Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sedan putih berkelas itu melaju perlahan meninggalkan kediaman utama keluarga Wirajaya. Deru mesinnya terdengar halus, namun suasana di dalam kabin justru terasa jauh lebih dingin daripada saat mereka masih berada di rumah besar itu. Keheningan menyelimuti, seolah setiap orang memilih memendam pikirannya masing-masing. Tak ada percakapan, hanya hawa tegang yang menggantung dan membuat perjalanan terasa semakin berat.
Dafa menempati kursi pengemudi dengan rahang yang mengatup kuat. Sorot matanya lurus menembus jalanan, menyiratkan amarah yang masih belum mereda. Di sampingnya, Aurora duduk dalam diam. Beberapa kali wanita itu menoleh ke arah putrinya yang berada di jok belakang, memandangi wajah Zahra dengan tatapan penuh kekhawatiran sekaligus kegelisahan.
"Zahra." Suara Dafa memecah keheningan di dalam mobil. Nadanya rendah dan datar, tetapi menyimpan tekanan yang begitu kuat hingga membuat udara di dalam kabin terasa semakin sesak.
"Zahra, dengarkan Ayah baik-baik. Apa pun yang terjadi, pernikahanmu dengan Rayan harus terwujud. Ayah tidak menerima kegagalan dalam urusan ini." Dafa menatap putrinya lekat sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih dingin. "Jangan pikir masih ada jalan lain. Ini satu-satunya pilihan yang harus kamu perjuangkan."
Zahra menurunkan pandangannya ke pangkuan. Jemari lentiknya bertaut erat, saling menggenggam dengan gelisah seolah berusaha menenangkan kegundahan yang memenuhi dadanya.
"Papa... bagaimana kalau Kak Rayan memang tidak pernah membuka hatinya untukku?" suara Zahra terdengar lirih. "Kalau aku terus mengejarnya, bukankah yang akan dipermalukan justru keluarga kita? Aku tidak ingin semua ini berakhir dengan penolakan di depan banyak orang."
Dafa sontak memalingkan wajah ke arah Zahra. Sorot matanya begitu tajam, seolah mampu menembus setiap keraguan yang tersimpan di benak putrinya. Tatapan penuh tekanan itu membuat suasana di dalam mobil semakin mencekam.
"Jangan terus memikirkan perasaanmu sendiri, Zahra. Yang sedang kita pertaruhkan adalah masa depan keluarga ini." Dafa menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih tajam. "Kalau rencana ini gagal, perusahaan Mahatma bisa kehilangan kesempatan terbesar yang pernah ada. Apa kamu sanggup melihat semua yang Papa bangun selama bertahun-tahun hancur hanya karena kamu memilih menyerah?"
Zahra memilih bungkam. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh. Pandangannya beralih ke luar jendela mobil, sementara ia menarik napas perlahan, berusaha meredam gemetar yang hampir lolos bersama suaranya.
Aurora kemudian angkat bicara. Berbeda dengan Dafa, nada suaranya terdengar lebih lembut dan tenang. Namun, di balik kelembutan itu terselip tekanan yang tak kalah kuat, seolah setiap ucapannya tetap menuntut Zahra untuk memenuhi harapan keluarga.
"Zahra, Sayang," ucap Aurora lembut, "jangan terlalu mengejar sesuatu yang belum tentu bertahan, seperti perasaan. Dalam hidup, kesempatan sebesar ini tidak datang dua kali." Ia menghela napas pelan sebelum melanjutkan.
"Rayan adalah kunci masa depan keluarga kita. Apa pun yang harus kamu lakukan untuk mendapatkan hatinya, lakukan dengan bijaksana. Anggap ini sebagai tanggung jawab yang harus kamu selesaikan demi keluarga."
Setetes air mata akhirnya lolos dari sudut mata Zahra. Ia buru-buru menyekanya sebelum kedua orang tuanya menyadarinya. Di dalam dadanya, gejolak penolakan terus bergemuruh. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya bukan alat untuk mengamankan kepentingan perusahaan, apalagi sekadar budak dalam permainan bisnis keluarga. Namun, setiap ucapan Dafa dan Aurora terus terngiang di benaknya, menghimpit hati yang mulai lelah dan perlahan kehilangan keberanian untuk melawan.
Malam itu, Zahra merasakan hidupnya bagaikan berada di dalam sangkar yang berlapis kemewahan. Dari luar tampak sempurna, tetapi di dalamnya ia kehilangan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Ambisi kedua orang tuanya menjadi rantai yang membelenggu setiap langkahnya. Di saat yang sama, bayangan Rayan Wirajaya pria yang begitu dingin, berjarak, dan seolah mustahil dijangkau terus memenuhi pikirannya, membuat beban di hatinya terasa semakin berat.
*****
Harumnya roti yang baru dipanggang berpadu dengan wangi teh hangat, memenuhi setiap sudut ruang makan. Cahaya matahari pagi menembus tirai-tirai tipis, memancarkan semburat keemasan yang jatuh lembut di atas meja makan panjang berbahan kayu, yang telah ditata rapi dengan aneka hidangan.
Di salah satu sisi meja makan, Alya tampak sibuk menata hidangan pagi. Beberapa potong roti hangat, telur ceplok, dan segelas susu khusus untuk Fariz ia susun dengan teliti. Seorang pelayan wanita berdiri di sampingnya, sigap membantu menyiapkan setiap sajian yang masih kurang.
Sesekali pelayan itu menundukkan kepala dengan penuh hormat kepada Alya. Sikap itu bukan semata-mata karena Alya adalah ibu dari putra Rayan, melainkan juga karena keramahan dan kelembutan hatinya. Sejak tinggal di rumah itu, Alya selalu memperlakukan para pelayan dengan sopan dan penuh penghargaan, sehingga kehadirannya membuat siapa pun merasa dihormati dan nyaman.
Fariz duduk manis di kursi makannya. Meski sorot matanya masih menyisakan kantuk, wajah mungilnya tetap memancarkan keceriaan. Jemari kecilnya memainkan sendok sambil sesekali mengeluarkan tawa renyah yang memenuhi ruang makan. Tingkah polosnya membuat beberapa pelayan yang berjaga di sudut ruangan saling melempar senyum, menikmati kelucuan bocah itu tanpa mampu menyembunyikan rasa gemas mereka.
Tak lama kemudian, Rayan menuruni tangga dari lantai atas. Ia mengenakan kemeja putih yang tersetrika rapi, namun penampilannya terlihat lebih santai dibanding biasanya. Begitu tiba di ruang makan, seorang pelayan pria segera melangkah untuk menarikkan kursi.
Rayan hanya memberi isyarat singkat dengan telapak tangannya, menandakan tak perlu ada perlakuan khusus. Ia lantas menarik kursinya sendiri dan duduk dengan tenang. Sorot matanya menyapu meja makan yang telah dipenuhi hidangan, sebelum akhirnya berhenti pada Fariz yang sedang asyik memainkan sendoknya dengan wajah ceria.
"Selamat pagi." Suara Rayan terdengar rendah dan tenang. Sapaan singkat itu keluar tanpa banyak ekspresi, tetapi cukup untuk memecahkan keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruang makan.
"Selamat pagi, Tuan Rayan," sapa para pelayan hampir bersamaan sambil menundukkan kepala dengan hormat. Alya yang sedang merapikan piring ikut menoleh. Tatapannya sempat bertemu dengan Rayan, tetapi hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Rayan membalas sapaan itu dengan anggukan kecil. Tatapannya terlebih dahulu tertuju pada Fariz yang sedang duduk manis di kursinya, sebelum perlahan bergeser ke arah Alya. Sorot matanya tenang, seolah ingin memastikan keadaan keduanya di pagi itu.
"Fariz tadi malam tidurnya nyenyak?" tanya Rayan pelan. Nada suaranya tetap tenang dan nyaris tanpa emosi, tetapi tatapan yang ia arahkan kepada Alya menyimpan kepedulian yang sulit disembunyikan. Seolah, kesehatan putranya menjadi hal pertama yang ingin ia pastikan begitu mengawali hari.
Alya mengulum senyum kecil sebelum menjawab pelan, "Sebenarnya tidak terlalu, hanya saja tadi malam dia beberapa kali terbangun. Mungkin Fariz masih berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Biasanya, begitu berbaring, dia langsung tertidur tanpa banyak tingkah."
Rayan mengangguk pelan. "Wajar kalau dia masih merasa asing. Semua ini benar-benar baru untuk Fariz." Tatapannya kemudian beralih kepada Alya. "Begitu juga denganmu. Tidak perlu terburu-buru beradaptasi. Jalani saja perlahan sampai kalian merasa nyaman di sini."
Pelayan wanita yang tengah menuangkan teh ke dalam cangkir Rayan menjaga sikapnya tetap profesional. Ia menundukkan kepala, seolah tak mendengar percakapan di hadapannya. Namun, senyum tipis yang sempat terbit di sudut bibirnya memperlihatkan bahwa ia diam-diam ikut merasakan kehangatan suasana yang perlahan tumbuh di antara Rayan, Alya, dan Fariz.
Alya mengalihkan pandangannya kepada Fariz yang sedang asyik menikmati sarapan. Senyum lembut menghiasi wajahnya sebelum ia berkata pelan, "Mungkin memang butuh waktu untuknya menyesuaikan diri. Tapi aku percaya Fariz akan melewatinya. Dia selalu bisa beradaptasi, meski perubahan sebesar apa pun datang dalam hidupnya."
Rayan meraih sepotong roti dari piring saji, lalu menghentikan gerakannya sesaat. Tatapannya beralih kepada Alya, memperhatikan wanita itu dalam diam sebelum kembali mengalihkan perhatian ke sarapannya.
"Jangan memikul semuanya sendirian," ujar Rayan dengan nada rendah. "Kalau Fariz kembali sulit beristirahat atau ada apa pun yang membuatmu kewalahan, beri tahu aku. Kita hadapi bersama."
Alya terdiam sejenak. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat penuh perhatian itu dari Rayan. Sesaat kemudian, senyum tipis mengembang di wajahnya, menghangatkan raut yang semula kaku. "Aku mengerti," ucapnya pelan. "Terima kasih... aku benar-benar menghargainya."
Tiba-tiba Fariz mengangkat tangannya yang mungil sambil menggenggam sepotong roti yang sudah sedikit remuk. Dengan suara cadel khas balita, ia memanggil, "Papa... nih." Bocah itu menyodorkan rotinya ke arah Rayan dengan senyum polos, seolah ingin berbagi makanan yang sedang ia nikmati.
Rayan menatap Fariz selama beberapa detik, lalu menerima potongan roti kecil itu tanpa ragu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Meski sederhana, senyum itu memancarkan kehangatan yang jarang terlihat dari pria yang biasanya dikenal begitu tenang dan sulit mengekspresikan perasaannya.
"Baik, Ayah terima. Terima kasih sudah mau berbagi," ucap Rayan lembut sambil menerima potongan roti dari tangan kecil Fariz.
Beberapa pelayan yang berjaga di sudut ruang makan saling melirik tanpa berkata apa pun. Raut wajah mereka menyiratkan kekaguman yang sulit disembunyikan. Selama ini, mereka mengenal Rayan sebagai sosok yang tegas, dingin, dan nyaris tak pernah menunjukkan emosi. Namun pagi itu, mereka menyaksikan sisi lain dari dirinya seorang ayah yang menerima kasih sayang putranya dengan tulus, serta seorang pria yang perlahan mulai meruntuhkan dinding di sekitar hatinya.
Bagi Alya, sarapan pagi itu bukan sekadar rutinitas biasa. Ada kehangatan yang selama ini hanya berani ia impikan. Duduk di meja yang sama bersama Rayan dan Fariz, sementara para pelayan menjalankan tugas mereka dengan tenang, menghadirkan perasaan utuh yang belum pernah benar-benar ia rasakan sebelumnya seolah ia sedang menikmati gambaran sederhana tentang sebuah keluarga.
Namun, di balik senyum yang menghiasi wajahnya, masih tersimpan kegelisahan yang enggan pergi. Alya sadar kebahagiaan itu bisa saja hanya sementara. Jauh di dalam hatinya, ia tetap dihantui bayangan bahwa suatu hari nanti akan datang badai yang menguji ketenangan yang baru saja ia temukan.
Usai menikmati sarapan, suasana di rumah baru itu masih terasa begitu asing bagi Alya. Meski perlahan mulai menyesuaikan diri, ia belum terbiasa hanya duduk diam tanpa melakukan apa pun. Secara spontan, ia bangkit dari kursinya lalu ikut membantu para pelayan mengangkat piring, gelas, dan peralatan makan yang telah selesai digunakan untuk dibawa ke dapur.
"Silakan beristirahat saja, Nyonya. Urusan di sini biar kami yang menyelesaikannya," ujar salah seorang pelayan dengan senyum hormat. Pelayan lain yang berada di dekatnya ikut menganggukkan kepala. "Benar, Nyonya. Ini sudah menjadi tanggung jawab kami. Jangan sungkan menyerahkannya kepada kami."
Alya tersenyum canggung sambil menggeleng pelan. "Tidak perlu sungkan. Aku memang terbiasa mengurus pekerjaan seperti ini. Lagipula, aku hanya ingin meringankan pekerjaan kalian, tidak lebih."
Nada suara Alya terdengar lembut, tetapi tersimpan keteguhan yang sulit dipatahkan. Bertahun-tahun menjalani hidup dengan memikul berbagai kesulitan telah membentuknya menjadi pribadi yang selalu ingin bergerak dan melakukan sesuatu. Baginya, berdiam diri sambil membiarkan orang lain bekerja justru terasa asing.
Di ruang keluarga, Rayan tampak menghabiskan waktunya bersama Fariz. Tawa bocah itu memenuhi ruangan saat ia asyik bermain di atas karpet, dikelilingi berbagai mainan baru yang berserakan di sekitarnya. Pemandangan sederhana itu memancarkan kehangatan yang menenangkan, namun bagi Alya, semuanya masih terasa begitu asing. Ia hanya berdiri beberapa langkah di belakang, memandangi keduanya dalam diam seolah masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu benar-benar nyata.
Setelah semua urusan di dapur selesai, Alya kembali mencari kesibukan. Ia menghampiri beberapa pelayan yang sedang bersiap merapikan taman belakang, lalu dengan sopan menawarkan bantuan. Namun, seperti sebelumnya, niat baiknya kembali disambut dengan penolakan yang halus. Para pelayan tetap mempersilahkannya beristirahat dan membiarkan mereka menyelesaikan seluruh pekerjaan itu sendiri.
"Nyonya tidak perlu turun tangan," ucap salah seorang pelayan dengan senyum hormat. "Semua pekerjaan di sini sudah menjadi tanggung jawab kami. Jika Nyonya ingin beristirahat atau menemani Tuan Muda Fariz, silakan saja. Biarkan kami yang mengurus sisanya."
Alya hanya membalas dengan anggukan kecil. Meski wajahnya tetap tenang, ada kegelisahan yang mengusik hatinya. Ia sebenarnya ingin menghampiri Fariz dan ikut bermain, tetapi kehadiran Rayan membuat langkahnya tertahan. Rasa canggung itu masih terlalu kuat untuk diabaikan.
Akhirnya, Alya memutuskan mengalihkan pikirannya dengan berkeliling rumah. Ia menyusuri setiap sudut yang belum sempat dijelajahi sejak tiba sehari sebelumnya. Seorang pelayan setia menemaninya, berjalan di sampingnya sambil memperlihatkan setiap ruangan, lorong, dan fasilitas yang ada di rumah besar itu.
Di ruang keluarga, tawa riang Fariz perlahan mereda ketika nada dering ponsel memecah suasana. Rayan merogoh saku celananya dan melirik layar yang menampilkan nama Arka. Ia segera bangkit dari duduknya, lalu mengusap lembut puncak kepala putranya sebagai bentuk perhatian.
Setelah itu, Rayan mengangkat pandangan ke arah seorang pelayan yang sejak tadi berjaga dengan tenang di sudut ruangan. Ia memberi isyarat singkat agar pelayan tersebut menemani Fariz selama dirinya menerima panggilan.
"Tolong awasi Fariz sebentar," ujar Rayan dengan nada tenang. "Aku harus menerima telepon."
Pelayan itu segera mendekati Fariz, lalu ikut duduk di atas karpet agar bocah kecil itu tetap memiliki teman bermain. Sementara itu, Rayan melangkah menjauh menuju sisi ruangan yang lebih sepi. Ia mengangkat ponselnya ke telinga dan mulai berbicara dengan suara pelan, cukup lirih agar percakapannya tidak terdengar oleh orang lain.
"Tuan, bagaimana dengan desa tempat nyonya tinggal sebelumnya? " Suara arka terdengar di seberang.
Rayan memandang lurus ke arah jendela. Tatapannya kosong, sementara embusan napas panjang lolos dari bibirnya. "Arka, urus semuanya," ucapnya pelan namun tegas. "Aku ingin tanah tempat Alya dulu tinggal dibeli. Bangun kembali rumahnya hingga layak dihuni. Kalau suatu hari nanti dia ingin kembali ke desa itu, setidaknya masih ada tempat yang bisa disebut rumah." Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan. "Perbaiki juga akses jalannya. Dan jangan lupa sisihkan dana untuk renovasi musala di sana. Anggap saja itu sebagai bentuk terima kasihku kepada warga yang pernah menerima Alya dengan baik."
"Baik, Tuan. Saya akan mengurus semuanya secepatnya," jawab Arka tanpa ragu. Nada suaranya mantap, menunjukkan bahwa ia telah memahami setiap perintah yang diberikan.
Rayan menundukkan kepala beberapa saat. Ada pergulatan yang tak terlihat di balik sorot matanya, seakan ia sedang meneguhkan hati atas keputusan yang baru saja diambil.
Ketika kembali mengangkat wajah, pandangannya langsung tertuju pada Alya yang melangkah perlahan di sepanjang lorong. Di samping wanita itu berdiri seorang pelayan yang dengan sabar mendampinginya.
Suasana sempat diliputi keheningan singkat. Tanpa berkata apa-apa, Rayan melangkah menghampiri. Melihat sang majikan datang, pelayan itu segera membungkukkan badan memberi hormat, lalu mundur dengan tenang, memberi ruang agar Rayan dapat berbicara berdua dengan istrinya.
Alya membeku saat menyadari Rayan berjalan ke arahnya. Seketika rasa canggung menyelimuti dirinya, membuat setiap gerakannya tampak kaku dan penuh kehati-hatian.
Jemarinya saling menggenggam erat, sementara pandangannya jatuh ke lantai. Ia menarik napas perlahan, berusaha meredakan debaran di dadanya dan menenangkan hati yang mendadak gelisah di hadapan pria itu.
"Bagaimana perasaanmu berada di sini?" tanya Rayan pelan. Suaranya terdengar hangat, tetapi ada kehati-hatian yang terselip di setiap katanya. "Apakah rumah ini sudah cukup nyaman untukmu?" Rayan menatap Alya, seolah menunggu jawaban yang benar-benar keluar dari hatinya, bukan sekadar ucapan untuk menyenangkan dirinya.
Alya sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Ya... rumah ini sangat nyaman," jawabnya lirih. Suaranya masih terdengar gugup, seolah ia belum terbiasa mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Rayan menatap Alya dengan saksama. Ada keraguan yang tertahan di matanya, seolah pertanyaan itu telah lama memenuhi pikirannya dan kini ia tak sanggup lagi menyimpannya sendiri. "Alya... bolehkah aku menanyakan sesuatu?" ucapnya pelan. Suaranya terdengar hati-hati, seperti takut jawaban yang akan ia dengar nanti mengubah segalanya.
Alya menelan gugup, jemarinya kembali saling menggenggam tanpa sadar. Ia sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Tanyakan saja," jawabnya pelan. "Aku akan menjawabnya." Meski terdengar tenang, sorot matanya masih menyimpan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Rayan menghela napas panjang. Rahangnya tampak menegang, seolah pertanyaan yang hendak ia ucapkan membutuhkan keberanian besar untuk keluar dari bibirnya. "Alya..." panggilnya pelan. Tatapannya melekat pada wanita di hadapannya. "Setelah semua yang terjadi waktu itu... apakah kamu masih bisa menerimaku? Atau sebenarnya kamu membenciku?" Suaranya terdengar berat, menyimpan rasa bersalah yang selama ini ia pendam.
Keheningan seketika memenuhi ruangan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara, seolah pertanyaan Rayan menggantung berat di antara keduanya. Alya hanya diam, sementara Rayan menunggu dengan tatapan penuh harap dan kecemasan, menanti jawaban yang mungkin akan mengubah hubungan mereka.
Alya terdiam cukup lama. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan mata yang mulai berkabut oleh air mata yang tertahan. Setelah berusaha menguatkan dirinya, akhirnya bibirnya bergerak perlahan. Suaranya keluar begitu pelan, hampir tak terdengar, seakan setiap kata yang ia ucapkan membawa beban yang berat.
"Awalnya... aku benar-benar membencimu, Rayan," ujar Alya lirih. Matanya mulai berkaca-kaca, mengingat kembali masa lalu yang begitu menyakitkan. "Ketika aku mengetahui aku mengandung, lalu harus melewati semuanya sendirian sampai melahirkan Fariz tanpa siapa pun di sisiku... aku merasa hidupku sudah tidak memiliki harapan lagi." Ia menarik napas bergetar, berusaha menahan air mata yang mulai jatuh. "Saat itu aku bahkan pernah berharap tidak pernah mengenalmu. Aku berpikir, mungkin semuanya akan lebih mudah jika aku tidak pernah bertemu denganmu sejak awal."
Air mata Alya semakin tak terbendung. Bahunya bergetar hebat, sementara napasnya mulai tersengal menahan tangis yang sejak lama ia pendam. Ia mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajah, berusaha menyembunyikan luka dan isakan yang perlahan pecah di hadapan Rayan.
Rayan memejamkan mata sejenak. Dadanya terasa sesak, sementara rasa bersalah yang selama ini ia tekan perlahan kembali menghantam dirinya. Ketika akhirnya berbicara, suaranya terdengar berat dan serak. "Alya... maafkan aku," ucapnya pelan. "Apa yang terjadi padamu semua berawal dari kesalahanku. Aku tidak berhati-hati, aku membiarkan diriku berada dalam keadaan yang membuat semuanya terjadi. Ia menundukkan kepala, tak sanggup menghindari tatapan wanita itu. "Aku mungkin tidak mengingat kejadian itu dengan jelas, tapi aku tahu satu hal... hidupmu berubah karena ulahku. Kamu harus menanggung luka yang seharusnya tidak pernah kamu alami."
Perlahan Rayan mengangkat tangannya, berniat menghapus jejak air mata yang membasahi wajah Alya. Namun, sebelum sentuhannya sempat sampai, Alya lebih dulu memalingkan wajah. Ia segera menyeka air matanya sendiri dengan jemari, seakan ingin menunjukkan bahwa dirinya masih mampu bertahan. Gerakan kecil itu membuat Rayan terdiam. Alya bukan menolak karena tidak merasakan apa pun, tetapi karena hatinya masih berusaha melindungi diri dari kelembutan yang hampir membuat pertahanannya runtuh.
Suasana kembali sunyi di antara mereka. Hanya terdengar suara tawa kecil Fariz dari ruang keluarga, mengalun lembut dan memecah kesunyian yang terasa berat. Suara anak itu menjadi satu-satunya kehangatan di tengah luka dan penyesalan yang masih memenuhi hati kedua orang tuanya.
Rayan hanya berdiri diam, memandangi punggung Alya yang tampak begitu rapuh. Ada luka yang masih jelas terlihat dalam sikap wanita itu, luka yang ia tahu tidak bisa sembuh hanya dengan kata maaf.
Dalam hati, Rayan membuat sebuah janji. Seberapa pun panjang waktu yang dibutuhkan, ia akan tetap menunggu. Ia akan membuktikan bahwa dirinya pantas mendapatkan kembali kepercayaan Alya, hingga suatu hari nanti wanita itu benar-benar mampu menerimanya dengan tulus.