Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 - Bunga Tanpa Nama
Pagi itu, Nadira datang lebih awal dari biasanya.
Udara masih sejuk, dan sebagian besar lampu kantor bahkan belum dinyalakan. Ia menikmati suasana tenang seperti ini. Tidak ada suara telepon, tidak ada rapat mendadak, tidak ada Arga yang menggodanya sejak pintu lift terbuka.
Ia tersenyum kecil memikirkan hal itu.
*"Kenapa malah kepikiran dia?"*
Begitu duduk di kursinya, Nadira menghentikan gerakan tangannya.
Di atas meja sudah ada sebuah vas kecil berisi bunga daisy putih.
Sederhana.
Segar.
Dan di sampingnya terselip secarik kartu.
> **Semoga harimu menyenangkan.**
>
> *— Seseorang*
Nadira mengernyit.
"Siapa, ya?"
Ia mengangkat kartu itu, membolak-baliknya.
Tidak ada nama.
---
"Eh!"
Rina datang sambil membawa kopi.
"Wih!"
"Ada yang ngasih bunga?"
"Aku juga baru lihat."
Rina langsung memasang wajah antusias.
"Fix."
"Ini pasti Arga."
"Belum tentu."
"Siapa lagi?"
Nadira mengangkat bahu.
"Farhan?"
Kalimat itu baru saja keluar ketika suara langkah kaki terdengar.
"Pagi."
Farhan datang sambil membawa map.
"Pagi."
Nadira tersenyum ramah.
Farhan melihat bunga di meja Nadira, lalu tersenyum.
"Wah."
"Bagus."
"Kamu suka bunga daisy?"
Nadira mengangguk.
"Iya."
"Lucu."
Farhan mengangguk kecil.
"Memang cocok buat kamu."
Ucapan itu terdengar tulus.
Namun ekspresinya terlihat benar-benar bingung melihat bunga itu.
Rina yang memperhatikan dari samping langsung menyipitkan mata.
*"Berarti bukan Farhan..."*
---
Lima menit kemudian...
Arga muncul sambil membawa tas laptop.
"Pagi semua."
"Pagi."
Seperti biasa, ia langsung menghampiri meja Nadira.
Namun langkahnya berhenti saat melihat vas bunga itu.
"Oh."
"Kamu dapat bunga?"
"Iya."
"Dari siapa?"
"Nggak tahu."
Arga membaca kartu kecil itu.
Ekspresinya berubah.
Tetap tersenyum.
Tetapi senyum itu terlihat dipaksakan.
"Bagus."
Hanya satu kata itu.
Lalu ia kembali ke mejanya.
Tanpa bercanda.
Tanpa mengganggu Nadira.
Tanpa menawarkan roti atau kopi.
Rina memperhatikan perubahan itu.
Lalu bergumam pelan.
"Waduh..."
---
Sepanjang pagi, Arga lebih banyak diam.
Saat rapat pun ia hanya berbicara seperlunya.
Bahkan ketika Nadira meminta pendapat mengenai desain presentasi, jawabannya singkat.
"Bagus."
"Udah oke."
"Nggak usah diubah."
Nadira mulai merasa ada yang aneh.
Saat jam makan siang tiba, ia menghampiri meja Arga.
"Kamu sakit?"
Arga mendongak.
"Nggak."
"Terus kenapa diem?"
"Lagi capek."
"Bohong."
Arga tersenyum tipis.
"Kok tahu?"
"Karena kalau capek..."
Nadira meniru kalimat yang dulu sering dipakai Arga.
"...kamu biasanya tetap banyak ngomong."
Arga tertawa pelan.
"Ternyata kamu hafal."
"Hafal."
Hening.
Akhirnya Nadira duduk di kursi depan meja Arga.
"Sebenernya kenapa?"
Arga menghela napas.
"Dir."
"Hm?"
"Kalau bunga itu dari Farhan..."
"...aku bakal kecewa."
Nadira berkedip.
"Kenapa?"
Arga menatapnya beberapa saat.
Lalu tersenyum kecil.
"Karena aku kalah cepat."
---
Ucapan itu terus terngiang di kepala Nadira.
*"Aku kalah cepat."*
Sepulang kerja, ia masih memikirkan kalimat itu.
Saat hendak menyalakan motor, seseorang memanggilnya.
"Nadira."
Farhan.
"Sebentar."
"Iya?"
Farhan tersenyum.
"Aku cuma mau bilang..."
"Bunga tadi bukan dari aku."
Nadira tampak terkejut.
"Kamu tahu soal bunga?"
"Tahu."
"Rina sempat cerita."
"Oh."
Farhan memasukkan kedua tangannya ke saku.
"Kalau suatu hari aku ngasih bunga..."
"...aku bakal kasih nama."
Nadira tersenyum kecil.
"Itu lebih baik."
"Aku nggak suka bikin orang bingung."
"Itu juga lebih baik."
Mereka tertawa pelan.
Namun beberapa meter dari sana, seseorang baru saja keluar dari minimarket.
Arga.
Di tangannya ada sekotak susu dan beberapa camilan.
Ia melihat Nadira dan Farhan sedang mengobrol.
Tidak lama.
Hanya beberapa menit.
Tetapi cukup membuat langkahnya terhenti.
Ia menunduk sebentar.
Lalu memilih berjalan ke arah lain tanpa menyapa.
---
Malam harinya, hujan turun cukup deras.
Sekitar pukul delapan, bel rumah Nadira berbunyi.
"Ting tong..."
"Aku buka."
Begitu pintu terbuka, Nadira terkejut.
Arga berdiri di depan rumahnya.
Rambutnya sedikit basah.
Di tangannya ada sebuah payung.
Dan...
sebuah pot tanaman kecil.
"Kamu?"
Arga mengangguk canggung.
"Maaf malam-malam datang."
"Ada apa?"
Arga mengangkat pot kecil itu.
"Bunga di kantor tadi..."
"...bukan dari aku."
Nadira tersenyum geli.
"Aku nggak pernah nuduh."
"Aku tahu."
"Tapi..."
Arga mengusap tengkuknya.
"...aku juga nggak mau kamu nunggu orang yang salah."
Nadira mengernyit.
"Maksudnya?"
Arga menarik napas panjang.
Lalu menyerahkan pot kecil itu.
Isinya bukan bunga mawar.
Bukan juga bunga mahal.
Melainkan **tanaman sukulen kecil** dengan pot keramik putih.
"Aku pernah dengar..."
Suara Arga terdengar pelan.
"...sukulen itu nggak butuh perhatian setiap saat."
"Tapi kalau dirawat dengan sabar..."
"...dia akan tumbuh lama."
Ia menatap mata Nadira.
"Aku nggak mau ngasih sesuatu yang gampang layu."
"Aku lebih pengin ngasih sesuatu yang bisa bertahan."
Nadira menggenggam pot kecil itu.
Dadanya terasa hangat.
Belum pernah ada yang memberinya hadiah dengan alasan sesederhana... dan sejujur itu.
Di balik tirai ruang tamu, Mama Nadira yang diam-diam melihat kejadian itu hanya tersenyum sambil berbisik kepada suaminya.
"Kayaknya..."
"...anak itu benar-benar sedang berjuang."
Sementara Nadira masih berdiri di depan pintu.
Menatap tanaman kecil di tangannya.
Lalu menatap Arga.
Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
*"Apa aku sudah mulai menemukan jawabannya?"*
**Bersambung ke Episode 22...**