Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK YANG KIAN MENGANGA
Setelah rentetan kejadian menegangkan di kafe siang itu, takdir seolah sedang mempermainkan hidup Maira. Pertemuannya dengan Fatih di jembatan, yang kemudian berlanjut menjadi aksi penyelamatan kedua di tempat kerjanya, entah harus ia sebut sebagai kebetulan atau guratan takdir yang tak kasat mata. Namun, bagi Maira, satu hal yang pasti: kehadiran Fatih yang tenang dan penuh perlindungan itu entah bagaimana sudah cukup menjadi obat penenang sementara bagi jiwanya yang compang-camping.
“Mbak Maira, saya duluan pulang ya? Mas Fatih sudah menunggu di depan. Assalamu’alaikum,” pamit Aisyah sembari merapikan tasnya, membuyarkan lamunan Maira yang sedang membersihkan meja kasir.
Maira tersentak, lalu buru-buru menyunggingkan senyum tipis. “Oh, iya. Silakan, Syah. Wa’alaikumussalam,” jawab Maira pelan.
Pandangan mata Maira melekat pada punggung Aisyah yang melangkah riang keluar dari pintu kaca kafe. Di luar sana, di bawah temaram lampu jalanan sore, Fatih sudah berdiri setia di samping motornya. Maira memperhatikan bagaimana Fatih menyambut Aisyah dengan sebuah senyuman hangat—senyuman yang entah mengapa membuat dada Maira tiba-tiba dirayapi rasa nyeri yang asing.
Di dalam lubuk hatinya, sebuah pertanyaan besar mulai berputar-putar tanpa henti. Apa mereka berdua punya hubungan spesial? Apa Aisyah itu kekasih Fatih? Pikiran itu membuat Maira mendadak merasa semakin kecil dan tidak berarti. Gadis shalihah seperti Aisyah memang tampak sangat serasi bersanding dengan lelaki seberhati Fatih.
Sementara itu, di dekat area parkir motor, Fatih mengedarkan pandangannya ke arah pintu kafe yang baru saja tertutup, memastikan sesuatu. “Itu temanmu yang tadi... dia pulang sendiri, Dek?” tanya Fatih kepada Aisyah, suaranya terdengar berat namun penuh perhatian.
Aisyah menoleh sekilas ke dalam kafe, lalu mengangguk lembut. “Iya, Mas. Katanya Mbak Maira udah pesen Grab kok tadi. Mas tenang aja.”
“Oh, ya sudah kalau begitu. Ayo kita pulang,” jawab Fatih pelan. Ia menyalakan mesin motornya, lalu membelah jalanan kota yang mulai padat, meninggalkan kafe tersebut.
Sore beranjak malam ketika Maira akhirnya tiba di depan gerbang rumah tua peninggalan neneknya. Langkah kakinya yang semula gontai mendadak terkunci rapat di atas tanah. Napasnya tercekat. Di bawah keremangan cahaya pembatas jalan, ia mendapati sepasang lansia sedang berdiri gemetar di depan halaman rumahnya.
Rasa hangat yang sempat ia rasakan di kafe tadi menguap instan, digantikan oleh gelombang amarah dan kebencian yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Dua orang itu... adalah Bu Maya, ibu kandungnya, dan Yudi, ayah tiri yang telah merenggut paksa masa kecilnya.
“Mau apa lagi kalian ke sini?!” tanya Maira dengan suara bergetar menahan emosi yang meluap-luap.
Bu Maya yang melihat kehadiran putrinya langsung melangkah maju dengan tubuh ringkihnya. Air mata wanita tua itu langsung luruh. “Mai... tolong dengerin Ibu dulu, Nak. Ibu sama ayah kamu... kami ke sini mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu.”
“Ayah?!” potong Maira dengan nada sinis dan tawa yang menyakitkan. “Maaf, ya. Ayah kandung saya sudah lama meninggal! Laki-laki di sebelah Anda itu orang asing bagi saya! Dan sudah saya bilang kemarin, kan? Saya tidak butuh maaf dari kalian! Saya hanya minta satu hal: jangan pernah ganggu hidup saya lagi!”
Yudi yang berdiri di belakang Bu Maya hanya bisa tertunduk dalam. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus dan ringkih dibandingkan sepuluh tahun lalu. Pria yang dulu begitu perkasa saat menyiksanya, kini tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun di hadapan Maira.
“Tapi, Mai... kami bener-bener butuh kamu sekarang, Nak,” ucap ibunya lagi, tangisnya pecah menjadi isakan yang memilukan.
Maira tersenyum getir, matanya berkaca-kaca memancarkan rasa muak yang teramat sangat. “Sudah saya duga. Kalian pasti ada maunya, makanya repot-repot mencari saya sampai ke sini. Jangan harap saya bisa bantu kalian! Sedikit pun jangan pernah berharap!”
Bu Maya nekat mendekat, hendak meraih jemari Maira, namun Maira langsung mundur selangkah, menolak disentuh.
“Mai... Mai, tolong Ibu, May... Ibu sakit,” ratap Bu Maya dengan dada yang naik turun. “Mas Yudi juga sekarang sedang sakit parah, Mai. Ibu... Ibu minta tolong sama kamu. Ibu sudah gak punya apa-apa lagi di dunia ini, harta kami sudah habis untuk berobat. Kami gak punya anak lagi selain kamu, Mai. Lagipula... bagaimanapun juga, saya ini ibu kandung kamu, Mai! Ibu yang sudah bertaruh nyawa melahirkan kamu ke dunia ini!”
“GUE GAK PEDULI!” jerit Maira histeris, air matanya akhirnya lolos berderai membasahi pipi. “Gue gak pernah minta dilahirin dari rahim wanita jahat dan egois seperti Anda! Apa Anda lupa... apa Anda lupa bagaimana perlakuan Anda dan suami sialan Anda ini kepada gue dulu, hah?!”
Maira mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak, menumpahkan seluruh dendam dan amarah yang selama sepuluh tahun ini ia pendam rapat-rapat di dalam dasar hatinya.
“Sejak kejadian malam jahanam waktu itu, anda tahu apa yang harus saya alamin?! saya minder! saya merasa sekotor sampah! saya merasa gak pantes buat berteman dengan teman-teman di sekolah, sampai semua orang menganggap gue aneh dan gue bener-bener dikucilkan sendirian! Di mana anda saat saya terpuruk setengah mati kayak gitu, hah?! Di mana anda?!” bentak Maira dengan suara parau yang menyayat hati.
“anda sibuk... anda sibuk menyimpan rapat-rapat kejahatan bajingan sialan ini demi menjaga nama baik keluarga! Dan sekarang... sekarang dengan tidak tahu malunya anda datang ke sini, minta saya buat bantu biaya pengobatan lelaki sialan yang sudah menghancurkan hidup saya?! Demi apa pun... demi apa pun gue gak akan pernah rela mengeluarkan uang sepeser pun buat orang yang sudah membunuh jiwa gue! Sudah, pergi! Jangan pernah hubungi saya lagi! saya gak mau ada urusan sama kalian!”
Bu Maya terisak hebat, tubuhnya sampai terduduk di atas beton halaman rumah Maira. “Ibu minta maaf, Nak... Ibu tahu Ibu salah. Tapi... tapi dia ini suami Ibu, Mai...” ratapnya, mencoba membela garis takdirnya yang kelam.
“Tapi maira juga anak Ibu! Maira darah daging Ibu sendiri!” potong Maira lagi, namun kali ini nadanya mendadak melunak, bergetar hebat menampilkan rasa lelah, rapuh, dan lemah yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng keteguhannya. “Kenapa... kenapa Ibu bisa secinta ini sama lelaki manipulatif dan bejat ini? Buka mata Ibu...” bisik Maira dengan sisa-sisa suaranya yang habis.
Rasa lelah yang luar biasa menjalar di sekujur tubuh Maira. Ia memandangi kedua orang tua di depannya dengan tatapan kosong.
“Sudah. Jangan ganggu saya lagi. Sampai kapan pun... sampai saya mati pun, saya tidak akan pernah memaafkan kalian berdua,” ucap Maira dengan keputusan final yang dingin.
Tanpa memedulikan tangisan histeris ibunya yang terus memanggil namanya, Maira berbalik, membuka pintu rumah, lalu melangkah masuk dan membanting pintu kayu itu dengan teramat keras.
Begitu grendel pintu terkunci, pertahanan tubuh Maira runtuh total. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, merosot jatuh ke atas lantai yang dingin. Di dalam kegelapan rumah tua yang sunyi itu, Maira menutup wajahnya dengan kedua tangan, berteriak kencang meluapkan rasa frustrasinya, dan menangis sejadi-jadinya membelah keheningan malam yang pekat. Hidupnya benar-benar terasa seperti benang kusut yang tak tahu di mana ujungnya.