Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai
Setelah guncangan hebat yang membuat Claire kembali dengan dramanya yang bikin sakit kepala itu, Jeremy memutuskan keluar, dia memilih duduk di luar daripada menemani Claire di dalam kamar. Gadis itu memang sempat menahannya, tapi tanpa ragu dia menolak membuat Claire kesal dan tidak mau bicara padanya.
Jeremy sempat terkekeh pada saat Claire bilang,
"Kamu udah bikin enak aku, lalu tinggalin aku pas aku masih pengen di enakin kayak gitu! Dasar suami pemberi harapan palsu!"
Jeremy masih tertawa dengan karena ucapan Claire yang benar-benar tanpa filter tersebut. Bisa-bisanya perempuan itu setidak tahu malu itu. Istrinya itu, adalah perempuan paling unik yang dia temui dalam hidupnya. Jauh berbeda dengan Dami.
Tapi ... Karena Jeremy tahu dia belum ada perasaan cinta pada sang istri, dia tidak akan menyetubuhinya sekarang. Dia tidak ingin memanfaatkan situasi seperti ini dan nantinya hanya akan menyakiti Claire. Dia akan melakukannya nanti, kalau dia sudah yakin dengan perasaannya. Entah perasaannya terhadap gadis itu akan berubah atau tidak, yang pasti ... Kalau sekarang dia belum siap.
Jeremy menutup matanya. Sepanjang hari ini dia sudah di pusingkan dengan tingkah Claire, dia butuh istirahat. Entah berapa jam ia sudah tertidur, yang pasti saat dirinya terbangun, pesawat sudah mau landing.
Akhirnya.
Jeremy membuka matanya perlahan, merasakan pesawat mulai melambat dan mendengar suara pengumuman yang samar dari ruang kabin. Jendela di sampingnya memperlihatkan gumpalan awan yang makin rendah, diikuti garis daratan yang mulai terlihat jelas di bawah sana. Hatinya terasa sedikit lega, setelah perjalanan yang penuh gejolak emosi dan gairah itu, ia akhirnya akan menginjakkan kaki kembali di negara itu, tempat segala urusan dan tanggung jawab menantinya.
Ia mengusap wajahnya, mencoba membuang sisa kantuk yang masih tersisa, lalu teringat kembali pada Claire yang tertinggal di dalam kamar. Entah gadis itu sedang tidur juga atau sudah terbangun.
Tak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka pelan. Claire melangkah keluar dengan wajah cemberut, bibirnya manyun sebesar kelingking, dan rambutnya sedikit berantakan. Ia masih mengenakan sweater yang dipakaikan Jeremy, namun terlihat kusut, dan di lehernya masih terlihat jelas bekas gigitan dan ciuman yang Jeremy tinggalkan sebelumnya. Saat matanya bertemu dengan Jeremy, ia langsung memalingkan wajah seolah tak mau melihatnya, tapi tetap duduk di kursi sebelah pria itu dengan posisi membelakangi setengah badan.
"Suami oh suami. Suami kayak gini boleh di jual aja gak sih? Pasti laku karena tampan."
Mulai.
Jeremy langsung memberikan tatapan tahan pada Claire.
"Apa? Kamu bikin enak aku setengah-setengah, kan aku masih mau. Siapa suruh ajarin aku yang mesum-mesum kayak gitu. Kan aku jadi suka pas ngerasain rasanya ternyata enak. Eh, malah ditinggalin di tengah jalan. Eh, tadi itu namanya apa? Kok tubuh aku kayak merasa meledak tapi habis meledak jadi lega banget gitu, ada namanya nggak?"
Wajah kesal Claire dengan cepat berubah menjadi rasa penasaran. Ia bertanya dengan wajah antusiasnya menatap Jeremy. Sementara Jeremy tidak pernah mengira gadis ini masih sepolos itu di usia dua puluh enam tahunnya.
Dia memang tidak salah mengira Claire masih remaja di awal-awal mereka bertemu. Karena otaknya memang masih sepolos itu. Di tambah wajahnya yang terlalu imut, semuanya terasa lebih lengkap.
Tapi fokus Jeremy sekarang tidak ada pada Claire, ia fokus menatap Ryan yang berdiri di depan sana dengan ekspresi wajah yang menahan tawa. Laki-laki itu pasti sedang menertawainya yang mendapatkan istri seorang perempuan ajaib seperti Claire ini. Siapa yang mengira makhluk ajaib ini adalah putri salah satu orang paling penting di negara ini. Termasuk aset negara.
"Mister Jem? Jawab dong, itu tadi yang aku rasain meledak-meledak itu apa?"
Jeremy masih tidak menjawab sekalipun tangannya digoyang-goyangkan oleh gadis yang duduk di sebelahnya ini.
"Berhenti bertanya, cari tahu sendiri." kata Jeremy akhirnya. Wajah Claire kembali cemberut.
"Hmph!" ia langsung membuang muka.
Pesawat sudah landing dan mendarat dengan sempurna di bandara Soekarno hatta. Meski itu adalah jet pribadinya, dia tetap harus mendarat di jalur khusus yang sudah diatur pihak otoritas, mengikuti prosedur keamanan yang berlaku. Dia hanya pendatang di sini. Meski berkuasa, dirinya harus bergerak dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin menimbulkan masalah yang nantinya akan menghancurkan bisnis besar yang sedang dia jalankan di negara ini.
Begitu roda pesawat menyentuh landasan dan melambat perlahan hingga berhenti total, pintu kabin segera dibuka, dan udara hangat khas kota Jakarta langsung menyapa masuk ke dalam ruangan.
Ryan segera mendekat membawa tas dokumen dan barang-barang mereka, masih berusaha menyembunyikan senyum yang ingin meledak mendengar percakapan keduanya tadi. Jeremy melirik sekilas, cukup memberi tatapan tajam yang membuat Ryan langsung menunduk dan berpura-pura sibuk memeriksa jadwal kedatangan.
Jeremy berdiri lebih dulu, merapikan bajunya yang sedikit kusut, lalu menoleh ke arah Claire yang masih duduk dengan wajah merajuk. Gadis itu melipat kedua tangannya di dada, bibirnya masih menyembul, tapi matanya sesekali melirik ke arah Jeremy dengan rasa ingin tahu yang belum terpuaskan.
"Ayo turun," ucap Jeremy singkat, menyodorkan tangannya.
Claire menatap tangan itu sebentar, lalu mendengus pelan sebelum akhirnya menyambutnya.
"Nanti aku tanya temanku saja kalau dia nggak mau jawab. Pasti mereka tahu," gumamnya berbisik, tapi cukup keras agar Jeremy mendengarnya.
Jeremy hanya menggeleng pelan, tak membalas ucapan itu. Ia tahu betul sifat istrinya ini, semakin dilarang atau tidak dijawab, semakin keras usahanya untuk mencari tahu. Ia justru ingin melihat reaksi Claire nanti saat gadis itu benar-benar mengerti apa yang baru saja ia rasakan.
Mereka berjalan keluar menyusuri tangga pesawat menuju mobil mewah yang sudah menunggu tepat di pinggir landasan. Begitu melangkah turun, Claire langsung menatap sekeliling dengan mata berbinar, melupakan sejenak kekesalannya. Udara yang lembap, suara bising dari kejauhan, dan pemandangan kota yang mulai terlihat jelas membuatnya senang.
"Wahhhh! TANAH AIRKU INDONESIA! NEGERI ELOK AMAT KUCINTA! TAPI PEMERINTAHNYA GAK KUCINTAI!"
Teriaknya kencang membuat Jeremy yang berjalan di sampingnya malu karena orang-orang di sekitar sana langsung menatap ke arah mereka. Ada yang heran, ada yang menahan tawa.
"Kecilkan suaramu." bisik Jeremy.
"Loh, kenapa?! Emang bener kan? Ini tuh negaranya indah, jatoh di pemerintahan aja. Bikin kesel deh kalo bahas mereka, padahal warganya lucu-lucu. Contohnya aku, hufft."
Semua pengawal Jeremy yang berjalan di belakang lagi-lagi harus di buat menahan karena aksi kocak nyonya muda mereka. Jeremy yang harus menahan malu luar biasa.
kirain bom rakitan claire berbahaya hanya bikin gosong, mom thalia dan claire dan sahabat-sahabatnya aja🤣
claire nanti ketahuan mister jem dihukum kamu nakal banget, diam-diam keluar dari rumah sama sahabat2 kamu tanpa ijin mister jem😄
mommy thalia bergabung aja geng mafia mommy thalia jadi ketuanya, claire dan teman2nya anak buahnya pasti sangat seru dan menarik🤣🤭
Thalia cocok ni ketemu Claire yg nakal dan unik 🤣🤣🤣🤣bisa bikin group mafia cewe ni🤣🤣🤣🤣