Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Yang Cukup Tragis
Bleiz tak menjawab, hanya mengedikkan bahunya.
Ophelia akhirnya tersenyum lebih lebar dan matanya berbinar, membuat Bleiz merasa seperti pria paling beruntung di dunia.
"Bleiz," kata Ophelia tiba-tiba. "Ceritakan lebih banyak tentang masa lalumu. Aku ingin tahu."
Bleiz terdiam beberapa saat. Kemudian dia mengangguk perlahan. “Apa yang ingin kau tahu?”
“Keluargamu.”
“Ayahku adalah pemimpin mafia yang kejam," mulainya, suara dan ekspresinya datar. "Dia memiliki tiga anak, aku, kakak laki-lakiku, dan adik perempuan yang meninggal saat masih kecil. Ayahku selalu mengatakan bahwa hanya yang terkuat yang layak mewarisi kerajaannya. Jadi dia membuat kami bertarung. Dia mengajari kami membunuh sejak usia dini."
Ophelia merasakan tangannya gemetar. "Itu mengerikan."
"Kakakku, Victor, adalah favorit ayahku," lanjut Bleiz, matanya menjadi gelap. "Dia lebih kuat, lebih kejam, dan lebih haus kekuasaan. Ayahku selalu membandingkanku dengan Victor, mengatakan bahwa aku lemah, bahwa aku tidak layak menjadi pewarisnya."
"Tapi kau menjadi pemimpin sekarang," kata Ophelia semakin penasaran. "Itu berarti kau menang."
Bleiz tersenyum pahit. "Aku menang karena aku lebih pintar, bukan karena aku lebih kuat dari Victor. Aku menunggu saat yang tepat, ketika Victor membuat kesalahan. Ayahku marah padanya, dan aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menunjukkan bahwa aku lebih layak."
"Tapi kau mengatakan bahwa ayahmu ..." Ophelia berhenti, tidak berani melanjutkan.
"Ayahku meninggal karena serangan jantung," kata Bleiz, matanya dingin. "Atau itulah yang orang-orang katakan. Tapi yang sebenarnya terjadi, ibuku telah memberinya racun perlahan-lahan, setiap hari, sampai jantungnya berhenti."
Ophelia membeku. Dia menatap Bleiz dengan tatapan tidak percaya. "I-ibumu ... membunuh ayahmu?"
Bleiz mengangguk, tidak menunjukkan trauma. "Ayahku layak mati. Dia membuat hidup kami seperti di neraka. Dia menyiksa ibuku di depanku ketika aku masih kecil, hanya karena ayahku tak terima ketika ibuku menolak pernikahan kedua ayahku. Dan dia juga menghukumku setiap kali aku menunjukkan kelemahan."
Ophelia merasakan air mata mengalir di pipinya. "Bleiz ... ini sangat …”
"Kau tidak perlu merasa kasihan padaku," kata Bleiz, suaranya biasa saja. "Aku tidak butuh rasa kasihan dari seseorang terutama dirimu. Aku hanya butuh seseorang yang mengerti."
Ophelia berdiri dan berjalan mendekatinya. Tanpa ragu, dia meraih tangan Bleiz dan menggenggamnya erat.
“Lalu … apa yang terjadi pada ibu dan kakakmu?”
“Victor membunuh ibuku karena tahu perbuatannya. Dan aku … membunuh Victor karena dia telah membunuh satu-satunya orang yang selalu melindungiku.”
Ophelia terkejut dengan akhir dari kisah keluarga Bleiz yang jelas sangat tragis. Ophelia diam, tak bisa berkata apa pun. Kata-katanya tercekat tak bisa dia keluarkan.
“Aku baik-baik saja. Dan kau tak perlu khawatir tentang itu,” lanjut Bleiz ketika melihat reaksi Ophelia.
"Aku mengerti," bisik Ophelia akhirnya. "Aku mungkin tidak mengalami apa yang kau alami, tapi aku mengerti rasa sakitmu. Dan aku tidak akan pergi."
Bleiz menatapnya dengan tatapan yang dalam.
"Ophelia," bisiknya. "Aku ..."
Bleiz tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebagai gantinya, dia menarik Ophelia ke dalam pelukannya, memeluknya erat.
Ophelia tidak melawan. Dia membiarkan Bleiz memeluknya, merasakan detak jantung pria itu yang berdebar kencang di dadanya.
"Aku di sini," bisik Ophelia di telinganya. "Aku tidak akan pergi. Dan kau tak akan sendirian. Aku akan selalu menemanimu.”
Mereka berpelukan dalam diam, tanpa mengatakan apa pun lagi. Ophelia sadar bahwa penderitaan hidupnya tak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan Bleiz.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YAAAAKK