Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Aliansi Ayah, Ibu, dan Anak
Teddy yang baru saja lolos dari maut mendadak merasa rohnya hampir terbang kembali mendengar ucapan yang keluar dari mulut ibunya. Matanya yang sayu menyiratkan sejuta tanya, rasa bersalah, sekaligus binar lega yang besar.
'Akhirnya, aku menemukanmu, Aira.'
Namun, begitu bola mata Teddy mengunci pandangan tepat pada manik mata Aira, senyuman itu memudar dengan drastis.
Dada Aira kembali dihantam rasa sesak yang luar biasa. Tatapan sayu Teddy seolah menarik paksa ingatan Aira pada kejadian satu tahun yang lalu.
Satu malam di mana pria itu membisikkan 'Kata cinta pada nama Lova' dengan penuh kerinduan, hingga akhirnya Aira memilih untuk pergi.
Luka lama yang sudah ia kubur selama satu tahun ini, kini dicabut dengan paksa. Rasa perih itu, ternyata belum sepenuhnya sembuh.
Aira buru-buru menarik tangannya yang berada di dekat ranjang. Raut wajahnya kini terlihat dingin, datar, dan terasa sangat jauh. Saat ini, Aira yang ia kenal dulu hanyalah seorang perawat yang tampak asing.
Sementara itu, gerakan refleks Aira yang menarik diri dengan tiba-tiba, ternyata ... tidak luput dari pandangan tajam Nyonya Mirna dan suaminya, Tuan Wijaya.
Sebagai pasutri yang sudah puluhan tahun melintasi asam garam kehidupan, mereka dengan mudah membaca situasi.
Ada benang yang kusut di antara putra mereka dan perawat di hadapan mereka ini. Hubungan mereka setahun lalu jelas tidak berakhir dengan baik-baik saja, tapi justru itu artinya ... peluangnya untuk meluruskannya kembali tentu masih ada!
Nyonya Mirna diam-diam menyenggol lengan suaminya, memberikan kode mata yang sangat cepat. Sebuah isyarat maut yang hanya dipahami oleh mereka berdua: 'Eksekusi rencana sekarang!'
Tuan Wijaya yang sedar tadi berdiri memegang dadanya, kini dibuat sedikit meringis, lalu pria paruh baya itu mengembuskan napas berat yang terdengar sangat kesakitan.
"Aduh... dada saya terasa semakin sesak," keluh Tuan Wijaya, aktingnya begitu mulus hingga membuat Om Jovan di sudut ruangan menjadi panik.
"Bagaimana ini? Saya ini sudah terlalu tua. Fisik saya sudah tidak sekuat dulu, Ma..."
"Papa! Papa jangan banyak pikiran dulu," sahut Nyonya Mirna, langsung masuk ke dalam skenario suaminya dengan sempurna.
"Bagaimana tidak pikiran, Ma? Putra tunggal kita yang sudah berumur tiga puluh lima tahun, tapi belum juga memberikan kita cucu. Sekarang malah kecelakaan parah seperti ini. Kalau umur Papa tidak panjang lagi, siapa yang akan mengurus anak keras kepala ini?" keluh Tuan Wijaya lagi, nadanya terdengar sangat merana, seolah-olah besok bumi akan kiamat.
Aira yang masih memeluk papan klip rekam medis seketika terpaku.
'Lho, bentar... kenapa tiba-tiba jadi drama begini?' batinnya heran.
Belum sempat Aira mencerna keadaan, drama disambung oleh Nyonya Mirna yang tiba-tiba mengeluarkan saputangan mahalnya, lalu mulai menangis tersedu-sedu. Air mata sang Nyonya Besar tampak begitu meyakinkan.
"Huhu... benar, Pa. Mama juga kepikiran hal yang sama," ucap Nyonya Mirna sembari menyeka sudut matanya yang kering tanpa air mata. Ia lalu menatap Aira dengan pandangan memelas.
"Pa, bagaimana kalau kita lamar saja gadis ini? Lihatlah, dia pandai sekali merawat anak kita. Kasihan sekali putra kita yang sudah hampir lapuk dan karatan ini. Daripada Teddy jomblo seumur hidup lebih baik kita ikat Aira sekarang juga, Pa!" seru Nyonya Mirna penuh drama.
Uhuk!
Teddy yang baru saja mengumpulkan kesadarannya langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar kata 'hampir lapuk' dan 'karatan' keluar dari mulut ibu kandungnya sendiri. Wajahnya yang putih karena pucat, mendadak merah padam menahan kesal.
Sementara Aira benar-benar mati kutu di tempatnya berdiri. Sisa sakit hatinya yang setahun lalu mendadak buyar, berganti dengan rasa syok akibat hantaman akting pasutri yang baru ditemuinya ini. Namun, ia tidak memberikan celah sedikit pun bagi kehangatan untuk menyusup kembali ke hatinya.
Aira memundurkan langkahnya, melepaskan diri dari jangkauan tangan Nyonya Mirna yang masih berniat merangkulnya.
"Alhamdulillah kalau Pak Teddy sudah sadar," ucap Aira, suaranya mendadak sangat formal.
"Kebetulan sekali, tugas jaga saya sudah selesai. Saya baru saja menyelesaikan dinas darurat selama dua puluh empat jam penuh tanpa tidur. Kepala saya sudah kliyengan setengah mati, Bu. Kalau saya paksakan terus berjaga di sini, saya takut setelah ini malah salah menyuntikkan obat ke anak Ibu."
"Eh? Tapi, Aira—" Nyonya Mirna mencoba menahan.
"Saya permisi dulu untuk beristirahat. Selamat pagi," potong Aira cepat, memberikan bungkukan sopan yang kaku sebelum akhirnya memutar badan.
Dengan langkah seribu, Aira melesat keluar dari ruang ICU. Pintu kaca tertutup rapat di belakangnya, meninggalkan keheningan yang mendadak mencekam di dalam ruangan.
.
.
.
Begitu siluet hijau toska Aira menghilang, kehangatan di wajah Nyonya Mirna langsung lenyap, berganti dengan ekspresi dingin nan berwibawa. Tuan Wijaya yang sejak tadi berakting sesak napas pun mendadak menegakkan punggungnya dengan santai, mengembuskan napas panjang seolah penyakit dadanya menguap begitu saja ke udara.
Pasutri itu kini kompak memutar tubuh, menatap tajam ke arah dua pria yang tersisa di ruangan: Om Jovan yang mendadak gemetaran di sudut, dan Teddy yang merenung menatap pintu.
"Jovan," panggil Tuan Wijaya, suaranya berat dan menakutkan. "Kau keluar dulu. Biarkan kami berbicara dengannya bertiga."
"B-baik, Pak Wijaya!" Om Jovan mengangguk cepat, lalu segera keluar dari ruangan, dan menghela napas lega.
Kini, ruangan itu hanya menyisakan Teddy dan kedua orang tuanya. Nyonya Mirna melangkah mendekat, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap tajam putra tunggalnya.
"Sekarang, jawab pertanyaan Mama dengan jujur, Teddy," desak Nyonya Mirna, matanya menyipit penuh selidik. "Katakan pada kami, apa yang terjadi di antara kalian?"
Deg.
Teddy mengembuskan napas parau, membiarkan pertahanan gengsinya runtuh di depan kedua orang tuanya.
"Mungkin aku telah melakukan kebodohan di hadapannya, Ma. Hingga membuatnya salah paham dan mengira aku hanya pria yang tak bisa melupakan masa lalu."
Lalu, Teddy menceritakan semua yang terjadi. Mulai tentang gadis bernama Lova, masa-masa dia mengejar Lova, menyarankan gadis itu ke psikiater untuk bisa membuka diri, tetapi berakhir cinta pertamanya lebih memilih psikiater itu dibanding dirinya.
Kehadiran Aira, yang sedikit mirip dengan gadis masa lalunya itu, terkadang membuatnya nge-lag, sampai salah menyebutkan sebuah nama.
"Ck ... Dasar bodoh!" decak sang ayah, menegakkan kedua tangan di pinggang sembari menggeleng prihatin.
"Bahkan, kisah itu pun baru kami ketahui sekarang. Kenapa dari dulu tak kau ceritakan kepada kami? Kalau kami tau, mungkin saja Lova telah menjadi kekasihmu semenjak kalian SMA," tambah sang ibu memanas-manasi.
"Sudah, Ma ... Pa. Jangan sebut namanya kembali. Sekarang, yang harus kuperbaiki adalah hubunganku dengan Aira," guman Teddy dingin.
"Terus, apa benar kamu memilih Aira karena mirip dengan si Lova itu?"
"Entah lah, Ma. Aku tak tahu," ucap Teddy lirih, matanya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan.
"Yang aku tau, setelah dia pergi dari hidupku, bayangan Aira tidak pernah sedetik pun hilang dari pikiranku. Ke mana pun aku pergi, aku selalu berharap bisa dipertemukan lagi dengannya. Aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Dan... sepertinya Tuhan mendengar doaku hari ini, meskipun harus dengan cara membuatku kecelakaan seperti ini."
Mendengar pengakuan tulus yang keluar dari mulut putranya, Nyonya Mirna langsung tersenyum puas. Ia menepuk telapak tangan sekali dengan riang, sementara Tuan Wijaya mengangguk-angguk bangga di belakangnya.
"Bagus! Berarti kamu memang beneran menyukai dia!" seru Nyonya Mirna ceria, semua gurat kecemasan di wajahnya hilang seketika. "Berarti insting Mama tidak salah. Nah, sekarang tugasmu hanya satu, Teddy..."
Teddy mengerutkan keningnya heran. "Apa, Mah?"
Nyonya Mirna mengibaskan tangannya yang penuh berlian dengan gaya anggun. "Kamu cukup diam, fokus memulihkan tubuh lapukmu itu, dan biarkan Papa dan Mama yang melanjutkan rencana ini! Kamu terima beres saja. Pokoknya, gadis unik itu harus kita tangkap jadi menantu Mama!"
Teddy hanya bisa memejamkan mata pasrah. Di satu sisi, ia bersyukur ibunya sangat mendukung. Namun di sisi lain, ia tahu betul benteng yang dibangun Aira saat ini jauh lebih tebal dibanding sebelumnya.
* Bersambung *
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣