Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua
"Woooiii.... Bengong aja lu, ayam tetangga gue kemaren bengong, lansung meninggal." kekeh Ali mengagetkan Ares yang sedang duduk terbengong di dalam kelas, matanya menerawang jauh menatap keluar jendela.
"Ck, siapkan lu, bikin orang kaget aja." kekeh Ali membuka bekal makannya di atas meja di hadapan Ares, "Dari pada bengong mendingan makan lah, gue banyak nih bawa bekal, bantuin gue ngabisinnya, mak gue nggak kira kira bawain bekel, dia pikir anaknya kebo kali ya." cerocos Ali menyendok nasi ke atas kertas nasi yang sudah dia sediakan.
Bukan orang tau Ali yang sengaja membawakan nasi sebanyak itu, Ali lah yang meminta ibunya agar membawa bekal lebih, agar Ares sahabatnya itu bisa makan siang bersamanya, dia tau bagaimana keadaan sahabatnya.
"Ck, lagi lama." cibir Ares yang sudah tau kebenarannya.
Namun tak urung Ares ikut makan makanan itu, tanpa sungkan, karena sudah lama mereka bersahabat bahkan sejak mereka masih duduk di bangku SD.
"Oh Ya Res, lu ada kenalan nggak, saudara atau teman lah, yang mau kerja part time di tempat om gue, karyawan dia yang jadwal sore pulang pulang kampung, jadi sore belum ada karyawan lagi." cerocos Ali sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Ya jual chicken di gang dekat pertigaan yang mau ke rumah gue ya? " ucap Ali penuh minat.
"Mmm.... Betul." angguk Ali.
"Mmm.... Boleh nggak, gue aja yang kerja paruh waktunya, klau sore gue bisa sampai malam." ucap Ares tanpa ragu, ada secerca harapan di mata anak remaja itu.
"Kan tutupnya jam 10 malaman Res, emang lu sanggup?! " tanya Ali lagi.
"In Syaa Allah sanggup." angguk Ares tanpa ragu.
"Ya sudah, nanti gue bilang sama om gue, semoga aja loe di terima." ucap Ali.
"Ok, gue tunggu." ucap Ares penuh semangat.
*Semoga gue di terima kerja di omnya Ali, nggak harus minta di maki lagi minta uang, dan bisa bantu mama biar nggak di hina terus sama papa.* gumam Ares dalam hati.
"Alhamdulillah.... Bonus bulan ini lebih gede, bisa beliin sepeda buat Alika, dan kasih uang bulan lebih buat mama, oh iya, boy juga pengen ganti HP katanya." ucap Pak Galih tersenyum lebar menatap hpnya, saat mendengar notif M- banking dari hpnya, bukan yang di ingat membahagiakan anak kandungnya, justru malah perduli dengan keponakannya, ibunya.
Hati pak Galih berbunga bunga, dan melanjutkan pekerjaannya penuh semangat, tidak sabar menunggu waktu pulang kerja, membayangkan wajah wajah bahagia keponakan dan ibunya, tanpa sadar melukai hati anak anak dan istrinya, yang mungkin mulai tidak bergantung lagi kepadanya
"Ya, kenapa kamu nggak coba aja jualan nasi bakar, apa nasi uduk, atau cemilan apa lah, kan di sini tuh udah lama nggak ada yang jualan sarapan, masakan kamu enak loh Ya." ucap bu Rini di sela sela mereka mengerjakan pesanan.
"Mau ku juga gitu Rin, tapi kamu tau semua itu butuh modal, dan aku belum punya." ucap bu Soraya tersenyum kecut, suaminya hanya meberi uang 50 ribu sehari, sementara pengeluarannya bisa sampai seratus ribu sehari, untuk menambah pemasukannya, bu Soraya mengambil gosokan dari tetangganya.
"Kalau kamu mau, aku pinjamankan kamu modal, nggak usah di pikirkan kapan bisa membayarnya." ucap bu Rini.
Bu Soraya tersenyum dan matanya berkaca mendapatkan perhatian dari tetangga sekaligus sahabatnya itu.
"Boleh Rin, aku sudah capek setiap hari di hina, aku ingin berusaha mencari nafkah sendiri dan membiayai anak anakku sendiri tanpa memohon lagi sama bapaknya, kasihan anak anakku, mental anakku." ucap bu Soraya dengan suara lirih.
Bu Rini yang tau hati temannya tidak baik baik saja lansung mendekat, lalu mengusap pundak bu Soraya dengan lembut.
"Sabar ya, kamu harus bangkit, dan tunjukan sama suami biadab mu itu, lalu kamu bisa tampa uang 50 ribunya." ucap Rini berapi api, membuat bu Soraya terkekeh geli.
"Siap bu bos." kekeh bu Soraya, dan ada senyum kelegaan di bibirnya, dan kini ada tekad di hatinya untuk merubah hidup.
"Mama di sini, aku cari cari nggak ada." tegur Laras yang datang bersama sang adik yang sudah berganti baju main.
"Iya sayang, mama bantu tante Rini bikin pesanan." jawab bu Soraya tersenyum hangat kepada ke dua anaknya.
"Eh... Kalian sudah pulang, ayo makan siang dulu, tante tadi masak ayam goreng, makan gih." ujar bu Rini menyuruh ke dua anak itu makan.
"Nanti saja tante." ucap Laras yang kini sibuk membantu sang ibu memberi panir di risoles yang sedang di buat ibunya, anak itu dengan lihai membantu sang ibu.
Bu Rini tersenyum perih, dia tau anak itu tidak akan makan klau abangnya belum pulang apa lagi ada makanan enak seperti ayam goreng yang sangat jarang dia makan, maka dari itu dia ingin makan bersama dengan abangnya.
"Nggak usah pikirin abang, abang asa jatahnya kok, nanti klau abang datang tinggal makan, sekarang kalian makan dulu." ucap bu Rini membawa dua piring nasi beserta lauk pauk di dalamnya.
"Makan lah, biar ada tenaga membatu mama mu." ucap bu Rini mengusap kepala gadis kecil itu.
"Makasih tante." seru Laras menerima piring yang di sodorkan oleh bu Rini.
"Mmm.... Klau mau nambah ambil sendiri ya." dan di angguki oleh gadis itu.
"Tante, apa nggak ada ayam upin ipinnya." ucap Gibran dengan polosnya.
"Adek... " tegur Laras tidak enak hati. Gibran hanya nyengir kuda tanpa dosa, lalu menyuap nasi ke dalam mulutnya.
"Astaga, lupa tante sayang, klau kamu sukanya ayam upin ipin." ucap bi Rini menepuk dahinya.
"Udah biarin aja Rin, itu juga bakal habis tanpa sisa, banyak maunya itu dia." kekeh bu Soraya menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa apa, ada kok paha ayam, biarin selagi dia mau makan." ucap bu Rini bergegas mengambil paha ayam.
"Ehhh.... Nggak usah tante, adek cuma bercanda." ucap Gibran menarik piringnya, agar jauh dari bu Rini.
"Udah nggak apa apa, ini hadiah buat kamu, tadi tante dengar kamu dapat nilai seratus. " ucap bu Rini tersenyum lembut.
"Makasih tante." jawab Gibran dan akhirnya menerima paha ayam dari tangan bu Rini.
"Kakak, kita paroan ya." ucap Gibran membagi dua ayam di piringnya, lalu memberikan ke piring sang kakak.
"Alhamdulillah.... Akhirnya kelar juga, tinggal nunggu yang jemput." lega dua wanita paruh baya itu, setalah selesai mengerjakan pesanan dari kemaren.
"Semoga pada suka, dan banyak pesanan untuk kita ya, apa pagi sekarang lagi banyak hajatan, ada nikahan sunatan, dan acara acara majelis di setiap kampung." ucap bu Rini penuh harap.
"Aamiin... "
Bersambung......
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti