NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Topeng Ceria dan Tatapan Gelap.

***

Dua puluh menit berlalu, mobil sedan hitam mewah milik Galen itu berbelok dan berhenti tepat di depan gerbang utama SMA Pelita Bangsa. 

Kompleks sekolah itu tampak sudah ramai oleh lalu-lalang para siswa dan siswi yang berdatangan menjelang bel masuk.

Freya menghembuskan napas pendek, merasa separuh beban di pundaknya terangkat begitu melihat gerbang sekolah. 

Bagi gadis remaja tujuh belas tahun itu, sekolah adalah satu-satunya tempat pelarian di mana ia bisa melepas statusnya sebagai "anak pungut pembawa sial". Tempat di mana ia bisa bernapas bebas tanpa perlu melihat wajah menyeramkan Galen.

Cklek.

Tangan mungil Freya bergerak meraih tuas pintu mobil, bersiap untuk segera keluar dari sana. Namun, tepat sebelum jemarinya berhasil mendorong pintu kayu jati berlapis kulit itu terbuka, suara bariton Galen kembali bergaung di sisinya.

"Ingat posisimu di rumah itu, Freya”. Ucap Galen tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Pria dua puluh sembilan tahun itu tetap menatap lurus ke depan, mencengkeram kemudi dengan rahang yang mengeras kaku. "Pulang sekolah langsung kembali ke rumah. Jika aku tahu kau kelayapan atau membuat masalah lagi seperti tahun lalu, kau sendiri yang akan menanggung akibatnya. Aku tidak segan-segan mengurungmu di ruang bawah tanah."

Mendengar kata-kata kejam yang kembali meluncur sebagai salam perpisahan pagi itu, Freya sudah benar-benar berada di titik tidak peduli. Jiwanya sudah terlalu kebas oleh racun yang ditumpahkan pria itu sejak pagi. 

Tanpa menjawab, tanpa pamit, dan tanpa mempedulikan tatapan mengancam dari kakak angkatnya itu, Freya langsung mendorong pintu mobil dengan kuat, melangkah turun, dan menutup pintu di belakangnya dengan sentakan yang cukup keras.

Begitu kakinya menginjak aspal luar dan pintu mobil tertutup rapat, sebuah transformasi luar biasa terjadi pada diri Freya Anindita. 

Sesuai dengan bakat bertahannya selama enam tahun, gadis remaja yang teramat cantik jelita itu langsung mengubah raut wajahnya dalam sekejap mata. 

Jejak kepedihan, ketakutan, dan rasa sakit fisik di wajahnya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh senyuman manis dan wajah ceria yang sangat memesona. 

Lekuk tubuh sintalnya yang terbalut seragam putih-abu-abu bergerak anggun saat ia melambaikan tangan ke arah depan gerbang.

"Freya!". Sebuah seruan melengking menyambut kedatangannya. Seorang gadis remaja berambut pendek sebahu berlari kecil menghampirinya. 

Dia adalah Sella, sahabat karib Freya sejak awal masuk SMA. Sella sudah berdiri menunggu di dekat pos satpam sejak sepuluh menit yang lalu.

"Pagi, Sella! Sorry ya, Lo udah nunggu lama deh”. Sapa Freya dengan nada suara yang sengaja dibuat riang, menutupi getaran parau di tenggorokannya akibat terlalu banyak menangis tadi.

"Ih, tidak apa-apa kali, Frey! Yang penting Lo nggak terlambat”. Balas Sella riang, merangkul lengan Freya santai.

Tepat pada saat itu, perhatian seluruh siswa di depan gerbang mendadak teralih oleh suara deru mesin motor yang menggelegar keras membelah perempatan jalan. 

Sebuah motor sport berwarna merah metalik melesat mulus memasuki area gerbang, memotong jalur dengan gagah sebelum bergerak menuju ke area parkir khusus siswa. 

Pengemudinya adalah seorang cowok bertubuh jangkung dan atletis, mengenakan jaket denim di luar seragam sekolahnya.

Begitu motor berhenti dan sang pengendara melepas helm full-face miliknya, terlihatlah wajah tampan dengan potongan rambut undercut yang rapi. 

Dia adalah Rendy, cowok populer di sekolah sekaligus teman satu kelas Freya dan Sella. Rendy mengulum senyum begitu matanya menangkap sosok Freya yang berdiri di dekat lobi luar.

Tanpa membuang waktu, Rendy menaruh helmnya dan melangkah lebar-lebar menghampiri kedua gadis tersebut. 

Dengan sikap yang teramat santai, akrab, dan penuh rasa percaya diri, Rendy langsung mengulurkan lengan kekarnya dan merangkul pundak Freya dari samping, menarik tubuh sintal gadis itu sedikit lebih dekat ke arahnya.

"Pagi, Cantik. Baru sampai juga?". Sapa Rendy dengan suara yang berat namun terdengar sangat hangat, diiringi seulas senyum menawan yang memamerkan lesung pipit di wajahnya.

Mendapat perlakuan mendadak yang begitu akrab dari Rendy, Freya sempat terkejut, namun ia tidak menolak. Rasa hangat dari sapaan Rendy entah bagaimana terasa seperti obat penenang yang sangat ia butuhkan setelah paginya dihancurkan oleh kekejaman Galen. 

Freya mendongak, membalas tatapan hangat Rendy dengan seulas senyum manisnya yang paling menawan, membuat kecantikan di  wajahnya kian terpancar nyata di bawah sinar matahari pagi.

"Pagi juga, Ren. Iya, ini baru saja turun dari mobil". Balas Freya dengan nada suara yang jauh lebih lembut, membiarkan rangkulan tangan Rendy tetap bertengger di pundaknya dengan nyaman.

Melihat kedekatan fisik yang begitu intens dan manis di antara keduanya, Sella yang berdiri di sebelah mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda sahabatnya. Gadis berambut pendek itu tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar penuh arti.

"Ciyeee... pagi-pagi udah pamer kemesraan aja nih ya kalian berdua!". Seru Sella dengan nada mencemooh yang jenaka, menyenggol lengan Freya pelan. "Aduh, kalau gue lihat-lihat nih ya... kalian berdua ini sebenarnya cocok banget tahu! Yang satu cantik mempesona, yang satu tampan populer. Sudah seperti sepasang kekasih di novel-novel loh kalian berdua!".

"Ih, apa sih, Sella! Jangan sembarangan bicara, ah!". Potong Freya dengan wajah yang mendadak bersemu merah karena malu akibat godaan sahabatnya itu. 

Freya mencoba menyembunyikan senyumnya di balik tas ranselnya, sementara Rendy hanya terkekeh pelan, justru semakin mempererat rangkulannya di pundak Freya seolah menikmati candaan tersebut.

Namun, di balik suasana ceria, penuh tawa, dan kehangatan masa remaja yang sedang berlangsung di depan lobi sekolah tersebut, ada satu hal yang tidak disadari oleh mereka bertiga.

Beberapa meter dari gerbang luar, di dalam kabin mobil Mercedes-Benz hitam yang kacanya dilapisi film gelap, Galen Danendra masih belum juga melajukan kendaraannya untuk pergi ke kantor. 

Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu dari tadi masih duduk diam mematung di belakang kemudi, menyaksikan seluruh adegan manis itu terjadi melalui kaca depan mobilnya.

Sepasang mata elang milik sang duda berdarah dingin itu kini menatap lurus ke arah tangan Rendy yang masih setia merangkul pundak Freya. 

Tatapan Galen begitu pekat—tajam, dan memancarkan kilat amarah yang teramat gelap dan berbahaya. Rahang tegasnya mengetat sempurna hingga urat-urat di lehernya terlihat menonjol tegang. 

Ada rasa kepemilikan gila, dominasi psikologis, dan kecemburuan gelap yang mendadak bergejolak hebat di dalam dadanya melihat ada pria lain yang berani menyentuh milik keluarga Danendra—miliknya.

Bagi Galen, Freya adalah samsak dan peliharaan yang berada di bawah kendali mutlaknya. Melihat gadis remaja yang baru saja ia siksa di dalam mobil kini bisa tersenyum begitu lepas dan membalas sapaan hangat cowok lain membuat darah Galen mendidih sempurna. 

“Sialan!”.

Pria itu mencengkeram erat roda kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, mengunci bayangan Rendy dan Freya di dalam kepalanya dengan satu janji kejam yang siap meledak di masa depan.

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!