Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Usai makan malam, kelima bersaudara segera membagi pekerjaan. Ada yang membereskan meja, mencuci piring, mencuci pakaian, hingga memotong kayu bakar.
Sementara itu, Mira mengambil pakaian baru milik Arga lalu mulai mengecilkannya agar pas dipakai Seina.
Setelah selesai, ia memperhatikan hasil jahitannya cukup lama.
"Warna abu-abu begini kurang cocok untuk anak perempuan."
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil benang merah lalu menyulam beberapa kuntum bunga kecil di bagian dada pakaian itu.
Barulah ia tersenyum puas sambil berkata, "Begini jauh lebih cantik."
Ia menoleh kepada Sora. "Nak, sekarang Ibu mandikan dulu."
Seina mengangguk. Meski di dalam tubuh mungil itu bersemayam jiwa orang dewasa, ia tetap membiarkan Mira memandikannya.
Bagaimanapun juga, tubuhnya saat ini masih seorang anak berusia enam tahun.
Setelah mandi, Mira memakaikan pakaian yang baru dijahitnya. Begitu melihat hasilnya, matanya berbinar.
'Putriku benar-benar cantik.'
Bahkan seandainya Seina mengenakan pakaian paling sederhana sekalipun, kecantikannya tetap sulit disembunyikan.
Malam semakin larut namun Seina bersikeras tidur sendiri sehingga Mira akhirnya mengalah.
Rumah keluarga Pratama hanya memiliki empat kamar tidur. Satu kamar ditempati Yohan dan Mira.
Satu kamar milik Raka, satu kamar lagi milik Damar. Sedangkan kamar terakhir sebelumnya ditempati Niko, Galang, dan Arga.
Atas perintah Yohan, Damar memindahkan seluruh barangnya ke kamar Raka agar kamar lamanya bisa digunakan oleh Seina.
Kamar itu juga paling dekat dengan kamar Yohan dan Mira sehingga mereka lebih mudah menjaga putri kecilnya.
Mira membersihkan seluruh ruangan, mengganti alas tidur dengan yang paling bagus yang dimilikinya, lalu merapikan semuanya hingga tak ada setitik debu pun.
Setelah membantu Seina naik ke tempat tidur, ia menambahkan minyak pada lampu kecil di samping ranjang.
"Yakin tidak mau ditemani Ibu?"
Seina tersenyum lembut. "Tidak usah, Bu. Ibu sudah bekerja seharian. Istirahat saja."
Mendengar jawaban itu, hati Mira kembali menghangat, menurutnya Seina jauh lebih pengertian daripada kelima anak laki-lakinya.
Sambil membawa pakaian kotor milik Seina, Mira melangkah keluar kamar. Beberapa kali ia masih menoleh ke belakang sebelum akhirnya menutup pintu perlahan.
Seuna yang memang kelelahan langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal. Tak sampai beberapa saat, napasnya telah berubah teratur.
Di luar kamar, Mira mencuci pakaian Seina lebih dahulu.
Setelah selesai, ia kembali duduk di ruang tengah sambil membawa keranjang jahitnya. Di bawah cahaya lampu minyak, tangannya kembali bergerak menyulam pakaian baru untuk putrinya.
Melihat istrinya masih bekerja hingga larut malam, Yohan menghela napas.
"Mira..."
Wanita itu mendongak.
"Sudah malam. Berhentilah bekerja." Yohan menggenggam tangan istrinya dengan lembut.
"Aku tidak ingin melihat matamu rusak hanya karena terlalu memaksakan diri."
Namun Mira hanya tersenyum sambil kembali menggerakkan jarumnya.
"Aku hanya ingin putri kita punya pakaian yang lebih layak dikenakan besok pagi."
Mira tersenyum kecil mendengar ucapan suaminya. Ia tahu, Yohan berkata demikian karena benar-benar mengkhawatirkannya.
Dulu, ketika kelima putra mereka masih kecil, seluruh siangnya dihabiskan untuk mengurus anak-anak. Baru setelah semuanya tertidur, ia menyulam hingga larut malam demi menambah penghasilan keluarga.
Bertahun-tahun hidup seperti itu membuat penglihatannya tak lagi setajam dahulu.
"Aku hanya ingin menyelesaikan sepasang sepatu katun untuk Seina," ucap Mira sambil terus menggerakkan jarumnya.
"Udara masih dingin. Waktu memandikannya tadi, kakiku... eh, kaki kecilnya sampai membiru karena kedinginan. Hatiku benar-benar tidak tega."
Yohan yang semula hendak melarang akhirnya menghela napas.
"Kalau untuk putri kita, silakan... tapi jangan begadang terlalu lama."
Mira tersenyum puas.
"Aku tahu. Sebagai seorang ibu, mana mungkin aku tega membiarkan putriku kedinginan."
Saat memandikan Seina tadi, ia bahkan diam-diam telah mengukur ukuran kaki gadis kecil itu.
Tak butuh waktu lama, sepasang sol sepatu berhasil diselesaikannya dengan jahitan yang rapi.
Sambil menjahit, Mira berkata pelan, "Sayang... menurutku Seina memang ditakdirkan menjadi anak kita."
Yohan menoleh.
"Kenapa begitu?"
"Sejak datang ke rumah ini, dia tidak pernah menangis ataupun merengek. Dia juga begitu mudah dekat denganku."
Yohan mengangguk setuju. "Aku juga merasakan hal yang sama. Entah kenapa, sejak pertama kali melihatnya di jalan, aku merasa anak itu begitu akrab."
Keduanya pun tertawa kecil menyadari hal tersebut.
cerita nya juga seru