"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran buntu Bintang.
Di sebuah taman rumah sakit, Black duduk sendiri, tatapannya kosong , air matanya jatuh tanpa dia sadari, entah apa yang dipikirkan sekarang sampai ada seseorang yang menepuk pundaknya.
“Kenapa?” Black menoleh melihat dr.Rama yang sudah berdiri di sampingnya lalu duduk di sebelahnya.
“Tidak apa-apa, hanya ingin duduk disini.” Black memaksakan diri untuk tersenyum meski air matanya tetap mengalir.
“Maaf ya, gara-gara saya membuat kamu memaksa mengingat apa yang tak seharusnya tidak kamu ingat.” dr.Rama menghapus air mata Black sambil tersenyum, senyum yang sangat teduh membuat hati Black sedikit tenang.
“Maaf, saya gak bisa menemani dokter di dalem, banyak potongan memori yang saya sendiri tak bisa mengingatnya dengan jelas, semua terus berputar di pikiran saya.”
“Tidak apa, seharusnya saya yang meminta maaf sama kamu karena saya yang sudah membuat potongan memori itu datang.”
“Tidak, mungkin lewat potongan itu suatu hari nanti saya bisa mengingat masa lalu saya sepenuhnya.”
“Sebagai tanda Terima kasih saya, mari saya traktir makan di kantin.”
“Makan? Di traktir?” dr. Rama mengangguk semangat melihat Black yang juga kembali tersenyum.
“Ayo dok, tapi saya boleh pilih apapun yang saya mau?”
“Boleh, apapun boleh yang penting tidak pedas, ok.” Black mengacungkan jempolnya tanda kalau dia setuju dengan syarat yang diberikan dr.Rama.
“Semoga kehadirannya bisa sedikit menghibur lo dan perlahan mengembalikan ingatan lo tentang masa lalu lo meski setelah ingat gue juga gak jamin kalau gue akan mengijinkan dia mendekati lo.” Bisik Alvin dari jauh.
Sesampainya di kantin, Black memesan semua makanan yang menurutnya ingin dia makan tapi pada akhirnya semua hanya keinginan.
“Kenapa kok cuma diliatin doang?” Tanya dr.Rama yang bingung karena semua makanannya hanya dia lihatin tanpa ada yang dia sentuh.
“Aku satu saja yang lain buat dokter.” Black mengambil satu piring nasi goreng sedangkan yang lain didorong ke arah dr.Rama.
“Kamu serius semua ini buat saya?” Black mengangguk semangat sambil memakan nasi gorengnya.
‘Dimakan semua itu gak mungkin, gak dimakan nanti dia sedih bisa digantung kakek Ares gue,” Batin dr.Rama Sembari memikirkan cara apa yang bisa membuat dia bisa menghabiskan semua makanan yang ada di depannya.
“Boleh gak kalau saya bagi sama dokter lain, rasanya saya tidak sanggup untuk menghabiskannya?”
“Boleh, silahkan saja, tambah rame tambah bagus.” dr.Rama membuka ponselnya dan tak berselang lama beberapa dokter datang menghampiri meja mereka.
“Silahkan dok,” Ucap Black semangat.
Mereka makan bersama sambil bercanda tanpa Rain sadar ada seseorang yang mengawasi mereka di kantin itu.
“Mereka siapa? Kenapa terlihat Sangat akrab?” tanya Rio yang sekarang berada di kantin yang sama karena dia sedang menjenguk temannya.
Meskipun Rio pernah menjadi bagian dari masa lalu Black, dia juga tak tahu status Black sebagai dokter dan dokter yang sekarang bersama Black adalah dokter yang dulunya juga kenal dengan Black tapi mereka tak mau memberitahu Black, mereka mau Black mengingat semuanya secara perlahan.
Ditempat lain, Bintang dan temannya sedang berada di kantor Andra dengan Bintang yang masih terus diam.
“Tang, jika diam lo karena Black, harusnya lo juga bersifat yang sama saat Rain bersama pria lain, tapi nyatanya dulu lo cuek, apa benar cinta lo hanya untuk Black bukan Rain?” Resta sudah jengah dengan sikap Bintang kini berani protes.
“Iya Tang, Black itu orang baru di hidup lo, gak seharusnya lo sampai segalau ini karena Black jalan sama cowok lain, dulu berapa kali Rain jalan sama cowok lain bahkan lo yang menumbalkan Black untuk bertemu sama client cowok lo, lo gak inget dengan Gery? Apa lo juga lupa sama Leon? Harusnya lo gak melupakan mereka berdua, lo juga pasti sekarang tahu siapa dalang dibalik bangkrutnya Leon dulu ‘kan?” Bukan hanya Resta tapi Jems juga sekarang ikut protes, mereka semua tak terima dengan sikap Bintang yang seolah lebih cinta sama Black daripada Rain sedangkan mereka semua tahu bagaimana perjuangan Rain untuk mendapatkan cinta Bintang malah sekarang Bintang dengan mudahnya mau berpaling dari Rain setelah datangnya Black hanya karena muka mereka yang sama, itu terkesan tidak adil buat Rain.
“Kenapa kalian semua jadi menyalahkan gue, bukankah kalian tahu apa alasan gue bersifat begini sama Black?”
“Lo juga harus ingat kalau hanya muka mereka yang sama bukan diri mereka yang sama, mereka tetap orang yang berbeda bukan orang yang sama, lo gak bisa menebus kesalahan lo sama Rain dengan berperilaku baik bahkan cemburu sama Black, MEREKA ORANG YANG BERBEDA, ingat itu!” Andra sedikit menekan beberapa kata yang menurut dia kata itu untuk menyadarkan Bintang.
“Gue hanya mau berbuat baik.”
“Kita tahu lo mau berbuat baik tapi alasan lo karena rasa bersalah lo sama Rain, coba lo bayangkan bagaimana jika Black tahu lo hanya memperalat dia untuk menebus rasa bersalah lo yang seharusnya lo sudah menebusnya dulu saat Rain masih hidup bukan sekarang saat Rain sudah meninggal, kuburan Rain saja masih basah, lo sudah mau mendekati Black, lo juga harus ingat kalau Black itu sekarang hamil anak dari suaminya bukan Rain yang hamil anak lo, meskipun dia sekarang hidup tanpa suami secara hukum dia masih bersuami.”
Meskipun sudah banyak kata-kata dari yang panjang sampai yang pendek sepertinya belum bisa menyadarkan Bintang yang otaknya sudah buntu dan menganggap semua perilakunya itu benar, Bintang sama sekali tak mau menerima kenyataan jika Black itu orang yang berbeda, bukan Rain istri yang selalu Bintang siksa selama empat tahun berturut-turut.
“Dulu lo kemana saja saat Rain juga dekat dengan orang yang tadi bersama Black?” Andra masih berusaha mencoba menyadarkan Bintang meski dia tak yakin jika caranya akan berhasil.
“Maksud lo orang yang tadi sama Black juga dulunya pernah pergi sama Rain?”
“Lo kemana saja? Apa lo amnesia? Rain dulu juga sering ketemu sama orang tadi entah untuk urusan apa tapi gue sering lihat mereka pergi sama-sama tapi dulu lo selalu cuek bahkan tak peduli meskipun Rain jalan di depan lo.”
Bayangan masa lalu kini muncul dipikiran Bintang, dia memang dulu pernah melihat Rain bersama dengan orang yang tadi dia lihat sama Black tapi dia cuek karena rasa kesal dan bencinya pada Rain menutupi semuanya, dulu dia tak pernah cemburu apalagi marah jika Rain pergi sama cowok lain, dia seakan membiarkan dan tak peduli sama sekali.
Namun, bukannya sadar, Bintang tetap membela pikirannya yang tetap ingin berfikir jika Black itu Rain dan rasa cemburunya itu karena dia merasa Rain yang sedang pergi bersama cowok lain, Bintang kembali diam dan bertengkar dengan pikirannya sendiri tanpa dia mau menerima kenyataan jika Black bukan Rain.
Suasana hening, tiga orang sahabat Bintang kini juga memilih diam, mereka sudah malas menasehati Bintang yang sangat susah untuk dinasehati.
TOK TOK TOK
“Masuk!” Jawab Andra dari dalam dan orang yang mengetuk pintu itu masuk.
‘Belum juga selesai dengan Bintang yang otaknya masih buntu, datang lagi masalah baru,’ batin Rasta.
BERSAMBUNG.