Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tanah yang Terlupakan
Langkah kaki mereka di tanah Wilayah Tengah terasa berbeda seketika. Tanah di sini keras seperti besi tempa, berwarna merah kusam, dan tidak ada rumput atau tanaman liar yang tumbuh—hanya retakan halus yang menyebar ke mana-mana seperti bekas luka yang tak pernah sembuh. Bahkan udara pun terasa lebih tipis, berbau belerang kering, dan setiap tarikan napas terasa menggores tenggorokan.
"Tanah ini... seolah tidak berani bernapas," bisik Guru Shan sambil menekan telapak tongkat kayunya ke tanah. Tongkat itu tidak bisa menembus permukaan walaupun sedikit saja. "Selama ribuan tahun, energi alam dipaksa naik ke atas, disedot ke puncak menara dan istana sekte besar. Sumber kehidupan di bawah sini dikeringkan sampai habis."
Lin Mo mengangguk pelan. Ia sudah merasakannya sejak pertama kali melangkah: aliran energi di dalam tanah terputus di mana-mana, terperangkap dalam lapisan dalam yang tak terjangkau, seolah dikunci oleh segel raksasa.
"Kita tidak bisa berlatih seperti biasa di sini," katanya. "Jika kita mencoba menyerap energi permukaan, kita hanya akan mendapatkan sisa-sisa yang kacau dan menyakitkan. Kita harus menembus lebih dalam, menyentuh lapisan yang masih murni."
Mereka berjalan perlahan menuju pemukiman terdekat: Kota Merah Pasir. Di sepanjang jalan, pemandangan yang mereka lihat membuat hati terasa perih. Para petani mencoba membajak tanah yang keras hingga keringat bercucuran, namun tidak ada harapan panen. Penduduk desa berjalan membungkuk, wajahnya pucat dan lesu, seolah memikul beban tak kasat mata yang meremukkan semangat.
Di pinggir jalan, mereka melihat seorang kakek jatuh pingsan saat membawa kayu bakar. Saat Lin Mo menolongnya, kulit kakek itu terasa kering dan dingin.
"Terima kasih, Tuan," kata kakek itu lemah setelah sadar. "Kalian pendatang ya? Segera tinggalkan tempat ini. Di sini tidak ada harapan. Setiap tahun pajak energi dinaikkan, tanah mati, dan siapa pun yang mengeluh akan dibawa pergi oleh orang Sekte Langit Kakuasaan... tidak pernah kembali lagi."
"Apakah tidak ada yang berani melawan?" tanya Zhang Hao dengan nada marah.
"Melawan?" Kakek tersenyum pahit. "Di sini kekuatan tanah dikutuk. Siapa pun yang menggunakan teknik bumi dianggap pengikut jalan sesat, akan dibakar hidup-hidup. Kami hanya diberi izin mempelajari teknik pedang atau energi langit, yang membuat kami semakin lemah dan bergantung pada mereka."
Mendengar itu, Lin Mo semakin yakin. Ini bukan sekadar perebutan kekuasaan—ini adalah cara mereka memutus akar perlawanan rakyat, membuat mereka lupa asal-usulnya, dan menjadikan mereka budak selamanya.
Saat mereka sampai di Kota Merah Pasir, suasana di sana penuh ketegangan. Pagar kota dipasangi papan peringatan besar: DILARANG MEMPELAJARI TEKNIK BUMI. PELANGGAR DIPENGGAL. Patung-patung kuno berbentuk akar atau gunung dihancurkan, diganti dengan patung tangan yang menunjuk ke langit.
Mereka menyewa penginapan sederhana di sudut kota. Malam itu, Lin Mo tidak tidur. Ia duduk bersila, membiarkan kesadarannya menyusup perlahan ke dalam tanah di bawah kota. Kali ini jauh lebih sulit—setiap beberapa zhang ia menemui lapisan batu yang tertutup segel penekan. Namun ia tidak menyerah. Seperti akar yang mencari celah sekecil apa pun, ia bergerak pelan, sabar, menembus satu per satu penghalang itu.
Akhirnya, di kedalaman yang sangat jauh, ia menemukannya: lapisan tanah gelap yang masih lembap, penuh energi murni dan hangat. Dan di sana, ia merasakan panggilan lemah—bukan satu, tapi ribuan panggilan halus yang terpendam.
"Tanah ini tidak mati," bisiknya tersenyum. "Ia hanya tidur, menunggu seseorang membangunkannya."
Keesokan harinya, kejadian tak terduga terjadi. Saat mereka berjalan di pasar kota, tiba-tiba tanah di sekitar alun-alun bergetar pelan. Rumput hijau kecil mulai tumbuh dari celah batu jalan, bunga liar bermekaran dalam sekejap, dan udara yang tadinya kering dan panas berubah menjadi sejuk dan segar.
Penduduk kota ternganga. Mereka menyentuh rumput itu dengan tangan gemetar, menangis haru—mereka sudah puluhan tahun tidak melihat warna hijau yang hidup.
Namun keajaiban itu segera menarik perhatian yang salah. Dua puluh prajurit Sekte Langit Kakuasaan datang dengan cepat, wajahnya penuh amarah.
"Siapa yang berani menyebarkan energi bumi terkutuk di sini?!" bentak pemimpin mereka. "Tangkap semua orang yang ada di sini!"
Mereka langsung menyerang tanpa penyelidikan. Senjata mereka menyala dengan energi tajam berwarna putih keperakan, yang jika menyentuh tanah akan membuatnya semakin tandus.
"Jangan lukai warga!" seru Lin Mo. Ia melangkah maju, tidak menyerang balik, melainkan menyalurkan energi akar ke permukaan jalan. Tanah yang tadinya keras berubah lentur seperti karpet tebal, menyerap semua serangan prajurit itu tanpa meninggalkan luka.
"Ini bukan energi terkutuk," katanya lantang agar semua orang mendengar. "Ini adalah kehidupan yang kalian rampas dari mereka sendiri."
Satu per satu prajurit itu terjatuh karena keseimbangan mereka rusak. Namun sebelum situasi menjadi lebih buruk, suara dingin terdengar dari atap bangunan tertinggi.
"Kau memang berani, Pewaris Jalan Akar."
Seorang pemuda mengenakan jubah putih bersulam awan emas melayang turun perlahan. Matanya menatap Lin Mo dengan tatapan menghakimi, dan aura yang ia pancarkan jauh lebih menindas daripada yang pernah dirasakan Lin Mo—tingkat Penyatuan Roh.
"Aku Murid Langit Bai Yu," katanya dingin. "Atas perintah atasan, aku akan membersihkan benih sesat sepertimu dari dunia ini."
Lin Mo berdiri tegak, meski kakinya perlahan menekan tanah semakin dalam. Ia tahu selisih kekuatannya sangat jauh. Namun di belakangnya ada ribuan nyawa yang sudah terlalu lama menderita.
"Kau menyebut jalan yang memberi kehidupan sebagai sesat?" tanyanya tenang. "Kau yang melayang tinggi di udara, lupa bahwa tanpa tanah di bawahmu, kau tidak akan punya tempat untuk mendarat."
"Kata-kata kosong," Bai Yu melambaikan tangan. "Tanah hanyalah alas kaki bagi mereka yang naik ke langit. Hancur!"