Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: ULANGAN MATEMATIKA
Tepat setelah bel istirahat berbunyi nyaring, Arka dan Bintang langsung melangkah turun dari lantai atas menuju kelas 11 IPA 1.
Begitu siluet tubuh tinggi Arka muncul di ambang pintu, Anaya yang sejak tadi duduk manis langsung mengenali abangnya.
Mata bulatnya berbinar cerah, dan dengan gerakan super heboh, ia melambaikan kedua tangannya tinggi-tiinggi di udara.
“Abang!” teriak Naya melengking dari arah bangkunya, mengabaikan atensi teman-teman sekelasnya dibuat terkejut karna teriakannya.
Mendengar teriakan cempreng sang adik, Arka tersenyum tipis lalu melangkah masuk mendekati meja Naya bersama Bintang.
Begitu sampai di depan meja, pandangan Arka langsung menangkap pemandangan yang cukup ganjil.
Anaya tampak duduk manis sembari tersenyum-senyum tanpa dosa, sementara Arina di sebelahnya terlihat merengut kesal.
Di barisan bangku lain, Devan, Reno, dan Gavin justru kompak terkekeh geli.Situasi itu seketika membuat Arka merasa penasaran.
“Kenapa?” tanya Arka singkat pada teman-temannya, menuntut penjelasan.
“Tanya aja tuh sama si bocil maut,” jawab Reno sembari terkekeh, menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kejadian luar biasa saat jam pelajaran matematika tadi.
Arka yang mendengar ucapan Reno lantas mengalihkan pandangannya, menunduk menatap ke arah adik bungsunya yang kini tengah mendongak menatapnya dengan mata bulat yang berkedip polos.
“Apa?” tanya Anaya singkat dengan nada suara yang teramat lucu.
“Kenapa Arina cemberut begitu? Adek tidak nakal dan menjahili Arina, kan?” tanya Arka menyelidik, mencoba mencari tahu apakah adiknya berbuat ulah lagi di hari pertama sekolah ini.
Bukannya langsung menjawab pertanyaan sang abang, Anaya justru menutup mulut mungilnya dengan kedua tangan lalu terkikik geli.
“Hihi!”
“Kenapa malah tertawa, Adek?” tanya Arka semakin menaruh curiga pada gelagat ajaib adiknya.
“Arina tidak bisa mengerjakan soal ujian, Abang,” jawab Anaya polos di sela-sela kekehan kecilnya yang menggemaskan.
Mendengar perkataan Anaya, wajah Arina seketika memerah karena malu sekaligus kesal. Ia langsung mendengus sembari melirik tajam ke arah Naya.
“Ini semua gara-gara lo ya, Cil! Kenapa mesti pakai acara minta ulangan dadakan segala, sih? Gue mana ada persiapan belajar semalam!” dengus Arina kesal.
“Itu kan karena Arina tidak belajar lagi di rumah. Makanya Arina jadi tidak bisa menjawab soal-soalnya,” celetuk Naya polos dengan wajah tanpa bersalah sedikit pun.
Kalimat telak dan jujur dari bibir mungil Naya itu seketika membuat Arina semakin gemas setengah mati.
Jemarinya sudah bergerak-gerak di udara, rasanya ingin sekali mencubit kedua pipi tembam teman sebangku barunya itu.
Arka akhirnya paham sekarang. Ternyata adiknya yang dengan berani meminta ulangan dadakan secara langsung kepada guru matematika.
Mengetahui fakta unik tersebut, Arka, Bintang, Gavin, bahkan Devan tidak bisa lagi menahan kekehan hangat mereka.
Arka melangkah maju lalu menjulurkan tangannya untuk membelai lembut rambut cokelat halus Naya dengan penuh rasa sayang.
“Memangnya Adek bisa menjawab semua soal ulangannya?” tanya Arka penasaran, ingin menguji sejauh mana kepintaran adiknya.
Naya mengangguk ribut dengan binar mata yang bersemangat cerah. “Bisa! Soal-soalnya mudah, Abang!” ucap Naya dengan nada senang dan bangga, membuat Devan yang sejak tadi berdiri diam di belakang Arka kembali mengulum senyuman tipis karena merasa terhibur oleh rasa percaya diri sang kelinci kecil.
Skip di area kantin yang luas dan ramai.
Setelah berjalan menyusuri koridor, Anaya, Arina, Arka, dan teman-temannya sudah duduk di meja kantin yang panjang.
Mereka sedang menunggu pesanan mereka datang.
Tak berselang lama, pelayan kantin datang membawakan nampan besar berisi piring nasi goreng hangat yang aromanya sangat menggoda selera khusus untuk Naya, lengkap dengan es teh manis.
Begitu melihat makanan pesanannya mendarat di atas meja, mata bulat Anaya seketika melebar. Ia bersorak kecil sembari bertepuk tangan dengan sangat gembira.
“Yeayyy! Makan banyak-banyak!” girang Anaya.
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB 22..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP PAGI DAN MALAM JAM 08.00-09.00 dan 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 08.00-09.00 dan 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
udah bikin satu kelas mikir berjamaah dianya malah anteng anteng aja🤭
Jangan lupa like, komen dan klik favorit yaa🥰
HAPPY READING & HOPE YOU ENJOY GUYSSS💜