NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Sah

Hari yang ditunggu akhirnya tiba.

Sejak pagi, hotel bintang lima milik keluarga Kalandra sudah dipenuhi kesibukan. Para staf bergerak cepat namun tetap rapi, memastikan setiap detail acara berjalan sempurna. Dari lobi utama hingga ballroom, semuanya disiapkan dengan standar terbaik.

Pernikahan Arshaka Zayd Kalandra dan Jennaira Hanania Mecca Nirankara bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga dua keluarga besar yang memiliki nama kuat di negeri ini.

Namun bagi Jenna, hari itu bukan tentang kemewahan.

Bukan tentang hotel megah.

Bukan tentang tamu-tamu penting yang hadir.

Bukan pula tentang nama Kalandra atau Nirankara.

Hari itu adalah tentang satu kalimat yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Saya terima nikahnya…

Ballroom utama hotel tampak seperti taman bunga yang dibawa masuk ke dalam ruangan. Pelaminan besar berdiri anggun di ujung aula, dihiasi fresh flower dengan nuansa warna pink, putih, dan dusty pink. Mawar, peony, hydrangea, baby’s breath, dan lily tersusun indah di setiap sudut, menciptakan suasana lembut sekaligus mewah.

Lampu kristal besar menggantung di langit-langit ballroom, memantulkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan tampak hangat. Kursi tamu berbalut kain putih tertata rapi. Di sepanjang lorong menuju meja akad, hamparan bunga segar menghiasi sisi kanan dan kiri, seolah setiap langkah menuju pernikahan itu diberkahi dengan keindahan.

Di salah satu kamar hotel, Jenna duduk di depan cermin besar.

Ia mengenakan gaun pengantin syar’i berwarna putih rancangan Syana. Gaun itu sederhana, tetapi sangat anggun. Detail renda halus menghiasi ujung lengan dan bagian bawah gaun. Khimar panjangnya jatuh lembut menutupi tubuhnya dengan sempurna, sementara cadar putih senada membuat penampilannya terlihat teduh dan menenangkan.

Namun di balik semua keanggunan itu, tangan Jenna terasa dingin.

Ia gugup.

Sangat gugup.

Syana yang berdiri di sampingnya menyadari hal itu. Sahabatnya itu tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan Jenna.

“Jen,” panggil Syana pelan.

Jenna menoleh.

“Napas dulu.”

Jenna menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya pelan-pelan.

Syana tersenyum. “Kamu cantik banget hari ini.”

Mata Jenna berkaca-kaca. “Syana…”

“Jangan nangis dulu. Aku susah payah bikin makeup kamu tahan air, tapi bukan berarti harus langsung diuji sebelum akad selesai.”

Jenna tertawa kecil, meski suaranya sedikit bergetar.

“Aku gugup.”

“Aku tahu.”

“Rasanya cepat sekali. Kemarin Jenna masih di kafe, masih merangkai bunga, masih menjalani hari seperti biasa. Sekarang…” Jenna menatap pantulan dirinya di cermin. “Sekarang Jenna akan menjadi istri seseorang.”

Syana berdiri di belakang Jenna, lalu menatap sahabatnya melalui cermin.

“Takut?”

Jenna diam sebentar.

“Sedikit.”

“Itu wajar.”

“Jenna belum sepenuhnya mengenal Mas Shaka.”

“Tapi kamu sudah memilih untuk memberi jalan ini kesempatan.”

Jenna menunduk.

Syana melanjutkan dengan suara lebih lembut, “Jen, pernikahan bukan berarti kamu harus langsung tahu semua hal tentang dia hari ini. Kamu dan Mas Shaka masih bisa belajar. Pelan-pelan. Yang penting, kalian sama-sama mau menjaga.”

Jenna menggenggam tangan Syana lebih erat.

“Bagaimana kalau Jenna tidak bisa menjadi istri yang baik?”

Syana menatap sahabatnya dengan tegas.

“Kamu akan belajar. Sama seperti kamu belajar membangun kafe dari nol. Sama seperti kamu belajar merangkai bunga sampai orang-orang datang kembali karena merasa nyaman. Kamu tidak harus sempurna hari ini.”

Jenna mengangkat wajah.

Syana tersenyum.

“Kamu hanya perlu hadir dengan hati yang baik. Dan aku tahu kamu punya itu.”

Air mata Jenna hampir jatuh, tetapi ia menahannya.

“Terima kasih, Syana.”

Syana mengangguk, lalu merapikan sedikit bagian cadar Jenna.

“Sekarang duduk tenang. Sebentar lagi kamu resmi jadi Nyonya Kalandra.”

Jenna langsung menunduk malu.

“Syana…”

“Apa? Itu fakta.”

Sebelum Jenna sempat menjawab, pintu kamar diketuk pelan. Zahra masuk bersama seorang panitia keluarga. Wajah Zahra tampak haru, tetapi ia berusaha tersenyum agar putrinya tidak semakin gugup.

“Nak,” panggil Zahra lembut. “Akad akan segera dimulai.”

Jenna berdiri perlahan.

Zahra mendekat, menatap putrinya dari ujung kepala hingga kaki. Air mata langsung memenuhi matanya.

“Masyaallah,” bisiknya. “Putri Ibu cantik sekali.”

Jenna memeluk ibunya erat.

“Doakan Jenna, Bu.”

Zahra mengusap punggung putrinya lembut.

“Selalu, Nak. Ibu selalu mendoakanmu.”

Beberapa menit kemudian, Zahra keluar untuk bergabung dengan keluarga di ruang akad. Jenna tetap menunggu di kamar bersama Syana. Karena prosesi akad akan dimulai dengan wali dan mempelai pria lebih dahulu, Jenna diminta menunggu sampai ijab kabul selesai.

Waktu terasa berjalan lambat.

Jenna duduk kembali, tetapi hatinya seperti ikut berada di ruang akad.

Ia membayangkan ayahnya duduk berhadapan dengan Shaka. Membayangkan suara Reza yang mungkin bergetar saat menikahkan putri bungsunya. Membayangkan Shaka dengan wajah dinginnya, mengucapkan kalimat yang akan menjadikannya suami.

Di ruang akad, suasana hening dan khidmat.

Reza duduk sebagai wali. Wajahnya tenang, tetapi matanya tidak mampu menyembunyikan haru. Di hadapannya, Shaka duduk tegap dengan setelan pengantin putih yang membuat wajah tegasnya terlihat lebih bersih dan berwibawa.

Aditya dan Aruna duduk tidak jauh dari Shaka. Aruna sudah beberapa kali mengusap sudut matanya. Di sisi lain, Zahra menggenggam tisu di tangannya, sementara Abizar menatap adiknya dari kejauhan meski Jenna belum berada di ruangan itu.

Penghulu memberi arahan singkat.

Lalu saat itu tiba.

Reza menatap Shaka dalam-dalam.

Di hadapannya bukan lagi sekadar putra sahabatnya.

Laki-laki itu sebentar lagi akan menjadi imam bagi putri kecilnya.

Dengan suara yang tertahan namun tegas, Reza mengucapkan ijab.

Shaka menjawab dengan suara rendah, jelas, dan mantap.

Tidak ada pengulangan.

Tidak ada keraguan.

Beberapa detik setelah kalimat itu selesai, saksi mengangguk.

“Sah.”

“Sah.”

Kata itu menggema di ruang akad.

Singkat.

Sederhana.

Namun cukup untuk mengubah hidup dua manusia.

Di kamar, suara itu terdengar samar melalui pengeras suara yang tersambung dari ruang akad.

“Sah.”

Jenna terdiam.

Dunia di sekitarnya seakan berhenti sejenak.

Syana yang berdiri di sampingnya langsung menggenggam tangannya.

“Jen…”

Air mata Jenna akhirnya jatuh.

Bukan karena sedih.

Bukan karena takut.

Melainkan karena kesadaran yang turun begitu dalam ke hatinya.

Ia sudah menjadi seorang istri.

Istri dari Arshaka Zayd Kalandra.

Jenna menunduk, membiarkan air matanya jatuh perlahan di balik cadar putihnya.

“Syana,” bisiknya.

“Iya?”

“Jenna sudah menikah.”

Syana tersenyum haru, matanya ikut berkaca-kaca.

“Iya, Jen. Kamu sudah menikah.”

Jenna menarik napas yang bergetar.

Di balik rasa gugup dan haru, ada ketenangan yang pelan-pelan hadir. Seperti doa yang akhirnya menemukan tempatnya.

Tak lama kemudian, seorang panitia mengetuk pintu.

“Bu Jenna, sudah waktunya masuk ke ruang akad.”

Syana mengusap cepat air matanya sendiri, lalu membantu Jenna berdiri.

“Ayo,” ucap Syana lembut. “Suamimu menunggu.”

Kata suamimu membuat langkah Jenna hampir tertahan.

Namun Syana menggenggam tangannya, menenangkan.

Mereka keluar dari kamar dan berjalan menuju ballroom tempat akad berlangsung. Setiap langkah Jenna terasa pelan, tetapi penuh makna. Di sepanjang lorong, beberapa keluarga dekat tersenyum haru melihatnya.

Saat pintu ballroom dibuka, seluruh pandangan perlahan tertuju kepada Jenna.

Namun Jenna hanya melihat satu orang.

Shaka.

Laki-laki itu berdiri di dekat meja akad.

Dan untuk pertama kalinya, Jenna melihat Shaka bukan sebagai pelanggan di kafenya, bukan sebagai calon yang dilamarkan keluarganya, bukan pula sebagai laki-laki dingin yang duduk diam di ruang tamu rumahnya.

Hari itu, Shaka adalah suaminya.

Shaka menoleh ketika Jenna memasuki ruangan.

Dan ia terdiam.

Benar-benar terdiam.

Jenna berjalan perlahan dengan gaun putih yang jatuh anggun, cadar senada menutupi wajahnya, dan sepasang mata cokelat terang yang tampak basah oleh air mata. Di bawah cahaya lembut ballroom dan hamparan bunga putih merah muda di sekitarnya, Jenna terlihat seperti doa yang berjalan mendekat.

Shaka sudah melihatnya memakai gaun itu saat fitting.

Namun hari ini berbeda.

Hari ini Jenna bukan hanya calon pengantin.

Ia adalah istrinya.

Ada sesuatu di dada Shaka yang bergerak kuat, lebih kuat daripada yang sanggup ia abaikan.

Ia terpesona.

Bukan hanya karena Jenna cantik.

Tetapi karena ia terlihat begitu lembut, begitu suci, begitu jauh dari dunia keras yang selama ini Shaka kenal.

Jenna berhenti di hadapannya.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.

Mata Jenna masih basah. Mata Shaka tetap tenang, tetapi tidak sedingin biasanya.

Penghulu memberi isyarat agar prosesi dilanjutkan.

Jenna duduk di hadapan Shaka. Tangannya sedikit gemetar ketika ia mengulurkannya.

Shaka melihat getaran kecil itu.

Tanpa banyak bicara, ia menyambut tangan Jenna dengan hati-hati.

Jenna menunduk, lalu mencium punggung tangan Shaka untuk pertama kalinya.

Gerakan itu sederhana, tetapi membuat Shaka membeku sesaat.

Ada rasa yang asing menyentuh dadanya.

Rasa dihormati.

Rasa dipercaya.

Rasa memiliki seseorang yang kini berada dalam tanggung jawabnya.

Jenna melepaskan tangan Shaka perlahan.

Lalu Shaka menatapnya.

Ia tidak tahu bagaimana mengatakan semua yang bergemuruh di dadanya. Ia tidak pandai dengan kata-kata manis. Ia tidak terbiasa menunjukkan perasaan di depan banyak orang. Tetapi hari itu, di hadapan keluarga mereka, Shaka tahu ada satu hal yang harus ia lakukan.

Ia mendekat sedikit.

Jenna menunduk, gugup.

Dengan gerakan sangat pelan, Shaka mencium kening Jenna untuk pertama kalinya.

Ciuman itu lembut.

Singkat.

Namun cukup membuat air mata Jenna kembali jatuh.

Di sekeliling mereka, Aruna menangis haru. Zahra menutup mulutnya sambil meneteskan air mata. Reza memalingkan wajah sebentar, menahan emosi seorang ayah yang baru saja menyerahkan putrinya. Aditya tersenyum bangga, sementara Abizar menarik napas panjang, berusaha tetap terlihat tenang meski matanya ikut memerah.

Syana yang berdiri tidak jauh dari mereka sudah menangis tanpa malu.

“Bahagia ya, Jen,” bisiknya pelan, meski Jenna tidak mendengarnya.

Setelah Shaka menjauh, Jenna mengangkat wajah perlahan.

Mata mereka bertemu lagi.

Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Bukan lagi tatapan dua orang asing.

Bukan lagi tatapan antara pelanggan dan pemilik toko bunga.

Bukan lagi tatapan canggung antara calon pengantin yang dipertemukan keluarga.

Hari itu, tatapan itu milik sepasang suami istri yang baru saja memulai jalan panjang.

Shaka menatap Jenna, lalu berkata dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh perempuan di hadapannya.

“Mulai hari ini, kamu tanggung jawab saya.”

Jenna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Dan Mas Shaka amanah untuk Jenna.”

Kalimat itu membuat Shaka diam.

Amanah.

Kata itu lebih dalam daripada sekadar status suami.

Lebih berat daripada sekadar pernikahan mewah.

Lebih nyata daripada semua bunga dan cahaya di ballroom itu.

Shaka mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin mundur dari jalan ini.

Mungkin ia belum sepenuhnya mengerti cinta.

Mungkin hatinya masih menyimpan luka.

Mungkin pernikahan ini datang terlalu cepat, terlalu tiba-tiba, terlalu berbeda dari semua rencana hidupnya.

Namun saat menatap Jenna yang kini telah menjadi istrinya, Shaka tahu satu hal.

Ia ingin menjaga perempuan ini.

Dan di antara pelaminan penuh bunga segar berwarna pink, putih, dan dusty pink, di bawah cahaya lembut hotel milik keluarga Kalandra, kehidupan baru mereka dimulai.

Bukan dengan janji cinta yang berlebihan.

Melainkan dengan satu kata yang sederhana.

Sah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!