Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Dilema di Meja Makan
Deru mesin mobil merah milik Marcella akhirnya padam saat mobil itu terparkir sempurna di garasi rumah. Doni menghembuskan napas panjang, mencoba mengurai sisa-sisa ketegangan yang melekat di dadanya sepanjang perjalanan.
“Akhirnya sampai juga… yuk, masuk!” seru Marcella riang seraya memutar kunci kontak mobil untuk mematikannya.
Setelah melepas sabuk pengamannya, Doni kemudian turun dari mobil dan bergegas ke bagasi belakang untuk mengangkat tiga kantong plastik belanjaan yang lumayan berat. Di sampingnya, Olivia mengekor santai, membiarkan calon kakak iparnya yang kerepotan. Sambil menggenggam erat kantong belanja, Doni hanya melirik sinis Olivia yang sedang tersenyum sampai matanya menyipit itu. Setelah pintu bagasi tertutup, gadis SMA itu langsung melesat masuk ke rumahnya meninggalkan Doni.
Aroma harum masakan tumisan langsung menyambut saat Doni melangkah melewati pintu utama. Aroma itu ternyata berasal dari atas meja makan yang letaknya bersebelahan dengan ruang tengah dimana Doni menonton pertandingan Chelsea FC bersama Olivia. Di samping meja makan, tampak sosok wanita paruh baya berpenampilan anggun sedang menata letak makanan dan piring kosong. Sosok yang telah melahirkan dua gadis penuh pesona yang membuat hati Doni bimbang. Pertemuan mereka yang sudah terlalu sering, dan rasa percaya yang sudah tertanam lama, membuat wanita paruh baya itu membiarkan Doni untuk memanggilnya dengan sebutan yang sama dengan panggilan kedua anak gadisnya: Mama.
“Eh, udah pulang…” sapa Mama saat melihat Olivia yang melambai sekilas lalu langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Di belakangnya, Marcella datang dengan membawa satu kantong belanja, dan dua kantong sisanya dijinjing oleh Doni. “Loh… ada Doni?” tanya Mama dengan wajah berbinar kaget.
“Iya, Mam! Tadi di supermarket barangnya banyak banget soalnya, untung ada Doni yang bantu”, jawab Marcella seraya mencium pipi ibunya. “Jadi, aku ajak aja dia makan malam sekalian. Boleh ya, Mam?”
“Aduh, ya jelas boleh dong! Makasih ya, Doni sayang. Kamu selalu bisa diandalkan”, puji Bunda tulus sambil menepuk lengan Doni hangat. “Kamu kelihatannya capek banget, Nak. Muka kamu agak pucat. Sana mandi dulu, nanti kamu pakai kaos punya Papa Cella aja. Ada beberapa di atas, di depan pintu kamar, baru banget dilipat soalnya. Yang punya lagi ke luar kota, jadi pakai aja, nggak apa-apa”, ucap Mama perhatian.
“Beneran nggak apa-apa, Mam? Makasih banget, kalau gitu”, sahut Doni sopan, tersenyum tipis. Rasa sayang dan penerimaan keluarga ini yang begitu tulus mendadak menjadi beban tersendiri di dalam lubuk hatinya. Doni pun naik ke atas meninggalkan Marcella yang antusias membantu Mamanya di dapur.
Sekitar lima belas menit menit kemudian, Doni keluar dari kamar mandi tamu di lantai dua dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar. Saat Mama menyuruhnya untuk memakai kaus milik Papanya Marcella, Doni mengira akan ada setidaknya kaus polos santai yang cocok untuk dipakai oleh mahasiswa seusianya. Namun ternyata, hampir semua baju yang terlipat rapi di depan pintu kamar itu mempunyai model yang sama, yaitu kaus Polo berkerah dengan dua atau tiga kancing di bagian atasnya. Yang membedakan hanya warna dan motifnya saja. Mau tidak mau, dia memilih yang modelnya paling ‘muda’ di antara yang lain.
Doni akhirnya keluar dari kamar tamu setelah memakai kaus Polo bermotif garis-garis dengan perpaduan warna hijau dan abu-abu, serta logo kuda kecil di bagian dadanya. Saat melangkah menyusuri koridor lantai atas menuju tangga turun, langkah Doni mendadak terhenti oleh Olivia yang baru saja keluar dari kamarnya. Gadis SMA itu tampak menyeka rambutnya dengan handuk sambil menutup pintu kamarnya. Dia sudah tidak lagi memakai seragam putih abu-abunya sekarang, berganti dengan kaus oversized bertuliskan nomor 23 yang besar di bagian depan dan celana pendek selutut yang sedikit lebih panjang dari celana basketnya. Rambut panjangnya yang biasa diikat kini terurai bebas, masih agak basah dan menguapkan aroma sampo buah yang manis. Tanpa riasan sama sekali, wajah Olivia terlihat begitu bersih, polos, dan memancarkan kecantikan alami yang sangat menyegarkan.
Melihat itu, jantung Doni kembali berdebar cepat. Rasa terpesona itu kembali menyengat dada Doni tanpa permisi. Di bawah pendar lampu koridor yang hangat, Doni menatap Olivia lurus tepat di mata cokelatnya yang berbinar.
“Mau nge-ronda, Pak? Di RT mana?” goda Olivia menahan tawa. Godaan itu sukses menyadarkan Doni dari lamunannya. Berbeda dengan Doni yang masih terpesona, Olivia justru tersedak kaget dan terkekeh kecil melihat Doni memakai kaus Polo milik Papanya.
“Berisik…! Gara-gara kamu juga nih, Liv… aku jadi harus terjebak makan malam di sini”, bisik Doni pelan, menatap tajam tapi tanpa amarah.
Olivia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat begitu manis sekaligus menggemaskan.
“Tapi rencanaku tadi berhasil kan, Kak?” bisik Olivia makin pelan, memajukan tubuhnya sejengkal lebih dekat ke arah Doni, lalu mengedipkan matanya. “Rahasia kita... aman!” sambungnya sambil mengacungkan jempol.
Sensasi asing itu kembali mendesir hebat di balik dada Doni. Jarak yang terlalu dekat dan hembusan napas hangat Olivia membuat tenggorokannya mendadak kering seketika. Sebelum Doni sempat merespons, Olivia sudah berbalik dan melangkah turun tangga sambil tertawa kecil tanpa dosa. Doni mematung sejenak, memegangi dadanya yang berdetak cepat tanpa bisa dia kendalikan.
Setelah debaran jantungnya mulai normal, Doni akhirnya turun dan menuju ke meja makan. Dia duduk di samping kiri Marcella, sedangkan Olivia duduk tepat di seberang Doni. Di atas meja makan, aneka hidangan rumahan sudah tersaji rapi.
“Ayo dimakan yang banyak, Nak Doni. Kamu pasti capek banget habis bantuin ngangkat-ngangkat barang belanjaan tadi”, ujar Mama ramah sambil sedikit menggeser piring-piring berisi makanan ke arah Doni.
“Biar aku yang ambilin, sayang”, potong Marcella penuh perhatian. Dengan lembut, Marcella mengambilkan piring Doni, menatanya dengan nasi hangat, ayam, dan sayuran. Doni hanya tersenyum pasrah melihat Marcella yang telaten.
“Makasih, sayang”, tutur Doni lembut saat piring penuh makanan itu sudah tersaji di hadapannya.
Di bawah meja, tangan kiri Marcella terulur, menggenggam jemari Doni yang bebas dan mengelusnya pelan, sebuah gestur kasih sayang yang biasa mereka lakukan saat berkumpul bersama keluarga. Doni membalas genggaman itu, mencoba menyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita inilah yang memegang hatinya.
Namun, saat Doni mengangkat pandangannya untuk menyuap makanan, matanya tak sengaja bertabrakan dengan mata Olivia di seberang meja yang sedang menenggak air mineral dari gelas kaca. Walaupun terhalang oleh kaca yang bening, mata indah Olivia tetap terlihat jelas sedang menatap Doni lurus. Tatapan polos adik pacarnya itu seolah memiliki daya tarik magnetis yang sangat kuat, menarik seluruh perhatian Doni hingga gerakan sendok di tangannya sempat terhenti sebentar.
Di antara genggaman tangan Marcella yang hangat di bawah meja, dan tatapan mata Olivia yang menghipnotis di atas meja, dilema besar itu kembali hadir. Dilema yang memaksa Doni menelan makanannya dengan susah payah. Di tengah suasana rumah yang begitu hangat ini, Doni sadar bahwa makan malam ini bukanlah sekadar ucapan terima kasih, melainkan awal dari perang batin yang sangat menyiksa.