Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34. Arti mencintai
Detik pertama telapak tangan kasar Ubay menyentuh kulit kaki Nadia, aliran listrik yang sangat dahsyat seketika melesat, menyerang sistem saraf mereka berdua secara bersamaan. Tubuh Nadia refleks menegang, jemarinya mencengkram erat bantal di pangkuannya, sementara napasnya tercekat di kerongkongan. Rasa hangat dari telapak tangan Ubay terasa menjalar naik, membuat jantungnya berdegup ugal-ugalan di dalam dada.
Ubay pun merasakan hal yang sama. Kulit kaki Nadia terasa begitu halus dan dingin, kontras dengan telapak tangannya yang kasar. Ubay harus mati-matian menahan napasnya, mengunci rahangnya kuat-kuat agar getaran baper yang menggila di dalam dadanya tidak membuatnya melakukan gerakan yang salah.
Dengan sangat hati-hati, seolah sedang menyentuh barang porselen yang paling rapuh di dunia, Ubay mulai mengurut punggung kaki Nadia. Jempolnya yang besar bergerak memutar lembut, mendorong pelan cairan yang menyumbat di pergelangan kaki Nadia agar kembali lancar.
"Sakit gak?" tanya Ubay lirih, tanpa berani mendongak menatap wajah Nadia karena takut salah tingkahnya ketahuan.
"Ng-Nggak, Mas... pas kok. Enak," cicit Nadia dengan suara yang bergetar halus. Mata teduhnya bergerak memperhatikan puncak kepala Ubay, memperhatikan bagaimana rambut gondrong suaminya yang jatuh acak-acakan di sekitar pelipis, dan bagaimana seriusnya pria itu merawat dirinya.
Suasana di ruang tengah itu mendadak berubah menjadi sangat intim dan magis. Sentuhan tangan Ubay di kaki Nadia bukan lagi sekadar urusan meredakan bengkak, melainkan sebuah bahasa kalbu yang mengalirkan rasa sayang, perlindungan, dan pengabdian yang teramat dalam dari seorang pria kepada wanita yang dicintainya.
Namun, di tengah debaran asmara yang kian memuncak dan membakar dada keduanya, ada sebuah kesadaran besar yang bertindak sebagai rem mutlak bagi Ubay.
Ubay tahu diri. Sebagai seorang Muslim, ia cukup paham hukum agama di atas kertas pernikahan mereka. Nadia sedang mengandung anak dari pria lain akibat peristiwa kelam masa lalu. Secara hukum syariat, selama janin itu belum lahir ke dunia, mereka belum diperbolehkan untuk melakukan hubungan intim layaknya suami istri seutuhnya. Ada batas suci yang harus dijaga demi menghormati kesucian rahim dan aturan sang Pencipta.
Karena itulah, meskipun dadanya bergemuruh hebat dan naluri kelelakiannya mendesak, Ubay sama sekali tidak membiarkan tangannya bergerak naik melebihi batas betis Nadia. Ia mengunci pandangannya hanya pada pergelangan kaki yang bengkak, memperlakukan Nadia dengan penuh rasa hormat dan takzim, menahan segala ego liarnya demi menjaga marwah perempuan di hadapannya.
Setelah hampir lima belas menit memijat bergantian kedua kaki Nadia, Ubay akhirnya menyeka sisa minyak di tangannya dengan kain bersih. Ia berdiri perlahan, merapikan baskom air hangat tanpa berani menatap langsung mata Nadia yang kini sudah berkaca-kaca menahan haru.
"Udah... gak usah banyak gerak lagi. Habis ini langsung tidur, biar besok paginya gak bengkak lagi," kata Ubay lempeng, berusaha mengembalikan suara tegasnya yang sempat hilang.
Nadia mengangguk pelan, menyembunyikan senyum manisnya yang merekah indah di balik daster. "Iya, Mas Ubay... terima kasih banyak ya. Selamat istirahat, Mas."
"Ya." Ubay berbalik cepat, melangkah lebar-lebar menuju kamarnya di lantai atas dengan jantung yang masih berdetak berandalan. Di balik tangga, Ubay menyandarkan punggungnya ke dinding, menghembuskan napas panjang sembari menatap telapak tangannya yang masih menyisakan kehangatan kulit Nadia. Mereka berdua tahu, malam ini cinta telah menang telak di dalam rumah tua itu, kokoh berdiri di balik batas suci yang mereka jaga bersama.
**
Malam semakin larut menembus angka satu dini hari, namun gemercik sisa hujan di luar kalah bising dengan riuhnya pikiran yang berkecamuk di dalam rumah tua itu. Dua manusia di dalamnya, terpisah oleh dinding dan lantai, berada dalam jeratan gelisah yang sama, menatap langit-langit kamar dengan mata yang enggan terpejam.
Di kamar atas, Ubay berbaring telentang dengan satu lengan diganjal di bawah kepalanya. Kaos hitamnya sudah dilepas, menyisakan dada bidangnya yang naik turun dengan ritme napas yang berat dan tidak teratur. Udara malam yang sedingin es sama sekali tidak mampu mendinginkan darah kelelakiannya yang malam ini berontak hebat.
Sentuhan di kaki Nadia beberapa jam lalu ternyata berbuntut panjang. Sebagai pria dewasa yang normal dan matang, Ubay merasakan badai hormon yang mengamuk di dalam dirinya. Bayangan wajah Nadia yang merona, mata bulatnya yang teduh dan pasrah, serta aroma minyak telon yang manis terus-menerus menari di pelupuk matanya. Ada dorongan purba yang sangat kuat di dalam dadanya, keinginan untuk turun ke bawah, mengetuk pintu kamar itu, menarik Nadia ke dalam pelukannya, dan mengecap kelembutan bibir istrinya seutuhnya.
"Astaghfirullah..." Ubay mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mendengkus frustasi.
Pria gondrong itu membalikkan badannya ke kanan, lalu ke kiri, mencari posisi yang bisa menenangkan gejolak di bawah perutnya. Namun nihil. Setiap jengkal kulit tangannya seolah masih merekam dengan jelas betapa halusnya kulit Nadia. Mengetahui bahwa wanita yang sangat ia cintai itu tidur tepat di bawah kamarnya, sah secara hukum negara sebagai istrinya, namun sama sekali tidak bisa ia sentuh secara intim, menjadi siksaan batin yang teramat kejam malam ini.
**
Sementara itu di kamar bawah, Nadia pun setali tiga uang. Ia berbaring miring, memeluk bantal guling erat-erat ke arah dadanya. Perutnya yang membesar sesekali berkedut pelan, seolah sang bayi bisa merasakan kegundahan yang sedang melanda ibunya.
Nadia menatap nanar ke arah langit-langit kayu kamarnya, tempat di mana ia tahu persis posisi kasur Ubay berada di lantai atas. Di masa-masa kehamilan tua yang penuh dengan beban fisik dan emosional seperti ini, seorang wanita secara alami mendambakan kelembutan, dekapan hangat, dan validasi dari seorang pria. Dan malam ini, setelah merasakan bagaimana jemari kasar namun penuh kasih milik Ubay merawat kakinya yang sakit, jiwa Nadia meronta menginginkan lebih.
Ada rasa haus yang mendalam di lubuk hati Nadia akan kehadiran sosok suami seutuhnya. Ia ingin sekali berlari ke atas, menyandarkan kepalanya yang lelah di dada bidang Ubay, dan membiarkan tangan kekar pria itu mengelus perutnya hingga ia tertidur lelap. Nadia menginginkan Ubay bukan hanya sebagai pelindung, tapi sebagai pria yang berhak memiliki seluruh jiwa dan raganya.
"Nggak boleh, Nadia... nggak boleh," bisik Nadia lirih pada dirinya sendiri, menyembunyikan wajahnya yang mendadak panas ke dalam lipatan bantal. Air matanya nyaris menetes karena menahan sesak akibat kerinduan yang tertahan oleh dinding pembatas.
Kedua insan itu sama-sama terjaga, menanggung rindu dan gairah yang membakar, namun dipaksa tunduk pada satu kenyataan pahit, batas suci aturan agama. Aturan yang melarang hubungan intim selama masa iddah kehamilan dari pria lain demi kejelasan nasab sang anak.
Ubay tahu, melanggar batas itu berarti menodai kesucian wanita yang mati-matian ia lindungi martabatnya. Dan Nadia tahu, menyerah pada egonya berarti meruntuhkan keteguhan iman pria yang sangat ia hormati.
Ubay akhirnya bangkit dari kasurnya. Dengan langkah frustasi yang senyap, ia berjalan ke sudut kamar, mengambil wudhu, lalu membentangkan sejadah di atas lantai kayu. Di keheningan sepertiga malam itu, sang preman pasar memilih menundukkan kepala sedalam-dalamnya dalam sujud, menyerahkan seluruh ego kelelakiannya yang memberontak kepada pemilik semesta, memohon agar diberi kekuatan untuk menjaga Nadia tetap suci hingga waktunya tiba nanti.
Di bawah, Nadia yang mendengar derit halus lantai kayu di atasnya, tersenyum getir sembari memeluk perutnya. Di balik dinding kamar masing-masing, malam itu mereka sama-sama belajar arti dari mencintai yang paling tinggi, menahan diri demi memuliakan yang dicinta.
***
Yaa panik la.. 🤣🤣
jgn nyesel klo otongmu di mutilasi... n di kirim ke rmh org tuamu buat hadiah mereka🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣