Joshua Adrian Waldgrave patah hati mengetahui calon istrinya mencintai pria lain dan jatuh terpuruk dalam kesedihan. Ia lebih memilih menghilang selamanya dari kehidupan wanita yang dicintainya dan menutup pintu hatinya untuk wanita lain. Setelah bertahun-tahun tidak mendengar kabarnya, mantan tunangannya meninggal, karena kecelakaan.
Sementara itu ditempat lain seorang gadis bisu dan memiliki cacat di wajahnya menyimpan dendam selama bertahun-tahun terhadap orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Jalinan takdir mempertemukannya dengan Joshua yang mengharuskan pria itu terikat kepadanya, karena janjinya kepada seseorang di masa lalu yang tidak dapat ia tolak. Janji yang mengharuskannya menjaga gadis itu seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Raina
Joshua datang dengan membawa sebuah boneka Teddy bear besar ketika pergi mengunjungi Miya di rumah sakit keesokan siangnya. Ia sangat terkejut Fabian menghubunginya dan memberitahu Miya melahirkan tadi malam setelah ia pulang dari mansion mereka. Ia begitu senang, karena akhirnya ia memiliki keponakan baru. Joshua tersenyum simpul sekaligus iri lagi, ketika melihat kemesraan yang selalu ditunjukkan oleh mereka . Saat ia datang Fabian sedang mencium istrinya."Apa aku menganggu?''
Fabian dan Miya spontan menjauh. Wajah keduanya bersemu merah dan menjadi salah tingkah. "Masuklah!''kata Fabian.
"Ini untuk keponakan tersayangku,''kata Joshua sambil memberikan boneka Teddy bear kepada Fabian.'' Aku sudah melihat bayi kalian di ruang bayi. Dia tampan seperti ayahnya.''
"Tentu saja karena aku ayahnya,''kata Fabian yang terlihat bangga.
"Selamat untuk kalian!''
"Terima kasih sudah mau datang,''kata Miya.
"Tentu saja aku datang. Tidak mungkin aku tidak datang." Joshua mengambil kursi yang kosong lalu duduk di samping tempat tidur.
"Bagaiamana keadaanmu sekarang?''tanya Joshua kepada Miya.
"Baik dan luar biasa. Aku sudah tidak sabar untuk segera pulang ke rumah dan membawa bayi kami."
"Aku masih belum percaya kalian sudah memiliki bayi kalian sendiri."
"Aku juga masih belum percaya,"kata Fabian.
"Jadi apa ayahmu sudah diberitahu tentang Raina?"tanya Miya penasaran.
"Belum.Aku belum memberitahunya sebelum aku tahu dari mana Jeanette mendapatkan sprema ayahku."
"Ya lebih baik menunggu sedikit lagi sebelum kamu memperkenalkannya kepada ayahmu,"kata Fabian.
Pancaran sinar mata Joshua tiba-tiba meredup dan muram. Ia berdiri dan mendekat ke jendela.'' Hari ini adalah hari kematian ibuku. Aku berencana untuk mengunjungi makam ibuku sekarang."
"Aku lupa kalau hari ini hari kematian bibi Josalyn. Maaf,''kata Fabian.
"Tidak perlu meminta maaf."
Fabian menyentuh bahu Joshua dan memandang sepupunya itu dengan wajah prihatin.''Jangan salahkan dirimu lagi. Ok. Kematian bibi Josalyn tidak ada hubungannya denganmu. Itu hanya kecelakaan . Kamu harus belajar memaafkan dirimu sendiri.Seperti halnya aku. Bertahun-tahun aku merasa bersalah atas kematian istri pertamaku, tapi sekarang aku sudah mencoba untuk memaafkan diriku sendiri. Aku yakin, kamu juga pasti bisa."
Joshua tetap memandang ke arah luar jendela dengan ekspresi yang kembali tidak terbaca, lalu perhatiannya teralihkan oleh suara mungil yang sudah di kenalnya. Gadis kecilnya telah datang. Sudah beberapa hari ini, ia tidak bertemu dengannya dan tanpa ia sadari Joshua merindukan Raina.''Dadddyyy...moommmyyy....''panggilnya dengan wajah berbinar senang.
"Kamu boleh pergi, Serafina,''kata Fabian kepada pelayannya yang telah mengantarkan Raina ke rumah sakit. Serafina mengangguk.
" Selamat untuk Anda nyonya!''kata Serafina.
"Terima kasih."
"Permisi!''
Fabian mengelus lembut kepala Raina saat gadis kecil itu memeluk pinggangnya. "Di mana dia ? Aku ingin melihatnya."
"Maksudmu adikmu?''tanya Fabian. Raina mengangguk dengan cepat.
"Sebentar lagi perawat akan membawanya ke sini. Kamu senang?''
''Tentu saja. Akhirnya aku akan mempunyai teman bermain."
Mata Raina langsung menangkap sosok Joshua yang berdiri menjulang di depan jendela.
"Halo Raina!''sapa Joshua. Raina langsung memasang wajah cemberut saat Joshua menyapanya. Rasa tidak sukanya terang-terangan diperlihatkan kepadanya. Joshua yang merasa aneh dengan sikap Raina kepadanya langsung memandang kepada Fabian dan Miya untuk meminta penjelasan.
"Kenapa paman Jo, ada disini? Aku tidak ingin melihat paman lagi,''kata Raina marah. Raina langsung menarik-narik tubuh Joshua supaya pergi dari kamar. "Raina, kamu tidak boleh bersikap seperti itu kepada paman Jo,''seru Miya.
" Aku tidak ingin melihatnya ada disini,''kata Raina merajuk dan air matanya langsung berhamburan keluar.
Joshua berjongkok, lalu menghapur air mata Raina.'' Sebenarnya kamu kenapa, Raina? Apa kamu membenci paman Jo?''
"Ya. Aku benci paman Jo. Paman Jo tidak sayang Raina lagi."
Raina kemudian berlari ke luar kamar. Joshua merasa terkejut dengan sikap tidak suka gadis kecil itu kepadanya. Bisa di katakan ini pertama kalinya mereka bertengkar. "Maafkan Raina! Dia tidak bermaksud seperti itu kepadamu,''kata Fabian.
"Apa yang sebenarnya terjadi?''
" Sudah seminggu kamu tidak bermain ke mansion kami lagi. Aku tahu kamu sibuk, tapi Raina masih belum mengerti dengan kesibukanmu itu. Kamu juga sudah ingkar janji kepadanya,"kata Fabian.
"Apa aku pernah menjanjikan sesuatu kepadanya?"
"Kamu pernah janji akan mengajaknya jalan-jalan ke kebun binatang minggu kemarin."
"Aku lupa,"seru Joshua terkejut.
"Wajar jika Raina marah."
"Aku pernah janji kepadanya sewaktu kita lagi merayakan hari ulang tahunnya satu bulan yang lalu. Aku akan mengajaknya ke kebun binatang kalau sudah masuk liburan musim panas. Aku akan bicara dengannya."
"Sebaiknya kamu memang harus bicara dengannya."
"Pergilah!''
Joshua keluar kamar dan mencari keberadaan Raina. Ia menemukan Raina sedang berbicara dengan Serafina tidak jauh dari kamar perawatan Miya. Joshua duduk di samping Raina. "Bisa kita bicara?''
Raina masih memasang wajah cemberut. "Aku akan meninggalkan kalian berdua,''kata Serafina.
Setelah pelayan itu pergi, Joshua mendekatkan bibirnya di telinga Raina.''Masih marah sama paman Jo?''
Raina diam dan masih tidak mau memandang Joshua. Ia tersenyum melihat Raina yang masih marah kepadanya. "Kalau Raina marah paman Jo benar-benar sedih." Raina masih diam. "Maafkan paman Jo! Akhir-akhir ini paman banyak pekerjaan. Paman Jo janji akan sering-sering datang lagi main ke rumah dan mengajak Raina jalan-jalan."
"Paman Jo, bohong!''seru Raina kesal. Isak tangis mulai kembali terdengar. "Paman Jo sudah tidak sayang lagi kepadaku."
Joshua hanya bisa tersenyum melihat sikap Raina. Ia merasa beruntung disini tidak ada banyak orang kalau tidak mungkin sekarang mereka sudah menjadi pusat perhatian orang-orang. "Paman Jo sayang Raina."
"Bohong.''
"Paman tidak bohong."
Raina membalikkan tubuhnya dan menatap Joshua dengan mata yang sudah dipenuhi oleh air matanya. "Benarkah?''tanya Raina.
"Benar. Maafkan paman Jo. Akhir-akhir paman sibuk. Bagaimana kalau minggu depan kita ke kebun binatang."
"Baiklah, tapi jangan bohong lagi."
"Paman tidak bohong lagi."
Raina mengangguk, lalu memeluk Joshua ."Aku sayang paman Jo." Joshua tersenyum dan mengelus lembut kepala Raina. Senyuman Joshua menghilang seketika saat kembali mengingat masa lalunya yang jauh dari kata bagus. Seandainya bayi itu masih hidup pasti bayi itu sudah besar sekarang.[ ]