Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Bisik-Bisik
"Perkenalan istri komandan sekaligus arisan kecil," jawab Prabu.
Alea terdiam.
"Mungkin ibu-ibu ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kita. Aku memang tidak mengundang semuanya ke Malang. Hanya atasanku Letkol Firman dan istrinya. Tapi sepertinya kabar pernikahan kita memang cepat menyebar di komplek ini," lanjut Prabu menjelaskan.
Letkol Firman dan istrinya tinggal di komplek yang berbeda di mana Prabu berada saat ini bersama Alea. Letaknya berjarak sekitar satu jam dari rumah dinas Prabu jika berkendara
Namun, di kompleks kecil yang berisi prajurit-prajurit bawahan Prabu serta keluarga mereka, dominan kabar apapun akan cepat beredar apalagi bicara gosip. Bahkan kecepatannya mengalahkan tembakan ru_dal di Perang Dunia II. Keganasannya setara b0m atom yang terjadi pada peristiwa serangan Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Sungguh berbahaya.
Alea masih terdiam. Jujur ada rasa tak percaya diri yang hinggap di benaknya. Selama beberapa tahun terakhir setelah keluar dari rumah sakit jiwa, Alea lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah dan belajar menjadi wanita dewasa.
Dikarenakan dahulu ia adalah anak perempuan yang manja, susah diatur, kekanak-kanakan dan suka semaunya sendiri.
Jangankan masak di dapur, sekadar mencuci piring bekas makannya sendiri saja Alea tak pernah melakukan hal itu di masa muda nya. Semuanya dikerjakan pembantu. Mama Ayu begitu memanjakan Alea.
Namun setelah sembuh dan keluar dari rumah sakit jiwa, Alea banyak berubah mulai dari sikap dan gaya berbusana. Terlebih dirinya sekarang memutuskan berhijab.
"Kenapa kamu diam?" tanya Prabu.
"Ehm sejujurnya aku gak percaya diri bertemu banyak orang," cicit Alea seraya menundukkan kepalanya di depan Prabu. Ia benar-benar tak berani menatap wajah suaminya itu.
"Biar nanti aku bilang ke istri Kapten Agus kalau kamu gak bisa hadir karena masih lelah perjalanan dari Malang ke Jakarta," ucap Prabu.
"Eh, jangan Mas..." cegah Alea.
"Kenapa?"
"Aku tetap hadir saja," jawab Alea. Ia belum berani jujur pada Prabu mengenai kondisi dirinya sendiri yang belum terbiasa di ruang publik akibat trauma masa lalu.
"Tak perlu memaksakan diri,"
"Aku gak mau nama Mas Prabu jelek hanya karena aku tidak hadir nantinya,"
"Acara ini juga bukan resmi. Kamu gak perlu khawatir,"
"Aku coba dulu saja. Semoga aku gak mengecewakan Mas Prabu,"
Prabu diam sejenak sembari kedua mata elangnya menatap Alea dengan serius.
"Terserah kamu," putus Prabu datar.
Setelah sarapan selesai, Prabu bergegas pergi. Saat langkah Prabu di depan pintu utama, Alea memanggilnya.
"Mas, tunggu!" seru Alea yang setengah berlari dari dapur membawa sebuah tas kecil.
Langkah Prabu otomatis terhenti dan membalikkan tubuhnya. Sejurus kemudian, Prabu menatap tas kecil yang ada di tangan Alea.
"Ini bekal buat Mas Prabu," ucap Alea seraya menyodorkan tas kecil yang dibawa nya sejak dari dapur tadi.
"Kamu tak perlu repot-repot. Di sana juga sudah disediakan dapur umum untuk makan tentara,"
"Iya, aku tau. Ini bukan makanan berat. Hanya sekadar kudapan saja dan pencuci mulut,"
"Makasih," ucap Prabu dan hendak berbalik badan.
"Mas," panggil Alea kembali.
"Hem,"
"Mau salim," cicit Alea sedikit malu-malu.
Ekspresi Prabu masih terlihat datar sesuai julukannya kulkas dua belas pintu. Sebab, dirinya juga belum mengenal lebih dalam sifat dan karakter Alea sebenarnya. Semua yang ia ketahui sebelumnya hanya berdasarkan cerita dari ibu sambungnya semata.
Walaupun tak dapat dipungkiri hati kecil Prabu menghangat melihat sikap dan perhatian Alea padanya.
So_doran telapak tangan kanan Prabu pun diberikan. Lalu, Alea segera menyambutnya dengan penuh takzim.
"Hati-hati, Mas."
"Hem,"
☘️☘️
Siang hari pun tiba. Acara kecil-kecilan menyambut Alea sebagai istri komandan bersama ibu-ibu Persit digelar di aula yang ada di komplek tersebut. Ada dua aula di sana. Ada yang ukuran besar dan kecil.
Biasanya aula besar untuk acara formal atau resmi. Jika acara non formal ibu-ibu Persit di sana menggunakan aula kecil.
Alea datang ke acara tersebut menggunakan gamis warna hijau dengan hijab warna senada. Ia berjalan masuk dan cukup terkejut melihat ternyata jumlah istri prajurit yang tinggal di komplek tersebut lumayan banyak.
Alea seketika grogi.
Tangannya berkeringat dingin.
Kedua matanya beredar, namun tampak kegelisahan. Ia sempat terpaku sejenak, lalu kembali melanjutkan langkah menuju tikar yang sudah digelar yang berada di bagian depan.
Bisik-bisik dari mulut para istri prajurit yang hadir di aula tersebut perlahan mulai terdengar di telinganya.
"Itu toh istrinya komandan,"
"Namanya siapa?"
"Alea kalau gak salah panggilannya. Nama lengkapnya ya aku gak tau,"
"Mayor Prabu dan keluarga Wicaksono kayaknya di pernikahan yang sekarang serba tertutup dan data-datanya rahasia banget. Something deh,"
"Beda banget ya pernikahan yang dulu serba terbuka dan mewah di berita-berita,"
"Ember..."
"Apa jangan-jangan istrinya yang baru ini MBA?"
"Hah, MBA lulusan negara mana?"
"Astaga kamu lola banget! MBA itu Married by accident alias tanam saham duluan. Bahasa jawanya ya meteng dhisikan, bestie..."
"Ah, masa sih?"
"Maybe yess, maybe no."
"Jangan fitnah. Bahaya kalau sampai Mayor Prabu denger. Suamimu bisa-bisa dikirim ke daerah konflik,"
"Ya, jangan sampai suamiku atau Mayor Prabu tau."
"Gak usah berdebat. Tinggal nanti hitung saja hari kelahiran bayi mereka dengan tanggal pernikahannya,"
"Eh, tapi denger-denger Mayor Prabu itu lemah."
"Lemah apa?"
"Kamu jangan bilang siapa-siapa ya!"
"Oke siap. Rahasia aman,"
"Ayo, aku kepo nih!"
"Ada temanku yang kebetulan rumah dinasnya dulu bersebelahan sama Mayor Prabu dan mantan istrinya, tapi bukan tinggal di komplek ini. Kalau gak salah sewaktu dulu Mayor Prabu pernah tinggal di Bandung. Nah, pas malam banget temanku itu gak sengaja denger pertengkaran mereka. Mantan istrinya maki-maki Mayor Prabu dengan sebutan impo_ten sampai banting-banting benda gitu,"
"Astaghfirullah hal adzim. Masa Mayor Prabu yang gagah dan ganteng itu impo_ten sih?"
Bersambung...
🍁🍁🍁