Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Pria Bernama Raka
Pagi itu, suasana kantor terasa lebih sibuk dari biasanya.
Tim proyek sedang berpacu dengan waktu setelah klien memajukan tenggat pekerjaan.
Semua orang terlihat fokus.
Semua orang terlihat serius.
Kecuali satu orang.
Siska.
"Nara, menurutmu kalau aku resign terus jadi selebgram sukses, hidupku bakal lebih tenang nggak?"
Nara yang sedang mengetik laporan bahkan tidak mengangkat kepala.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena kamu akan tetap cerewet."
Siska langsung memukul pelan bahu sahabatnya.
"Jahat."
"Realistis."
Siska mendengus.
Namun sedetik kemudian ia kembali tersenyum.
Seolah tidak pernah kesal.
Nara terkadang heran bagaimana wanita itu bisa begitu ceria setiap hari.
Di sisi lain ruangan.
Damar sedang menjelaskan sesuatu kepada anggota tim.
Suasana langsung berubah serius.
Nara diam-diam memperhatikan.
Meski enggan mengakuinya, pria itu memang memiliki kemampuan memimpin yang luar biasa.
Tidak pernah berbicara berlebihan.
Tidak suka membuang waktu.
Namun setiap instruksi yang diberikan selalu jelas.
"Tim desain akan mengirim revisi sore ini."
ucap Damar.
"Kita harus menyelesaikan evaluasi sebelum pukul enam."
Semua orang mengangguk.
Tidak ada yang berani membantah.
Bahkan para manajer senior.
Hal itu kembali membuat Nara penasaran.
Sebenarnya siapa Damar?
Semakin lama bekerja bersama pria itu, semakin besar rasa ingin tahunya.
Menjelang siang.
Pintu ruang proyek terbuka.
Seorang pria masuk dengan langkah santai.
Jas hitamnya tampak rapi.
Namun ekspresinya jauh berbeda dari Damar.
Pria itu tersenyum lebar.
Terlalu lebar.
"Selamat siang, rakyat jelata."
Seluruh ruangan langsung menoleh.
Kemudian...
Mengabaikannya.
Pria itu memegang dada.
"Wah, sakit sekali."
Siska tertawa.
"Siapa dia?"
bisiknya pada Nara.
"Mana aku tahu."
Belum sempat mereka menebak, pria itu langsung berjalan menuju meja Damar.
"Damar."
"Hm."
"Aku datang membawa kabar baik."
"Tidak tertarik."
"Kamu bahkan belum mendengarnya."
Damar tetap fokus pada laptop.
Pria itu menghela napas panjang.
Lalu menoleh ke seluruh ruangan.
"Aku Raka Mahendra."
Ia memperkenalkan diri sambil tersenyum.
"Kalau ada yang ingin mentraktirku makan siang, silakan daftar sekarang."
Beberapa orang tertawa.
Siska bahkan hampir tersedak minumannya.
Berbeda dengan Damar yang terlihat ingin mengusir sahabatnya itu.
Nara langsung menyimpulkan satu hal.
Mereka benar-benar bertolak belakang.
Tak lama kemudian.
Raka mulai mengobrol dengan beberapa anggota tim.
Kemampuannya mencairkan suasana benar-benar luar biasa.
Dalam waktu kurang dari lima menit, ia sudah membuat seluruh ruangan tertawa.
Termasuk Siska.
"Mas Raka lucu juga."
bisik Siska.
"Hati-hati."
jawab Nara.
"Kenapa?"
"Biasanya yang terlalu lucu punya banyak masalah."
Siska tertawa.
"Logika macam apa itu?"
Sebelum Nara sempat menjawab, Raka tiba-tiba berdiri di depan meja mereka.
"Kalian sedang membicarakanku?"
"Tidak."
jawab Nara cepat.
"Berarti iya."
Siska langsung tertawa.
Raka mengulurkan tangan.
"Kamu pasti Nara."
Nara membalas jabat tangan itu.
"Dan kamu pasti Siska."
Siska terlihat terkejut.
"Kok tahu?"
"Karena Damar pernah menyebut nama kalian."
Mata Siska langsung membesar.
"Nama kami?"
Raka mengangguk.
Sementara di sudut ruangan, Damar perlahan mengangkat kepala.
Tatapannya langsung tertuju pada sahabatnya.
Bahaya.
Sangat bahaya.
Namun Raka pura-pura tidak sadar.
Makan siang hari itu berlangsung ramai.
Sebagian besar anggota tim pergi bersama.
Termasuk Nara dan Siska.
Raka juga ikut.
Entah sejak kapan pria itu bergabung dengan rombongan mereka.
"Jadi kamu HRD?"
tanya Raka kepada Siska.
"Iya."
"Pantas."
"Pantas apa?"
"Kamu suka menginterogasi orang."
Siska langsung memukul lengan pria itu.
"Enak saja."
Raka tertawa keras.
Sementara Nara memperhatikan interaksi mereka.
Aneh.
Baru bertemu beberapa jam.
Namun keduanya sudah seperti teman lama.
Setelah makan siang.
Mereka kembali ke kantor.
Namun pekerjaan yang menumpuk membuat suasana kembali serius.
Nara sedang memeriksa data ketika tiba-tiba mendengar keributan dari area lobi.
Beberapa orang berlari.
Beberapa lainnya tampak panik.
"Ada apa?"
tanya Siska.
Salah satu staf menjawab.
"Seorang klien marah."
Semua langsung menoleh.
Tak lama kemudian suara teriakan terdengar.
Pria paruh baya sedang memarahi seorang staf resepsionis.
Wajah gadis itu tampak pucat.
Tangannya gemetar.
Nara langsung berdiri.
Ia paling tidak suka melihat orang yang lebih lemah diperlakukan semena-mena.
Namun sebelum sempat melangkah...
Damar sudah lebih dulu bergerak.
Pria itu berjalan menuju lobi.
Langkahnya tenang.
Namun auranya langsung membuat suasana berubah.
"Ada masalah?"
tanyanya.
Pria paruh baya itu masih marah.
Namun nada suaranya perlahan menurun.
Dalam beberapa menit.
Damar berhasil menenangkan situasi.
Tanpa berteriak.
Tanpa emosi.
Tanpa ancaman.
Nara memperhatikan semuanya.
Dan sekali lagi menyadari sesuatu.
Damar memang sulit disukai.
Tetapi ia juga sulit untuk tidak dihormati.
Sore hari.
Hujan kembali turun.
Cuaca beberapa hari terakhir memang tidak menentu.
Sementara sebagian besar karyawan mulai pulang.
Tim proyek masih bertahan.
Termasuk Nara.
Dan tentu saja Damar.
"Kenapa aku merasa kantor ini sudah jadi rumah kedua?"
keluh Siska.
"Karena kita terlalu sering lembur."
jawab Nara.
Raka yang kebetulan datang membawa kopi ikut tertawa.
"Selamat datang di dunia orang dewasa."
Siska memutar mata.
"Mas Raka, saya curiga hidup Anda terlalu santai."
"Itu bakat."
"Bukan bakat. Itu gangguan."
Raka langsung memegang dada.
"Sakit sekali."
Mereka kembali tertawa.
Bahkan beberapa anggota tim lain ikut tersenyum.
Suasana yang biasanya kaku perlahan berubah lebih hangat sejak kehadiran Raka.
Malam semakin larut.
Satu per satu anggota tim menyelesaikan pekerjaan mereka.
Nara sedang membereskan dokumen ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari ibunya.
"Jangan pulang terlalu malam, Nak."
Nara tersenyum tipis.
Kemudian membalas bahwa ia akan segera pulang.
Namun saat hendak menyimpan ponsel...
Lampu kantor tiba-tiba padam.
"Eh?"
Beberapa orang terkejut.
Suasana menjadi gelap.
Hanya cahaya dari luar jendela yang masuk.
"Nyalakan senter ponsel."
ucap seseorang.
Beberapa detik kemudian ruangan mulai terang kembali.
Namun saat itulah suara gaduh terdengar dari koridor.
Seorang pria asing tampak berusaha masuk ke area proyek.
Satpam langsung mengejarnya.
Pria itu terlihat mabuk.
Dan entah bagaimana berhasil masuk ke lantai mereka.
"Apa-apaan ini?"
gumam Siska.
Pria mabuk itu terus berjalan sambil mengumpat.
Membuat beberapa karyawan perempuan mundur.
Termasuk resepsionis yang tadi dimarahi klien.
Nara langsung berdiri.
Refleks.
Kebiasaan lama saat latihan bela diri.
Namun sebelum ia bergerak lebih jauh.
Seseorang sudah berdiri di depannya.
Damar.
Pria itu secara tidak sadar mengambil posisi melindungi anggota timnya.
Termasuk Nara.
Melihat pemandangan itu, Nara sedikit terkejut.
Karena tindakan tersebut terlihat sangat alami.
Seolah Damar memang terbiasa memastikan semua orang aman.
Untungnya petugas keamanan segera datang.
Pria mabuk itu berhasil diamankan.
Situasi kembali normal.
Namun setelah kejadian tersebut.
Nara semakin sadar.
Ada banyak sisi Damar yang belum ia kenal.
Dan setiap kali menemukan sisi baru itu...
Kebenciannya justru semakin sulit dipertahankan.
Sementara di sudut ruangan.
Raka memperhatikan sahabatnya.
Kemudian memperhatikan Nara.
Lalu tersenyum penuh arti.
"Sepertinya menarik."
gumamnya pelan.
Dan tanpa disadari siapa pun...
Kisah mereka perlahan mulai bergerak ke arah yang jauh lebih rumit daripada sekadar hubungan atasan dan bawahan.
Bersambung...