Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siaran yang kembali menyala
Kafe yang mereka tuju berada tepat di seberang taman. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi suasananya cukup nyaman. Dinding bata ekspos dipadukan dengan tanaman hias yang menggantung di setiap sudut ruangan membuat tempat itu terasa sejuk. Aroma kopi dan roti yang baru keluar dari oven memenuhi udara.
Mereka memilih duduk di dekat jendela yang menghadap langsung ke taman. Dari sana, pepohonan dan lalu lalang pengunjung masih terlihat jelas.
"Untung masih dapat tempat," gumam Wafiza sambil meletakkan helm di kursi kosong di sebelahnya.
"Aku udah takut penuh," timpal Aretha.
Seorang pelayan datang menghampiri membawa buku menu.
"Silakan kak, mau pesan apa?"
Mereka memesan beberapa minuman dan camilan ringan. Setelah pelayan pergi, Aretha mengeluarkan ponselnya lalu meletakkannya di atas tripod kecil yang memang selalu mereka bawa ketika membuat konten.
"Gimana?" tanyanya. "Kita live bentar?"
Haseena tampak ragu.
Jarinya saling bertaut di bawah meja.
"Aku takut... nanti malah nggak kuat."
Wafiza menggeleng pelan.
"Kamu nggak harus pura-pura ceria, Seen."
"Iya," sambung Aretha. "Kalau memang sedih, ya nggak apa-apa. Mereka juga pasti ngerti."
Haseena terdiam beberapa saat.
Lalu ia mengangguk pelan.
"Oke."
Aretha menekan tombol Mulai Siaran Langsung.
Beberapa detik pertama, jumlah penonton masih sedikit. Namun seperti biasanya, angka itu terus bertambah hingga ratusan orang memenuhi siaran mereka.
"Halo, semuanya!" sapa Aretha sambil melambaikan tangan ke arah kamera.
"Ketemu lagi sama Trio..." Wafiza sengaja menggantung kalimatnya.
Haseena tersenyum tipis.
"...yang sempat menghilang beberapa hari."
Kolom komentar langsung bergerak begitu cepat.
> Kak, akhirnya live lagi!
> Kangen banget sama kalian.
> Alhamdulillah Haseena udah muncul.
> Semoga kakaknya kuat ya.
Aretha membaca beberapa komentar sambil tersenyum.
"Makasih ya buat yang masih nungguin kita."
"Maaf banget karena beberapa hari ini nggak upload apa-apa."
Wafiza mengangguk.
"Iya, soalnya Haseena lagi kena musibah."
Kolom komentar seketika dipenuhi ucapan belasungkawa.
> Turut berduka cita, Kak.
> Semoga Allah memberikan ketabahan.
> Semoga almarhumah ibu dan kakaknya husnul khatimah.
Haseena membaca komentar-komentar itu dalam diam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Namun kali ini ia tidak menghindar.
Ia justru mendekat ke arah kamera.
"Hai, semuanya..."
Suaranya terdengar lembut.
"Terima kasih banyak buat doa dan perhatiannya."
Ia tersenyum, meski senyum itu masih menyimpan luka.
"Maaf kalau beberapa hari ini aku benar-benar menghilang."
"Aku cuma... lagi butuh waktu."
Komentar terus berdatangan.
> Kak, sekarang kabarnya gimana?
Haseena menarik napas pelan.
"Kemarin Abah menerima pemberitahuan resmi dari tim pencarian."
"Operasi pencarian Kak Husna dihentikan karena cuaca yang semakin berbahaya."
"...dan Kak Husna dinyatakan meninggal dunia secara administratif."
Suasana siaran langsung berubah hening.
Tak ada lagi candaan.
Tak ada lagi tawa.
Bahkan Aretha dan Wafiza memilih diam, memberi ruang kepada Haseena untuk berbicara.
"Aku juga kehilangan Ibu beberapa hari yang lalu."
"Tapi insyaallah..."
"...aku lagi belajar ikhlas."
"Jadi aku minta doanya ya."
"Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk Ibu dan Kak Husna."
Kolom komentar kembali dipenuhi tulisan Aamiin.
Ratusan.
Lalu ribuan.
Haseena memandangi layar ponselnya cukup lama.
Untuk pertama kalinya sejak semua musibah itu terjadi...
Ia merasa tidak benar-benar sendirian.
Di luar sana ternyata ada begitu banyak orang yang ikut mendoakan keluarganya.
Aretha segera mengubah suasana.
"Oke!"
"Sekarang kita bahas yang ringan-ringan aja."
"Kalau nggak nanti kita semua ikut nangis."
Wafiza tertawa kecil.
"Nah, itu baru Aretha."
"Aku kira hari ini dia jadi ustazah."
"Hah? Maksud kamu?"
"Iya, ceramahnya panjang."
Mereka bertiga akhirnya tertawa.
Tawa itu memang belum sebebas dulu.
Namun setidaknya...
Hari itu Haseena berhasil tersenyum lagi.
Tanpa mereka sadari, di meja paling pojok kafe, seorang pria bertopi hitam sejak tadi sesekali melirik ke arah mereka.
Di hadapannya hanya ada segelas kopi yang nyaris tidak disentuh.
Tangannya perlahan mengetuk permukaan meja.
Tatapannya...
Tak pernah lepas dari Haseena.