika tertegun untuk beberapa saat, tidak percaya dengan penglihatannya. Panggung yang dibuat dan didesain sekokoh mungkin tersebut sudah tak berbentuk lagi.
Bukan hanya penonton saja yang dibuat terkejut. Para peserta, baik yang sedang bertanding maupun yang sedang menunggu giliran, juga langsung mengalihkan pandangannya ke arah panggung 4. Keterkejutan jelas terlihat dari cara mereka melihat.
Para pejabat istana yang berada di kursi kehormatan tak urung juga dibuat terkejut. Mereka dibuat bertanya-tanya gerangan apakah yang baru saja terjadi hingga panggung itu roboh?
Setelah berhasil menyingkirkan rasa terkejutnya, Lesmana beranjak menuju panggung 4 yang roboh itu untuk memastikan apa yang terjadi.
Pandangan matanya langsung tertuju kepada Wira yang berdiri di atas sebuah papan kayu dan sedang berhadapan dengan Reksa yang berada beberapa langkah jaraknya dari pemuda tersebut.
Sebagai ketua panitia, Lesmana dituntut untuk berpikir cepat menyelesaikan masalah itu. Meski panggung sudah roboh, kedua peserta masih berada di dalam area panggung dan menapak papan kayu. Kaki mereka berdua juga belum menginjak tanah, sehingga belum bisa diputuskan siapa pemenang di antara mereka.
"Aku menyerah!" tiba-tiba saja terdengar suara Reksa yang keras. Pendekar andalan perguruan Singa Merah itu memutuskan untuk tidak melanjutkan pertarungan. Dia masih bisa berpikir dengan waras. Andai serangan itu mengenai tubuhnya, sudah bisa dipastikan nyawanya akan terlepas dari jasadnya.
Wira menggaruk kepalanya pelan. Sungguh dia tidak menyangka lawannya itu akan menyerah di saat pertandingan belum selesai.
"Apa kau sudah gila, Reksa? Kenapa kau menyerah. Pemuda itu harus kau beri hukuman yang setimpal atas kesalahannya kemarin!" teriak salah seorang lelaki yang kemarin dihajar Wira.
"Benar! Pemuda itu telah mempermalukan perguruan kita, Reksa!" sahut yang lain.
Reksa menoleh kepada saudara seperguruannya itu sesaat, lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada Wira.
"Aku tidak pernah mempermalukan perguruan Singa Merah. Justru kelima orang temanmu itu yang sudah berbuat hal yang memalukan. Dan itu sama saja mempermalukan nama baik perguruan Singa Merah," ucap Wira tiba-tiba.
"Sebenarnya apa yang mereka lakukan sehingga kau menghajar mereka berlima?" tanya Reksa penasaran.
Wira kemudian menceritakan garis besar kejadian ketika lima orang itu hendak berbuat tidak senonoh kepada Sinta.
Setelah mendengar cerita Wira, emosi Reksa langsung meledak. Dia menatap tajam kepada lima orang yang sudah berusaha mengadu domba dia dengan Wira.