Bagaimana perasaan mu, ketika kau di jual oleh keluarga mu demi beberapa lembar uang?. Bahkan ketika kau tak memiliki siapapun, selain mereka. Sakit bukan?
Itulah yang di alami Rachel, gadis yang dari kecil di adopsi oleh keluarga Darwin dari panti asuhan.
Mereka membesarkan gadis itu di bawah tekanan, dan berbagai macam penderitaan. Yang ada dalam benak mereka, hanyalah kebahagiaan Carene. Gadis yang lahir tak lama setelah Rachel di adopsi.
Keluarga Darwin bahkan tega menjual anak angkatnya itu kepada keluarga Kim James. Demi menutupi skandal yang dibuat oleh Carene dan putra tunggal Kim James.
Di keluarga Kim, Rachel mengalami berbagai macam siksaan dan penderitaan. Bahkan gadis itu hampir meregang nyawa di tangan Ayud Jonathan, laki-laki yang telah menghamili Carene.
Akan kah pada akhirnya Rachel berhasil menemukan kebahagiaan nya?
Atau dia memilih menyerah dan selamanya menjadi orang yang kalah?
Novel ini menceritakan tentang perjuangan berat yang harus dilalui oleh Rachel untuk menemukan kebahagiaan nya.
Beberapa adegan di dalamnya, sukses membuat hati tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duri manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IPK BAB XVI - Memberanikan Diri -
Pagi itu, Rachel terbangun ketika mendengar alarm di HP miliknya berbunyi. Ia melihat ke sekeliling beberapa saat, dan tersenyum kecut ketika menyadari ia masih tidur dengan manis di ruang tamu.
Tadi malam setelah kedatangan Carene, hatinya menjadi sangat sedih. Ia begitu terpukul dengan kenyataan, bahwa gadis itu kembali dengan raut wajah yang sedikitpun tanpa rasa bersalah. Bahkan terlihat baik-baik saja dan bahagia.
Carene terlihat sangat bahagia dengan kehidupan barunya. Berbeda dengan Rachel yang setiap hari harus bersedih menghadapi kenyataan pahit. Betapa ia merasa iri dengan kehidupan saudara tirinya itu, andai saja ia bisa seperti itu.
Namun, lagi-lagi di buangnya jauh-jauh pikiran seperti itu. Ia menyadari hal seperti itu tak akan pernah terjadi, itu hanya akan menjadi angan-angan nya saja. Semua terasa semakin sulit, hari demi hari.
Gadis itu mengusap matanya yang terasa agak sedikit perih, lalu berjalan menuju kamar mandi. Ketika ingin mencuci wajahnya, ia terkesiap melihat pantulan dirinya sendiri dalam cermin. Ia tampak begitu kusut dan berantakan.
Matanya membengkak, kantung mata yang begitu ketara. Rasanya semalam ia telah menghabiskan seluruh air matanya hingga tak bersisa lagi sekarang.
...Rachel POV...
Ku tatap wajah kusut di cermin itu, terlihat sangat berantakan. Iya, itu adalah pantulan diriku. Seorang gadis malang yang baru saja mengabiskan seluruh malam nya dengan menangis.
Aku tak tahu harus bersikap seperti apa, mood ku rasanya benar-benar hancur berantakan. Setelah mengalami hari yang begitu melelahkan, berpura-pura bahagia di depan kakek. Aku ingin sedikit bernafas lega, namun ternyata tak bisa.
Kehadiran Carene telah benar-benar merusak hariku bahkan hatiku. Aku tak pernah menyangka, ia akan kembali lagi setelah sekian lama menghilang. Gadis itu benar-benar angkuh.
Aku kembali menangis ketika memikirkan apa yang telah ku lalui selama ini, membayangkan betapa sulitnya untuk aku meraih bahagia. Betapa terasa jauhnya kata bahagia itu untuk aku rasakan dalam hidup ini.
...Rachel POV End...
Gadis itu masih larut dalam lamunannya, tiba-tiba salah seorang pelayan datang menemuinya,
"Nyonya, tuan besar ingin bertemu anda. Beliau menunggu di ruang tamu".
Gadis itu mengangguk, lalu segera mencuci wajahnya di wastafel. Ia mengusap pelan matanya yang terlihat membengkak, lalu memakai kan sedikit bedak di sana.
"Pagi kakek, maaf tadi saya habis cuci muka. Apa kakek sudah lama datang?".
Kakek Liam tersenyum,
"Tidak apa-apa nak. Sini duduk dulu, ada yang mau kakek sampaikan padamu".
Ia menatap wajah gadis itu dengan sendu seolah ada kesedihan mendalam yang di tahan nya,
"Kakek baik-baik saja kan? Kakek kenapa?".
Gadis itu bertanya dengan raut muka cemas yang tak bisa dia sembunyikan. Kakek Liam memegang pundak gadis itu,
"Maafkan kakek ya nak, gara-gara keegoisan kakek kamu terpaksa harus mengalami ini semua. Kakek pikir asalkan cucu kakek bisa berubah, tak apa untuk mengambil mu menjadi istri nya".
Laki-laki paruh baya itu berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.
"Kakek yang menyuruh Anna dan Kim memilih mu menjadi istri Ayud menggantikan Carene. Kakek pikir anak itu bisa berubah karena gadis sebaik kamu. Ternyata ia semakin menjadi-jadi dengan kelakuan buruk nya".
Gadis itu menatap kakek Liam penuh tanda tanda,
"Ada apa ya kek? Saya benar-benar tidak mengerti apa maksud kakek. Saya sudah menerima takdir saya kek, jadi kakek tak perlu merasa bersalah".
Kakek Liam menyodorkan koran yang terbit Pagi ini. Mata gadis itu mendadak terpana melihat dengan jelas dua sosok di sana, terpotret dengan jelas sedang bermesraan. Iya, itu adalah suaminya Ayud dan saudara tirinya Carene.
Hatinya merasa begitu terpukul, namun ia berusaha tampak kuat. Gadis itu menyerahkan kembali koran tersebut kepada kakek Liam.
"Nak, maaf ya kamu harus mengalami ini semua. Maafkan keegoisan kakek nak".
Kakek Liam menggenggam tangan gadis yang tampak gemetar itu. Dua butir airmata nampak jatuh dari pipi gadis itu.
"Nak, sekarang semua keputusan kakek serahkan padamu. Kamu bisa memilih meninggalkan laki-laki tak berguna itu, namun kakek harap hubungan kekeluargaan kita jangan sampai terputus ya, nak".
Liam mengepalkan tangannya dengan geram,
"Kakek akan membuat perhitungan dengan dua manusia yang tak tahu diri itu. Mereka harus mendapatkan balasan setimpal dengan perbuatan mereka hari ini".
Gadis itu kembali menatap kakek Liam, bibir nya membentuk senyuman tulus,
"Saya tidak apa-apa kek, di sini saya juga salah karena telah bekerjasama untuk membohongi kakek dengan kemesraan semu kami. Saya harap kakek memberikan kesempatan lagi kepada suami saya untuk berubah".
Gadis itu menghela nafas, mencoba terdengar setenang mungkin.
"Saya akan mencoba berbicara baik-baik kepadanya kek. Saya tidak ingin sampai terjadi masalah besar di keluarga kita. Saya tidak mau
kesehatan kakek terganggu karena ini semua".
kakek Liam tersenyum, bangga sekali rasanya ia memiliki cucu menantu se tegar gadis ini.
"Kamu yakin dengan keputusan mu ini nak? Baiklah kalau begitu. Kakek percayakan semua ini pada mu".
Kakek Liam membelai lembut rambut gadis itu layaknya perlakuan seorang ayah kepada anaknya. Ia kemudian meninggalkan rumah besar itu beserta dengan bawahan-bawahan setianya.
...Rachel POV...
Apalagi ini Tuhan? Mengapa kesedihan semalam masih harus berlanjut lagi? Aku sepenuhnya sadar aku tak ada hak untuk ini, namun di sini kesehatan kakek Liam yang di pertaruhkan.
Aku lagi-lagi harus menguatkan hati demi kakek Liam, meskipun aku yang harus menelan pil pahit kenyataan ini sendirian. Aku tahu, kakek Liam begitu terpukul dengan apa yang dia lihat pagi ini, aku juga demikian.
Namun, ini bukan pertama kalinya laki-laki itu melakukan hal seperti ini. Ah, semoga kali ini pun bukan lah masalah besar yang akan aku alami, semoga aku bisa melewati nya seperti yang sudah-sudah.
Sepeninggalan kakek Liam, aku mandi dan menunggu kedatangan laki-laki itu. Laki-laki yang entah dimana keberadaannya sekarang. Kami harus bicara, setidaknya itulah taruhan harga diriku yang terakhir.
Tak lama kemudian, laki-laki itu pulang ke rumah dengan kondisi yang berantakan. Bajunya di kancing dengan asal, rambutnya berserakan, bau alkohol yang sangat menyengat tercium darinya. ia melirik ku sekilas tanpa minat.
Aku menahannya ketika ia hendak ke kamarnya. kami benar-benar harus bicara. Kutarik nafas dalam-dalam, ku kumpul kan kekuatan.
"Tuan, maaf. Saya minta waktu anda sebentar, kita harus bicara".
Ia menghentikan langkahnya, mengancing kan giginya, terdengar bunyi gemeletuk di sana.
"Ada apa?".
Ku kuatkan lutut yang seakan bisa ambruk setiap saat ini. Ku tegak kan posisi badanku dan ku genggam erat kedua tangan ku yang gemetar,
"Saya tahu dari awal saya bukan siapa-siapa di keluarga ini terlebih di kehidupan anda. Selama ini juga saya tidak pernah mempermasalahkan, dengan siapapun anda berhubungan karena memang itu bukan urusan saya".
Ku telan dengan susah payah saliva ku,
"Namun hari ini, foto anda dan Carene terekspos dengan jelas di koran. Saya sebenarnya tidak menuntut anda melakukan apapun, itu bukan hak saya. Namun saya harap anda memikirkan nama besar kakek anda dengan baik".
Aku terdiam sejenak, lutut ku benar-benar lemas.
"Hidup orang-orang kaya seperti anda selalu di sorot oleh media, jadi saya harap anda bisa menjaga kelakuan anda dengan baik".
Ia mengusap wajah nya asal sambil menyeringai,
"Sudah?"
Aku terdiam, reaksi nya dingin seperti biasa. Aku menatapnya dan ia menarik nafas. Jika kaki ini bukan ciptaan Tuhan sudah dari tadi ia ambruk sangking tak kuat nya menopang berat badan ku.
"Jadi, mana koran yang kamu sebut-sebut dari tadi itu?. Coba sini, tunjukkan padaku".
Aku segera pergi ke ruang tamu dan mengambil selembar kertas yang memuat artikel tentang skandal laki-laki itu. Ia membacanya sebentar, lalu membanting kertas itu ke lantai.
"Jadi, sekarang mau mu apa?". Cepat katakan supaya aku bisa istirahat dengan tenang, wahai orang kanan kakek".
aku seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar ini. Bisa-bisanya ia masih merendahkan ku di situasi yang rumit seperti ini.
"Apapun yang anda lakukan, itu hak anda. Tapi, tolong berhati-hati. Anda tahu kehidupan anda itu sangat menarik untuk di jadikan konsumsi publik".
Ia menatap ku, lagi-lagi dengan tatapan mengejek.
"Cemburu?. Sejak kapan kamu begitu jadi begitu peduli dengan hidup ku?".
Aku mengalihkan pandanganku, menghindari tatapan nya. Rasanya benar-benar tak nyaman. Aku merasa seolah seperti seekor tikus got yang tak berdaya.
"Disini bukan masalah saya cemburu atau tidak. Tapi pikirkan tentang kondisi kesehatan kakek anda. Anda tentu tahu keadaan ini sangat memberatkan bagi saya dan tentu saja anda. Jadi tolong, berhati-hatilah dengan sikap anda".
Ia menyeringai seperti seekor singa yang siap memangsa korbannya yang tampak lemah dan meringkuk ketakutan.
"Aku tak tahu entah keberanian darimana yang membuat mu berani berbicara seperti ini padaku. Namun, aku menghargainya. Jadi kamu tentu tahu posisi mu itu apa dan aku apa. So, tetap lah
di tempat mu dan jadilah patuh".
ia melambaikan tangan ingin meninggalkan ku namun aku menarik ujung kemejanya,
"Nanti dulu, saya belum selesai bicara. Kalau anda benar-benar ingin bebas seperti dulu, bisakah anda bujuk kakek Liam untuk membiarkan saya pergi?. Saya sangat berterimakasih jika anda melakukan itu".
Ia memojokkan ku ke dinding dan menarik kerah baju ku dengan kasar,
"Dengar ya, aku sangat ingin melakukan itu. Tapi kau kan tahu, semua sudah di atur oleh kakek Liam bahkan gerakan ku di awasi olehnya. Jadi kalau kau mau pergi, rayu lah orang tua itu. Kau kan orang kepercayaan nya?".
Aku mendesah frustasi,
"Saya tak bisa melakukannya atas kemauan saya sendiri tuan. Meskipun kakek Liam mengizinkan saya pergi..",
Aku menghentikan kata-kataku sejenak. Hatiku mendadak terasa sesak. Laki-laki itu menatapku tajam,
"Apa lagi masalahmu perempuan?, bukankah orang tua itu secara terang-terangan menyuruh mu pergi?. Silahkan saja, pergi kemanapun kau suka. Jangan merasa sok penting di rumah ini. Kau pikir, semua orang membutuhkan mu ya?".
Ia bergumam pelan, namun masih dapat ku tangkap dengan sempurna.
"Naif sekali, dasar s*mpah".
Baru saja aku ingin membuka mulut ku untuk membantah kata-katanya, ia meletakkan telunjuknya di bibirku.
"Hey, aku tak tidur semalaman dan sekarang aku benar-benar dalam keadaan mengantuk yang teramat sangat".
Ia menguap,
"Kalau kamu berniat mencari masalah dengan ku lebih dari ini, jangan salah kan aku kalau tak bisa lagi bersikap dengan wajar. Dengan keadaan ku sekarang, aku rasanya tak segan memb*nuh orang".
Aku bergidik ngeri dan membeku di tempat. Ia menguap dengan malas lalu meninggalkan ku sendirian disana. Laki-laki itu tampak nya sangat memegang kendalinya dengan sangat baik.
...Rachel POV End...
❤️❤️❤️❤️
Hy guys, jaga kesehatan ya dan jangan lupa bahagia 😊😊