NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: tamat
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:513.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sinar matahari pagi Kota Surabaya mulai memanaskan aspal jalanan saat Raditya Mahardika—yang kini sepenuhnya meresapi perannya sebagai Rio—memarkirkan mobil mewah keluarga Adytama di depan lobi salah satu kampus swasta ternama.

Di kursi belakang, Bianca Adytama tampak sibuk merapikan riasannya di cermin kecil. Pagi ini dia tampil luar biasa modis; mengenakan setelan blazer crop berwarna pastel dan rok mini senada, lengkap dengan tas desainer yang harganya setara motor yang dipakai Rio kemarin sore.

"Ingat ya, Rio," suara Bianca terdengar manja namun tetap dengan nada memerintah yang kental. "Hari ini kamu tidak perlu menjemputku. Aku ada janji belanja dan nongkrong dengan Sarah dan teman-teman lainnya. Aku akan pulang bersama mereka."

Raditya menatap wajah Bianca dari spion tengah. Tatapan matanya yang tajam tertutup oleh kacamata penyamarannya, memberikan kesan supir yang penurut.

"Baik, Non Bianca. Saya mengerti. Apakah ada instruksi lain?"

"Tidak ada. Sudah, sana pergi. Jangan parkir kelamaan di sini, memalukan dilihat teman-temanku kalau supirnya terlalu lama mengawasi," usir Bianca sambil melangkah keluar mobil dengan anggun, membiarkan aroma parfum mahalnya tertinggal di dalam kabin.

Raditya hanya menghela napas pendek. Ia memutar kemudi, meninggalkan area kampus dengan perasaan lega. Menghadapi Bianca yang arogan selalu menguras energinya lebih dari memimpin rapat direksi Mahardika Group.

Raditya pun kembali kediaman keluarga Adytama. Setibanya disana, Raditya memarkirkan mobil utama di garasi. Ia melirik jam tangannya—pukul 08.30 pagi. Sesuai dengan permintaan Kirana semalam, ia harus bersiap mengantar putri sulung keluarga ini.

Saat ia berjalan menuju teras depan, langkahnya terhenti. Kirana sudah berdiri di sana. Berbeda jauh dengan Bianca yang mentereng, Kirana tampak sangat segar dan bersahaja. Ia mengenakan long dress bermotif bunga kecil yang feminin, rambut panjangnya diikat setengah gerai, menonjolkan leher jenjangnya yang putih.

"Pagi, Mas Rio," sapa Kirana dengan senyum tulus. Senyum yang membuat Raditya sempat tertegun sejenak. Sangat jarang ada majikan yang menyapa supirnya dengan binar mata seramah itu.

"Pagi, Mbak Kirana. Mobil sudah siap, mari saya antar," jawab Raditya sambil bersiap menuju mobil mewah yang tadi ia pakai.

Namun, Kirana menggeleng pelan. "Tidak, Mas. Kita tidak pakai mobilku saja."

Raditya mengerutkan dahi. "Di mana mobil Mbak Kirana?"

Kirana menunjuk ke arah garasi samping yang terpisah. "Di sana, Mas.”

Raditya melangkah mengikuti Kirana dan seketika ia melongo. Di hadapannya terparkir sebuah mahakarya otomotif klasik. Sebuah Mercedes-Benz Fintail berwarna krem yang sangat terawat. Kromnya mengkilap, bannya bersih, dan mesinnya terdengar halus saat Kirana menyerahkan kunci kepadanya.

"Ini... mobil Mbak Kirana?" tanya Raditya takjub. Sebagai kolektor mobil mewah, ia tahu persis nilai mobil antik ini. Ini bukan sekadar mobil tua; ini adalah barang kolektor yang harganya bisa selangit jika dilelang.

"Benar. Ini adalah mobil peninggalan kakek saya, Mas. Dan Kakek saya merawatnya dengan begitu baik, dan aku melanjutkannya. Dia masih sangat tangguh untuk membelah kemacetan Surabaya," Kirana tertawa kecil melihat ekspresi Rio yang tampak sangat mengagumi mobilnya.

"Luar biasa, Mbak. Ini sangat keren. Anda punya selera yang sangat bagus," puji Raditya jujur. Baginya, Kirana semakin terlihat misterius. Seorang putri kaya yang menolak kemewahan baru demi sejarah dan nilai klasik.

Raditya segera membukakan pintu untuk Kirana dengan gerakan yang sangat sopan.

"Silakan, Mbak."

"Terima kasih, Mas."

Mobil antik itu melaju membelah kepadatan jalanan Surabaya. Suara mesinnya yang khas memberikan suasana nostalgia di dalam kabin. Di tengah perjalanan, Kirana menoleh ke arah supir barunya itu.

"Mas Rio, apa kamu sudah sarapan?"

Raditya terdiam sejenak, fokus pada kemudi. "Belum sempat, Mbak. Tadi langsung mengantar Non Bianca."

"Wah, kebetulan kalau begitu. Aku juga belum lapar tadi saat di rumah. Kamu suka nasi pecel?" tanya Kirana bersemangat.

Raditya tertegun. Nasi pecel? Selama 33 tahun hidup sebagai bangsawan bisnis, menu sarapannya adalah croissant, omelet protein tinggi, atau smoothie bowl. Ia pernah mendengarnya dari petugas kebersihan kantornya ketika mereka baru datang, tapi ia belum pernah melihat bentuk aslinya di depan mata, apalagi merasakannya.

"Nasi pecel, Mbak?" tanya Raditya, mencoba menyembunyikan kebingungannya.

Kirana mengangguk ceria. "Iya! Kamu belum pernah coba? Atau kamu tidak suka sayuran?"

Raditya berdehem, mencoba tetap tenang di balik penyamarannya. "Saya... saya ikut Mbak saja. Apa pun yang Mbak makan, saya pasti suka."

"Oke! Aku punya langganan nasi pecel paling enak di Surabaya. Kita kesana!"

Mobil tua itu berhenti di sebuah warung tenda sederhana di bawah pohon beringin besar. Asap tipis mengepul dari panci-panci lauk, dan aroma kacang sangrai yang gurih langsung menyerbu indra penciuman Raditya saat ia turun dari mobil.

Banyak orang dari berbagai kalangan duduk berhimpitan di bangku kayu panjang. Raditya merasa asing, namun entah mengapa, suasana hiruk pikuk ini terasa jauh lebih "hidup" daripada ruang makan formal di rumahnya yang sepi.

Kirana memesan dengan cekatan. "Dua nasi pecel, Mbok! Yang satu pedas sedang saja." Ia menoleh pada Raditya. "Kamu mau lauk apa? Ada empal, paru, tempe, atau ayam?"

Raditya melihat jajaran lauk yang tampak menggugah selera. "Ayam balado saja, Mbak."

Tak lama kemudian, dua piring nasi dengan tumpukan sayuran hijau disiram sambal kacang kental mendarat di depan mereka. Ada rempeyek renyah yang menghiasi pinggiran piring.

Raditya menatap piringnya dengan ragu. Ini dia, nasi pecel.

"Ayo makan, Mas Rio. Jangan sungkan," ajak Kirana yang sudah mulai menyuap nasi dengan santai, bahkan ia tampak sangat menikmati suasana warung tenda itu tanpa rasa canggung sedikit pun.

Raditya menyuapkan sendok pertama. Matanya langsung membelalak. Rasa gurih, sedikit pedas, dan manis dari bumbu kacangnya meledak di lidahnya. Sayuran yang masih crunchy dipadukan dengan ayam balado yang bumbunya meresap sempurna.

"Bagaimana? Enak kan?" Kirana bertanya sambil tersenyum lebar.

"Ini... ini sangat enak, Mbak. Saya tidak menyangka sayuran bisa terasa sedahsyat ini," puji Raditya dengan tulus. Ia makan dengan lahap, bahkan hampir melupakan identitasnya sebagai CEO dingin yang biasanya sangat pemilih soal kebersihan.

Kirana tertawa melihat supirnya yang tampak begitu antusias. "Kamu lucu, Mas Rio. Kamu makan seperti orang yang baru pertama kali menemukan harta karun."

Raditya terhenti sejenak, menatap Kirana yang sedang tertawa. Di bawah bayangan pohon beringin, dengan semilir angin pagi dan hiruk pikuk Surabaya, ia merasa Kirana memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat daripada wanita mana pun yang pernah ia temui di pesta ballroom.

Wanita ini benar-benar berbeda, batin Raditya. Dia punya mobil antik yang berharga, tapi dia tidak pamer. Dan dia... memperlakukanku seperti manusia, bukan sekadar supir.

Tanpa sadar, Raditya tersenyum di balik kacamatanya. Perjalanan "menyamar" ini mulai memberinya rasa manis yang lebih dari sekadar bumbu pecel.

***

1
arniya
luar biasa kak
Siti Nurhayati
Sekilas bacanya CEO MBG. Jadi inget sama si bapak CEO MBG 😄
Kinah Muarofah
gk di dunia nyata gk di dunia novel, anak yang mandiri emang kadang anak yang sering diabaikan, anak yang nyusahin anak yang paling disayang
MF Iyan
lah kan bab sblmnya udah tau mau dicelakain?
kok bukannya menghindar malah kena, aneh
Tisya
bukannya dr malam sdh tau ya rencana si reva kok bisa ya kecolongan
Tisya
menyamar,, tp kemudian menciptakan kebohongan demi kebohongan, jika aku Kirana mungkin akan menolak bila kebenaran itu terungkap,
Ririn Nursisminingsih
gila yaa mau kaya merampas harta orang lain ingin mbunuh lagi reva2 jahat sekali kau
Ririn Nursisminingsih
terlambat kmu reva.. orang serakah mau enaknya ambil yg bukab haknya
Ririn Nursisminingsih
langsung nikah aja thor gak usah pakai tunangan. segala
AYU SKP
Luar biasa
Ririn Nursisminingsih
kirana ini cerdas keluar dong dari rumah itu klamaan mau2nya dihina sama reva dan adiknya
Ririn Nursisminingsih
bianca2 kmu licik dan jahat juga yas
Ririn Nursisminingsih
kereenn raditya bianca sombong sekali.. ayo pilih kirana raditya ljndungi kirana
Ririn Nursisminingsih
keluar aja kirana dari rumah yg seperti neraka kmu kan ceo jg mau terus ditindass
joong
seem too easy.......
malah degh degh an gak sih 🥺
joong
makin lama makin keren konflik nya 💕
Triastuti Widyaningsih
cerita menarik
Fitri Adin
keren karya y...tetap semngat menulisnya kaka💪💪
sientje semet
lanjut
sientje semet
mantap
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!