Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantrum
Saat dia hendak menyimpan kontak Trian, ponselnya mendadak agak lemot dan malah membuka galeri foto lamanya. Layar ponsel itu menampilkan sebuah foto berukuran besar yang diambil beberapa hari lalu saat hari sebelum Valeria mulai kerja di kantor Randy, foto berdua antara Valeria dan Anita yang sedang tersenyum anggun mengenakan kebaya di sebuah acara formal.
Trian yang secara tidak sengaja melirik ke arah layar ponsel Valeria seketika terdiam. Tatapan matanya langsung terkunci pada sosok wanita di sebelah Valeria. Wanita itu memiliki senyuman yang sangat tulus, mata yang jernih, dan aura yang sangat anggun.
Jantung Trian mendadak memberikan letupan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Valeria, bentar... Ini siapa?" tanya Trian spontan, menunjuk foto wanita itu di layar.
Valeria melirik ponselnya, lalu mendengus pelan dengan nada meremehkan.
"Oh, ini? Ini Anita, sahabat masa kecil gue. Kenapa emangnya, Kak?"
"Nggak apa-apa. Auranya... kelihatan beda aja. Dia tinggal di mana sekarang?" tanya Trian lagi, rasa penasarannya mendadak membuncah.
"Aduh, dia mah sekarang udah jadi ibu rumah tangga monoton yang kerjaannya cuma ngurus anak sama suami di rumah, Kak. Nggak gaul kayak kita," sahut Valeria dengan nada sinis yang sengaja ingin menjatuhkan citra Anita di depan Trian.
"Udah ya, Kak Trian. Gue turun dulu. Jangan lupa nomor gue disimpan, ya!"
"Iya, hati-hati," jawab Trian singkat. Pikirannya mendadak tidak fokus pada kegenitan Valeria. Wajah anggun Anita di foto tadi seolah langsung melekat erat di dalam kepalanya.
Begitu Valeria menutup pintu mobil sport Trian, mobil mewah itu langsung melesat membelah jalanan malam. Valeria melambaikan tangannya dengan manja sambil tersenyum lebar.
Namun, senyum Valeria langsung luntur seketika saat sebuah mobil hitam mendadak melesat dari arah tikungan dan mengerem mendadak tepat di belakangnya.
Ciiiiittt!
Pintu mobil terbuka dengan sentakan keras. Randy melangkah turun dengan napas memburu dan wajah yang merah padam menahan amarah. Pria itu ternyata sengaja kabur sebentar dari rumah saat Anita sudah tidur demi menemui Valeria untuk meminta maaf soal kejadian siang tadi.
Tapi siapa sangka, dia malah disuguhi pemandangan selingkuhannya turun dari mobil cowok lain.
"Valeria! Siapa cowok tadi, hah?!" labrak Randy langsung, mencengkeram pergelangan tangan Valeria dengan kasar di bawah temaram lampu jalan.
"Lepasin, Mas! Sakit tahu!" jerit Valeria, langsung menghempaskan tangan Randy.
"Apa-apaan sih lo datang-datang langsung ngamuk?! Datang jam segini cuma buat interogasi gue?!"
"Gue nanya, itu tadi mobil siapa?! Mobil sport semahal itu, nggak mungkin taksi daring kan?! Lo main belakang bareng bapak-bapak tajir mana lagi, Val?!" bentak Randy, cemburu butanya benar-benar sudah berada di ubun-ubun.
Rasa egonya sebagai pria merasa sangat terinjak-injak melihat mobil cowok tadi jauh lebih mewah dari miliknya.
Valeria yang melihat Randy cemburu parah justru tersenyum licik di dalam hati. Dia tahu ini adalah kesempatannya untuk memegang kendali atas Randy lagi.
"Oh, Kak Trian? Dia cowok tampan, kaya raya, dan yang paling penting... dia ada pas gue lagi butuh pertolongan malam ini!" tantang Valeria, menatap Randy dengan berani.
"Tadi gue dipukulin sama mantan sekretaris lo, Melati, di gang sepi! Kamu ke mana, Mas? Kamu lagi asyik manjain istri sah kamu di rumah, kan?! Jadi wajar dong kalau sekarang aku buka hati buat cowok lain."
Mendengar nama Melati dan fakta bahwa Valeria hampir celaka, kemarahan Randy mendadak surut, berganti menjadi kepanikan.
"Apa? Melati nyerang kamu? Kamu nggak apa-apa, Val?" Randy langsung memeriksa wajah Valeria, melihat sudut bibir wanita itu yang memar.
"Ya ampun, maafin aku, Val... aku beneran nggak tahu..."
"Halah, telat!" Valeria melipat kedua tangannya di dada, memalingkan muka dengan angkuh.
"Pokoknya kalau akhir pekan ini kamu tetep nggak mau nemenin aku ke Bali, jangan salahin aku kalau aku bakal pergi ke Bali... bareng Kak Trian."
Randy seperti disambar petir. Ancaman Valeria benar-benar mengunci pergerakannya.
"Nggak, Val! Oke, oke, kita ke Bali akhir pekan ini! Aku bakal cari alasan buat batalin acara sama Anita dan Vano. Aku janji! Tapi kamu jangan pernah temuin cowok itu lagi, ya?" mohon Randy, benar-benar sudah bertekuk lutut di bawah kendali si pelakor.
Valeria tersenyum puas, langsung menggelayut manja di leher Randy.
"Nah, gitu dong, Mas sayang... Ya udah, yuk masuk ke dalam," ajak Valeria dengan kedipan mata yang menggoda.
Sementara itu, di dalam mobil sport-nya yang sedang melaju menuju Jakarta, Trian masih memegang kemudi dengan satu tangan. Matanya menatap lurus ke jalanan malam, namun pikirannya sepenuhnya melayang.
"Anita... nama yang bagus, tapi benarkah dia sudah menikah?" gumam Trian dengan senyuman tipis yang sangat menawan di bibirnya.
Keesokan harinya, ruang tengah rumah mewah itu mendadak gempar oleh tangisan histeris Vano. Bocah lima tahun itu bergulingan di atas karpet bulu, melempar mainan robot kesukaannya ke sembarang arah.
"Nggak mau! Vano mau pergi sama Papa! Papa janji mau temenin Vano naik komidi putar!" jerit Vano dengan wajah yang sudah memerah dan air mata yang banjir di pipinya.
Sudah lama sekali dia menantikan akhir pekan ini untuk bisa bermain bersama ayahnya.
Randy yang sudah rapi mengenakan kemeja kasual dan membawa koper kecil langsung mundur selangkah, wajahnya tampak gusar sekaligus risih melihat anaknya tantrum.
"Vano, dengerin Papa. Papa harus ke Bali sekarang karena ada tender proyek mendadak yang nggak bisa ditinggal. Nanti Papa beliin mainan yang banyak deh dari sana, ya?" alibi Randy dengan nada sedikit membentak karena dikejar waktu penerbangan bersama Valeria.
Anita yang sedang berlutut mencoba menenangkan Vano langsung mendongak. Tatapan matanya di balik bulu mata yang lentik mendadak berkilat sedingin es. Di dalam dada Anita, amarahnya sudah bergejolak hebat, rasanya ingin sekali dia melempar vas bunga di dekatnya tepat ke wajah Randy.
Anita tahu persis, "tender proyek" yang dimaksud suaminya adalah liburan mesra bersama Valeria. Tega-teganya pria itu membohongi dan menghancurkan hati anak kandungnya sendiri demi memuaskan nafsu bersama si pelakor.
Namun, Anita menarik napas dalam-dalam, mencengkeram jemarinya sendiri dengan kuat sampai memutih. Dia harus menahan bom waktu ini. Belum saatnya meledak.
"Mas Randy, kalau emang tugas kantor kamu jauh lebih penting daripada kebahagiaan anak kamu sendiri... ya sudah, berangkat aja. Gak usah dipikirin," ucap Anita dengan nada suara yang teramat tenang, bahkan tersenyum manis yang terasa janggal.
"Biar Vano aku yang urus. Hati-hati di jalan ya, Mas."
Mendengar respons Anita yang terlalu santai Randy mendadak merinding. Dia menelan ludah dengan gugup.
"A-ah, iya, Nit. Makasih ya atas pengertiannya. Aku berangkat dulu," pamit Randy terburu-buru, melangkah keluar rumah dengan perasaan yang mendadak tidak tenang.
Begitu pintu depan tertutup, Anita langsung memeluk Vano yang masih terisak.
"Cup, cup, anak pintar... Jangan nangis lagi ya, Sayang. Papa nggak bisa ikut, tapi Mama janji akhir pekan kita bakal tetep seru banget," bisik Anita menenangkan Vano, sementara matanya menatap tajam ke arah pintu luar dengan dendam yang makin mengakar.
Bersambung