Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah di Ujung Gang
Bus tiba di terminal Kota Randu pukul dua lewat sebelas siang.
Kota kecil yang namanya bahkan tidak muncul di rekomendasi pertama ketika diketikkan di aplikasi peta — bukan karena tidak ada, melainkan karena terlalu kecil untuk dianggap relevan oleh algoritma yang mengutamakan kepadatan populasi. Satu jalan utama yang lebarnya tidak cukup untuk dua truk berpapasan dengan nyaman, deretan toko yang separuhnya sudah tutup permanen tapi papan namanya belum dilepas, dan udara yang berbeda dari kota — lebih berat, lebih harum tanah, lebih sunyi dengan cara yang terasa disengaja.
Rio turun dari bus dengan tas di punggung dan tiga makhluk yang masing-masing kembali ke mode perjalanan mereka — Wukong di pundak kanan, serigala berjalan di sisi kiri dengan langkah yang sudah tidak pincang sama sekali, dan Abyssal Goddess Weaver di lekukan bahu kiri yang tidak terlihat dari luar karena kerah jaket Rio menutupinya.
Ia membuka aplikasi peta, mengetikkan alamat dari kertas yang Raymond berikan.
Dua koma empat kilometer dari terminal.
Jalan kaki dua puluh menit.
---
Gang yang dimaksud tidak punya nama resmi di peta — hanya ditandai sebagai *jalan lingkungan* dengan garis putus-putus yang menunjukkan jalan yang belum sepenuhnya diverifikasi keberadaannya oleh sistem.
Rio menemukannya setelah berjalan tujuh belas menit — gang kecil yang mulutnya tersembunyi di antara warung kelontong tutup dan tembok yang penuh poster lama, cukup sempit untuk membuat dua orang dewasa harus berjalan beriringan kalau berpapasan.
Di ujung gang itu, rumah ketiga dari kiri.
Pagar kayu yang sudah miring di satu sisinya, catnya sudah lama tidak diperbarui hingga warnanya tidak bisa lagi dipastikan pernah apa. Tanaman di halaman kecilnya terlalu rimbun untuk ukuran halaman seukuran itu — bukan tidak terawat, tapi terawat dengan cara orang yang lebih peduli pada tanaman tumbuh dari pada tanaman terlihat rapi. Beberapa pot di teras dengan daun yang besar dan hijau pekat.
Rumah yang ditinggali. Bukan sekadar dihuni.
Rio berdiri di depan pagar itu selama beberapa detik.
Di pundak kanannya Wukong mencicit sangat pelan — nada yang Rio terjemahkan sebagai *kita sudah sampai, sekarang apa?*
"Sekarang kita ketuk pintu," jawab Rio pelan.
Ia membuka pagar yang berderit dengan suara yang terlalu keras untuk gang yang sepilih ini, berjalan ke teras, dan mengetuk pintu tiga kali.
---
Tiga detik.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Kemudian suara langkah dari dalam — bukan langkah berat, bukan terburu-buru. Langkah yang santai dengan ritme orang yang sudah sangat hafal jarak antara tempat ia duduk dan pintu rumahnya.
Pintu terbuka.
Dan orang yang membukanya bukan Pak Darmawan.
---
Perempuan. Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan, lebih muda dari yang Rio perkirakan dari konteks *rumah adik Pak Darmawan* yang ia bayangkan sebagai seseorang yang lebih dekat usianya dengan kakaknya. Rambut hitam dikuncir tinggi dengan cara yang tidak terlalu rapi tapi tidak juga tidak disengaja. Celemek masak masih terikat di pinggang, ada noda tepung di sisi kanan celemeknya yang belum sempat atau tidak peduli untuk dibersihkan.
Matanya menatap Rio dari atas ke bawah dengan cara seseorang yang sudah terlatih menilai situasi dengan cepat — bukan tatapan curiga, tapi tatapan yang sudah terlalu sering membuka pintu untuk orang yang tidak dikenal dan sudah membangun sistem penilaian cepat sendiri dari pengalaman itu.
Berhenti di Wukong di pundak Rio.
Berhenti di serigala yang berdiri di sisi kiri Rio.
Kembali ke wajah Rio.
"Kamu Rio," katanya. Bukan pertanyaan.
Rio mengerutkan dahi tipis. "Iya."
"Mas Darmo bilang kamu akan datang." Perempuan itu membuka pintu lebih lebar, mundur selangkah. "Masuk. Dia sudah menunggu dari tadi pagi."
---
Ruangan dalam rumah itu kecil dan penuh dengan cara yang terasa seperti kepribadian, bukan seperti ketidakrapian — buku-buku di rak yang tidak cukup besar untuk semua buku yang dipaksakan masuk ke dalamnya, foto-foto di dinding yang sebagian besar menampilkan tanaman dan pemandangan alih-alih manusia, dan satu set nada gamelan kecil di sudut ruangan yang dari cara debunya menempel terlihat sudah lama tidak dimainkan tapi juga tidak pernah dikemas untuk disimpan.
"Duduk dulu," kata perempuan itu, sudah berjalan kembali ke arah dapur. "Mas Darmo sedang di belakang. Saya panggilkan."
Rio duduk di sofa yang sudah kempes per-nya di satu sisi, tas di pangkuan, serigala berbaring tenang di lantai di depannya. Wukong turun dari pundak Rio dan duduk di sisi sofa, menatap sekeliling ruangan dengan cara yang sudah Rio kenali — bukan waspada, hanya mengamati.
Dari arah dapur terdengar suara perempuan itu memanggil. Kemudian suara pintu belakang yang dibuka. Kemudian langkah yang berbeda dari langkah perempuan tadi — lebih lambat, lebih berat di setiap jejaknya, langkah orang yang sudah membawa beban cukup lama untuk meninggalkan beratnya di cara ia berjalan.
---
Pak Darmawan muncul dari balik pintu yang menghubungkan ruang tamu ke lorong belakang.
Lebih kurus dari yang Rio ingat dari masa sekolah. Rambutnya tetap putih semua, punggungnya tetap sedikit membungkuk — tapi ada sesuatu yang berbeda dari cara ia berdiri di ambang pintu itu, sesuatu yang bukan tentang fisik melainkan tentang cara matanya memandang ke arah Rio.
Seperti seseorang yang sudah sangat lama menunggu konfirmasi tentang sesuatu yang ia harap benar tapi tidak berani terlalu yakin.
Kemudian matanya berpindah dari wajah Rio ke bahu kiri Rio — ke lekukan antara bahu dan leher di mana Abyssal Goddess Weaver duduk tersembunyi di balik kerah jaket.
Dan ekspresi di wajah Pak Darmawan berubah dengan cara yang sangat pelan dan sangat manusiawi — seperti seseorang yang sudah menggenggam napasnya selama sangat lama dan akhirnya diizinkan untuk menghembuskannya.
"Dia bersamamu," kata Pak Darmawan pelan. Bukan pertanyaan juga bukan pernyataan. Lebih seperti sesuatu yang diucapkan untuk memastikan realita yang ia lihat memang nyata.
"Iya," jawab Rio. "Sudah tiga hari."
Pak Darmawan menutup matanya selama dua detik.
Membukanya kembali, berjalan ke kursi rotan di seberang sofa Rio, duduk dengan gerakan yang menunjukkan bahwa lutut dan pinggangnya sudah tidak sekolaboratif dulu. Ia menatap Rio lama sebelum berbicara lagi.
"Kamu mirip sekali dengannya."
"Iya," kata Rio lagi.
"Sudah lihat fotonya?"
"Satu. Setengah halaman majalah tua. Buram."
Pak Darmawan mengangguk pelan. Tangannya yang sudah keriput beristirahat di lutut, jari-jarinya bergerak sedikit — gerakan kecil yang Rio kenali sebagai gerakan orang yang biasa memegang alat musik dan jarinya bergerak sendiri saat tidak ada yang dipegang.
"Berapa banyak yang sudah kamu tahu?" tanya Pak Darmawan.
"Hana Soekarno. Ketua Asosiasi Hunter Nasional." Rio menyebut nama itu datar. "Bahwa ayah saya tidak menghilang tapi disembunyikan. Bahwa Raymond sudah mencari cara untuk memberitahu saya. Dan bahwa Bapak menyimpan sesuatu yang bahkan Bapak sendiri tidak tahu kamu simpan."
Pak Darmawan menatapnya lama.
"Raymond bilang kamu cerdas." Sudut bibirnya bergerak sedikit. "Adrian juga bilang hal yang sama. Bertahun-tahun sebelum kamu lahir."
---
Di lekukan bahu kiri Rio, kehangatan yang sudah tiga hari menjadi bagian dari ritme tubuhnya berdenyut sekali.
Sangat halus. Sangat singkat.
Tapi Pak Darmawan — yang sudah tiga belas tahun membawa kotak biola itu kemana-mana tanpa membukanya — menoleh ke arah bahu kiri Rio seketika.
Seperti mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa.
Kemudian kembali menatap Rio dengan ekspresi yang sekarang tidak lagi mengandung keraguan tentang apapun.
"Dia sudah kontrak denganmu," kata Pak Darmawan pelan.
"Tiga hari lalu."
Pak Darmawan mengangguk — anggukan yang panjang dan berat dan mengandung lebih banyak dari sekadar konfirmasi.
"Baik." Ia menarik napas dalam. "Kalau begitu sudah waktunya kamu tahu di mana ayahmu."
---
Dari dapur, adik Pak Darmawan muncul membawa dua gelas teh hangat yang ia letakkan di meja kecil di antara mereka tanpa berkata apapun, lalu kembali masuk dengan cara seseorang yang tahu kapan sebuah percakapan tidak butuh penonton tambahan.
Di luar, angin bergerak di antara tanaman halaman yang terlalu rimbun, menciptakan suara gesekan daun yang pelan dan terus-menerus seperti latar belakang yang sengaja dipasang untuk menutupi suara-suara lain.
Rio menatap Pak Darmawan yang sedang mengumpulkan kata-kata dengan cara seseorang yang sudah menyimpannya terlalu lama dan sekarang perlu menemukan urutan yang benar untuk mengeluarkannya.
Di pundaknya Wukong tidak bergerak.
Di lantai serigala tidak bergerak.
Di lekukan bahu kirinya Abyssal Goddess Weaver tidak bergerak.
Semua menunggu.
Dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk-makhluk yang sudah cukup lama belajar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipercepat — dan ini adalah salah satunya.
Pak Darmawan menceritakan sesuatu. Sebuah cerita yang tiga belas tahun lalu terdengar seperti cerita biasa tentang tempat yang indah di pegunungan. Tapi saat Rio mendengarnya dengan sistem yang aktif di dalam dirinya, angka-angka mulai muncul di panel — koordinat yang tersembunyi di dalam ritme kalimat, di dalam jeda yang disengaja, di dalam nama-nama tempat yang dipilih bukan karena keindahannya melainkan karena presisinya.*
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣